
Babak terakhir pertandingan bulu tangkis putri dimenangkan oleh Intan. Perasaan lega sekaligus bangga memenuhi rongga dada. Namun, rasa sakit yang tidak tertahankan dan kram mulai semakin parah mendera perutnya.
Intan menggigit bibir bawahnya kuat, ia tidak boleh pingsan di sini. Apalagi sampai membiarkan teman-temannya melihat keadaannya. Ia takut teman-temannya yang panik justru malah membawanya ke klinik atau rumah sakit terdekat. Apalagi ia seolah merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari bagian bawah tubuhnya. Beruntung teman-temannya sedang berkumpul di tempat lain. Sehingga ia tidak perlu mencari alasan untuk menghindari mereka.
"Intan," panggil Haris setibanya Intan di pinggir lapang. "Wajah kamu pecet banget loh itu, kamu sakit?" tanyanya cemas. Bagaimana pun juga Haris tahu keadaan Intan sekarang, jadi mana bisa dia tidak khawatir.
"Perutku sakit banget, Ris," jawab Intan seraya meringis pelan. "Tolong bantu aku pergi dari sini, bawa aku ke mana aja agar bisa istirahat di tempat yang enggak ada orang," pinta Intan memohon.
"Ok, kita ke UKS aja sekarang," ajak Haris kemudian.
"Jangan! Kalau ke UKS nanti takutnya malah di bawa ke rumah sakit, soalnya aku ada sedikit pendarahan," gumam Intan menolak.
"Apa?" Haris malah terlihat semakin panik. "Ka-kalau gitu aku kasih tahu Rikza dulu sekarang, kita harus ke rumah sakit sekarang!" gugupnya cemas.
"Terserah, penting jangan sampai yang lain tahu keadaanku, bisa heboh entar!" jawab Intan berikutnya.
..._____◇◇◇◇◇_____...
Rikza berlari dengan tergesa menuju tempat parkir, tampak Intan yang tengah terengah kesakitan sambil bejongkok di samping mobil milik Rikza.
"Intan kenapa, Ris?" tanyanya panik
"Perutnya sakit dan mengalami sedikit pendarahan," jawab Haris memberi tahu.
Rikza tampak terkejut mendengarnya, "Kita harus ke rumah sakit sekarang, kamu ya nyetir ya, Ris! Aku takut enggak bisa pokus nanti," perintah Rikza meminta.
Haris mengangguk setuju, lantas segera naik ke depan kemudi. Sedangkan Rikza duduk bersama Intan di bangku belakang.
Mesin mobil pun dinyalakan, tetapi perjalanan mereka tertahan di depan pintu gerbang.
"Kalian mau ke mana?" tanya Pak Ahyad sang guru agama sekaligus Wakasek bagian kesiswaan yang kini tengah berjaga bersama Pak satpam.
"Teman saya sakit, Pak. Kami mau izin pulang terlebih dulu," jawab Haris memberi tahu.
"Siapa yang sakit?" tanya Pak Ahyad menyelidik.
"Intan, Pak. Magh-nya kambuh," kini giliran Rikza yang menjawab. Ia tampak membuka setengah kaca mobilnya.
"Kenapa tidak di bawa ke UKS saja? Di sana pasti ada persediaan obat magh, lagian sebentar lagi 'kan juga jam pulang," tanya Pak Ahyad mengintrogasi.
"Intan bilang dia enggak bisa sembarangan minum obat, Pak. Lagipula kami sudah tidak ada pertandingan lagi untuk hari ini, jadi tolong izinkan kami untuk pulang terlebih dahulu," jawab Haris beralasan.
Mereka berdoa penuh harap, semoga Pak Ahyad mengizinkan mereka untuk pergi agar bisa secepatnya menuju rumah sakit. Akhirnya setelah berpikir cukup lama, beliau pun mengizinkan dan membuka pintu gerbang.
Haris pun langsung saja melajukan mobil membelah jalanan ibu kota, sedangkan Rikza tampak cemas memastikan keadaan Intan yang hampir terus meringis kesakitan.
"Shhh ... sakit banget, Za. Apa mungkin aku keguguran?" tanya Intan dengan bibir yang tampak pucak.
"Tahan bentar lagi ya, In. Kamu pasti baik-baik saja," jawab Rikza menenangkan.
"Kita mau ke rumah sakit mana nih, Za?" tanya Haris dari balik kemudi.
"RS mana aja, asal jangan RS tempat Mamaku kerja. Kalau bisa yang agak jauh dari sini," jawab Rikza memberi tahu.
..._____◇◇◇◇◇_____...
Di sinilah mereka sekarang, di salah satu rumah sakit besar yang beroperasi di kawasan Jakarta Timur.
"Kalian yakin tempat ini aman?" tanya Intan ragu.
Lantas Rikza pun segera mengajak Intan turun dari mobil, berniat untuk membawa wanita itu masuk agar segera mendapat perawatan. Namun, Intan justru malah menolak untuk pergi.
"Aku enggak mau pergi, Za, aku malu. Lagi pula aku udah baikan kok sekarang, mungkin istirahat sebentar juga nanti sembuh," ujar Intan pelan.
"Astagfirullah, Intan. Please, jangan gini, Ok! Gimana kalau terjadi apa-apa sama kandungan kamu?" Rikza tampak memijit kepalanya yang terasa berdenyut pusing.
"Rikza benar, Intan. Apa kamu enggak khawatir sama bayi yang ada di perut kamu?" Kini giliran Haris yang berucap.
"Aku enggak peduli, bukankah lebih baik kalau aku benar-benar keguguran?" kata Intan menjawab.
Hal itu sontak saja membuat Haris membelalakan matanya kaget sedang raut wajah Rikza mengeras antara kesal sekaligus marah. Namun, dengan cepat Rikza pun kembali mengendalikan emosinya. Kemarahan hanya akan membuat keadaan Intan semakin buruk.
Tanpa berucap terlebih dahulu, Rikza pun langsung saja membawa Intan ke atas gendongannya. Membuat Intan terpekik kaget dan berpikir untuk berteriak jika saja Rikza tidak mengancamnya.
"Teriak saja kalau kalau memang mau menjadi pusat perhatian banyak orang," ucap Rikza santai tetapi mampu membuat mulut Intan terkunci rapat.
Sedangkan Haris sendiri tampak mengerjapkan matanya berulang kali, hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Itu benaran si Rikza?" gumamnya dalam hati.
Ia sungguh tidak menyangka jika sahabatnya itu bisa mengancam dan bertindak sesuka hati macam itu.
...______◇◇◇◇◇_____...
Intan langsung saja dilarikan ke ruang UGD agar bisa segera mendapatkan penanganan. Tak lama kemudian seorang dokter wanita datang menghampiri Rikza dan Haris.
"Maaf, apa kalian bisa segera menghubungi keluarganya?" tanya sang Dokter kemudian.
"Em ... memangnya ada apa ya, Dok? Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Intan atau mungkin kandungannya?" tanya Rikza cemas.
Raut wajah sang dokter tampak berubah serius. "Ah ... jadi kalian sudah tahu kalau pasien sedang mengandung?"
Rikza dan Haris menjawab dengan anggukan. "Apa salah satu dari kalian adalah kekasihnya?" tanya sang dokter kemudian.
"I-iya, Dok. Saya kekasihnya," jawab Rikza berbohong.
"Baiklah, kamu ikut keruangan saya sebentar. Ada sesuatu yang harus saya bicarakan mengenai keadaan pasien," ajak Dokter itu kemudian.
..._____◇◇◇◇◇◇______...
Dokter itu tampak menghembuskan nafasnya berulang kali. "Beruntung kalian datang tepat waktu, sehingga janinnya baik-baik saja dan tidak mendapat masalah yang berarti," terang Dokter mulai menjelaskan.
"Namun, saat ini kondisi janinnya masih cukup lemah. Sehingga pasien harus lebih berhati-hati dan tidak boleh terlalu kecapean, mengingat kandungannya masih berada di trimester pertama," sambungnya melanjutkan.
"Yang menjadi masalah utama saat ini adalah kondisi psikis pasien yang sepertinya sedikit terguncang," ucap sang dokter lagi berikutnya.
"Jadi apa yang harus kami lakukan, Dokter?" tanya Rikza bingung.
"Saya sarankan agar pasien mendapat lebih banyak perhatian, dukungan dan juga dorongan dari lingkungan sekitar," jawab sang Dokter lagi menyarankan.
Setelah selesai berbicara dengan dokter, Rikza pun kembali ke ruangan tempat Intan berada saat ini.
"Rikza, aku mau pulang," pinta Intan kemudian.
"Iya, kita pulang sekarang. Lagian dokter bilang kandungan kamu baik-baik saja sehingga tidak harus mendapatkan perawatan khusus," jawab Rikza menyetujui.
..._____◇◇◇◇◇_____...