I'm Pregnant

I'm Pregnant
Terpaksa Memberi Tahu Haris



Rikza membawa masuk kedua orang itu ke dalam mobilnya yang terparkir di parkiran sekolah.


"Haris, aku tahu kamu pasti kaget banget 'kan dengan apa yang sudah kamu dengar," ucap Rikza mulai membuka suara. "Ok, aku enggak mungkin bisa bohongin kamu sekarang. Intan hamil, dan janin yang dikandungnya merupakan anakku," jelasnya memberi tahu.


Haris tampak benar-benar terkejut mendengarnya. "Gila! Tapi gimana bisa? Aku sahabatmu, Rikza. Kita sudah bersahabat bahkan sejak masih menggunakan popok, jadi aku benar-benar tahu kamu orang yang seperti apa. Mustahil kamu melakukan hal itu dengan sengaja," tanya Haria menuntut penjelasan.


Haris dan Rikza memang sudah bersahabat sejak masih kecil, hal itu dikarenakan ibu mereka juga sudah bersahabat sejak jaman SMA. Jadi baik Rikza maupun Haris tentu sudah saling mengenal watak satu sama lain dengan baik.


"Apa kalian di jebak? Kamu dikasih obat perangsang dan Intan dibius. Lalu secara enggak sengaja kamu sama Intan melakukan itu dan akhirnya Intan hamil?" tebak Haris berhipotesis.


"Kamu pikir ini cerita novel?" Rikza tampak mengurut keningnya yang terasa pusing. "Ceritanya enggak sedramatis itu, Ris," jawab Rikza menyangkal tebakan Haris. Sedang Intan memilih untuk tetap diam menunduk di bangku belakang.


"Lalu?"


"Aku enggak sengaja memperkosa Intan," jawab Rikza pelan.


"Apa?! Kok bisa?" tanyanya semakin terkejut tak menyangka.


Rikza pun memulai ceritanya dari awal hingga akhir, ia tidak melewatkan sedikit pun. Sedang Haris tampak menyimak dengan seksama.


Haris tampak menganggukan kepalanya tanda mengerti,"Terus apa rencana kamu kedepannya? Ngga mungkin juga kan kalau kalian nyembunyiin kedaan ini terus, apalagi perut Intan akan semakin membesar dan nantinya akan melahirkan," tanya Haris berikutnya.


"Aku tahu, tetapi untuk saat ini aku sama Intan memutuskan untuk merahasiakannya terlebih dahulu." Rikza terdiam sejenak. "Kamu tahu kan, Is, kalau keluargaku sangat menjunjung tinggi kehormatan. Begitu pula dengan keluarganya Intan, bundanya adalah seorang guru sedangkan ayah dan kakaknya adalah abdi negara. Kamu pasti bisa menebak apa yang akan terjadi pada kami bila mereka tahu keadaan Intan saat ini."


Haris menatap iba kearah sahabatnya, ia mengerti apa yang Rikza maksud. Orang tua mereka pasti akan memaksa mereka untuk menikah saat ini juga, yang mana artinya bisa saja mereka dikeluarkan dari sekolah. Sedangkan ia sendiri tahu, baik Intan maupun Rikza pastinya tidak ingin hal itu terjadi.


Haris tahu betul cita-cita Rikza yang sangat ingin menjadi seorang tentara. Tetapi kini, sahabatnya itu mungkin harus merelakan semua mimpi dan masa depannya karena sebuah kesalahan yang tidak disengaja.


Sehancur dan sefrustasi apa Rikza saat ini? Tetapi keadaan memaksanya untuk tetap tenang dan sabar, mengingat kondisi Intan yang begitu mengkhawatirkan karena kehormatannya telah direnggut paksa. Sungguh hebat betul sahabatnya itu, ia bahkan bisa bersikap tenang dalam menghadapi keadaan dan kondisinya saat ini, sekaligus wanita yang kini tengah mengandung anaknya.


"Yang sabar ya, Za. cuman itu yang bisa aku katakan saat ini. Dan jika kamu butuh bantuan atau tempat curhat, kamu bisa hubungin aku kapanpun kamu mau." Haris berucap tulus.


"Iya, Ris. Makasih. Ah ... satu lagi, tolong jangan kasih tahu ini ke siapa-siapa, ya!" pinta Rikza penuh meminta tolong.


"Santai, kamu kayak enggak kenal sama aku saja," jawab Haris menenangkan.


..._____◇◇◇◇◇◇______...


Setelah mengantar Intan mencuci wajah, Rikza dan Haris pun lantas bergegas bersama Intan menuju ruang pertandingan bulu tangkis.


"Intan, kamu yakin mau ikut tanding?" Haris tampak ikut mengkhawatirkan keadaan perempuan itu. Tentu saja, dia juga bukan orang gila yang akan memaksa wanita hamil untuk melakukan hal yang bisa membahayakan kandungannya.


"Iya," jawab Intan singkat.


Ada perasaan malu sekaligus canggung yang menyelimuti Intan saat ini. Haris sudah mengetahui keadaannya, lalu apa yang lelaki itu pikirkan tentangnya sekarang? Wanita bekas? Gadis tapi bukan perawan? Atau mungkin yang lainnya?


"Intan, tolong jangan keras kepala, ok!" Rikza tampak memohon penuh kekhawatiran.


"Za! Maaf, aku enggak akan mundur. Aku yakin aku pasti akan baik-baik saja. Ini hanya permainan bulu tangkis, bukan lari jarak jauh," jawab Intan kukuh penuh keyakinan.


Akhirnya tibalah mereka di ruang badminton sekolah.


"Dari mana saja kamu, Intan? Untung aku yang jadi panitia di sini, jadi aku bisa atur kelas kita agar tetap bisa ikut tanding," tanya Marna yang juga menjadi panitia acara sekolah.


"Ya sudah, siap-siap gih, bentar lagi giliran kamu yang main," perintah Marna kemudian.


"Ok," jawab Intan mengangguk.


Lantas ia pun menitipkan tas miliknya pada Rikza, lantas segera berlari kecil menuju ke dekat lapangan pertandingan.


"Pertandingan selanjutnya, kelas XI IPS 2 melawan XII IPA 1," ucap panitia mengintruksikan.


Pertandingan pun di mulai, Intan mengayunkan raketnya dengan cukup baik. Gerakannya cukup gesit dan lincah. Meski pada awalnya ia merasa sedikit khawatir, tetapi setelah pertandingan mulai setengah jalan Intan mulai terhanyut dan ikut terbawa suasana.


Prittttt....


Suara peluit menghentikan pertandingan, Intan berhasil menang dengan skor yang berbeda cukup jauh.


"Hahh ... padahal baru satu pertandingan, tapi udah keringetan saja," ucap Intan seraya menyeruput beberapa teguk air mineral dalam botol.


"Kamu baik-baik saja, In? Enggak sakit perut atau apa gitu?" bisik Haris mendahului Rikza yang tampaknya masih belum sembuh dari rasa paniknya.


"Aku, Ok," jawab Intan singkat. Ia memaksakan senyum tipis dibibirnya.


"Kamu gak nyaman sama aku ya?" tanya Haris lagi masih dengan berbisik.


"Eh...." Intan tampak menoleh ke samping, menatap ke arah Haris. Tetapi sedetik kemudian ia kembali memalingkan wajahnya.


"Ka-kamu kok bisa tahu?" tanya Intan pelan.


"Soalnya sejak kejadian tadi kamu kayak ngehindar dari aku," jawab Haris memberi tahu. "Aku ngerti sih, tapi kamu juga enggak perlu cemas. Aku enggak berpikir buruk soal kamu, kok. Lagian keadaan kamu sekarang 'kan bukan karena di sengaja," tambahnya santai penuh pengertian.


Entah kenapa mata Intan tiba-tiba memanas, pandangannya mulai kabur tertutup oleh air mata. Kehamilannya saat ini sungguh membuatnya jadi mudah terbawa perasaan.


"Lah, kamu kenapa malah nangis, Intan? Kalau orang-orang lihat mereka bisa salah paham sama aku," tanya Haris panik.


"Kamu apain si Intan, Ris?" tanya Marna heran. Hal itu sontak saja membuat Rikza menoleh ke arah mereka.


"Kamu sakit, Intan?" tanya Rikza panik.


"Ah, nggak. Tadi Haris ngomongin cerita sedih sama aku, karena terbawa perasaan jadi aku ikut nangis deh," jawab Intan beralasan.


"O ... kirain kenapa," Marna tampak mengangguk paham.


Lantas pertandingan pun berlanjut, sedangkan Haris dan Rikza terpaksa meninggalkan Intan karena mereka juga harus mengikuti mertandingan berikutnya. Beruntung ada Dena yang ikut menonton di sini, jadi Intan tidak terlalu kesepian.


"Gimana kami kamu sekarang, Den?" tanya Intan di sela-sela istirahat pertandingan


"Masih sakit, tapi enggak terlalu parah kok. Untungnya aku enggak ikut pertandingan lain. Jadi enggak masalah, istirahat beberapa hari juga sembuh," jawab Dena memberi tahu.


Tak lama kemudian azan dzuhur berkumandang, pertandingan pun diistirahatkan sampai pukul satu nanti. Para siswa tampak bergegas kembali menuju ruang kelas.


_____