I'm Pregnant

I'm Pregnant
Ke pasar



Pagi-pagi sekali Lisa telah terbangun. Sejujurnya, wanita itu hanya tidur selama dua jam karena tidak berhenti memikirkan pria yang kini menunggunya di luar rumah. Lisa tidak tahu pasti apakah Rayhan benar-benar menunggu atau tidak.


Udara terasa dingin dan lembab setelah semalaman hujan lebat. Lisa membasuh wajahnya dengan air dingin, kemudian menggosok gigi. Sikapnya seolah tidak peduli bahwa di luar rumahnya masih ada seorang pria yang menunggunya semalaman yang kedinginan.


Lisa membuka jendela rumahnya dan terkejut mendapati Rayhan ternyata tidur di pondok tanaman hiasnya. Ia tertegun untuk waktu yang cukup lama. Pria itu meringkuk di bangku panjang sambil memeluk diri sendiri.


Dia pasti kedinginan, batin Lisa.


Lalu, Lisa cepat menepis pikirannya. Ia tidak boleh menaruh rasa iba pada Rayhan. Pria itu terlalu jahat untuk dimaafkan semudah itu.


Wanita itu kembali masuk ke kamarnya dan bersiap-siap ke pasar untuk membeli keperluan dapur. Ia harus menganggap Rayhan tidak ada.


Suara-suara burung yang berkicau membuat Rayhan terjaga. Ia langsung merasakan dingin di permukaan kulitnya. Pria itu berdesis, benar-benar dingin sekali. Ia melemparkan pandangan ke rumah Lisa dan tersenyum melihat jendela sudah terbuka. Berarti wanita itu sudah bangun. Rayhan berdiri masih sambil memeluk diri sendiri dan berjalan ke tangga di luar rumah dan menunggu Lisa keluar dan menuruni tangga tersebut.


Rayhan tidak peduli dengan penampilannya saat ini. Rahangnya yang mulai menggelap tertutup rambut-rambut halus, rambut hitam berantakan, ujung kemejanya keluar sebagian dari pinggang celananya dan mata yang memerah karena kurang tidur. Pria itu hampir menyerupai gelandangan.


Jika Carissa melihat penampilannya saat ini, Rayhan akan memastikan kalau nenek sihir itu akan tertawa terpingkal-pingkal.


Rayhan tidak bisa berpikir lagi saat ia melihat pintu rumah Lisa terbuka. Sedetik kemudian, pria itu tersenyum ragu. Lisa berdiri di puncak tangga dengan keranjang rotan yang menggantung di lengan kanannya.


Tidak ada yang lebih cantik dan keibuan selain Lisa, menurut Rayhan. Lisa adalah pilihan tepat hidupnya. Kini wanita itu berdiri kaku di puncak tangga, sementara Rayhan  mengaguminya dari bawah. Pria itu sama sekali tidak mengindahkan tatapan tajam dari Lisa.


"Selamat pagi," ucap Rayhan lembut.


Lisa membuang pandangan, lalu menuruni tangga rumahnya dengan hati-hati. Rayhan bergerak waspada. Sebenarnya rumah ini sangat tidak cocok untuk wanita yang sedang hamil. Bagaimana jika anak tangga kayu ini lapuk oleh air dan membuat siapa saja yang menginjaknya terjatuh? Rayhan tidak ingin membayangkan hal itu. Lisa harus pindah dari rumah sewa ini.


"Hati-hati," ujar Rayhan lagi seraya mengulurkan tangannya pada Lisa.


Lisa menepis tangan Rayhan dengan kasar dan berhasil menuruni semua anak tangga dengan benar.


"Aku tidak butuh bantuanmu," desis Lisa, kemudian berlalu dari hadapan Rayhan.


Rayhan menyusul Lisa. Ia menyejajarkan langkah mereka dan tidak pernah melepaskan pandangannya dari perempuan cantik itu.


Sementara Lisa menolak mentah-mentah membalas tatapan lembut Rayhan. Pria itu jelas-jelas jatuh cinta pada Lisa. Ia bersikap seolah-olah seperti orang yang dimabuk cinta.


"Kau belum memaafkanku, ya?"


Lisa diam. Mereka melewati rumah-rumah tetangga Lisa dan ada beberapa orang tetangga yang menatap penuh tanda tanya ke arah Rayhan. Mereka berpikir apa hubungan Rayhan dengan Lisa. Lisa berharap Linda tidak melihat Rayhan.


"Lisa, apa yang harus aku lakukan agar kau bersedia memaafkanku?" tanya Rayhan, mendesak.


Percuma. Lisa cuma menganggapnya angin lalu.


Rayhan terpaksa bersabar. Pria itu tahu kesalahannya begitu besar kepada Lisa. Tidak muda bagi Lisa untuk menerimanya lagi.


Rayhan berjalan di belakang Lisa dan mengagumi kecantikan wanita itu dari tempatnya. Rambut panjangnya yang berayun-ayun karena semilir angin pagi yang segar, caranya melipat tangan ke depan agar keranjang rotan tidak merosot jatuh dari lengannya, serta caranya berjinjit menghindari lubang di jalan yang basah.


Rayhan tetap mengikuti saat wanita itu keluar dari gang. Pria itu bisa melihat anak-anak kecil yang akan pergi sekolah dengan sepeda mereka, melambai dan menyapa Lisa.


Lisa membalas lambaian mereka dan tersenyum cerah.


Rayhan merasakan dentuman jantungnya dan nyeri di saat yang bersamaan. Ternyata efek senyuman Lisa lebih berbahaya dari serangan jantung. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa melihat senyuman itu lagi, meskipun tidak ditunjukkan untuknya.


Rayhan tertawa pelan layaknya orang konyol dan idiot. Sampai seorang anak kecil yang dibimbing ibunya mengomentari Rayhan, pria yang sedari tadi mengekori Lisa. Saat itu mereka melewati halte di dekat pasar.


"Ibu, kenapa paman itu tertawa sendiri seperti orang gila?"


Sang ibu langsung menempelkan jari telunjuk di bibir anaknya dan membungkuk pada Rayhan. “Maafkan anakku, Tuan."


"Ah, tidak apa-apa."


Ternyata seruan si anak kecil menarik perhatian Lisa. Ia menengok ke belakang dan melihat Rayhan bersikap ramah pada wanita itu dan anaknya. Lisa memanfaatkan kelengahan Rayhan untuk memandangi pria itu.


Apakah pria ini telah benar-benar berubah?


Rayhan kembali menoleh ke depan dan memergoki Lisa yang tengah menatapnya.  Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain tersenyum manis. Namun, Lisa segera mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan memasuki pasar.


Rayhan hanya mendesah panjang. Iaa tahu perjuangannya tidak akan sebentar.


Saat memasuki pasar, Rayhan teringat akan mobilnya yang terparkir di dekat pasar. Ia menghampiri Lisa untuk memberitahu kalau dirinya akan menjemput mobilnya sebentar. Pria itu takut nanti Lisa menghilang.


"Bu, aku ingin ayam ini dipotong menjadi delapan bagian."


"Baiklah, Lisa."


Rayhan tahu kalau Lisa mendengar ucapannya. Lantas ia bergegas mencari di mana dirinya meletakkan mobilnya kemarin. Karena kata si pedagang belut mobil tidak bisa masuk ke gang rumah Lisa, ia yakin mobilnya aman di sana. Namun, sebenarnya tidak terlalu yakin.


Setidaknya keyakinan itu sirna saat ia melihat di posko itu tidak ada apa-apa. Mobilnya lenyap. Butuh waktu lima menit sampai kesadaran Rayhan sempurna.


Pria itu berjalan lambat menghampiri posko dan berputar-putar di tempatnya meletakkan mobilnya kemarin. Kini tempat itu kosong dan Rayhan bukanlah seorang yang pikun yang lupa di mana ia memarkirkan mobilnya. Pria itu yakin kemarin mobilnya terkunci dan tidak bisa berjalan sendiri.


Mobilnya telah dicuri.


Rayhan menggeram kesal. Ia melihat posko itu kosong, sama seperti kemarin. Pria itu memang tidak mengatakan apa-apa pada penjaga pasar, kemungkinan besar mobilnya masih ada saat ini. Akan tetapi karena Rayhan terburu-buru, ia tidak memikirkan hal itu.


"Ada apa, Tuan?"


Rayhan tersentak saat bahunya disentuh seseorang dari belakang. Rayhan membalikkan badan dan melihat seorang pria berusia pertengahan enam puluh memegang secangkir kopi. Pria itu memakai seragam, menunjukkan kalau dirinya adalah penjaga pasar tradisional ini.


"Oh, halo, Pak. Saya Rayhan Andira dari Jakarta. Kalau boleh saya tahu, apakah Bapak penjaga pasar ini?" tanya Rayhan sopan.


"Iya, namaku Saiful. Aku penjaga pasar ini."


"Apakah Bapak melihat mobil hitam dengan nomor polisi Jakarta terparkir di sini?  Kemarin aku meletakkannya di sini, tapi sekarang sudah tidak ada. Sepertinya mobilku dicuri."


Saiful tampak terkejut. "Mobilmu hilang? Saat aku pulang kemarin sore aku tidak melihat apa-apa di sini. Kau menitipkan mobilmu pada siapa?"


Rayhan terdiam. Pria itu mendesah berat sambil memegangi kepalanya. Ia kehilangan mobil serta barang-barang berharga di dalamnya. Di desa ini tidak mungkin ia membayar apa yang dibelinya atau memberi ongkos dengan kartu debit. Ah sial!


Karena kecerobohan dirinya sendiri, kini dirinya menjadi gelandangan di desa ini.


"Kau bisa melaporkan kehilangan mobilmu ke pos polisi terdekat. Nak, aku turut prihatin."


Si penjaga pasar yang bernama Saiful menepuk-nepuk pundak Rayhan kemudian berlalu, memasuki posko dan duduk di sana sambil menyeruput kopinya.


"Astaga, cobaan apalagi ini?" gumam Rayhan berat.


***


Lisa telah selesai berbelanja dan keluar dari pasar. Hatinya bertanya-tanya kenapa Rayhan belum muncul juga. Bukankah pria itu tadi mengatakan hanya pergi sebentar?


Lisa memukul kepalanya pelan. Apa-apaan ini? Kenapa ia memikirkan ke mana perginya Rayhan? Wanita itu menghela napas berat, kemudian melanjutkan langkahnya.


Ia mengerjakan matanya dengan cepat saat melihat Rayhan di seberang jalan, berdiri di halte dengan wajah paling merana yang pernah dilihatnya. Lisa mencoba mengabaikan pria itu ketika ia menyeberang jalan dan Rayhan kembali mengikutinya dari belakang.


Seperti tadi saat pergi ke pasar, mereka berjalan dalam diam. Lisa ingin tahu kenapa Rayhan berubah lesu, dan bukankah tadi dia mengatakan akan mengambil mobilnya?


"Mobilku hilang. Sepertinya tadi malam ada pencuri yang melarikan mobilku. Aku benar-benar ceroboh," jelas Rayhan seakan-akan bisa mendengar pertanyaan dalam hati Lisa.


Lisa melamun. Jadi, Rayhan kehilangan mobilnya. Kasihan sekali pria itu. Lisa menggigit bibir bawahnya.


Untung saja Rayhan berjalan di belakangnya sehingga tidak bisa melihat ekspresi khawatir di wajahnya.


"Hah, sekarang bagaimana caraku untuk bisa pulang ke Jakarta? Lisa, bisakah aku menginap di rumahmu sampai Rizal datang menjemputku?"


Mendengar pertanyaan sok polos Rayhan, Lisa segera membalikkan tubuhnya. Jika Rayhan tidak refleks menghentikan langkahnya, bisa dipastikan ia akan menubruk tubuh Lisa.


Lisa mengernyit padanya, memberikan tatapan tidak suka. Sebenarnya ini adalah modus pria itu agar bisa menginap di rumahnya.


Mobil Rayhan memang benar-benar dicuri, tetapi pria itu tidak terlalu sedih. ia bahkan ingin memanfaatkan itu agar Lisa memperbolehkannya masuk ke rumah.


Rayhan mengerjap takut saat Lisa belum mengomelinya.


"Jangan kira aku akan mengizinkanmu masuk ke rumah karena kau baru saja kehilangan mobil," ucap Lisa sinis.


"Ta-tapi aku harus ke mana lagi? Hanya kau yang aku kenal di sini." Rayhan berusaha membuat ekspresi sepolos mungkin.


"Ini bukan masalahku. Kau pikirkan saja sendiri!"


BERSAMBUNG ....