I'm Pregnant

I'm Pregnant
Mencari Lisa



Lisa tersenyum melihat kedatangan Yitian ke rumahnya. Baru kemarin Linda menanyakan Yitian, sekarang pria itu telah berkunjung.


Seperti biasa, Lisa menjamu Yitian dengan teh serta biskuit seadanya. Mereka duduk di pondok kecil di depan rumah sewa Lisa yang juga digunakan wanita itu sebagai pondok tempat tanaman-tanaman hiasnya. Tanaman-tanaman hias itulah yang menjadi sumber uangnya. Setelah merawatnya dengan baik, wanita itu akan menjualnya kepada orang-orang, kemudian ia menanam bibitnya lagi. Sebenarnya usaha itu adalah usul Yitian dan pria itu dengan senang hati memberi Lisa bibit-bibit tanaman hias yang pria itu jual di tokonya.


"Tanaman-tanaman ini sangat indah. Kau merawatnya dengan baik, Lisa."


"Merawat mereka adalah hobiku, Tian."


Yitian tersenyum manis, lalu menyesap tehnya. Pria itu berdecak nikmat dan menatap Lisa penuh arti. Lisa yang senang sekali mendapat tatapan lembut seperti itu lantas selalu menghindarinya. Ia tidak ingin Yitian menganggap kalau dirinya menerima perhatian khusus tersebut.


"Eung ... bagaimana kabar Pira dan Mira? Aku sangat merindukan mereka." Lisa mengalihkan perhatian Yitian.


"Mereka baik-baik saja dan juga merindukanmu," jawab Yitian setengah malas. "Eum, Lisa?"


"Hem?"


Yitian  memberanikan mengamit tangan Lisa dan meremasnya lembut.


Wanita itu tertegun.


"Lisa, apakah kau masih yakin belum menerimaku? Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, sangat peduli padamu, tetapi kenapa kau masih belum menerimaku? Aku berjanji akan selalu ada jika kau membutuhkanku. Aku akan menerima kondisimu saat ini."


Lagi-lagi seperti ini Lisa bingung harus menjawab apalagi pada Yitian. Ia tidak mempunyai perasaan suka sedikit pun pada pria itu.


Terkadang Lisa berpikir untuk menyerah dan menerima cinta Yitian, tetapi itu sama saja dengan menyakiti Yitian. Pria itu akan lebih tersakiti karena dia mencintai dengan tulus, sedangkan Lisa membalasnya dengan terpaksa.


Cinta bukan paksaan.


Dengan lembut dan sopan Lisa kembali menarik tangannya.


Hati Yitian mencelos.


"Aku tidak ingin menyakiti orang baik sepertimu. Maafkan aku, Tian."


Yitian tersenyum getir. Ini sudah penolakan yang ke sekian kalinya. Lisa sendiri tidak paham kenapa pria itu masih saja menunggu kesediaan dirinya. Dengan cara yang bersahabat, Lisa menepuk pundak Yitian.


"Hei, lagi pula kau bisa menganggapku sebagai adikmu. Aku akan menyayangimu seperti kakakku sendiri. Mulai sekarang kau tidak boleh cemberut lagi, mengerti? Masih banyak gadis yang menyukaimu. Kau ini pria paling tampan dan baik hati yang pernah aku kenal."


Mendengar itu Yitian tertawa dan mencubit pelan pipi Lisa. "Aish, kau ini. Memangnya siapa gadis yang menyukaiku? Kau sok tahu sekali!"


Lisa memutar bola matanya lalu menjawab tanpa pikir panjang. "Linda, misalnya."


Yitian mengerjap, lalu mengernyitkan  keningnya. "Siapa? Linda? Maksudmu, Linda temanmu itu?"


Lisa mengangguk semangat. "Iya, bukankah dia cantik? Menurutku dia bahkan lebih cantik dariku. Kau akan cocok jika berpasangan dengannya."


Wajah Yitian memerah. Bagaimana bisa gadis yang disukainya malah menjodohkannya dengan wanita lain. Ada-ada saja.


"Tidak mungkin dia mau denganku. Sudahlah, tidak usah kita bahas lagi topik ini."


Lisa tertawa, ia senang sekali menggoda Yitian. Bersama Yitian, wanita itu bebas dan menjadi dirinya sendiri. Ia bisa tertawa sepuasnya dan melupakan masalahnya sejenak.


"Sebenarnya aku merindukan Kak Rana. Namun, tidak mungkin aku mengunjunginya dalam keadaan hamil seperti ini …." ungkap Lisa, "aku pun takut bertemu dengan Rayhan."


Yitian menatap Lisa bimbang. Mendengar nama Rayhan, ia langsung ingat pria yang ditemuinya tempo hari.


"Lisa, tahu tidak? Dua hari yang lalu aku bertemu dengan Rizal. Kami tidak sengaja bertemu dan mengobrol sebentar." Yitian memutuskan untuk memberitahu saja. Pria itu merasa harus menyampaikannya pada Lisa.


"Ri-rizal? Lalu ... apa yang kalian bicarakan?"


Wajah Yitian berubah lebih serius. "Rizal menanyakan keberadaanmu. Dia berkata Rayhan telah ... Rayhan telah menyesali perbuatannya terhadapmu dan ingin meminta maaf. Dia masih mencarimu sampai sekarang."


Lisa membeku. Rayhan mencarinya untuk meminta maaf? Rasanya seperti mimpi dan ia tidak tahu apakah itu mimpi buruk atau mimpi indah. Ia tidak menyangka kalau Rayhan sedang mencarinya. Apa pria itu hanya bersandiwara agar bisa menemukannya dan menyakitinya lagi?


Melihat ekspresi cemas Lisa, Yitian segera menambahkan. "Jangan cemas, aku tidak mengatakan di mana kau tinggal kepadanya. Rahasiamu aman di tanganku, selama kau menyuruhku untuk diam."


Lisa mengangguk dan tersenyum kecut. "Terima kasih, aku tidak tahu harus berbuat apa jika Rayhan sampai menemukanku."


"Aku tahu, aku tahu! Aku tidak ingin mendengar nama pria itu lagi. Yitian, tolong."


"Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku."


Lisa mengelus perutnya. Dalam waktu dua bulan lagi anak di dalam kandungannya akan lahir ke dunia. Dari saat itulah, Lisa harus bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin didengarnya.


***


"Kalau begitu, semoga berhasil, Rayhan. Kami selalu mendoakanmu."


"Terima kasih, Zal. Aku tutup dulu, ya! Aku sudah sampai di sini. Nanti akan aku hubungi lagi. Bye!"


"Bye!"


Rayhan memasukkan ponsel ke dalam saku celana panjangnya, lalu turun dari mobil. Ia memarkirkan mobilnya tepat di dekat tempat festival kemarin diadakan. Menurutnya, pengunjung yang menghadiri festival itu tidak akan jauh-jauh dari tempat ini.


Rayhan menatap langit senja di tengah laut yang telah berwarna abu-abu gelap. Sebentar lagi malam tiba dan sepertinya akan hujan. Ia harus cepat-cepat menemukan Lisa.


"Permisi, Bu," sapa Rayhan pada seorang wanita yang berpapasan dengannya.


"Ya?"


Rayhan mengeluarkan selembar foto dari saku kemejanya dan memperlihatkan kepada wanita itu. "Apakah Ibu mengenal wanita ini? Namanya Lisa."


Mata wanita itu menyipit Hingga yang terlihat hanya garis matanya saja. Beberapa detik ia mengamati foto Lisa, lalu berdecak bingung.


Rayhan menunggu jawabannya.


"Sepertinya aku sering melihat wanita ini berbelanja di pasar. Namun, aku tidak pernah tahu namanya. Tunggu, bukankah dia sedang hamil?"


"Ibu sering melihatnya di pasar? Benarkah? Iya benar, Lisa sedang hamil." Ada secercah harapan disenyum Rayhan.


"Tetapi aku hanya sebatas melihatnya saja. Aku tidak tahu namanya Lisa dan di mana tempat tinggalnya. Jika kau ingin tahu, coba tanya para pedagang di pasar itu."


Rayhan mengikuti arah telunjuk wanita itu. Ada pasar tradisional yang terletak hanya seratus meter dari sana. Rayhan tersenyum lebar.


"Terima kasih, Bu."


"Iya, sama-sama."


Rayhan melangkah tergesa menuju pasar tersebut. Sedikit lagi langkahnya untuk menemukan Lisa.


Pria itu mempercepat langkahnya memasuki pasar, tidak sabar ingin menanyai satu-persatu pedagang disana. Ia yakin pasti ada jalan untuk ke rumah Lisa, tempat di mana wanita itu bersembunyi.


"Permisi, Bu." Rayhan menyapa seorang pedagang ikan.


"Ya, apakah Tuan ingin membeli ikan?"


"Mm, bukan. Aku hanya ingin bertanya. Apa Ibu tahu di mana wanita ini tinggal? Namanya  Lisa."


"Ah, wanita ini! Aku tahu, dia sedang hamil besar, 'kan? Tetapi dia tidak pernah membeli ikanku karena perempuan ini pernah bilang kalau dia tidak suka ikan. Coba Tuan tanya pedagang belut itu."


Tanpa membuang-buang waktu Rayhan menuruti perintah si pedagang ikan.


Kini Rayhan menghampiri si pedagang belut. Ia bersyukur orang-orang di situ ramah padanya. Hatinya makin tidak sabar untuk mengetahui di mana Lisa berada.


"Nona Lisa tinggal tidak jauh dari sini. Dia menyewa rumah di tanah Tuan Herman, sendirian. Namun, tidak ada jalan untuk mobil disana, Anda harus berjalan kaki. Aku akan memberikan denahnya pada Anda."


Rayhan ingin sekali melompat dan memeluk pedagang belut.


"Benarkah? Ah, aku benar-benar berterima kasih padamu, Pak."


BERSAMBUNG ....