I WANT U To KNOW

I WANT U To KNOW
Good Morning



Aku hanya ingin mencintai satu orang, tak perduli ia membalasnya atu tidak. Karna yang aku inginkan adalah melihatnya setiap hari dalam diam.


🍃


-I Want To You Know-


Pagi yang cerah, burung menyambutnya dengan kicauan yang riang serta matahari tampak bersahabat hari ini. Dan tak lupa Geshia seperti biasanya, kesekolah diantar oleh Kakak Kesayangannya yang sedang cuti kerja.


"Geshia, ayo. Udah jam setengah tujuh nih. Udah siapa belum?" pinta mas Ganendra.


"Bentar kak. Masih nyisirin rambut" Ganendra hanya bergeleng samar.


Dimeja makan ada Ganendra, Mama dan Papa. Mereka sedang sarapan roti dan susu, Ganendra paham pasti Geshia gak bakalan sarapan jadi ia meminta mamanya untuk membuatkan bekal Geshia.


"Mah, tolong bikinin bekal buat Geshia." pinta Anak sulung mamanya.


"Hm, iya bentar. Geshia apa telat bangun lagi?" tanya Mama dengan mengoles selai strawberry ke roti


"Maybe mah. Ganen gak tau sih, tapi semalem pulang dari rumahnya Akasa itu pas dianter sampai rumah jam 9 an toh."


"Hm, iya juga."


"Iya mah. Gak mungkin sampai rumah dia berberes lalu tidur, ganendra gak yakin karna pasti main hp dulu baru tidur."


Lalu Geshia turun menghampiri Mama, Papa dan Kakaknya. Mereka bertiga menatap Geshia yang kelihatannya sedang kesulitan membenahi tas punggungnya.


"Bisa?" tanya papa.


"Bisa kok pah. Hehe," balas Geshia cengengesan.


"Sini, mama masukin ke yang gede ya. Nanti dimakan, jangan sampai gak dimakan." ucap Mamanya memasukkan bekal kedalam tas Geshia.


"Eh ya, thanks mah."


"Yuk berangkat, ntar telat lho." kata Mas Ganen.


"Iya mas. Yaudah mah, Pah. Geshia berangkat dulu ya. Assalmu'alaikum." ucap Geshia dengan berpamitan dan disusulah mas Ganen juga.


"Hati-hati bawa mobilnya. Ganen, pulangnya mampir ke supermarketnya ya nak. Tolong beliin, wortel" pinta Mama.


"Siap mah."


***


Ditengah perjalanan, wajah Geshia tampah sumringah riang dan senang sekali. Tampak jelas dimata Ganendra, terlukis senyum dibibirnya disepanjang jalan.


"Kamu kenapa dek? kok keliatannya seneng gitu?"


"Gak pa-pa kok mas. Hehe" balasnya, "Oh ya, nanti mas mampir ke supermarket kan?" Ganendra mengangguk. "Geshia nitip ya."


"Iya, nanti mas beliin."


"Lah tau maksud Geshia?"


"Banana Milk, Pocky kan?" ucap Ganendra sesekali menatap Geshia.


"Hehe, iya. Sampe hafal masnya aku ini." Geshia cengengesan.


Akhirnya sampailah Geshia di sekolah, mobil berhenti tepat didepan gerbang sekolah.


"Mas," panggil Geshia dan berpamitan.


"Iya, semangat." ucap Ganendra.


"Iya. Bye, bye"


"Bye too cantik."


Geshia pun memasuki gerbang sekolah, dia tak lupa menyapa satpam yang menjaga "Pagi, pak."


"Eh, pagi juga. Geshia, dianter siapa?" tanya pak tony, satpam sekolah.


"Oh, dianter kakak pak. Yaudah, Geshia masuk dulu ya."


"Siap. Semangat."


Lalu Geshia memasuki lobby dan koridor sekolah, semua mata memandangnya. Entah kenapa, Geshia merasa begitu. Seperti ada yang tidak beres, tapi apa?


Sesampainya didepan kelas XI Mipa 2 yaitu kelasnya, Geshia mbuang nafasnya dan berucap "Bismillah", mengawali semuanya dengan baik.


"Good Morning, guys!" ucap Geshia memasuki kelas, dan seperti biasa. Arga, Aaron, Jordan, Keana sudah berkumpul dimeja Akasa yang tak lain meja Geshia juga.


"Oh, Geshia. Morning too girl" balas Arga.


"Morning too," balas Keana, Aaron dan Jordan. Kecuali Akasa. Geshia senyum layaknya bidadari, manis banget.


Sembari menaruh tasnya di bangku, Geshia berucap, "Morning, ka." ucapnya dan tersenyum.


Akasa hanya mendengus dan melirik Geshia sinis, Geshia hanya mengaopkan mulutnya dan mengangkat alisnya satu juga memiringkan kepalanya yang mengartikan "Okay"


"Wahh.. Ron, udah sehat lo?" kata Geshia.


"Alhamdulillah. Berkat kalian semua gue sehat dan gue bisa cerita kemarin itu, lega banget."


"Syukur deh."


"Kalo ada apa-apa cerita kekita, siapa tau bisa bantu dan jangan dipendem sendiri. Gak cuman Aaron, tapi kalian semua." ucap Geshia. Keana menatap Geshia tajam.


"Kenapa natap gue gitu ke? gue salah?"


"Ya"


"Lho?" Geshia bingung, dan Akasa memberhentikan kesibukannya lalu memilih melihat perdebatan Keana dan Geshia dipagi hari.


"Lo sendiri bisa gak? gak inget apa, kejadian beberapa hari yang lalu? hah?! ini gue marah, karna lo suka mendem dan gak mau cerita kalo ada masalah sedangkan lo sekarang bisa ngomong gitu, gak ngaca?!"


"Ke..."


"Iya gue tau privacy tapi, gue sahabat lo. Gue khawatir lo kenapa-kenapa, setidaknya lo cerita ke gue, lo kenapa. Bukannya diem aja, bohong bahwasannya lo baik-baik aja. Itu gak make sense tau gak!" ucap Keana tegas dan dingin.


"Maaf Ke.. Tapi--" belum selesai ngomong, Keana udah motong, "Tapi apa?"


"Gue belum ngomong ke," lirih Geshia, "Gue mutusin buat cerita tiap kali ada masalah, gue kapok yang kemarin. So, gue juga udah belajar yang nyata yaitu Aaron yang bisa cerita tanpa mendem. Gue gak bakalan gitu lagi, ke... Janjiiiii! Jangan marah dong, takut!" rengek Geshia yang memeluk Keana. Keana tersenyum.


"Serius? Janji?" ucap Keana, Geshia mengangguk. Arga, Jordan, Aaron tersenyum menyaksikan, berbeda dengan Akasa hanya tersenyum didalam hatinya.


Bel pelajaran pertama pun berbunyi, hari ini pelajaran pertama adalah Matematika. Pelajaran yang paling gak disukai Geshia.


"Aaarghhhh" Akasa melirik sekilas keluhan Geshia.


"Gak usah ngeluh. Gak usah ngrengek, diem!" ketus Akasa.


"Ih," kesal Geshia.


Lalu guru itu menyuruh membuka halan 125 pelajaran tentang Himpunan Matriks. Guru itu menyuruh untuk membacanya lalu mengerjakannya no 1 sampai 10. Dan yang sudah selesai, diperbolehkan istirahat karna kata guru itu mau ada rapat jadi tugas itu dikumpulkan.


"Gila nih guru. Ya kalik no 1 sampai 10 dikerjain 30 menit doang." lirih Geshia.


"Udah, kerjain sebisanya. Gak usah bawel." celetuk Akasa.


"Lo tuh, gue ngomong sendiri make dijawab segala."


"Ya gue kan baik, takut ntar anak-anak ngiranya lo gila soalnya ngomong sendiri, gimana mau?"


"Ih nyebelin."


"Udah kerjain. Ntar gue bantu" ucap Akasa melembut.


"Iya."


Akhirnya Geshia nurutin Akasa dan mengerjakannya dengan telaten. Ternyata Geshia hanya salah sedikit, jadi Akasa sekalian jelasin dan benerin pekerjaan Geshia. Geshia dengerin tapi matanya natap wajah Akasa.


"Lo liat apa? liat gue?" ucap Akasa natap Geshia tajam. Geshia melotot.


"E-enggak kok. Ge er banget sih, Gue liat ini penjelasan lo kok."


"Hm. Perhatiin, biar gak salah lagi kalo ada soal." kata Akasa mencoba sabar.


"Iya."


***


Akhirnya bel istirahat berbunyi, kali ini mereka ber enam sudah berada di kantin sekolah dengan makanan dan minuman favorit masing-masing.


"Makanya, kalo belum dicoba jangan ber asumsi kalo lo gak bakalan selesai. Lo pasti bisa kok, malah sebelum waktu habis pasti selesai." kata Akasa sembari memotong bakso dengan sendoknya.


"Iya ya. Ya deh, lain kali gak gitu lagi." Akasa melahap bakso dan berdehem.


"Akhirnya, sobat ambyar gue udah akur." ucap Arga si receh.


"Iya nih, kang ribut tiap ketemu udah akur.. Awuuuhh" si ***** Aaron memulai bikin ulah.


Akasa hanya melirik tajam membuat mereka kicep. Di saat mereka asik makan, tiba-tiba geng Miera dateng nge bagiin brosur acara Diesnatalis and Class Meeting, yaitu acara gabungan gitu. Ulang tahun SMA dan acara hiburan jadi satu.


"Nih ka. Lo tampil kan?" ucap Miera menyodorkan Brosur ke Akasa. Akasa melirik tak menerimanya namun, Arga menyautkan.


"Sini, gue mau baca." ucap Arga.


"Ih, gue ngasihnya ke Akasa malah lo yang nyaut. Bantet!" kesal Miera.


"Ah, serah lo." Arga tak menggubris perkataan Miera.


"Nih," Miera menyodorkan dengan kasarnya hingga mengenai muka Geshia dan mata kiri Geshia.


"Akhh.." rintih Geshia. Akasa langsung memberhentikan makannya. Geshia udah mau marah dan ngomel tapi Akasa malah mendahuluinya.


"Lo, bisa gak sih. Nyodorin brosur gak usah kasar?! Kalo mata anak orang kicep gimana? Mau, mata lo sumbangin ke anak yang lo kasarin. Hah?!" murka Akasa karna Miera kasar ke Geshia.


"Apasih, gue gak kasar. Lagian nih cewek, drama banget." ucap Miera. "Ambil kek, jangan liatin gue kayak gitu. Kenapa? Gue cantik ya? Yaiyalah, gak kayak lo."


"Udah! Cukup! Mending lo pergi. Gak usah ganggu kita yang lagi makan, dua brosur udah cukup. Sono!" tegas Akasa. "Oiya, satu lagi. Lo ngatain Geshia Drama ya? Ahahah, gak ngaca? Bukannya lo ya, yang drama banget. Apa gue perlu tanya murid seisi sekolah yang nyaksiin drama lo?! Dan lagi, lo tuh gak ada cantik-cantiknya dibandingin sama Geshia. Lo beda jauh, ibarat dari sabang sampai merauke. Ngerti!" lanjut Akasa.


Geshia hanya memegangi mata kirinya dan menatap Akasa yang berucap aneh menurutnya, Geshia tak percaya apa yang diucap Akasa. Lalu Miera beranjak pergi dengan kesalnya. Sedangkan Akasa kembali duduk lalu menatap Geshia.


"Lo gak pa-pa?" tanya Akasa.


"G-gue gak pa-pa, cuman pedih aja mata gue." ucap Geshia. Lalu Akasa berdiri dan menggandeng tangan Geshia.


"Lho, lho. Mau kemana?" Geshia bingung.


"Udah diem. Ikut gue." balasnya. Akhirnya Geshia nurut dan ngikutin Akasa dengan digandeng tangannya, semua mata memandang ke arahnya. Cewek-cewek pada berbisik dan Geshia merasa semuanya membencinya karna Akasa sicowok ganteng ini menggandeng cewek modelan kek Geshia.


"Kok ke UKS?" tanya Geshia. Akasa tak menggubris.


"Bu, ada obat mata?" tanya Akasa ke guru penjaga UKS.


"Ada Ka. Siapa yang sakit matanya ka?" tanya guru itu, Guru itu sering sekali mengobati Akasa pas Akasa terluka habis bertanding begitu.


Akasa menoleh ke Geshia dan diikuti Guru itu melihat apa yang dilihat Akasa. "Oh, gadis cantik ini." guru itu tersenyum juga dengan Geshia.


"Yaudah, ikut ibuk yuk. Basuk mukanya dulu." Geshia pun membasuh mukanya. lalu mengeringkannya dengan tissue.


"Sini ibu tetesin obatnya," Geshia mendongak ke atas,


"Dia pacar kamu, Akasa?" pertanyaan Bu perawat itu membuat Geshia kaget, Alhasil matanya kecolok obat mata.


"Aduhhh" rintihnya, Akasa langsung panik. "Ges, ihh.. Lo tuh ya!"


"Eh, cantik. Kamu kenapa?" buguru juga panik, kaget. Lalu guru itu melihat Akasa yang juga panik membuatnya tersenyum.


"Bu, kami gak pacaran kok. Aduuhhh" ucap Geshia mengaduh.


"Hm, tapi Akasa khawatir banget lho." ucapnya.


"Saya suka sama Akasa bu, tapi gak tau Akasanya." balas Geshia konyol.


Bu perawat hanya tertawa, Akasa tampak sebal tapi dalam hatinya menjawab Gue lebih dan lebih suka sama lo,


"Udah, beres." ucap guru itu setelah meneteskan obat mata ke mata Geshia.


"Makasih bu." ucap Geshia. "Makasih ya bu." lanjut Akasa.


"Doa ibu, Semoga kalian jadian." ucap Ibu perawat dan membuat mereka berdua canggung.


***


Mereka berdua sampai dikantin lagi untuk melanjutkan makannya.


"Lo dari mana aja sih berdua?" tanya Arga.


"Dari UKS." sahut Geshia.


"Oh, jadi Akasa yang tiba-tiba narik tangan lo tadi mau ke UKS?" tanya Keana. Geshia mengangguk sedangkan Akasa menjawab, "Ya."


"Lho khawatir ya ka?" tanya Jordan.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Asssiyaaaap." ucap Aaron.


"Ye.. Jangan bilang kalian jadi canggung." tebak Arga. Geshia dan Akasa saling tatap lalu sama-sama tersedak.


"Tuhkan, bener." lanjut Arga.


"Lo bisa diem gak?! Bawel muluk sih, kesel gue punya temen cerewet banget. Yang satu diem, yang satu kumat. Ntar satunya kumat, satunya lagi diem. Tau ah."


"Haha.. Sabar" ucap Keana.


Mereka pun saling goda satu sama lain dan saling ejek. Mereka melupakan semua masalah, begitupun Aaron yang dengan cepat melupakan semuanya. Geshia merasa beruntung pindah kesekolah ini, mendapatkan teman yang begitu lucunya seperti Mereka. Aku juga sudah melupakan kejadian tak mengenakan dengan Fajril.


Tak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi. Kali ini, Geshia gak ada yang jemput dia. Jadi dia mau pesen Go-jek kalo enggak naik taksi.


"Lo dijemput?" tanya seseorang dibelakang Geshia yaitu Akasa.


"Enggak. Kakak gue, lagi kencan sama ceweknya."


"Bareng gue aja, sekalian temenin gue mampir ke market." ucap Akasa.


"Ta-tapi ka? Lo.." Akasa tak menggubris langsung jalan menuju ketempat parkir.


"Gaess.. Kok gue takut ya." rengek Geshia ke Aaron, Jordan, Arga, Keana.


"Kenapa?" tanya Jordan.


"Karna Akasa, tiba-tiba baik gitu hari ini."


"Ya, pumpung dia kesambet Ges. Iyain aja deh, dari pada dia marah-marah muluk. Emang gak capek dibentakin akasa terus?" ucap Arga.


"Capek sih. Tapi gue seneng ngusilin bikin dia marah."


"Lo aneh. Anjirr, kita aja pengen banget dia gak marah. Malah lo pengen dia marah." sahut Aaron. "Sahabat lo ternyata sama sengkleknya ya sama Akasa."


"Tau, lama-lama mirip." balas Keana.


"Ih, kalian kok gitu."


Lalu Deruman motor Akasa mendekat ke arah Geshia, Jordan, aaron, Arga dan Keana.


"Nih, pake." menyodorkan helm.


Tiba-tiba Miera and the genks teriak, "Akasa!" mereka berlari.


"Gue nebeng dong." ucap Miera. Gue hanya meringis, lalu natap Akasa. Akasa mengisyaratkan Geshia buat cepet naik. Geshia pun naik ke motor Akasa.


"Lho kok?!" Miera melotot cengo.


"Gaess gue duluan yak." ucap Akasa. "kita duluan. Bye" lanjut Geshia.


"Akasa!! Jahat!" teriak Miera lalu nangis. Terus Arga,Aaron,Keana,Jordan cuman nyengir.


"Ngapain lo nempel muluk kek setan ke Akasa?!" ucap Aaron.


"Tau nih. Udah tau, Akasa sukanya ke Geshia. Masih aja gak tau diri." sahut Arga.


"Apa?!" Miera kaget. "Lo gak bohong kan?"


"Yee.. Ngapain gue bohong. Kita sahabatnya, tempat curhatnya. Cuman Geshia aja yang gak tau, kalo Akasa suka ke dia." jelas Arga.


"Sialan! Awas." lirih Miera.


"Awas apa?! Awas nubruk. Lo sampe macem-macem, kita gak akan kasih ampun. Ngerti lo!" gertak Keana.


"Dan bakal bikin lo ampun-ampun ke kita. Haha" ucap Jordan.


"Kampungan lo pada! *******!" kesal Miera. 2 sahabat miera hanya nenangin dia.


"Biarin kita kampungan, tapi kita Famous kok. Gak kayak lo, kaya tapi kampungan" teriak Arga. Lalu mereka ber empat ketawa seneng.