
Pagi ini Intan tampak sudah siap dengan kaos oversized dan celana panjang bermotif. Tak lupa sebuah topi baseball cap yang bertengger dengan pas di kepalanya. Juga sepatu sneakers yang melengkapi penampilannya.
Setelah selesai berisiap, Intan pun segera turun ke bawah dan berpamitan pada sang Bunda.
"Bunda, Intan mau berangkat latihan dulu ya," ucap Intan memohon izin.
"Iya, hati-hati di jalan ya, Nak," jawab Nia memperingatkan.
"Siap, Bun. Assalamualaikum," salam Intan berpamitan.
"Waalaikumsalam."
Lantas Intan pun segera bergegas menuju ke depan, menghampiri Dena dan Olivia yang sedang menunggunya dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan depan rumahnya.
"Pagi, Den, Liv," sapa Intan dengan senyum cerah.
"Pagi juga, In," sapa kedua orang itu balik menjawab. "Yuk cepetan masuk!" perintah Olivia kemudian.
Setelahnya mobil pun melaju dengan kecepatam sedang, membelah jalanan ibu kota yang dipenuhi oleh kendaraan.
..._____◇◇◇◇◇_____...
Para siswa kelas XII IPA 1 tampak sudah berkumpul di ruang kelas, semuanya tampak fokus mendengar arahan dan penjelasan dari Rikza dan Aldrian.
Setelahnya latihan pun dimulai, mereka tampak melakukannya dengan kompak. Sesekali derai tawa menghiasi kala diantara mereka ada yang melakukan kesalahan.
XII IPA 1, kelas yang terkenal akan kekompakan dan keaktifan para siswanya. Bukan itu saja, lebih dari setengah diantaranya merupakan siswa yang berprestasi dan selalu mewakili sekolah diberbagai perlombaan. Baik itu dibidang akademik maupun non akademik.
Latihan diistirahatkan saat waktu telah menunjukkan tengah hari. Para anak perempuan tampak duduk berselonjor di depan kelas, sedangkan para laki-laki duduk berkumpul di belakang kelas.
"Abis ini kita lanjut latihan olahraga buat porak nanti, ya!" tegas Rikza memberi tahu.
"Kita enggak mungkin latihan di lapang luar 'kan, Za? Asli, ini panasnya terik banget loh!" keluh Sheila bertanya.
"Santai, enggak usah cemas. Kita latihan di lapang dalam kok. Kemarin aku udah pinjam kuncinya ke Pak Ali," jawab Haris seraya menunjukkan kunci ruang olahraga.
"Ok, sekarang kita istirahat aja dulu. Abis dzuhur kita lanjut latihan lagi, ya!" ujar Dina mengakhiri obrolan.
..._____◇◇◇◇◇_____...
Latihan berlanjut pada pukul 1 siang, para siswa XII IPA 1 tampak sudah berkumpul di lapangan sepak bola sekolah.
"Latihan pertama Sepak Bola dulu, kita main 2 babak aja. Abis itu lanjut ke Volly sama Basket," seru Rikza mengintruksikan. "Nanti giliran mainnya sama anak perempuan," sambungnya melanjutkan.
Latihan pun dimulai, semuanya tampak antusias dan penuh semangat. Selain Intan, hampir semua orang berakhir dengan tubuh yang bercucuran keringat.
"Ok, guys. Kita istirahat dulu sebentar," teriak Aldrian berseru lantang.
"Anjir, capek banget!" ucap Olivia dengan nafas naik turun.
"Hu'um ... masalahnya jumlah siswi kelas kita terlalu sedikit dibanding kelas lain. Sedangkan pertandingannya sendiri ada bermacam-macam," ujar Dena berikutnya.
"Yup, bener banget. Apalagi porak kali ini terlalu singkat dari biasanya. Jadi semua pertandingan porak harus diselesaikan dalam 2 hari!" tambah Sekar selanjutnya.
"Elah ... jangan pada geluh gitu dong. Ayok semangat!" kata Intan tiba-tiba menyemangati. "Kalau kalian loyo gini gimana mau bisa menang coba?" celetuknya melanjutkan.
"Kamu sih enak, In, gak ikutan apa-apa pas porak nanti," celetuk Vini berucap.
"Iya, tapi seenggaknya kamu bisa ikut mewakili kelas untuk pertandingan badminton. Kemampuanmu itu 'kan paling bagus diantara anak sekelas. Bahkan mungkin setara dengan para anggota club badminton sekolah," kata Dina memberi tahukan.
"Bener, Intan. Tahun-tahun kemarin 'kan juga biasanya kamu yang wakilin kelas kita. Hasilnya selalu masuk tiga besar," tambah Rindi melanjutkan.
Intan tampak merenung sejenak. Apa yang teman-temannya katakan itu benar. Intan memang tidak jago dalam mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. Namun, kemampuannya dalam olah raga bulu tangkis tidak bisa diragukan. Ia cukup mahir memainkan raket karena selalu memainkannya bersama sang Kakak sejak masih kecil. Intan bahkan sempat di ajak untuk ikut turnamen antar sekolah, tetapi menolak dengan alasan tidak percaya diri untuk menang.
Tapi sebenarnya alasan utama Intan tidak bisa mengikuti kegiatan porak kali ini adalah karena keadaannya saat ini yang tengah mengandung. Meski pertandingan bulu tangkis tidak seberat Sepak Bola dan Volly, tetapi tetap saja membuat Intan khawatir dengan beragam resiko yang mungkin saja terjadi.
Intan begini bukan karena ia menginginkan kehamilannya saat ini. Bohong jika dirinya tidak pernah berharap atau berkeinginan agar kandungannya keguguran saja. Namun, tidak berarti dirinya akan mau melakukannya dengan sengaja, mengingat beragam akibat dan konsekuensi yang akan didapatkannya nanti.
"Tan...," panggil Olivia kemudian.
"Intan...," ulangnya lagi karena Intan yang tifak juga merespon seruannya.
"Intan!" teriaknya selanjutnya membuat Intan tersentak kaget.
"Allahuakbar, Allah maha besar!" latah Intan keras. Hal itu tentu saja membuat semua orang melihat ke arahnya selama benerapa saat.
"Kok kamu malah bengong sih?" ketus Dena cemberut.
"Ah ... ha ha ... sorry, aku tiba-tiba kepikiran sama hal lain tadi," jawab Intan seraya tersenyum kikuk.
Saat Olivia hendak kembali bertanya, tiba-tiba saja terdengar suara Aldrian yang kembali menyuruh semuanya untuk melanjutkan latihan. Meski masih lelah, tetapi semuanya tampak tetap melakukannya dengan penuh semangat.
Intan tampak asyik menyaksikan teman-temannya yang tengah berlatih dengan bersungguh-sungguh. Sesekali mereka terlihat tertawa dan berteriak heboh. Membosankan, itulah yang Intan rasakan saat ini, bagaimana tidak? Selama lebih dari empat jam dia hanya menjadi penonton seorang diri, sedang teman-temannya sibuk berlatih ini itu. Meski sesekali mereka akan beristihat sejenak di pinggir lapangan.
"Intan," panggil Rikza yang baru saja datang menghampirinya.
"Ada apa, Za?" jawab Intan balik bertanya. Kini sikap Intan sudah kembali seperti biasa dihadapan lelaki itu. Sesuai dengan permintaan Rikza, Intan sudah tidak lagi menghindarinya.
"Kamu pasti bosan, ya?" tanya Rikza basa-basi.
Berbeda dengan Intan yang bersikap biasa saja seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Rikza justru malah bersikap semakin perhatian pada Intan. Lelaki itu sering kali bertanya keadaannya atau sekedar melakukan hal-hal kecil yang terkadang Intan pikir terlalu berlebihan.
"Lumayan," jawab Intan singkat apa adanya.
"Kalau kamu mau pulang duluan juga enggak papa, In. Jangan sampai kamu terlalu kecapean," ucap Rizka lagi kemudian.
"Enggak usah, Za. Biar nanti aku pulang bareng yang lain aja, lagian tadi aku ke sini bareng mobilnya Olivia. Jadi pulangnya ya harus nunggu dia dulu," jawab Intan menjelaskan.
Tanpa mereka sadari bahwa teman-temannya sedang memerhatikan sejak tadi. Hingga sebuah siulan dari salah seorang anak laki-laki mengalihkan perhatian keduanya, tak lupa deheman dan pura-pura batuk yang dilakukan anak-anak lainnya membuat dahi Intan berkerut heran.
"Cie ... yang lagi mojok di pinggir lapang, cie ... Inget waktu sama tempat woy, kita lagi latihan bukan pacaran!" celetuk Fajar menggoda.
Hal yang belakangan ini kerap kali dilakukan oleh teman-teman sekelasnya. Wajar saja, bagaimana mereka tidak salah paham. Intan dan Rikza yang biasanya tidak dekat satu sama lain dan cenderung acuh bahkan jarang berinteraksi bila tidak ada urusan tugas atau organisasi sekolah. Kini mereka malah terlihat cukup akrab bahkan bisa dikatakan lebih dari sekadar teman dekat. Hal itu tentu sama membuat teman-teman sekelas berpikir jika keduanya memiliki hubungan spesial lebih dari teman.
"Apa sih kalian, pikiran kalian berlebihan banget tahu nggak! Aku sama Rikza cuma ngobrol biasa, bukannya mojok seperti apa yang kalian bayangkan," ketus Intan menjawab.
"Tahu nih kalian, memangnya salah ya kalau kami akrab?" tambah Rikza bertanya.
"Gimana bisa enggak berpikir lain, kalau ngelihat orang yang biasanya cenderung acuh tak acuh satu sama lain malah kelihatan deket apalagi sampe saling perhatikan. Wajar dong kalau kami curiga," tukas Aldrian menjawab.
"Ck ... ngawur! Sudah mening kalian lanjut latihan lagi sana! Sudah sore nih, enggak pada mau pulang cepet apa?" ucap Intan kemudian.
Setelah beberapa kali melontarkan candaan dan dijawab dengan sangkalan oleh Intan. Teman-temannya itu pun kembali melanjutkan latihan hingga pukul setengah enam. Selanjutnya latihan pun di hentikan karena hari sudah mulai gelap. Semuanya kembali pulang menuju rumahnya masing-masing.