I'm Pregnant

I'm Pregnant
Acara Sekolah



Hari pertama acara sekolah dimulai pada Senin pagi. Beragam perlombaan antar kelas berlangsung dengan lancar tanpa kendala. Bulan Bahasa, begitulah sekolah menamainya. Kegiatan yang bertujuan untuk mencari dan menyaring siswa siswi berprestasi di setiap kelas.


Berlanjut pada hari kedua, pentas seni menjadi acara yang dinanti oleh seiap siswa. Beragam penampilan menarik dan memukau yang ditampilkan oleh setiap kelas selalu menjadi kegiatan yang wajib diikuti dan disaksikan.


Mulai dari penampilan seni suara, seni tari, pertunjukan bela diri, sastra, olahraga, marcing band dan lain sebagainya menyemarakan hari Selasa. Dalam hal ini, seluruh club atau bisa disebut juga ekrakulikuler yang ada di sekolah menunjukkan kemampuan mereka.


Hingga tibalah di hari ketiga, di mana acara Pekan Olah Raga Antar Kelas atau kerap disingkat sebagai PORAK itu dimulai. Kegiatan yang juga begitu dinanti-nantikan oleh seluruh siswa sekolah.


Kelas XII IPA 1 tampak sudah siap dengan kaus seragam kelas yang sudah dibuat khusus saat masih kelas X itu. Sedangkan bawahannya hanya menggunakan celana olahraha sekolah biasa.


"Buat anak cewe semangat ya, soalnya kalian harus ngejalanin beragam pertandingan secara bergiliran sampe sore nanti," ujar Dedi menyemangati.


"Jangan pikirin menang atau kalah, serahin saja semuanya sama anak cowok. Biar kami yang bawa kelas kita buat jadi juara umum!" Kini giliran Aldrian yang berucap.


"Buat jadwal pertandingan serahin saja sama aku dan Intan. Jadi kalian enggak perlu takut waktunya bentrok," tambah Rikza selanjutnya.


"Sip! Santai aja, kami juga tahu batasan kami kok guys," jawab Dina penuh semangat.


"Jangan lupa, kami-kami ini anggota inti di club masing-masing. Yang mana artinya stamina kami sudah cukup terlatih," ujar Sekar penuh percaya diri.


"Ya sudah kalau gitu, yuk ke lapang sekarang. Pertandingan pertama itu Sepak Bola Putra kelas kita ngelawan kelas XII Bahasa 1," ucap Haris kemudian.


"Wah, bukannya itu kelasnnya si Rayyan, ya?" cetus Dena bertanya.


"Hayoloh Intan, kamu mau dukung siapa?" Si Rikza atau si Rayyan?" tanya Dena menggoda.


"Apa sih kalian, ya pasti dukung kelas lah!" ketus Intan menjawab.


"Iya ya, kamu 'kan lagi PDKT sama Rikza," celetuk Olivia ikut menggota.


"Kalian ya! Sama aja sama yang lain," ketus Intan kesal. "Aku 'kan sudah bilang, aku sama Rikza enggak ada hubungan apa-apa. Kami juga enggak sedang PDKT atau apalah itu," sangkal Intan menjelaskan. Intan benar-benar geram. Semua ini karena kelakuan Rikza yang terlalu berlebihan memperhatikannya, begitulah pikirnya.


..._____◇◇◇◇◇____...


Sorak sorai menggema menyemarakkan pertandingan sepak bola antara kelas XII IPA 1 dan XII Bahasa 1. Intan sendiri tampak asyik menonton pertandingan, sesekali ia juga ikut berteriak seperti teman-temannya yang lain. Entahlah, Intan sebenarnya tidak terlalu menyukai permainan bola besar. Entah itu Sepak bola, Volly maupun basket. Namun, karena pertandingan kali ini membawa nama kelasnya membuat Intan bersemangat dan mengharapkan kemenangan.


Pertandingan berakhir dengan skor 1:0, kelas XII IPA 1 memenangkan pertandingan setelah melalui 2 babak pertandingan.


Saat para anak perempuan bersiap untuk pertandingan berikutnya, Intan berjalan menuju ke tempat dimana para anak laki-laki berkumpul dengan membawa satu dus berisi air mineral yang memang sudah dipersiapkan sejak awal.


Melihat hal itu, dengan refleks Rikza pun berlari menghampirinya. Lantas mengambil dus berisi air mineral yang Intan bawa.


"Intan, kamu harusnya enggak boleh bawa yang berat-berat!" ucap Rikza kemudian.


"Tapi ini enggak terlalu berat kok, Za. Lagian dusnya juga enggak penuh," kata Intan menjawab.


"Tapi tetap saja, kamu 'kan--,"


"Stt," Intan langsung menutup mulut Rikza dengan kedua tangannya. "Aku tahu kamu khawatir, Za. Tapi jangan sampai kamu keceplosan," tukas Intan berbisik.


Tindakan Intan barusan membuat dirinya dan Rikza menjadi pusat perhatian. Mereka yang melihat interaksi keduanya menyangka jika Intan dan Rikza tengah melakukan adegan romantis.


"Duh, kayaknya kalian bener-bener jadian deh, ya?" celetuk Aldrian kemudian.


Sontak saja Intan dan Rikza pun berbalik, keduanya tampak salah tingkah. "Apa sih kalian, siapa yang jadian coba?" sangkal Intan menjawab.


"Udah deh ngaku aja, apa enaknya coba pacaran diam-diam? Mening kalian jujur aja sih kalau emang lagi pacaran, kita juga enggak bakal ada yang larang kok," ucap Fajar berikutnya.


"Astagfirullah, kalian ini bener-bener deh. Aku sama Rikza beneran enggak pacaran!" sangkal Intan mengelak.


"Jujur saja sih, Intan. Kalau beneran pacaran juga gak papa kok," ucap Dede ikut-ikutan.


"Tahu ah!" ketus Intan marah. "Rikza, please! Kasih tahu teman-teman kamu, kalau kita memang enggak pacaran, Ok!" ucapnya pada Rikza.


Rikza tampak menghela nafas panjang. "Sudah ya, semuanya. Jangan godain si Intan terus!" Rikza mulai membuka suara.


Merasa harus ia pun mengambil satu botol air mineral dari dalam dus. Hingga tiba-tiba saja Rayyan datang menghampiri mereka. "Lagi pada ngapain nih ribut-ribut," tanya Rayyan dangan senyum lebar yang mengembang.


"Wah ... bucinnya si Intan udah dateng nih," celetuk Haris bercanda.


"Ho ho ... saingan beratnya si Rikza tuh," tambah Aldrian berujar.


Rayyan tampak berkerut bingung. "Ada apa nih?" tanya Rayyan penasaran.


"Sahabat kamu pacaran sama gebetanmu, Ray," jawab Dedi santai.


Uhuk!


Rikza yang tengah minum itu pun tersedak hingga akhirnya terbatuk-batuk karena terkejut oleh apa yang Dedi katakan.


"Kenapa kamu, Za?" tanya Rayyan perhatian.


"Gak, aku enggak papa," jawab Rikza tidak mau membuat cemas.


"Makanya kalau minum pelan-pelan," ujar Haris kemudian.


"Ha ha ... iya, habis tadi aku juga kaget sih sama omongannya si Dedi," ucap Rikza lagi menjawab.


"Kamu beneran pacaran sama Rikza, Intan?" tanya Rayyan penasaran.


"Nggak kok, mereka bohong! Iya 'kan, Za?" jawab Intan cepat, ia meminta bantuan Rikza.


"Iya ... mereka cuma asal ngomong, enggak usah dipeduliin," jawab Rikza membantu menjelaskan.


Rayyan tampak mengangguk paham, iya percaya. Tentu saja, bagaimana pun juga Rayyan cukup mengenal Intan dan Rikza. Tidak mungkin keduanya berpacaran. Mengingat Intan tidak diizinkan untuk berpacaran oleh keluarganya, sedangkan Rikza memiliki prinsip untuk tidak menjalin hubungan asmara sebelum lulus menjadi seorang Tentara.


Namun, bagaimana jika Rayyan tahu kalau sebenarnya Intan sedang mengandung anak Rikza? Apakah ia akan bisa tetap bersikap santai seperti sekarang?


"Rayyan," panggil salah seorang teman sekelasnya yang kini tengah berlari ke arahnya. "Kita harus cepat-cepat ke lapang Basket, sebentar lagi giliran kelas kita yang tanding," ujar orang itu melanjutkan.


"Ok, aku ke sana sekarang," jawab Rayyan mengiyakan. "Eh, aku duluan ya," ucapnya berpamitan terlebih dahulu.


..._____◇◇◇◇◇_____...


Diinilah Intan sekarang, bersama dengan Rikza di ruang kelas. Mereka tengah menghubungi setiap panitia yang berjaga di masing-masing tempat perlombaan. Memeriksa setiap jadwal pertandingan yang kini tengah berlangsung.


"Za, gawat!" teriak Sheila yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kelas. Wajahnya terlihat panik.


"Kenapa?" tanya Rikza dan Intan penasaran.


"Kakinya si Dena keseleo pas pertandingan basket tadi," ucap Sheila memberi tahu.


"Terus gimana sekarang?" tanya Intan khawatir.


"Ya gak gimana-gimana. Cuma Dena gak bisa ikut pertandingan bulu tangkis putri," kata Sheila lagi memberi tahu.


"Enggak ada yang bisa gantiin Dena memang? Masa enggak ada lagi anak cewek yang bisa main bulu tangkis?" tanya Rikza kemudian.


"Enggak bisa, soalnya anak-anak lain juga ada pertandingan," jelas Sheila menjawab. "Satu-satunya yang luang cuma Intan," tambahnya berikutnya.


"Enggak! Intan enggak bisa ikut pertandingan, kondisinya enggak memungkinkan!" tegas Rikza menolak.


"Enggak memungkinkan gimana? Kemarin Intan memang sering sakit, tapi sekarang 'kan dia udah baik-baik saja. lagian ini semua 'kan juga demi kelas kita," ucap Sheila menuntut penjelasan.


"Ok, biar aku saja yang main," jawab Intan menyetujui.


Hal itu tentu saja membuat wajah Rikza mengeras karena marah. Namun, berusaha ia tahan semaksimal mungkin agar tidak diketahui oleh Sheila.


Sedangkan seila tampak menghembuskan nafas lega, "Ok, cepet ke lapang badminton ya, In! Aku harus balik lagi ke lapang Volly, bye," ucap Sheila seraya bergegas kembali ke ruang Volly.


Sepeninggalnya Sheila Rikza pun langsung memarahi Intan.


"Intan! Kamu sadar enggak sih dengan apa yang mau kamu lakukan?" tanya Rikza tidak habis pikir.


"Aku sangat sadar, Za. Tapi aku enggak bisa diam saja saat melihat teman-temanku membutuhkan bantuanku saat ini," ucap Intan menjawab. "Apalagi ini demi kelas kita, Za. Aku enggak bisa diam saja. Aku enggak mau di cap egois sama teman-teman," tambah Intan melanjutkan.


Rikza tampak menghembuskan nafas berat. "Tapi kamu juga harus sadar dengan keadaan kamu sekarang Intan! Kamu itu sedang hamil Intan, kamu hamil!" tegas Rikza penuh penekanan.


"Lalu kamu pikir karena siapa aku seperti ini, ha? Ini semua karena kamu, Rikza! Karena kamu!" Intan mulai tersulut emosi. Bulir air mulai memenuhi pelupuk matanya, terjatuh setetes demi setetes membasahi wajah cantiknya.


Melihat hal itu Rikza pun mulai panik dan merasa bersalah. "A-aku minta maaf, Intan. Aku enggak bermaksud buat marah, aku hanya khawatir sama kamu," kata Rikza meminta maaf. Hingga tiba-tiba....


Pray!


Terdengar suara benda jatuh dari luar, hal itu sontak saja membuat Intan dan Rikza menoleh dengan ekspresi kaget. Rupanya sejak tadi ada seseorang yang tengah menguping pembicaraan keduanya.


"Haris," ucap Intan dan Rikza dengan suara yang tercekat. Wajah mereka berubah pucat.


"Ha ha ... aku enggak lagi mimpi 'kan?" tawanya terdengar hambar.


Plak! Haris menampar dirinya sendiri


"Aw ... shh ... sakit." Haris meringis menahan sakit. "Gila, jadi aku enggak mimpi?" tanyanya seolah lingkung. "Mustahil ... ha ha."


****! Umpat Rikza dalam hati. Ia benar-benar ceroboh karena terlalu mencemaskan keadaan Intan sampai-sampai tidak menyadari kalau dirinya tengah berada di sekolah saat ini. Tanpa sepatah kata, Rikza pun buru-buru saja membawa Intan dan Haris meninggalkan ruang kelas.


..._____◇◇◇◇◇_____...