
Kepala Angel masih merasa sakit dan ia putuskan untuk membeli obat ke apotek terdekat dan membeli nasi goreng di pinggir jalan.
Dan sekarang mungkin tidak terlalu malam untuk gadis yang akan keluar pada jam ini.
Waktu masih menunjukan pukul 7 malam, Angel pun hanya memakai hodie biru laut dan memakai celana jeans warna hitam, dan tak lupa juga ia membawa tas sling bag miliknya.
Ia memasukan uang seratus ribu selembar, dan memasukkan handphone miliknya.
Merasa sudah perfect ia pun menuruni tangga, lalu ia menuju dapur untuk mencari mbok Asih untuk sekedar berpamitan.
"Oh iya aku lupa, Mbok kan lagi pulang kampung"Gumamnya pada diri sendiri.
Ia tidak sengaja melihat kertas di atas meja makan, Angel pun meraihnya dan hendak ingin membacanya.
Untuk non Angelin
Non maaf ya mbok sama mang Mirdad pulang dulu, mbok gak bisa pamitan langsung sama non, mbok buru buru.
Mbok tau, non sudah tau jika mbok dan mang Mirdad akan pulang, tetapi saya cuman mau menyampaikan.
Tadi nyonya besar sama tuan sudah pulang pada saat non lagi di sekolah, lalu setelah itu mereka kembali lagi dengan koper yang di pastikan itu adalag baju mereka.
Saya tidak tau non mereka mau kemana, hanya sekedar menyapa pun saya takut non.
Ya sudah ya non, segitu dulu dari saya.
~Mbok Asih.
Angel merasa darahnya berdesir, jika memang kedua orang tuanya tidak ingin melihatnya, setidaknya ia berbicara dengan Angel bahwa mereka pulang atau ingin kembali ke Amsterdam.
Namun Angel berfikir sejenak, tidak mungkin kedua orang tuanya kembali lagi ke sana, sedangkan mereka baru saja sampai di Jakarta.
'Mereka pasti lagi di tempat penginapan, atau hotel'-Batin Angel.
Lalu ia menaruh kembali surat itu ke seperti semula, rasanya ingin keluar dari rumah pun seketika malas.
Bisa saja ia menggoreng nasi goreng, bahkan Naufal saja sering minta di buatkan olehnya, namun ia sedang malas dan sakit kepala yang terus saja melanda dan seakan ingin berteriak meminta obat.
Mungkin saja dengan tidur bisa mengurangi rasa kantuknya. Ia pun bergegas kembali ke kamarnya.
Naufal POV
Setelah mandi, dengan keadaan malas ga malas gua pun turun ke bawah, buat nanyain ke bunda obat apa yang harus di beli.
"Bun"Panggil gua dengan sedikit berteriak
Dia sekitar 4 tahunan, jadi wajar aja dia masih suka di gendong sama bunda gua.
"Bun obat apa yang harus di beli?"Tanya gua sambil mengelus elus sayang kepala adik gua.
"Paracetamol aja ya sayang, jangan lama yaa, si Mafen nya kasian"Jawab bunda gua lalu ia pun kembali membawa si Mafen ke dalam kamarnya.
"Yaudah Naufal berangkat bunn"Teriak gua.
"Anaknya yang ini aja ga suka di manjain"Gerutu gua pelan.
Gue pun mulai menuju ke apotek terdekat, pikiran gua mulai tertuju kembali pas kejadian tadi siang.
Sebenernya di dalem hati gua, gua merasa bersalah banget udah bikin dia ngeluarin air matanya sambil mukul mukul dadanya.
Tapi ntah kenapa pikiran gua bilang 'udah lupain aja, toh juga dia tadi ga nahan lo pergi'. Jadi gua putusin buat ngikutin pikiran gua.
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, akhirnya gua sampe di tuh apotek.
Author POV
Setelah membeli obat, Ia pun memutuskan mampir sejenak ke rumah Angel.
Udah tidur kali, Yaudah lah'-Batin Naufal.
Ia pun menyalakan motornya kembali dan menjauh dari pekarangan rumah Angel.
Pagi ini sama seperti pagi biasanya, Angel bangun dari tidurnya lalu membereskan kasurnya yang sedikit berantakan karena ulah tidurnya.
ia memilih untuk langsung pergi ke kamar mandi, Dan setelah itu berangkat sekolah seperti biasanya. hari harinya memang sangat membosankan, Sekolah, Makan, Tidur. Dan seterusnya.
Yaa begitulah hidup Angel setelah orang tuanya memilih tinggal di Amsterdam bersama Zahra.
Mereka memilih tinggal di sana, Dan meninggalkan Angel yang sendiri di sini dengan rumah yang cukup besar itu.
Rasanya Angel ingin mati saja. Untuk apa dirinya hidup kalau bukan untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Bahkan kedua orang tua nya pun sudah tidak peduli lagi dengannya, Untuk sekedar menanyakan sudah makan atau belum pun enggan. Apalagi menanyakan kabar.
Angel memilih langsung pergi ke sekolahannya, Untuk apa dirinya sarapan di rumah? Bahan makanan pun tidak ada. Uangnya sudah mulai menipis, Hanya ada untuk uang jajannya saja ia sudah bersyukur.
Vote and komennya jan lupaaa😂💕