
Intan membuka matanya perlahan, lantas memeriksa waktu melalu ponselnya. Jam tampak sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Intan pun memutuskan untuk segera memejamkan matanya kembali. Namun, ia tetap tidak bisa tidur. Malah bergerak dengan gelisah dan tak nyaman di atas kasur.
Intan langsung saja bangkit dari posisi tidurnya. "Hey! Tolong tahan sampai besok pagi, Ok! Aku janji akan memberikannya padamu sebanyak yang kamu mau," ucap Intan pada bayi yang kini berada dalam kandungannya
"Tolong bersabarlah, kumohon!" gumam Intan dengan mata berkaca-kaca.
"Intan," seru Rikza yang tampaknya terusik dan terbangun dari tidurnya. "Kamu lagi ngomong sama siapa?" tanyanya kemudian.
"Ah ... Rikza, aku ... tidak sedang berbicara dengan siapa pun kok, ha ha," jawab Intan seraya tertawa canggung.
"Tapi perasaan tadi aku dengar kamu ngomong deh," ucap Rikza yakin.
"Itu 'kan cuma perasaan kamu aja, Za," jawab Intan lagi dengan senyum canggung.
Wajahnya sedikit gugup dan gelisah secara bersamaan, antara malu karena hampir ketahuan tengah berbicara sendiri dan gelisah karena sebuah keinginan yang menuntut untuk segera terpenuhi. Apalagi ini sudah larut malam, tidak enak juga bila harus mengatakannya pada Rikza.
"Terus kenapa wajahmu kelihatan gelisah seperti itu? Kamu sakit?" tanya Rikza kemudian. Suaranya terdengar khawatir.
Intan menggigit bibir bawahnya kuat, matanya kembali berkaca-kaca. Hal itu tentu saja tidak luput dari penglihatan Rikza. Sontak saja lelaki itu bergegas menghampirinya.
"Ada apa Intan? Apanya yang sakit? Perut kamu kram lagi?" tanya Rikza panik.
Intan menggeleng cepat, "Aku enggak sakit, aku ... aku cuma lagi pengen banget makan bubur ayam," jawab Intan yang pada akhirnya memberi tahu Rikza.
Rikza tampak menghembuskan nafas lega, "Kukira kamu kenapa," ucapnya terdengar lega. "Apa sekarang kamu lagi ngidam? Jangan-jangan sebenarnya tadi itu kamu sedang ngomomg sama bayi dalam perut kamu ya?" tebak Rikza benar.
Intan mengangguk pelan, "Padahal aku udah nyuruh dia buat sabar sampai besok pagi, tapi enggak bisa. Dorongannya benar-benar kuat, aku pengen banget makan bubur ayam malam ini," ujar Intan memberi tahu.
"Ya sudah biar sekarang aku carikan buburnya, ya," ucap Rikza kemudian.
"Tapi ... ini 'kan sudah hampir tengah malam," kata Intan terdengar ragu dan tak enak hati.
Rikza tampak tersenyum lembut, "Enggak Papa, kamu tunggu di sini, ya. Kebetulan aku tahu tempat jual bubur yang buka 24 jam."
Intan terlihat masih merasa tidak enak. "Maaf, ya. Aku malah ngerepotin kamu."
"Jangan berpikir begitu, lagi pula yang kamu kandung 'kan juga anakku. Jadi sudah tugasku sebagai calon ayahnya untuk memberikan apa yang ia inginkan," jawab Rikza tulus.
..._____◇◇◇◇◇_____...
Rikza kembali dengan menenteng seporsi bubur di tangannya, hal itu di sambut oleh Intan dengan antusias. Dengan cepat perempuan itu pun langsung membawanya ke atas meja yang tersedia di sana, lantas bersiap untuk segera menyantap bubur ayam tersebut.
Namun, belum sampai suapan pertama mendarat ke mulutnya. Tiba-tiba saja Intan terbayang wajah keluarga yang bergitu disayangi olehnya. Tanpa sadar tubuh Intan menggigil cemas. Refleks saja ia menjauhkan bubur tersebut dari hadapannya, tidak memedulikan dorongan kuat yang membuatnya begitu ingin menikmatinya.
Intan memeluk tubuhnya dengan kedua tangan, sedang tubuhnya bergetar karena menahan sesuatu yang begitu ia inginkan. Hal itu sontak saja membuat Rikza panik dan khawatir.
"Intan," panggil Intan panik. "Kamu kenapa?" tanyanya terdengar cemas.
"Kenapa? Apa buburnya tidak sesuai dengan selera kamu? Mau aku belikan yang baru?" tanya Rikza kemudian
Intan menggeleng cepat. "Aku enggak mau, aku enggak mau makan bubur, aku enggak boleh makan itu!" ucap Intan mengulang.
Hal itu membuat Rikza semakin bingung. "Kenapa enggak boleh makan bubur? Bukannya tadi bilang kamu lagi ngidam dan pengen banget makan bubur?" tanya Rikza lagi berikutnya.
"Aku enggak lagi ngidam, aku enggak mungkin ngidam," sangkal Intan menjawab.
Dahi Rikza berkerut, tidak mengerti dengan apa yang Intan katakan. "Maksud kamu apa Intan? Kamu 'kan lagi hamil, jadi wajar saja kalau kamu ngidam," ucap Rikza mencoba untuk menjelaskan selembut mungkin.
"Tapi aku memang tidak sedang ngidam, Rikza!" jawab Intan kukuh. "Aku ... aku enggak mungkin hamil. Alat-alat itu pasti rusak, dokter juga pasti salah periksa," sambung Intan menolak kenyataan. "Darah yang keluar tadi siang itu pasti darah haid aku, iya benar ... itu pasti darah haid aku," yakin Intan membohongi dirinya sendiri.
"Rikza, kamu juga pasti berpikir begitu 'kan? Aku enggak mungkin hamil 'kan? La-lagi pula kita 'kan cuma pernah ngelakuin itu satu kali. Jadi enggak mungkin juga 'kan kalau aku bisa langsung hamil?" tanya Intan penuh kesedihan.
Sedangkan yang ditanya hanya bisa terdiam membisu, memalingkan wajahnya kearah lain. Tak sanggup melihat wajah keputusasaan di hadapannya.
"Rikza, kenapa kamu malah diam saja? Tolong jawab aku, Za! Aku enggak mungkin hamil 'kan? Ini semua pasti mimpi 'kan? tanya Intan menuntut jawaban.
Rasa bersalah menggerogoti perasaan Rikza, hatinya teriris kala melihat sosok yang kini terlihat tengah putus asa itu. Rikza pun langsung saja membawa Intan ke dalam pelukannya, mendekapnya seerat mungkin. Berharap hal itu bisa memberikan ketenangan dan ketenangan pada wanita yang kehormatannya sudah direnggut paksa olehnya tersebut.
"Maaf, aku minta maaf. Semua ini salahku, maaf." Rikza mengucapkan maaf berulang kali.
Rikza mencoba untuk bersikap setenang mungkin, menahan diri agar tidak terhanyut oleh emosi dalam diri. Bagaimanapun juga dihadapannya ada seseorang yang harus ia perlakukan dengan penuh ketenangan dan kesabaran.
"Aku nggak hamil ‘kan, Za, lihat perut aku bahkan terlihat rata bukan?" Intan tampak mengusap perut datarnya, berusaha menunjukkan kalau dia tidak hamil. "Hiks, aku nggak hamil hiks. Ngga mungkin hamil, aku selalu menjauhkan diri dari pergaulan bebas, aku juga enggak pernah pacaran demi menghindari hal yang nggak diinginkan. Jadi bagaimana mungkin aku bisa hamil? Semuanya pasti salah, alat dan dokter itu pasti salah hiks." Intan mulai menangis pilu.
"Intan, aku tahu kamu masih belum bisa menerima semuanya. Aku pun begitu sebenarnya, tetapi semua ini memang sudah terjadi. 2 garis merah dari beberapa alat pengecek kehamilan yang hari itu menjadi bukti kalau kamu positif tengah mengandung. Apalagi tadi siang kamu hampir saja keguguran, hal itu menandakan adanya sebuah nyawa yang kini tengah menetap di rahim kamu." Rikza menjelaskan dengan tegas tetapi tenang. Sungguh lelaki itu memang pandai mengatur emosinya.
"Ja-jadi aku benar-benar sedang mengandung sekarang? Hiks ... Lalu apa yang harus aku katakan pada keluargaku? Bagaimana nasib pendidikanku? Bagaimana dengan cita-cita dan masa depanku, Za?" tanya Intan bingung.
"Aku enggak mau dikeluarkan dari sekolah, Za. Aku takut keluargaku marah dan kecewa, hiks ... Aku enggak siap buat jadi aib untuk keluargaku, hiks ... Aku takut jadi gunjingan banyak orang. Aku takut ... aku benar-benar takut," ucap Intan dengan air mata yang berderai bebas.
Hatinya gelisah, pikirannya kalut. Rasa bingung dan cemas berbaur menjadi satu. Kekhawatiran ini seolah tiada ujungnya, rasanya sungguh sesak dan membuat frustasi.
"Za, tolong bunuh saja aku sekarang. Aku benar-benar tidak sanggup untuk menahannya," suara Intan terdengar bergetar putus asa.
Rikza terus saja mendengar apa yang Intan curahkan, tidak peduli meski hatinya terasa sesak dan sakit secara bersamaan. Dengan susah payah Rikza terus mempertahankan emosi dan perasaannya, berusaha agar tidak ikut tenggelam dalam rasa bersalah yang kini sudah menyelubungi rongga dadanya.
"Intan ... sekali lagi tolong maafkan aku. Semua ini kesalahanku, maaf ... Sekali lagi aku minta maaf...," ucap Rikza pelan penuh kesungguhan.
Anak merupakan anugerah bagi setiap pasang suami istri di berbagai belahan dunia. Tetapi hadirnya justru menjadi musibah bagi Intan dan Rikza yang jangankan menikah, bahkan sekolah pun belum lulus.
Kedatangannya di waktu dan tempat yang kurang tepat bisa saja menghancurkan mimpi dan masa depan kedua remaja yang akan menjadi orang tuanya itu. Belum lagi cibiran dan cemoohan dari masyarakat yang akan mereka dapatkan nantinya.
Kini Rikza mengerti, kenapa banyak dari mereka yang lari dari tanggung jawab dan juga alasan kenapa sebagian lainnya memutuskan untuk melakukan aborsi. Ketidaksiapan baik dari segi psikis maupun ekonomi ditambah lagi stigma negatif dari masyarakat, menjadikan mereka frustrasi sehingga menghalalkan segala cara demi menghindari konsekuensi yang akan mereka dapatkan nantinya.