I WANT U To KNOW

I WANT U To KNOW
Toko Bunga



Malamnya Akasa sudah sampai dirumah. Lalu ia mandi dan wudhu untuk mensucikan dirinya. Arletta, adik perempuan Akasa telah menunggunya di teras rumah.


"Kak, kok lo baru pulang?" tanyanya tapi Akasa tak menggubris, "Ye, ditanyain bukanya jawab malah nyelonong, gak ada akhlak lu."


Akasa pun menoleh ke adiknya. "Dari Cafe nya Jordan. Kamu udah makan?" tanya Akasa.


"Tumben panggilnya Kamu, biasanya Lo. Kakak kesambet apasih?"


"Enggak. Kakak cuman pengen jadi kakak yang baik buat kamu. Mulai sekarang kakak pengen manggilnya yang bener (Aku-Kamu) bukan (Lo-Gue) gitu dek."


"Hm, baiklah. Gue eh maksudnya aku mau ke mama dulu deh."


"Iya. Kakak bentar lagi keluar lagi, kamu mau pesen apa?"


"Mekdi kak."


"Hm."


Akasa pun berjalan menyusuri anak tangga karna kamarnya berada dilantai dua. Ia melewati dapur dan ruang makan, disana ada papa dan mamanya.


"Nak, baru pulang?" ucap Papa nya yang lagi membaca koran.


"Iya pah."


"Habis nge layat ke temenmu dulu ya?" tanya papa lagi.


"Iya pah. Akasa ke atas dulu ya."


"Iya. Istirahat ya."


"Tapi Akasa ada janji pah, Akasa mau keluar lagi."


"Hm, baiklah. Tapi jangan kemaleman, gak baik buat kesehatan."


"Iya pah."


Sesampainya dikamarnya, Akasa melempar tas punggungnya di atas meja belajar lalu ia melempar tubuhnya diatas ranjang dan memejamkan matanya sebentar.


"Ah... Kenapa gue masih badmood aja sih?" gumamnya. Lalu ia meraih ponsel yang ia taruh diatas meja. Dan ia membuka Kontak dan menuliskan nama GESHIA MANJA.


"Ges." Akasa mengirim pesan kepada Geshia. Tak butuh waktu lama, Geshia membalas.


"Iya, ka. Kenapa? lo udah dirumah? Jangan lupa makan, jaga kesehatan lo"


"Gak kenapa sih. Udah. Iya, bawel! Gue otw rumah lo ntar lagi,"


"Ha? ngapain?"


"Gue mau mandi dulu."


"Ngapain?"


"Mau ikut?!"


"Eh.. Apasih."


"Udah. Lo mending dandan sono. Gue gak nerima penolakan dan gue gak nerima nunggu lama."


"Eh.. Iya deh iya. Yaudah sono mandi."


Akasa tak membalas pesan itu dan langsung bergegas ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama untuk mandi karna Akasa paling gak suka lama-lama dikamar mandi, lalu ia menyisir rambutnya didepan cermin dan tersenyum, entah apa yang membuat moodnya membaik.


"Gue ganteng ya. Gue cocok deh, sama si manja." ucapnya tak sadar. "Eh gue ngapain sih, nih mulut gak aturan dah!" omelnya dengan menampar mulutnya.


Akasa pun sudah siap dan meraih kunci motor lalu berlari keluar kamar menyusuri tangga.


"Ati-ati ya. Jangan ngebut, bismillah" ucap Roselin.


"Siap mah"


"Pah, Mah. Akasa berangkat." Akasa berpamitan dan tak lupa mengacak lembut kepala adiknya. "Kakak berangkat."


"Iya, ati-ati."


***


Geshia sudah berdandan cantik dengan style santai, ia mengecek jendela kamarnya yang menghadap ke gerbang rumahnya lalu terlihat Akasa yang sudah nangkring diatas motornya, Geshia tersenyum dan berlari kecil keluar kamar dengan menyusuri anak tangga. Ganendra, Papa dan Mama sedang berada diruang tamu pun sontak menoleh ke arah Geshia.


"Lho, mau kemana sayang?" tanya Papa. Belum Geshia menjawab dan hanya tersenyum, Ganendra menebak tepat.


"Akasa ya?"


"Eh, mas tau aja." ucap Geshia cengengesan.


"Oh, si Ganteng itu?" ucap mama Geshia. Geshia mengangguk.


"Pah, Mas, Mah... Geshia berangkat ya." ucap Geshia berpamitan.


Mama pun mengantar Geshia sampai ke depan pintu.


"Hati-hati ya. Jangan kemalaman, gak baik buat kesehatan apalagi kamu cewek." ucap mama me wanti-wanti.


"Siap mah. Geshia berangkat, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam. Akasa, pelan-pelan ya. Jangan kemalaman." teriak Mama Geshia.


"Iya Tante, siap. Geshia aman kok kalo sama Akasa." balas Akasa sembari tersenyum.


Mata Akasa teralihkan ke Geshia yang tampak begitu cantik.


"Lo mau kemana? Tumben dandanan lo kayak gini?" ketus Akasa.


"Mau date sama cogan." Akasa menatap Geshia terkejut sembari memasang helm.


"Kenapa? Gue bener kan? Akasa ganteng." goda Geshia lagi.


"Njirrr.. Gak mempan godaan lo buat gue. Nih pake." memberikan helm ke Geshia.


"Ih, Gak asik ah."


"Bodo."


Geshia pun menaiki motor Akasa,


"Pegangan, ntar jatuh trus nangis kan gue yang susah." ucap Akasa.


"Ih, iya iya."


Geshia langsung memeluk Akasa, tangannya melingkah diperut Akasa. Motor pun berderum keras dan melaju meninggalkan rumah Geshia.


Selama perjalanan, Geshia terdiam dan menikmati suasan di malam hari sedangkan Akasa hanya meliriknya melalui Kaca Spion. Lalu Geshi menatap Akasa seperti tatapan penuh tanda tanya.


"Ka," panggilnya.


"Apa?"


"Mau kemana sih?"


"Mau lo?"


"Gak tau"


***


Motor Akasa pun berhenti tepat di depan toko bunga. Geshia tertegun, pikiran Geshia bertanya tanya. Kenapa Akasa berhenti di toko bunga?. Dengan ekspresi cengo nya sembari membuka Helm dan memberikannya kepada Akasa sedangkan Akasa bingung dengan mimik wajah Geshia.


"Lo kenapa Ges?" tanya Akasa membuyarkan Geshia.


"Ha? Apa?"


"Muka lo kenapa kayak gitu? Lo mikir apa sih?"


"E-enggak. Lo, lo kenapa nge bawa gue kesini? Lo mau beli bunga buat siapa? Siapa yang mati Ka?"


"Buat cewek. Hust! mulut lo." sentak Akasa.


"Abisnya, lo sih tiba-tiba ngajak orang trus berhenti di depan toko bunga. Pikiran gue kan jadi kemana-mana. Emang cewek siapa yang mau lo kasih? Lo deket sama cewek? Kok gue gak tau sih." protes Geshia.


"Bukan urusan lo, gue deket sama siapa. Yang penting, gue mau kasih dia bunga. Udah, lo diem jangan bawel dan bantu gue milih bunga yang menurut lo bagus." perintah Akasa.


"Ih, ngeselin."


Akasa hanya melirik Geshia sekilas yang terlihat kesal, lalu Akasa memasuki toko tersebut dengan diikuti Geshia.


"Halo, Selamat Malam. Mau cari bunga apa kak?" ucap penjaga toko.


"Bentar kak, mau liat-liat dulu." balas Akasa tersenyum kepada penjaga toko.


Sedangkan Geshia sedang asik dengan dunianya, ia memilih dan menciumi bunga lalu tersenyum tenang. Akasa yang melihatnya pun tak disangka tersenyum samar.


"Pacarnya ya kak? Cantik." ucap Penjaga toko tiba-tiba.


"Iya. Banget, makanya gue kesini mau ngasih bunga. Tapi besok ngasihnya." batin Akasa.


"Bukan pacar saya kok kak. Dia temen saya." balas Akasa.


"Ah, sayang. Padahal kakak sama kakak cantik itu mirip dan cocok banget. Tapi aku percaya, lambat laun pasti kalian punya ikatan." ujar penjaga itu. Akasa tersenyum sembari memegang bunga dan mengalihkan pandangannya ke Geshia.


Geshia pun menatap Akasa dan tersenyum menghampiri Akasa dengan membawa segagang bunga berwarna pink soft.


"Ka, menurut gue. Bunganya bagus ini deh kalo buat cewek, gue suka ini. Maksud gue kan lo nyuruh---" Geshia menyelesaikan omongannya, dia langsung merampas bunga itu dari tangan Geshia, Alhasil Geshia terkejut dan teriak.


"Ah!" ternyata tangannya tergores duri bunga mawar tersebut.


Akasa pun terkejut dan sigap meraih tangan Geshia, ia panik.


"So-sorry Ges." ucapnya, lalu ia menghisap darah yang ada di luka jari Geshia.


"Ka! Jangan. Kotor!" ucap Geshia agar Akasa tak menghisap darah itu.


Lalu Akasa meludahkan darah Geshia yang ia hisap. Akasa lalu bertanya ke penjaga toko memiliki handsaplash atau tidak, ternyata punya. Lalu Akasa memplesterkan luka Geshia. Akasa terlihat merasa bersalah, lalu Geshia mengusap Kepala Akasa.


"Gak pa-pa, emang kebiasaan lo gitu ka. Tapi lain kali jangan ya, iya kalo sama gue gak pa-pa ntar sama orang lain kan siapa tau." ucap Geshia menenangkan Akasa. Akasa hanya menatap Geshia.


"Yaudah." balas Akasa singkat, namun Geshia tersenyum.


"Kak, saya pesen sebuket bunga yang ini. Besok pagi saya ambil ya." ucap Akasa dengan menerima kartu nama pesanan.


Mereka berdua pun keluar dari toko bunga dan kembali melajukan motornya. Kali ini, tujuan mereka adalah ke Cafe Jordan.


"Lo, pengen ke cafe kan?" tanya Akasa.


"Ha?" Geshia tak mendengar lalu membuka kaca helmnya.


"Lo mau ke cafe nya jordan? Kalo mau, kita kesana sekarang. Mumpung masih jam setengah delapan dan takut kemaleman nanti. Gimana?"


"Iya. Gue pengen Mochachino."


"Oke."


Akasa pun melaju dengan kecepatan tinggi hingga membuat Geshia memeluknya sangat erat. Geshia tak tahan, ia berteriak.


"AKASA RAMATHA!!!"


Akasa pun mengurangi kecepatan motornya lalu membuka kaca helmnya.


"APA?"


"Jangan kayak setan! Takut, ****!" omel Geshia.


"Biar cepet sampai, ntar kemaleman. Lo cuman bisa beberapa menit doang disana"


"Ya bodo. Kalo gue takut, ya takut."


"Iya iya." Akasa menurut.


***


Akhirnya mereka sampai di Cafe nya Jordan. Dan terlihat dari parkiran, di lantai dua yaitu plafon tempat alias Basecamp Akasa DKK yaitu udah ada Aaron, Arga, Keana juga Jordan sedang berbincang. Geshia bingung.


"Yuk!" ajak Akasa. Namun, Geshia masih melamun. Akasa pun meraih tangan Geshia dan menggandengnya.


"Ka, anak-anak kok disini? Kek basecamp nya aja."


"Emang iya." ketus Akasa.


"Maksudnya?"


"Yang lo liat tuh basecamp kita."


"Tapi Keana?" Geshia berhenti melangkah lalu Akasa berhenti dan menoleh kearah Geshia. Geshia tampak sekali memberi mimik wajah kecewa dan ingin menangis.


"Jangan salah paham. Kenapa lo gak ada di basecamp? karna lo masih baru, dan kenapa cuma Keana? Karna Keana temen gue dari jaman kelas satu. Dan lagi, lo selalu kesini kan dan dikursi itu?" ucap Akasa menunjuk salah satu kursi dekat Jendela.


"Iya."


"Itu kursi udah dikhususkan buat lo Dulu Keana juga disitu sebelum akrab sama Gue, Aaron, Arga dan Jordan."


"Ha? gue gak paham."


"Intinya, Keana tuh dijauhin sama anak cewek karna sifatnya yang jutek dan dingin. Dan itu juga ngebuat Aaron bucin ke dia."


"Jadi..."


"Jadi karna Aaron, Keana bisa ngebuka sifat asli dia. Dia aslinya gak gitu kok tapi emang sih, lebih parah dari gue tapi giliran bercanda kebablasan."


"Oh. Emang iya Keana tuh ***** aslinya. Cuman kebanyaka orang nilai dia dengan sebelah mata, jadi jengkel gue"


Sesampainya di balkon basecamp. Semua pun menyambut.


"Welcome to your basecamp, Ges!" ucap Keana.


"Welcome, Princess" imbuh Arga.


"Yuhuuuu.. Welcome, Geshia!" ucap Aaron dan Jordan bersamaan.


Geshia tersenyum senang. Lalu menatap Akasa, Akasa tersenyum samar namun Akasa mendengar ucapan lirih Geshia.


"Thanks Ka. Ini bermakna buat gue." lirih Geshia sembari menatap Akasa.


Geshia memeluk semua temannya sedangkan Akasa terdiam mematung menatap Geshia yang tertawa bahagia. Dia tak menyangka bahwa gadis yang ia suka, berterimakasih kepadanya atas apa yang ia lakukan. Lalu Akasa pun ikut bergabung juga merayakan atas bergabungnya Geshia di basecamp cafe Jordan.