I WANT U To KNOW

I WANT U To KNOW
Bualan Pagi



Pagi ini seluruh kelas XI IPA 2 dan XI IPA 3 bergabung di lapangan sekolah dengan seragam olahraga. Kelas Akasa dan kelas Miera, hm. Kelas mereka digabung karna jadwal dari Pak Huda bentrok sama jam kelas XI IPA 2 jadi kelas olahraga digabungkan. Semua siswa pun melakukan pemanasan yang dipimpin oleh salah satu perwakilan kelas masing-masing. Matahari pagi ini memang cukup terik bikin keringetan cepet banget gak seperti hari biasanya.


"Ah, Gerah banget nih. Astaga!" keluh Miera sembari pemanasan dengan mengibaskan bajunya.


"Ah. Harusnya gue bawa kipas kecil tadi! Sumpah, demi apapun. Ini panas banget ntar kulit gue item gimana?" keluh Kanya yang pasti kalau lagi gak nyaman sama keadaan, pasti dia mencak-mencak heboh sendiri.


"Pak! Bisa gak sih. Cari tempat yang teduh gitu. Disini, panas banget pak." ucap Clara mengeluh pada guru pengajar.


"Iya Pak. Cari tempat yang teduh gitu pak." ucap Kanya dan Miera kompak.


Pak Huda lalu mengarahkan pandangannya kepada trio mak lampir (sebutan dari Arga) dan mendengus pelan. "Sinar matahari pagi itu bagus buat kesehatan, buat kulit kamu juga. Gak akan kamu hitam kalau panas pagi hari, iya kalau jam 12 keatas."


"Tapikan, panas banget pak. Gak betah saya, disini lama-lama Pak." lanjut Miera.


Kesal mendengar bualan Miera, Kanya, dan Clara. Akhirnya Arga angkat bicara. "Kalian bisa gak sih, gak usah ngedumel muluk. Lo kira, kita-kita gak kepanasan apa? Panas cuy!." ketus Arga dengan menekan nada di "Panas cuy!"


"Tau nih! Bisanya ngeluh doang." sahut Aaron.


"Lebay banget jadi cewek." lanjut Keana. Lalu Aaron dan Keana saling tatap dan tersenyum sinis penuh kemenangan bisa nge skak Miera the geng.


"Asal lo tau ya! Gue alergi panas. Kulit gue cepet merah dan gatal kalo kena panas!" Miera melotot marah dan kesal.


"BERISIK!" Akasa muak mendengar bualan gak guna Miera. "Kalo lo gak niat gak mau ikutin peraturan sekolah buat olahraga disini, mending lo pulang! kalo enggak, pindah sekalian! Jadi cewek gak mau nerima apa adanya, banyak mau banget. Sok-sok an bergaya macem Princess tapi gak pantes sama kelakuan. Lo pikir gaya lo itu "wahh" gitu kalo diliat orang? Lo pikir lo cantik? Lo pikir lo banyak yang suka? Udah dandanan kayak mak lampir, sok-sok an cari muka. Udah, gak usah ngarep ketinggian jadi orang ntr giliran jatuh, nangis rengek ke Mama. Cih! Mending lo belajar nerima apa adanya dan seburuk apapun keadaan yang didepan lo. Kena panas gini aja bacot lo bikin gue istigfar, gimana ntar lo di NERAKA yang panasnya ngelebihin ini. Jujur, gue muak liat tingkah lo. Apa lo pengen tuh muka gue tebas? atau pengen gue jedotin kepala lo biar sadar diri jadi orang, biar otak nya lurus gak melenceng. Apa gue harus---"


"Ka, Udah! Udah." Aaron menarik tubuh Akasa untuk menjauh dari Miera yang bermaksud agar berhenti mengucap kalimat pedes yang penuh amarah pada Miera juga geng nya. Karna sekali Akasa marah, dia pasti ngucapin kalimat diluar akalnya alias sesuai fakta.


Mata Miera memerah dan berkaca-kaca setelah mendapati ucapan pedas dari Akasa. Napasnya naik turun tak beraturan dan tangannya mengepal geram. Ia menatap Akasa yang masih menatapnya tajam penuh amarah. Sementara itu, murid lainnya hanya terdiam menonton kejadian yang baru saja terjadi. Bahkan, Pak Huda hanya menatap mereka tanpa sepatah kata karna menurut Pak Huda, kata Akasa ada benarnya juga ada salahnya jadi ditengah-tengah.


"GUE GAK SUKA YA. DIBILANG KAYAK GITU SAMA LO, KA! BISA-BISANYA LO NGOMONG KASAR KAYAK GITU KE CEWEK. HAH?!" Miera teriak Marah. Ia pun tak kuasa menahan air matanya, sedikit demi sedikit air matanya membasahi pipi Miera. "GUE HERAN. KENAPA LO JAHAT BANGET KE GUE?!" Akasa membuang muka, enggan melihatnya.


Aaron melirik Akasa yang posisinya enggan melihat Miera yang sedang dramatis lagi. Aaron menyikut perut Akasa, "Noh kan. Nangis lagi tuh anak orang..."


Tangis Miera semakin menjadi namun, Akasa masih enggan menoleh kepadanya. "Kenapa lo sebegitu gak sukanya ke gue,ka? Gue salah apasih sama lo? Kenapa lo benci banget ke gue? Kenapa lo selalu kasar ke gue?!"


"Udah Ra..." ucap Kanya mengelus bahu Miera. Lalu Clara juga mendekat ke Miera, "Gue udah pernah bilang, omongan Akasa jangan pernah lo masukin ke hati ra. Dia kan emang kayak gitu kalo ngomong ra.."


"Tapi gue kesel, Cla. Lo bayangin, setiap kali baik dan apapun yang gue lakuin. Akasa selalu aja jahat ke gue, galak ke gue." Miera menjerit kesal.


"Sudah, sudah. Jangan ribut lagi." Pak Huda melerai permasalahan ini, karna tidak mau masalah ini ber angsur-angsur lama. "Gak usah nangis lagi. Nangisnya di pending dulu ya, kita lanjut pemanasannya lagi, oke?"


Baru saja Pak Huda akan memulai pemanasan. Lantas gerakannya terhenti karna mendapati seseorang yang baru saja muncul dengan napas yang tam beraturan.


"Pak, maaf. Saya telat!"


Semua mata murid tertuju pada dia, cewek yang datang telat dengan wajah dipenuhi dengan keringat. Pipinya memerah, juga nafasnya tak beraturan yang menandakan dia kecapekan. Bisa tertebak, baru saja dia berlari karna telat.


"Saya boleh ikut renang pak?" Geshia berucap canggung pada Pak Huda dan membuat Pak Huda kebingungan.


"Renang pala lo soak!" Arga yang mendapati tuturan Geshia lucu, diapun tertawa terbahak-bahak. "Ini kita semua lagi pemanasan, Geshia Sayang! Bukan Renang."


Geshia menoleh kearah suara Arga seketika pipinya memerah tomat. Ia juga menyadari ketika menunduk, bahwa dirinya masih mengenakan baju putih abu-abu. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan menghembuskan nafas, kemudia kembali menatap Pak Huda.


Pak Huda pun bertanya, "Kamu anak baru ya?"


Geshia mengangguk merasa bersalah karna udah telat, eh gak pake baju olahraga juga. "I-iya---."


"Iya Pak. Cantik Banget kan?!" sahut Jordan tiba-tiba dengan penuh semangat. Sedangkan Aaron dan Keana hanya terdiam menyaksikan. Jordan mendapati sorakan dari teman-temannya.


"Hei! Geshia punya gue!" seru Arga yang bermaksud sebagai candaan.


Jordan pun membalas, "Punya Gue! Jangan ngaku-ngaku deh."


"Punya gue!"


"Gue!"


"Gue, nying!"


"Gue, Sat!"


Akasa pun berdecak kesal, karna duo curutnya kumat lagi. "Terusin aja, lo berdua saut-sautan kayak gitu sampe negara api menyerang disini!"


"Siapa namamu?" tanya Pak Huda.


"Geshia, pak." jawab Geshia.


Pak Huda paham dan mengangguk lalu menyuruh Geshia untuk bergabung dibarisan. Geshia menurut, lalu mencari orang yang dia kenal yaitu sahabatnya si Keana. Namun, ketika ingin melangkah sekali lagi, tiba-tiba Geshia terjirat oleh tali sepatunya sendiri mengakibatkan dia tersungkur tepat di depan Akasa.


"Aduh!" Geshia mengaduh karna lututnya mencium lantai cukup keras membuat lututnya lecet. "Ah. Pake acara jatuh segala lagi. Geshia, lo ***** apa gimana sih?" _batin kesal Geshia.


Akasa pun reflek menunduk, lalu menatap Geshia yang jatuh tepat di depannya dan berkata. "Bangun sendiri, jangan manja." cetus Akasa lirih berharap Geshia saja yang mendengar.


Mendengar suara Akasa, Geshia pun cepat-cepat bangkit. Walaupun kesal karna gak dibantuin. "Bukannya bantuin, malah ngatain manja. Dasar Batu Es!" kesal Geshia sembari menatap Akasa. Geshia pun memposisikan dirinya tepat dibelakang Akasa karna itu posisi kosong, namun Arga malah meraih tangan Geshia untuk ganti posisi Arga yang tepatnya di depan Akasa.


"Aduh. Kenapa sakit banget sih ah." keluh Geshia kesakitan. Lalu menunduk dan menatap lututnya, menyadari ada luka di lututnya. "Astaga! Berdarah. Pantesan." gumamnya sambil memincing kesakitan beberapa kali.


"Lo tuh niat sekolah gak sih?" ucap Akasa tiba-tiba sambil menatap Geshia yang masih memandangi lukanya lalu mengarahkan pandangannya ke Akasa "Udah telat datengnya hampir sejam, nggak pakek seragam olahraga, trus tali sepatu gak diiket. Ditambah lagi pake acara jatuh segala, masih untung lo dikasih cobaan lutut berdarah, kalo pas lo jatuh barusan bikin lutut lo retak gimana? apa gak lebih sakit dari luka lo itu?"


"Ih, lo kok jahat banget ngomongnya, ka!" Geshia memutar badannya menghadap Akasa, yang awalnya hanya menoleh namun kini bersama badannya. Lalu tanpa berpikir panjang, Geshia menabok dada Akasa. "Kalo orang normal. Liat temennya jatuh itu ditolongin, bukan malah kayak lo cuman pantengin doang trus malah ngatain. Lo waras gak sih Ka?."


"Emang lo temen gue? Gue waras. Ya kan gue bener, selagi lo bisa berdiri ya berdiri aja sendiri. Gak usah manja." ketus Akasa sambil menatap dingin.


Geshia pun cemberut kesal. Ia memutar tubuhnya kembali menghadap ke arah depan untuk memfokuskan diri ke Pak Huda. Namun, Hati Geshia masih amburadul gara-gara Akasa. Karna Geshia, heran se heran-herannya. Orang yang awalnya dikira udah baik kedia, ternyata masih aja Batu dan setega itu liat orang jatuh tanpa harus menolongnya. Akasa benar-benar orang Batu banget.


"Dasar, Batu Es!." Geshia mengumpat kesal.


Akasa yang mendengar umpatan Geshia, namun ia tak merespon dengan kalimat lagi melainkan hanya berdehem dan tersenyum sinis.


Semenit setelah kejadian itu, Tiba-tiba...


Geshia Pingsan.


"Astagfirullah! Ges!" teriak Arga kaget melihat Geshia yang jatuh tepat di pandangannya. Mendengar pekikan dari Arga, semua murid kelas XI IPA 2 dan XI IPA 3 mengalihkan pandangannya ke Geshia.


"Geshia! Ges!" ucap Arga sambil mengguncang bahu Geshia. "Kok dia malah pingsan sih?!"


"Astaga, Ges. Sorry gue lupa. Lo gak kuat panas." panik Keana tiba-tiba dengan menepuk pipi Geshia. "ini salah gue!"


"Udah ih. Ngapain malah nyalain diri lo." tutur Aaron nepuk pundak Keana.


Dalam hitungan detik, Geshia dikerumunin murid yang berada disitu. Semuanya panik, dan berharap Geshia baik-baik saja.


"Pak, ini gimana?" Arga berteriak. Geraknya memang lelet buat ketua kelas karna kalau udah panik, Arga gak bisa ngapa-ngapain. "Ga! lo kok malah panik. Angkat kek, bawa ke UKS!" kesal Keana.


"Ya gimana? Gue sungkan, ****!" ketus Arga. "Dungu banget! Gue jadi lo, gak banyak bacot dan langsung gue angkat!" Ketus Keana. "Lo bisa diem gak?!" sahut cetus dari Akasa dan membuat semuanya terdiam.


Akasa yang sedari tadi menatap datar Geshia yang sedang pingsan di depannya, kini ia berjongkok di dekat Geshia dengan menepuk pipi Geshia dan berharap agar Geshia cepat bangun. Tapi, semuanya percuma.. Keringat yang upnormal terus mengucur dipelipis Geshia. Mata Geshia masih terpejam. Akhirnya, tanpa banyak omong. Akasa langsung menyelipkan tangannya dilekukan kaki lalu tangan kirinya berada dipunggung cewek itu. Ia pun menggendong Geshia. Perlakuan Akasa yang tiba-tiba kepada anak baru itu, berhasil membuat semua temannya melongo terutama Miera geng yang semakin emosi tingkat dewa.


"Saya bawa dia ke UKS, pak." ucap Akasa kepada gurunya.


Ia pun berjalan ke UKS sembari menggendong Geshia. Badan Geshia ringan dan tak begitu berat. Tubuh Geshia sangat mungil, dibandingkan Akasa yang memiliki tubuh kekar. Ia pun menatap wajah Geshia sesekali. Dalam hati ia berucap, "Ini cewek, beneran pingsan? atau cuman drama sih? tapi keringetnya ini gak wajar juga. Hm" Akasa mendengus ringan.


Ia pun kembali fokuskan pandangannya kedepan. Ia berharap, ingin segera tiba di UKS dan menyerahkan cewek ini pada pengurus kesehatan, lalu dirinya bisa bebas dan kembali ke lapangan untuk berolah raga juga bermain basket.


Tanpa sepengetahuan Akasa, Geshia diam-diam membuka matanya sedikit lalu memandang wajah Akasa.


"Subhanallah, Ganteng banget ciptaanmu ini."


Ia merasa bangga karna bisa digendong cowok ganteng model Akasa walaupun sikap seperti Batu Es dan mempercayai bahwa si Prince Charming di SMA ini adalah Akasa. Rasanya itu, My Heart bergendang-bergendang bagaikan ada konser BTS K-POP gitu. Lalu Geshia pun menahan senyum, pipinya pun memerah. Dan hal itu, tak sengaja tertangkap oleh Akasa.


"Lo pura-pura pingsan ya?! biar bisa gue gendong?!" celetuk Akasa tiba-tiba dan langsung melepas genggamannya pada Geshia dan membuat Geshia terjatuh di lantai cukup keras.


"YaAllah! Sakit, ****!" Geshia histeris sambil ngatain Akasa "****". Matanya terbuka lebar dan benar-benar terkejut. Lalu ia mendongak, menatap Akasa yang berdiri dihadapannya menatap kearahnya, "PANTAT GUE SAKIT, BANGKE!!!"


Dan Akasa pun tanpa menggubris keluhan Geshia, dia langsung pergi meninggalkan Geshia yang kesakitan.


"TUH ORANG BENER-BENER YA! KA! AWAS LO. JAHAT BANGET JADI ORANG! UNTUNG GANTENG," teriak Geshia kesal.


kasa berjalan dan sesekali mendengus kesal dan tersenyum miring, mengadahi bahwa cewek itu kelewat sinting. "Dasar! Cewek sinting!" batin Akasa.