I'm Pregnant

I'm Pregnant
Ikut ke Rumah Rikza



Intan dan Rikza tertidur dengan keadaan masih berpelukan. Hingga akhirnya keduanya terbangun pada keesokan harinya. Mereka tampak menatap satu sama lain, hal itu sontak saja wajah keduanya merona malu sekaligus kaget. Lantas secara refleks Intan dan Rikza pun menjauhkan tubuh satu sama lain.


"Ah ... ma-maaf, sepertinya aku ketiduran semalam," ucap Rikza salah tingkah.


"Ti-tidak masalah ... a-aku juga ketiduran semalam," jawab Intan malu.


Tak lama kemudian suara adzan pun berkumandang. Membuyarkan suasana canggung yang sempat menguasai keadaan.


"Ah ... sudah subuh. Kalau gitu aku ke kamar mandi duluan ya, Za," ucap Intan kemudian.


"Iya, silahkan," jawab Rikza singkat.


Intan pun langsung saja bergegas menuju kamar mandi. Nemun, langkahnya terhenti kalau selangkah lagi berhasil memasuk ke dalamnya.


"Ya ampun, aku baru ingat! Aku 'kan enggak bawa baju buat ke sekolah hari ini," celetuk Intan seraya menepuk pelan jidatnya.


Intan pun langsung saja berbalik ke arah Rikza. "Za, abis ini kamu anterin aku ke rumahnya Olivia, ya!" pinta Intan memerintah. "Aku mau pinjem baju ke dia," sambungnya memberi tahukan.


Rikza tampak mengangguk setuju. "Iya, nanti aku antar."


..._____◇◇◇◇◇_____...


Setelah sebelumnya mereka mampir ke masjid terlebih dahulu, Intan dan Rikza pun akhirnya pergi menuju rumah Olivia.


"Intan, kamu mau berangkat bareng aku atau bareng Olivia?" tanya Rikza sebelum Intan turun dari mobilnya.


"Aku berangkat bareng kamu saja, kalau berangkat bareng Olivia pasti nanti dia banyak nanya-nanya. Aku lagi malas jawab," jawab Intan memberi tahukan. "Kalau begitu kamu tunggu sebentar ya, kamu enggak keberatan 'kan?" tanya Intan berikutnya.


"Tentu saja tidak, aku ... senang malah," jawab Rikza bergumam di akhir.


"Hah?" tanya Intan yang tidak menedengar dengan jelas apa yang Rikza ucapkan di akhir. "Kamu ngomong apa barusan, Za?" tanya Intan kemudian.


"Ah ... bukan apa-apa kok. Sebaiknya cepat kamu temui Olivia, takutnya kita telat. Soalnya 'kan habis ini aku mau ke rumah dulu buat mandi dan ganti baju," kata Rikza mengalihkan perhatian.


...______◇◇◇◇◇______...


"Matamu kenapa, Intan? Kok sembab gitu, kek org abis nangis aja," tanya Olivia penasaran.


"Eh ... enggak kok. Mungkin karena Tumbenan kamu pinjem baju sekolah aku, punya kamu ke mana emang?" tanya Olivia seraya menyerahkan baju yang Intan pinjam.


"Punya aku basah, kemarin sore gak sengaja kecuci dan belum sempat aku jemur," jawab Intan berbohong.


"Dasar ceroboh!"


"Hehe ... kalau gitu aku ikut ganti baju di sini, ya," ucap Intan kemudian.


"Iya, ganti aja sana. Kayak di rumah siapa saja pakai minta izin segala," jawa Olivia memperbolehkan.


Intan dan Dena memang sudah sering bermain ke rumah Olivia. Begitu pun sebaliknya. Jadi mereka sudah tidak lagi sungkan bila bermain ke rumah satu sama lain.


Dengan secepat kilat Intan pun langsung saja melesat menuju kamar mandi yang ada di kamar Olivia. Lantas segera mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Setelah selesai Intan pun memutuskan untuk segera berpamitan sebelum Olivia menanyainya soal kejadian kemarin.


"Liv, aku pulang sekarang ya," kata Intan berpamitan.


"Loh, mending kamu berangkat sekolah bareng aku aja, In. Biar sekalian kita ngobrol dulu,"ujar Olivia menyarankan.


"Lain kali aja ya, Liv. Soalnya tasku masih ada di rumah, sekalian aku mau ada urusan sama anak OSIS. Tahu sendiri 'kan aku ini panitia acara," jawab Intan beralasan.


"Ya sudah ... tapi sebelumnya aku mau nanya dulu. Kemarin kamu pergi ke mana? Mama kamu sampe telepon aku berkali-kali. Katanya kamu belum pulang padahal udah lewat magrib," kata Olivia menyanyakan pertanyaan yang sejak awal sangat ingin Intan hindari.


"Ah ... jelasinnya nanti saja ya! Aku buru-buru nih, Liv. Bye-bye," jawab Intan seraya segera melarikan diri.


..._____◇◇◇◇◇_____...


"Za, cepet jalan! Takutnya Olivia dateng nyamperin aku ke sini, bisa berabe kalau dia liat kamu!" perintah Intan panik.


Rikza pun langsung saja menjalankan mobilnya, meninggalkan kawasan perumahan di mana tempat Olivia tinggal.


"Kenapa memang?" tanya Rikza heran.


"Kemarin 'kan bundaku telpon mereka berdua dan buat nanyain aku. Apalagi mereka juga ikut telponin dan chatt aku sampai berulang kali. Pasti mereka penasaran, lah!" jawab Intan menjelaskan.


"Ya sudah, kamu bilang saja seperti apa yang kamu katakan ke ibu kamu," jawab Rikza memberi saran.


"Bilang kalau aku ada kerjaan bareng anak OSIS terus nginep di rumannya Mala. Nah abis itu aku ketahuan bohong dan mereka bakal nambah introgasi aku karena penasaran, gitu?" tukas Intan kesal.


"Er ... ya sudah, kamu hindari saja dulu mereka," kata Rikza pada akhirnya.


Pembicaraan pun terhenti karena mereka sudah sampai di kediaman Rikza,


"Kamu mau ikut masuk?" kata Rikza menawarkan.


"Enggak usah, nanti orang tuamu malah mikir yang enggak-enggak. Apalagi semalam kamu enggak pulang ke rumah," jawab Intan menolak.


"Enggak bakalan, lah. Aku 'kan tinggal bilang ke Mama kalau tadi sekalian jemput kamu dari rumahnya Haris," kata Rikza berikutnya. "Mening kamu ikut masuk aja, soalnya kalau kamu ketemu keluargaku di sini justru malah kamu sendiri yang bingung," tambah Rikza menyarankan.


Intan tampak berpikir sejenak, lantas ia pun akhirnya memilih untuk setuju dan ikut masuk ke rumah Rikza.


..._____◇◇◇◇◇_____...


"Lok, kok kamu pulang bareng anak cewek?" tanya Sita tampak kaget sesaat setelah membukakan pintu rumahnya. "Kalau enggak salah ini teman sekelas kamu 'kan?" sambungnya bertanya.


Sebelum menjawab Rikza memilih untuk mencium tangan sang Mama, diikuti oleh Intan yang juga melakukan hal yang sama.


"Iya, Ma. Ini Intan, teman sekelas aku," jawab Rikza kemudian. "Aku tadi sekalian jemput dia pas mau pulang, kebetulan rumahnya memang searah sama rumah kita kalau dari arah tempat tinggal Haris," jelasnya melanjutkan.


Sebenarnya baik Intan maupun Rikza bukanlah anak yang pintar membohongi orang tuanya, tetapi keadaan memaksa mereka untuk belajar membuat kebohongan demi kebohongan.


Sita tampak mengangguk pelan, lantas mengajak kedua remaja akhir itu untuk masuk ke dalam rumah.


Rikza langsung saja bergegas menuju kamarnya, sedang Intan dibawa ke ruang tamu oleh Sita.


"Nak Intan, maaf ya tante enggak bisa nemenin di sini. Soalnya lagi siapin sarapan di dapur," ucap Sita merasa tak enak.


"Ah ... iya tante, tidak apa-apa," jawab Intan seraya tersenyum canggung.


Sepeninggalnya Sita, Intan tampak lebih bisa merilexkan perasaannya. Tanpa terasa belasan menit pun telah berlalu begitu saja. Rikza pun kembali dengan mengenakan training bebas yang dimilikinya.


Jangan bertanya mengapa Rikza tidak memakai seragam sekolah yang bisa ia kenakan. Mengingat hal ini memang sudah biasa terjadi di acara porak sekolah, mengingat acara ini biasa dijalani lebih dari satu hari. Hal itu menyebabkan baju olahraga sekolah yang dipakai para siswa di hari pertama sudah tentu menjadi kotor dan tidak bisa digunakan di hari berikutnya. Itulah sebabnya sekolah meringankan peraturan dengan memperbolehkan para siswanya untuk memakai pakaian yang bukan seragam sekolah dengan syarat harus tetap mengikuti dan sesuai dengan aturan dan sopan santun.


Bersamaan dengan Rikza yang baru saja tiba di ruang tamu, Sita pun tampak baru saja kembali dari dapur.


"Rikza, ajak teman kamu untuk sarapan terlebih dahulu!" perintah Sita kemudian.


"Ah ... tidak apa-apa tante, tidak usah repot. Lagipula saya bisa sarapan di sekolah," tolak Intan merasa tak enak hati.


"Sudah, jangan menolak. Kamu ikut sarapan bereng kami saja, ya!" perintah Sita tak terbantahkan.


Akhirnya setelah beragam bujukan dan ajakan, Intan pun ikut sarapan bersama keluarga Rikza.


..._____◇◇◇◇◇_____...


"Wah, siapa ini, Rikza? Pacar kamu, ya?" tanya Yadi--Papa Rikza-- penuh minat.


"Bukan, Pa. Ini teman sekelas sekaligus sekertaris OSIS di angkatanku," jawab Rikza memberi tahukan.


"Teman apa teman, Kak?" tanya Ririn--Adik perempuan Rikza-- menggoda.


Keluarga Rikza tampak terlihat sangat tertarik dan penasaran dengan perempuan yang di bawa Rikza. Pasalnya ini adalah pertama kalinya Rikza pulang ke rumah dengan membawa seorang perempuan selain untuk mengerjakan tugas kelompok. Apalagi sampai menjemputnya seperti sekarang ini.


"Ririn ... jangan mulai deh usilnya, kasihan tuh Kak Intannya jadi malu," tukas Sita menimpali ucapan sang putri.


Sarapan pun kembali berlanjut, dengan godaan dan candaan yang sesekali Ririn lontarkan. Berbeda halnya dengan orang tua Intan yang hangat tetapi kaku dan tidak pandai bergurau. Papa dan Mamanya Rikza cukup memiliki sisi yang ramah dan humoris.