I'm Pregnant

I'm Pregnant
Anak Yitian



"Lin, berhenti dulu sebentar. Aku lelah sekali!"


Sebelum Linda sempat menjawab, Lisa telah duduk di bangku beton yang menghadap ke pantai.


Linda duduk di sampingnya dan menyodorkan air mineral yang tadi dibelinya, "Minumlah."


"Terima kasih."


Linda memandangi wajah kelelahan Lisa selagi wanita itu meneguk air mineralnya. Ia tahu kalau Lisa hanya berpura-pura untuk tidak peduli pada Rayhan. Bukan sikap Lisa membenci seseorang sebesar itu. Walaupun gadis itu baru mengenal Lisa dalam waktu beberapa bulan, tetapi kebaikan wanita itu seperti dikenalnya sudah lama.


"Aku rasa dia sudah benar-benar berubah," ucap Linda tiba-tiba.


Lisa menatap Linda heran. "Siapa?"


Linda mengulum senyum. "Kakak tahu siapa yang aku maksud."


Lisa berubah serius. Ia memutar-mutar tutup botol air mineral tersebut, kemudian mendengus, "Aku tidak tahu, Linda."


Linda menoleh ke depan. Matanya menyipit memandang deburan ombak yang berkejar-kejar di pantai. "Jika aku menjadi Kakak, aku akan memberinya kesempatan."


Lisa termenung.


"Jika dia bermaksud jahat padamu, dia tidak akan bersusah payah mencarimu sampai ke sini. Dia sudah mengakui semua kesalahannya padamu. Kak, aku yakin sejahat apa pun Rayhan dulu, dia tidak akan membiarkan anaknya lahir tanpa ayah."


Lisa mengangkat bahu. "Aku belum bisa percaya sampai aku mengetahuinya sendiri, Lin."


Linda mendesah, "Aku mengerti."


Lisa membayangkan bagaimana Rayhan mengikutinya selama dua hari ini. Bagaimana pria itu dengan sabarnya menahan caci maki darinya. Bagaimana pria itu mencoba melakukan apa yang bisa membantunya. Namun, ia sebenarnya tersiksa membenci pria itu.


"Memangnya apa yang membuatmu tidak bisa memaafkannya?" Kali ini Linda bertanya dengan nada antusias.


"Entahlah, aku merasa sepertinya sudah takdirku untuk membencinya dan menjauh dari kehidupannya," jawab Lisa tanpa berpikir panjang.


"Kakak 'merasa sepertinya?' Jadi, kau hanya menerka-nerka perasaan Kakak, begitu?"


Lisa tertegun.


"Kak, jangan pernah membenci seseorang di luar kemampuan kita, sebab hubungan benci dan cinta sangatlah tipis," ujar Linda setengah bergurau.


"Tidak, Lin. Ini tidak akan menjadi cinta. Percayalah padaku!" tegas Lisa. Ia sangat serius.


"Hohoho, aku ingin lihat apakah keyakinan Kakak bisa dipercaya?" Linda meledek. Gadis itu tidak pernah serius. Lisa mengabaikan Linda dan mulai berpikir tentang Rayhan. Ia sama sekali tidak merasakan cinta untuk Rayhan, setidaknya itulah yang dirasakannya sekarang. Lisa sendiri bingung dengan perasaannya setelah mendengar komentar Linda.


Mungkin ia harus bersikap tegas pada Rayhan. Lagi pula itu sangat berguna untuk memastikan apa yang dirasakannya. Jika pria itu benar-benar pergi dari kehidupannya, mungkin Lisa berpikir kalau ia memang tidak bisa jatuh cinta.


***


"Huft, akhirnya selesai!" seru Rayhan seraya memandangi hasil kerjanya menjemur pakaian Lisa. Tubuhnya lelah basah oleh keringat. Ia memandangi sekelilingnya, melihat genangan air yang diciptakannya.


Rayhan meletakkan kembali ember kepada tempatnya dan menampung air bersih untuk dipakai selanjutnya. Rayhan tidak tahu untuk apa Lisa menampung air bersih. Pria itu tidak melihat adanya kamar mandi tambahan di dalam rumah itu.


Rayhan membeku.


Baru ia sadari kalau di sana ada mirror box tempat menyimpan sabun mandi cair, pasta gigi dan sikatnya, sampo dan peralatan mandi lainnya.


"Apa dia juga mandi di sini?" tanyanya berjengit. Kepala Rayhan berputar ke segala arah dan mengamati tembok yang bisa dengan mudah dipanjatnya. Tembok itu berada di luar rumah, otomatis siapa saja bisa memanjat untuk masuk ke sini.


Jika Lisa mandi di sini, dia bisa saja diintip oleh laki-laki hidung belang di luar sana.


"Aish! Tidak boleh! Lisa tidak boleh mandi di sini! Bagaimana bisa rumah ini mempunyai kamar mandi dengan atap terbuka seperti ini?! Aku harus protes kepada Linda dan keluarganya. Seharusnya mereka membuat kamar mandi di dalam rumah agar Lisa tidak diintip oleh laki-laki hidung belang!"


Tanpa berpikir lebih panjang, Rayhan menyambar sapu lantai dan mulai menyapu dari sudut ruangan. Lantai yang terbuat dari papan sedikit menyulitkannya membersihkan ruangan itu.


Rayhan merasakan perutnya keroncongan. Mengerjakan ini itu membuat perutnya lapar.


"Seandainya aku bisa memasak, aku pasti akan memasak untuk Lisa sekaligus," gumam Rayhan. Pria itu terus menyapu dengan pikiran yang terus menerawang. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan ketika matanya bertemu pada sesuatu yang janggal sedang tergantung di dinding.


Sebenarnya bukan benda yang dilihatnya yang aneh, tetapi tulisannya.


Rayhan mematung di tempat. Jaket merah bertuliskan nama Yitian.


Rayhan menjatuhkan sapu, lalu menatap jaket tersebut tanpa berkedip. Setahu Rayhan, nama Yitian adalah nama yang jarang di pakai di Indonesia ini. Kemudian,Yitian bukanlah seorang artis atau atlet yang namanya tertulis di jaket seperti itu. Yitian yang dikenal pria itu dan Lisa mungkinkah adalah orang yang sama.


"Kenapa dia mempunyai jaket ini?" gumam Rayhan. Hatinya sakit menahan perasaan tidak suka. Walaupun hanya sebuah nama, tetapi pria itu yakin ada sesuatu yang tidak beres Rayhan mengamati bentuk jaket. Jaketnya pun bukan jaket perempuan.


Matanya tiba-tiba melebar. Ini memang jaket laki-laki sebab jaket ini adalah jaket Yitian. Rayhan mengerjapkan matanya yang perih. Ia menatap lantai kayu di bawahnya. Jadi, selama ini Lisa masih berhubungan dengan Yitian. Itu artinya Yitian tahu di mana Lisa berada.


Rayhan tertawa lirih. Ia merasa dirinya konyol sekali. Apa Yitian mengalahkannya? Apa Yitian yang telah memiliki hati Lisa? Apakah karena Yitian, Lisa tidak ingin memaafkannya?


Pertanyaan-pertanyaan di kepala Rayhan terhenti ketika seseorang masuk ke rumah itu. Pria menoleh dan sama-sama terkejut dengan wanita yang baru saja masuk.


Lisa!


Lisa lebih kaget saat melihatnya. Ia menatap Rayhan ngeri. Bukankah tadi ia menyuruh pria itu untuk tidak mendekati rumahnya? Apa pria ini tuli?


"Apa yang kau lakukan di sini? Lancang sekali kau masuk ke rumahku!" bentak Lisa.


Rayhan bergeming.


Lisa mendekati Rayhan dan berdiri tepat di hadapannya. Ia sendiri bingung mengapa tubuh pria itu lebih banyak berkeringat dibandingkan dirinya.


"Keluar dari rumahku, Rayhan! Kau masuk tanpa izin sama saja kalau kau ini pencuri!"


Rayhan masih diam menatapnya. Matanya menatap sendu pada Lisa yang membalasnya dengan tatapan marah.


"Apa kau tidak mengerti ucapanku? Kau tidak mengerti bahasa Indonesia, ya? Aku minta kau per--"


"Apa karena Yitian?"


Mulut Lisa langsung terkatup. Mata Rayhan kini berkaca-kaca.


"Apa karena Yitian, kau tidak ingin memaafkanku? Apa karena pria itu kau tidak ingin memberikan kesempatan kedua?"


Lisa baru menyadari kalau mereka berdiri di dekat jaket Yitian yang tergantung.


"Kau benar," ucap Lisa dingin.


Rayhan tertawa sinis. "Aku tidak percaya padamu."


"Aku tidak peduli dengan pendapatmu, Rayhan. Aku minta kau keluar sekarang juga!"


"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku karena kau sedang mengandung anakku. Kau harus menikah denganku," ujar Rayhan. Ia akan mengalahkan seribu Yitian sekaligus demi menikahi wanita yang dicintainya.


"Aku tidak akan menikah denganmu!"


"Oh, begitulah? Apakah kau tega mengatakan kepada anakmu nanti kalau ayahnya bukanlah pria yang kau nikahi?"


"Memang bukan anakmu, Rayhan! Bayi yang aku kandung bukanlah anakmu, tetapi anak Yitian!"


BERSAMBUNG ....