
Aku ingin mencintaimu, lebih banyak dari sebuah debar. Lebih besar dari sebuah Sabar dan lebih Lama dari kata Selamanya.
-I Want To You Know-
🍃
Akasa menatap lurus kedepan dan sesekali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah mengarah pada pukul 7.25 karna jalanan sedang tidak macet, juga bus sudah hampir tiba di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, Bandung. Someone yang berada disamping kiri Akasa masih pulas tertidur karna beberapa jam lalu telah terjadi perang dunia kedua. Kepala Geshia sesekali terpentok jendela kaca bus dan membuatnya mengerang kesakitan lalu tertidur lagi, Akasa hanya melihatnya dengan iba. Karna kasian, ia pun menarik kepala Geshia dan menyandarkannya ke bahu miliknya. "Gue gak tega lo kepentok muluk. Lo udah ****, kalo kepentok lagi ntar makin **** jadi gue yang susah." lirih Akasa sembari melirik Geshia yang sudah bersandar dibahu Akasa.
Akasa mengusap wajahnya lalu menguap dan menghela nafasnya panjang. Ia juga tiba-tiba merasa ngantuk, tapi daritadi ia mejemin mata emang gak bisa tidur. Mungkin karna teman-teman nya yang berisik dibelakang, apalagi tepat di belakang dia itu Arga, Jordan trus samping kanannya Aaron sama Keana yang sedari tadi teriak-teriak dan menyanyi juga bercanda. Arga memang tadi sempet tidur, tapi disaat Akasa ingin tidur. Si Arga malah godain Akasa dan ya gitu, malah gak bisa tidur. Sebenernya Akasa ingin ngomel karna saking kesalnya sama Arga, Jordan juga Aaron apalagi Keana yang gak ada habisnya bikin Akasa kesel, digodain mulu.
"Ka. Tentrem banget lo sama Geshia?" ucap Keana.
"Bacot!" ketus Akasa.
"Ecieeee..." teriak Aaron.
"Yohooo.." lanjut Arga dan Jordan.
"Gak Jelas lu pada!" celetuk Akasa namun mereka hanya terkekeh.
Tak lama, waktu yang ditunggu-tungu pun tiba. Bus pun berhenti di lobby utama bandara dan semua penumpang pun bersiap-siap untuk turun secara bergantian. Kalian tau kan, Orang +62 itu gimana? Ya, yang pasti tidak sabaran dan saling dorong.
Melihat hal seperti itu, Akasa pun tak tinggal diam karna dia terpancing emosi apalagi memang selama perjalanan dia meredam amarah tapi gagal. Akhirnya ia lampiasin sekarang.
"Lo semua tau aturan gak sih?! Tau namanya gantian gak sih?!" seru Akasa tiba-tiba dengan tegas. "Baris! Gak usah berebut buat keluar apalagi saling dorong. Toh nanti juga semua bakal keluar dari Bus. Jangan kayak Anak TK yang masih diatur buat baris,"
"Mampus lu pada. Pak RT ngamuk nih!" celetuk Arga.
Ctaakkk!
Akasa menjitak kepala Arga, "Woyy Setan! Sakit." teriak Arga. "Bodo!"
Disis lain Geshia yang masih tertidur pun akhirnya terbangun, "Apasih kok ribut-ribut?" Geshia menatap Wajah Akasa dengan polosnya, khas orang bangun tidur. Dan posisi Geshia bangun dari sandaran Akasa. "Kenapa,Ka?"
"Gak usah nanya-nanya, bikin nambah emosi aja. Tidur aja lo disitu." celetuk Akasa dengan judes.
"Ih, Kebiasaan banget. Orang sini nanya baik-baik malah diomelin!" Geshia menabok tangan Akasa lalu mencubitnya lagi.
"Sakit!" Akasa meringis dan menatap tangannyaa. "Gila lo ya. Demen banget nyubit orang."
"Abisnya lo ngeselin."
"Gue tuh bukan ngomelin lo, bodoh. Kesel gue!" Akasa marah-marah lagi.
"Iya tau kalo gue bodoh, jadi gak usah dikatain juga kalik Ka!" Geshia memanyunkan bibirnya.
"Tau ah. Serah lo." Akasa malah bete lalu ia pun berdiri dan ikut berbaris dibelakang Jordan untuk keluar dari Bus. Geshia pun bergegas mengumpulkan nyawanya dan berbaris dibelakang Akasa.
Akhirnya, mereka semua pun turun dengan teratur dan antri tidak saling dorong, ya beginilah kalau pak RT udah galak jadi semua nurut. Akasa melompat turun dari Bus, lalu lagi-lagi saat Geshia yang ingin turun dari Bus, ia merasa kesulitan lagi.
"Lompat." Akasa berucap sambil melihat kearah Geshia yang terlihat ketakutan saat turun dari Bus.
"Lompat!" seru Akasa, sambil agak melotot.
"Takut!" Geshia mengernyitkan dahi juga seperti ingin menangis.
"Ih, Bantuin napa Ka. Bantuin aja." sahut Arga yang masih berdiri dibelakang Geshia.
"Nggak." Akasa pun berlalu dan malah menghampiri seorang petugas yang sedang sibuk mengeluarkan barang-barang siswa dari bagasi Bus yang mereka tumpangi.
"Bentar ya, Ges. Gue turun duluan." ucap Arga turun duluan kebawah. Ia menghampiri Akasa dan membiarkan Geshia yang masih berdiri diambang pintu Bus. Sedangkan Keana dan Aaron hanya menontonni Geshia, Geshia menatap Keana tajam. Keana malah mengejek dan menjulurkan lidahnya. Awas ya lo -batinGeshia.
"Ka, liatin tuh Geshia! Masa lo tega? Biar gue yang urusin tas lo. Lo bantuin dia sono," ujar Arga sembari mengambil tas perlengkapan Akasa dan mendorongnya ke arah Jordan, Keana, dan Arga.
Tetapi, ketika Akasa hendak mendekat ke arah Geshia. Cewek itu malah udah lompat duluan yang membuatnya hampir menabrak Akasa yang sudah berada tepat didepan ambang pintu. Syukurlah, di timing yang tepat Akasa dengan sigap menangkap tubuh Geshia memastikan agar cewek itu tidak jatuh kearah aspal. Karna kalau sampe ia jatuh, bisa-bisa bikin tambah pusing bagi Akasa.
"Aduhh.. Jidat gue, sakit." rengek Geshia sembari mengelus jidatnya yang tak sengaja membentur dagu Akasa.
Dengan cekatan, Akasa melepas tangannya dari tubuh Geshia merubah posisi seperti semula dan mundur beberapa langkah dari posisi Geshia berdiri. Akasa menyadari, bahwa pipi cewek itu seketika berwarna merah merona seperti kepiting rebus. "Dasar, ceroboh banget sih!" celetuk Akasa kesal. "Kalo lo mau lompat tuh liat-liat dulu, ada orang apa enggak. Jangan asal lompat. Lo nggak punya mata apa?!"
"Kan yang penting gue udah ditolongin sama lo, gue gak pa-pa. Hahahhh," Geshia tertawa senang, membuat Akasa mengangkat alisnya sebelah. "Sekali lagi, makasih ya!"
Setelah berucap seperti itu, Geshia pun beranjak pergi meninggalkan Akasa dan mengambil sebuah Koper miliknya dari bagasi. Dari sekian banyak koper yang dibawa teman-temannya, hanya milik Geshia yang warna nya sangat imut, kalem, juga lucu karna ada gambar Bunny yang lucu. Tak heran sih, jika Akasa seneng banget ngusilin dan ngatain dia cewek manja karna emang dasarnya dia kesannya dia tuh Sweet Soft Girl pinky gitu.
***
Seluruh Siswa dan Siswi yang akan mengikuti Study Tour ke jogja pun sudah memasuki kabin pesawat yang akan berangkat ke DIY(Daerah Istimewa Yogyakarta). Kini Geshia berjalan dibelakang Arga sedangkan dibelakang Geshia ada Akasa. Lagi-lagi, Arga memilihkan tempat duduk kosong untuk Geshia dan Akasa.
"Nih, Lo berdua duduk sini. Gue dibelakang lo berdua. Oke." tutur Arga.
Geshia pun langsung duduk dekat jendela, posisi mereka berdua sama seperti di Bus tadi. Beberapa menit kemudian, terdengar Announcement bahwa pesawat akan lepas landas. Geshia mengukir senyum dibibirnya, ia sangat senang jika pesawat bergerak cepat dan melayang diatas awal, namun sebelum itu. Ia memberi kabar kepada Kakaknya.
Mas Ganen Ganteng 💙: Mas, Geshia udah masuk kabin pesawat. Bentar lagi Geshia lepas landas, I love You Mas Ganen. Bilangin ke Mama sama Papa juga ya. Hehe.
Geshia pun langsung mematikan handphone miliknya karna memang juga diberitahukan untuk mematikan hp. Geshia menatap keadaan diluar jendela pesawat, melihat banyak object diluar sana, hamparan yang begitu luas. Tak lama setelah itu, pesawat pun melayang dan roda sudah tak menyentuh aspal bandara. Dalam hati, ia berdoa meminta perlindungan dan juga semang bisa mengikuti acara berkesan seperti ini. Geshia juga membayangkan, Jika nanti saat senja tiba pasti langitnya sangat bagus dan indah. Karna Geshia pecandu senja.
"Gue terakhir kali naik pesawat waktu kelas sembilan dan itu acara liburan ke malang gitu." cerita Geshia. "Akhirnya setelah sekian lama, bisa naik pesawat lagi."
"Gue juga pas kelas sembilan." sahut Arga yang tiba-tiba nongolin kepalanya dari belakang. "Kita dulu, ke Jogja juga kan ya Ka? Gue lupa. Tapi ke Museum sih. Ya kan, Ka?" Akasa menyahut dengan deheman.
"Oiya. Nanti kita ber enam, barengan terus ya? Dan foto-foto disana buat kenang-kenangan gitu." pinta Geshia. "Gue gak mau ntar pisah dari kalian."
"Nggak! Gue gak mau." Akasa menoleh sedikit kearah Geshia. "Gue gak mau bareng sama lo, lo nyusahin terus. Males gue."
"Tapi manja." ejek Akasa sedikit senyum ngejek. "Kan sama aja kayak nyusahin. Trus nantu rengek ini itu,"
"Hush.. Berantem muluk! Gak capek apa tuh mulut, dari awal sebelum berangkat dan sampai diatas awan pun masih aja ribut. Heran gue sama lu berdua." tutur Aaron sembari geleng-geleng.
"Tau nih. Gue aja yang ngeliat aja capek." sahut Jordan.
"Apalagi gue. Yang jadi mak jombalang." sahut Arga dengan kekehan.
"Amit-amit!" pekik Geshia.
"Ngarang aja lo kalo ngomong. Emang ya, kalian ber empat gak pernah gue sumpelin sama *** ayam." ketus Akasa.
"Ye setan! Lo aja kalik, gue ogah." balas Aaron. "Huweee" lanjut Keana.
"Bubar-bubar." ucap Arga.
"Bangke lo pada!" cetus Akasa bete.
"Lucu." ucap Geshia tiba-tiba dan membuat Arga, Jordan, Keana, Aaron juga Akasa menoleh. Geshia terkekeh pelan.
"Gak usah nyaut lo. Lucu darimananya?!" celetuk Akasa.
"Sensi mulu ih sama gue. Astaga Akasa!" Geshia frustasi dengan sikap Akasa. Ia pun mengalah dan lebih memilih menatap kearah luar jendela pesawat.
Tak terasa karna cerewetnya Geshia dan Akasa juga yang lain, pesawat ternyata sudah menembus awan dan terbang tinggi. Geshia masih asik memandang kearah luar jendela namun ternyata, lama-lama makin panas karena matahari lalu ia menurunkan penutup jendela lalu menyandarkan kepalanya diatas kursi lalu ia memilih tidur daripada harus berdebat lagi dengan Akasa.
***
Dua jam berlalu. Geshia ternyata sudah larut dalam mimpinya sedangkan Akasa dan Arga masih asik dengan dunia nya masing-masing.
"Ka. Geshia, tidurnya pules banget ya." ucap Arga sambil melihat kearah Geshia yang sedang tertidur pulas disamping Akasa. "Lucu banget mukanya, gemesin ya?"
"Biasa aja ah. Lo nya aja yang terlalu over" balas Akasa.
"Kalo gue liat-liat, lama-lama muka lo berdua itu mirip tau." celetuk Arga, menahan tawa melihat ekspresi kaget Akasa. "Keknya ya, kata orang jaman dulu. Kalo wajah seseorang itu mirip sama kita itu tandanya jodoh. Nah, sekarang muka lo mirip sama Geshia, berarti Geshia jodoh lo, ka."
"Pantat lo," cetus Akasa. "Jodoh tuh ditangan Tuhan, bukan tangan lo bantet!"
"Ya gue tau. Tapi kan, kalo memang wajah mereka mirip biasanya kan itu jodoh. Siapa tau kan, Ka." Ucap Arga tertawa. "Gini ya, Kalo gue jujur. Sebenernya lo berdua tuh auranya ada kesamaan trus lo berdua tanpa sadar saling melengkapi tapi lonya aja yang gak sadar." lanjut Arga semakin terbahak.
"Njirr.. Lo emang butuh belaian ya Ga! Sampe gedeg gue liat lo."
"*******!" Arga malah tertawa. "Lo sendiri nggak ngaca apa?! Seenak jidat ngatain orang. ****!"
Geshia yang awalnya tertidur pulas kini ia terbangun dengan melototin kedua bola matanya seperti orang kaget. Bahkan, keringetnya gak aturan padahal AC di Pesawat dingin banget.
"Ges, lo kenapa? Kok kayak abis dikejer setan? Keringet lo banyak banget." Alis Arga terangkat satu.
Geshia menghembuskan nafasnya panjang lalu mengusap keningnya. Akasa menyodorkan tissue, "Ah, thanks," Geshia mengusap keringetnya, "Gue ngimpi jatuh dari gedung tinggi. Trus awalnya dikejer orang gak kenal, gue takut."
📣 Perhatian, saat ini pesawat sedang berada di ketinggian 38.000 kaki diatas permukaan laut. Anda bisa bergerak bebas di kabin pesawat ini. Terimakasih.
"Hm. Jadi keinget film full movie nih gue," ucap Geshia yang sedikit bergumam.
"Akasa," panggilan Geshia membuat Akasa menoleh. "Gue mau ngomong sesuatu, dengerin."
"Apaan?" tanya Akasa ber ekspresi datar.
"I Love You from 38.000 feet" Geshia pun tersenyum manis. Berhasil membuat Akasa kicep dan sedikit memiringkan kepalanya mencoba memahami dan kali ini jantung Akasa benar-benar diluar kendali.
Melihat reaksi Akasa, Geshia seketika tertawa dan tawanya pun pecah mengisi keheningan pesawat yang saat itu memang semua sibuk mengobrol pelan. Ia tertawa geli mengingat apa yang ia ucapkan baru saja, wajah Geshia pun memerah karna ia tertawa.
"Apaan sih lo, emang ada yang lucu?" dengus Akasa.
"Yang gue bilangin ke lo tadi itu judul film, Bodoh!" Geshia masih tertawa. "Ih biasa aja kalik mukanya. Nggak usah kaget gitu, sampe sakit nih perut gue ketawa liat reaksi lo."
"Gak Lucu, ****!" Akasa mendengus Kesal.
"Lucu ih!," Geshia masih tertawa. "Emangnya lo gak ngerti film itu?"
Akasa malah diam dan membuang muka dari Geshia. Geshia malah tersenyum.
Geshia pun menatap wajah Akasa tajam, lalu menunjuk dengan telunjuk tangannya, "Ih.. Akasa baper ya? Baper ya lo? Jujur."
"Apasih." ketus Akasa.
"I love you more than thousands of feet above the clouds,Akasa." ucap Geshia tersenyum manis.
"Bacot." Akasa bete dan makin bete karna tingkah Geshia.
"Ih gue serius yang kedua." ucap Geshia mendekatkan wajahnya ke Akasa.
"Ngapain lo, mundur." Akasa mendorong pelan Geshia.
"Ih.. Akasa merah pipinya. Gemes deh."
"Diem gak!"
"Enggak. I love you, Akasa."
"Tau ah. Serah lo!" Geshia pun tertawa makin kenceng dan membuat Keana mengelus dada.