I'm Pregnant

I'm Pregnant
Itu Lisanya



Enam bulan kemudian ....


"Terima kasih, Bu."


Seorang wanita bertubuh gemuk tersenyum tulus kepada Lisa, lalu menutup rumahnya setelah Lisa dan temannya pergi dari sana.


Lisa memasukkan sejumlah uang ke dalam tas tangan yang dipegangnya, sementara seorang gadis yang lebih muda darinya hanya memandangi.


"Kak Lisa, bolehkah aku menyarankan sesuatu?" tanya si gadis yang berjalan di samping Lisa itu.


"Saran apa?" Lisa bertanya.


"Sebaiknya berjualan di rumah saja. Kandungannya ‘kan sudah membesar, apa Kakak tidak lelah?"


Lisa tersenyum tulus kepada gadis cantik tersebut. Ia mengusap-usap perutnya dan bersyukur dalam hati karena sampai saat ini Tuhan masih melindunginya dan calon bayinya.


"Aku tidak pernah lelah, Linda. Lagi pula, aku butuh uang untuk membayar uang sewa rumah dan biaya persalinan nantinya."


Gadis itu, Linda, yang tidak lain adalah teman, sekaligus tetangganya, hanya mengangguk paham. Sebenarnya ia merasa kasihan pada Lisa yang sejak awal kehamilannya bertahan sendirian tanpa suami. Namun, Linda tahu kisah sedih yang dialami Lisa karena hanya kepada Linda-lah Lisa menceritakannya.


"Tapi, Kak. Akhir-akhir ini aku tidak melihat Tuan tampan itu datang mengunjungimu. Kau sudah putus dengannya, ya?"


Langkah Lisa terhenti setelah mendengar pertanyaan Linda. Kemudian, ia mencubit pinggang Linda pelan, membuat gadis itu meringis, lalu terkekeh.


"Maksudmu Yitian? Linda, sudah aku katakan kalau aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya!" tegas Lisa.


"Tapi dia menyukaimu, Kak. Kenapa tidak mau membuka hati untuknya?" tanya Linda seraya merangkul pundak Lisa.


Lisa hanya tersenyum kecil.


Sejak ia mengasingkan ke sebuah  desa kecil dekat pesisir pantai yang terletak di provinsi Jawa Barat itu, di mana semua orang tidak mengenalnya, Lisa hanya memberitahu Yitian di mana keberadaannya, sebab ia tidak bisa lagi menghubungi nomor ponsel Rana.


Yitian serta dua rekan kerjanya dulu cukup sering mengunjungi Lisa, terutama Yitian. Dari pria itu pula Lisa tahu kalau Aksa telah meninggal dunia. Wanita itu ingin sekali kembali ke Jakarta untuk mengunjungi makam Aksa, tetapi keadaannya tidak memungkinkan. Jika Rayhan melihatnya dengan keadaan hamil, ia tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh pria itu.


Yitian sendiri sangat terkejut mendengar pengakuan Lisa kalau yang menghamilinya adalah Rayhan. Wanita itu meminta Yitian untuk menutup mulutnya. Atau jika tidak, pria itu tidak boleh mengunjunginya lagi. Terpaksa Yitian menuruti permintaan Lisa. Pria itu bersumpah akan melindungi Lisa dari pencarian Rayhan.


Namun, yang belum didapat Yitian adalah cinta Lisa. Lisa menutup hatinya sejak kehamilannya. Ia tidak terlalu mengambil hati perhatian-perhatian pria yang tertuju padanya. Ia fokus kepada dirinya sendiri dan tentu saja pada calon bayinya. Mungkin rasa cinta telah terkikis dari hati wanita itu dan sepertinya Yitian masih bersabar menunggu.


"Aku tidak menyukainya, Linda. Sama sekali. Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat," ujar Lisa pada akhirnya.


"Aku tahu, Kak. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Tapi nanti jika anakmu besar, dia pasti akan menanyakan dimana ayahnya," ucap Linda.


Lisa pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Linda.


"Oh ya, Lin! Malam ini ada festival kembang api di tepi pantai. Kau harus menemaniku, ya! Hehe."


Linda hanya menghela napas berat. Lagi-lagi Lisa tidak mendengarkannya.


***


Rizal berada di ruang ganti di gym langganannya. Dia baru saja selesai mandi dan kini harus segera pulang karena Carissa telah menghubunginya.


Hubungannya dengan Carissa telah serius dan Rizal berniat melamarnya. Sebenarnya Rizal ingin melamar Carissa di ulang tahunnya yang ke-26, yaitu bulan lalu. Namun, Rizal membatalkan rencananya.  Ia tidak ingin bersenang-senang sementara sahabatnya, Rayhan masih menyiksa diri sendiri dengan penyesalan.


Rayhan benar-benar telah berubah. Pria itu menutup hatinya untuk wanita lain dan masih menugaskan beberapa detektif untuk mencari di mana Lisa.


Rayhan selalu dihantui mimpi buruk. Meskipun ia telah meminta maaf pada orang-orang yang pernah ia sakiti, tetapi dirinya masih berhutang maaf pada Lisa. Wanita itu seolah telah memberi karma padanya.


Perusahaan Rayhan mengalami penurunan, baik secara finansial,  ataupun pekerja. Hatinya tidak pernah tenang dan yang lebih parah ia tidak pernah tidur nyenyak di malam hari. Rayhan jauh lebih kurus dari sebelumnya.


Itulah yang membuat Rizal khawatir. Tidak mungkin dalam keadaan Rayhan yang seperti itu, dirinya menikah dengan wanita yang ia cintai. Namun, Rizal lega karena Carissa pun tidak mendesak ingin segera menikah. Pria itu bersyukur telah memilih Carissa.


"Han, aku pulang dulu. Sampai bertemu minggu depan," salam Rizal pada temannya. Pria itu melambai ke arah Rizal.


"Ya, sampaikan salamku pada Carissa!"


Rizal mengangguk, lalu keluar dari ruang ganti. Saat itu masih pukul sepuluh malam, mungkin Carissa ingin menyegarkan pikirannya di kelab tempat biasa mereka menghabiskan waktu. Rizal ingin mencoba mengajak Rayhan, siapa tahu sahabatnya itu  setuju. Kalau David sepertinya tidak bisa karena Sekar sedang hamil muda.


Bruuk!


Tas ransel Rizal terjatuh saat bertabrakan dengan seseorang di pintu ruang ganti. Pria itu segera mengambil tas ranselnya tadi dan mendongak. Dia dan orang yang menabraknya sama-sama terkejut. Ternyata Yitian, pria yang pernah berkenalan dengannya di restoran Itali bersama Lisa.


"Yitian?" Rizal memastikan. Pria itu tersenyum ramah.


"Ya. Kau Rizal, kan? Hai! Lama tak berjumpa," balas Yitian.


Rizal menatapnya dari kepala sampai ujung sepatunya, kemudian memandangi wajah Yitian  yang berkeringat. "Iya, sudah lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu, Tian?"


"Aku baik-baik saja."


Rizal tidak sepenuhnya menyukai Yitian. Sejak bertemu dengan pria itu di restoran bersama Lisa, ia sudah tidak menyukainya. Hanya karena pria itu mencoba menarik perhatian Lisa.


Rizal tertegun. Kenapa dia tidak menanyai Yitian? Bukankah pria itu mantan atasan Lisa? Siapa tahu, Lisa mengatakan ke mana dirinya pergi?!


"Kalau begitu, aku akan ke ruang ganti. Senang bertemu denganmu lagi, Rizal."


"Tunggu!" seru Rizal. Yitian menghentikan langkah dan kembali pada pria itu.


"Ada apa, Rizal?"


"Tian, bolehkah aku bertanya sesuatu hal padamu. Aku ingin kau menjawabnya dengan Jujur."


Yitian tidak mengangguk ataupun menggeleng.


"Apa kau tahu dimana Lisa berada?"


Pria itu masih terdiam, ekspresinya berubah menjadi gugup. Rizal menyipitkan mata. Ia curiga Yitian mengetahuinya, tetapi tidak ingin membuka mulut, sama seperti Rana.


Yitian menutupi kegugupannya dengan tawa canggung.


"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku mengetahui keberadaan Lisa? Tentu saja tidak. Sejak dia pergi dari kota ini, aku tidak pernah lagi melihat ataupun menghubunginya. Kau bertanya pada orang yang salah," ujar Yitian tenang.


Rizal mendengkus, "Tapi kau menyukainya."


"Lalu?"


Rizal berjalan mendekatinya. “Mustahil kau tidak mengetahui keberadaannya, sedangkan kau menjawab pertanyaanku dengan tenang seperti itu. Jika kau benar-benar menyukainya, kau pasti akan berusaha keras mencari tahu di mana dia berada. Benar, ‘kan?"


Yitian menelan ludah. Namun, ia adalah pria sejati yang tidak akan mengingkari janjinya pada Lisa.


Lisa memintanya agar tidak memberitahu siapa pun di mana keberadaannya. Terutama kepada Rayhan dan orang-orang terdekatnya.


"Aku tidak tahu di mana Lisa, Rizal. Maaf telah mengecewakanmu."


Rizal menggeram. Ia berusaha menahan keinginannya untuk meninju wajah Yitian.


"Kau tahu, Tian? Rayhan yang sekarang bukanlah Rayhan yang dulu. Dia mencari di mana keberadaan Lisa seperti orang gila. Dia mencari di mana Lisa dan ingin meminta maaf padanya. Beritahu apa yang kau tahu jika kau ingin menolongnya," ungkap Rizal.


Yitian tersenyum miring. "Apa yang terjadi pada Rayhan bukanlah urusanku. Sekarang izinkan aku pergi karena aku masih mempunyai kegiatan lain."


Lalu, Yitian berlalu di hadapan Rizal, meninggalkan pria itu tertegun sendirian. Rizal yakin Yitian pasti mengetahui sesuatu.


***


Rayhan terbaring lemah di sofa depan televisi kamarnya sambil mengganti-ganti saluran dengan bosan. Tidak ada acara yang menarik perhatiannya. Hanya berita yang mengabarkan isu politik negara yang kembali merusuh.


Rayhan berdecak sebal, lalu berdiri dari tidurnya. Mungkin segelas wine akan menenangkan pikirannya.


Pria itu pun berjalan lunglai menghampiri meja kecil yang terletak di dekat jendela. Ia melihat keluar jendela kamarnya dan melihat kedua penjaga ramahnya sedang bercanda satu sama lain. Rayhan tersenyum. Temannya di rumah kini hanyalah para pelayan.


Rayhan meneguk segelas wine dan menatap langit malam yang hitam. Tidak ada bintang malam ini dan udara sedikit dingin. Tentu saja karena sekarang adalah musim hujan.


Rayhan termenung. Ia memikirkan Lisa lagi. Jika turun hujan, di mana wanita itu akan berlindung? Jika turun hujan, apakah dia tidak kedinginan?


Air matanya kembali terbendung. Ia menjadi pria yang cengeng semenjak kematian ayahnya dan kepergian Lisa. Meskipun Rayhan cukup puas karena Rana memutuskan untuk tinggal di mansion Aksa yang lain, tidak lagi seatap dengannya.


Suara sedikit riuh di televisi mengundang perhatian Rayhan. Kepalanya tidak sengaja menoleh ke arah televisi dan perhatiannya terpusat pada berita yang ditayangkan seorang reporter berita News at 10 sedang meliput acara festival yang di selenggarakan di sebuah desa di Jawa Barat.


Tarian-tarian tradisional dan penontonnya yang mulai menarik perhatian Rayhan. Ia kembali ke sofanya dan menyilangkan kaki di sana. Reporternya cukup cantik, batin Rayhan sembari tersenyum.


Akhir-akhir ini, pria itu hanya bisa memuji kecantikan wanita tanpa berniat untuk mempermainkannya. Ia tidak mempunyai cinta kepada orang lain, itulah penyebab utamanya.


Lalu, tiba-tiba matanya terpaku pada satu sosok yang berdiri tidak jauh dari reporter wanita yang sedang memberikan liputan ke kamera. Perlahan Rayhan menurunkan gelasnya. Ia tidak ingin berkedip sedikit pun, takut sosok yang dilihatnya hilang begitu saja. Rayhan menahan kedipan matanya sampai matanya perih.


Bukankah itu ....


Rayhan masih mengingat bentuk bibir wanita itu saat tersenyum, bagaimana bentuk bibirnya saat cemberut, dan bagaimana cara tangannya menutup mulut jika tertawa. Ia yakin sosok itu adalah ... Lisa-nya! Namun, ia tidak ingat bagaimana keadaan tubuh Lisa. Maksud Rayhan adalah, perempuan yang dilihatnya kini sedang hamil besar.


Kemudian, saat reporter itu menyelesaikan liputannya dan berganti dengan berita lain di studio. Rayhan hampir saja melempar remot kearah televisinya. Ia belum selesai menelaah apakah yang dilihatnya sekitar tiga puluh detik tadi adalah Lisa Destia.


Rayhan teringat ucapan Carissa tujuh bulan yang lalu. Di mana sahabatnya itu melihat Lisa membeli alat uji kehamilan.


Rayhan menelan ludah. Jadi, selama ini Lisa benar-benar hamil. Wanita itu mengandung anaknya, Benihnya.


Tidak salah lagi, itu pasti anaknya. Rayhan yakin itu.


Dengan cepat ia menyambar ponselnya dan menghubungi sekretarisnya, Hilal. Pria itu ingin sekretarisnya itu menghubungi program yang meliput festival di desa yang terletak di Jawa Barat itu dan meminta alamat lengkapnya. Rayhan tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Selama berbulan-bulan ia mencari jejak Lisa dan sekarang dirinya sendiri yang menemukannya. Rayhan harus segera ke sana, sekarang juga.


BERSAMBUNG ....