I'm Pregnant

I'm Pregnant
Menjadi suaminya (nanti)



Carissa tertawa terbahak-bahak seraya memberikan ponsel kepada Rizal. Pria itu hanya menatapnya heran, lalu menempelkan speaker ponsel di telinga kanannya. Terdengar Rayhan yang bersungut-sungut di seberang sana. Rizal tahu, pasti Carissa sedang menertawakan sahabatnya.


“Aish, bisakah kau menutup mulut nenek sihir itu? Ia terbahak saat aku mengatakan kalau Lisa menolak dan mengabaikanku saat mobilku hilang!”


Mata Rizal membulat sempurna. “Mobilmu hilang? Kau kenapa ceroboh sekali!"


"Hei! Seharusnya kau prihatin, bukannya mengejekku, bodoh! Kalian berdua sama saja!" omel Rayhan.


Rizal berdecak sebal. lalu melirik Carissa yang masih tertawa di sampingnya. "Lalu, bagaimana dengan keadaan Lisa? Apa dia baik-baik saja?"


Rizal tidak bisa melihat Rayhan, tetapi ia yakin kalau sahabatnya itu sedang tersenyum saat ini.


“Lisa sehat-sehat saja, Zal. Kandungannya juga seperti itu. Kau tahu tidak, dia membantah kalau aku adalah ayah dari anaknya.'


Rizal terkekeh. "Kau bodoh jika mempercayainya. Tentu saja itu adalah anakmu! Pokoknya kau harus tetap berusaha mendapatkan hatinya, Rayhan. Dia membutuhkanmu, tetapi aku tidak tahu apakah dia mempunyai perasaan padamu atau tidak. Kau harus mencari tahunya sendiri. Itu jika kau benar-benar serius padanya."


“Tentu saja, sobat. Aku akan melakukan apa saja untuknya.”


Carissa sudah berhenti tertawa dan kini tersenyum memandangi kekasihnya.


"Lalu, kau tidur di mana? Rayhan, berhati-hatilah. Sekarang musim hujan."


“Tenang saja, Zal. Aku sudah menjual jam tanganku dan menggunakannya sebagai sewa rumah. Sebenarnya bukan rumah, tetapi seperti pondok satpam yang memiliki satu tempat tidur saja. Letaknya tepat di samping rumah Lisa. Aku rasa aku masih mempunyai uang untuk makan.”


Rizal menghela napas. Pria itu tidak menyangka Rayhan akan mengalami masa-masa sulit ini. Mereka mengakhiri pembicaraan dan Rizal termenung di tempatnya. Ia berharap semoga saja hati Lisa bisa luluh.


"Tenanglah, Sayang. Rayhan pasti bisa melaluinya. Penderitaannya ini tidak seberapa dibandingkan dengan yang diberinya kepada wanita-wanita yang disakitinya dulu."


Carissa memeluk Rizal dari samping. Rizal mengangguk paham, kemudian mengecup lembut lengan Carissa yang berada tepat di bawah dagunya.


"Iya, aku tahu. Aku hanya tidak menyangka Rayhan bisa berubah sedrastis ini," ungkap Rizal.


Carissa *******-***** rambut tebal kekasihnya. "Bersyukurlah dia bisa berubah menjadi baik," bisik wanita itu, kemudian mengecup pipi Rizal. Pria berkulit putih itu menoleh ke arahnya dan hidung mereka pun bersentuhan. Rizal berdecak kagum. Ia tidak pernah berhenti mengagumi kecantikan Carissa. Satu-satunya wanita yang selalu di sampingnya.


"Baby."


"Hm?"


"I Love You."


Carissa terkekeh, lalu menggesekkan hidung mereka. "Aku tahu. Kau pasti sedang menginginkan sesuatu."


Rizal tertawa kecil, lalu memutar tubuhnya. Kemudian, dengan sangat mudah ia mengangkat tubuh Carissa ke pangkuannya. Kini, Carissa duduk di pangkuan Rizal, menghadap pria itu lalu melingkarkan kaki di pinggangnya.


Kedua tangan Carissa melingkari leher Rizal, sementara pria itu memeluk pinggang sang kekasih dengan erat dan posesif. Ia merindukan momen-momen mereka setelah beberapa hari ini hanya memikirkan Rayhan.


"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Setiap detik aku merasakannya, tetapi tidak mungkin jika aku mengatakannya setiap detik pula,” ungkap Rizal. Carissa mencibir.


"Dasar perayu!"


Rizal segera menutup mulut Carissa dengan ciumannya. Ia menginginkan wanitanya, sekarang juga.


***


Rayhan bangun lebih pagi dari Lisa dan ia bersorak karena itu. Dua hari terakhir, pria itu telah memperhatikan kegiatan Lisa dan berniat membantunya. Rayhan bersyukur karena teman Lisa yang bernama Linda mengizinkannya tinggal di pondok batu yang sudah lama tidak dihuni itu. Menurut Rayhan, tidak masalah jika tempatnya sangat sempit. Oa hanya butuh tempat itu untuk tidur di malam hari.


Dengan penuh semangat pria itu mengintip rumah Lisa. Pintu dan jendelanya masih tertutup, itu artinya Lisa masih belum terbangun dari tidurnya.


Rayhan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Ia tahu apa yang dikerjakan Lisa di pagi hari jika tidak ke pasar, yaitu merapikan tanamannya. Memindahkan tanaman ke pot yang lebih besar agar layak jual. Setelah itu, merangkai bunga lalu menyapu halaman. Kemarin, Rayhan juga melihat Lisa merendam pakaiannya untuk dicuci hari ini. Pria itu dengan sangat senang hati melakukan pekerjaan yang tidak pernah disentuhnya seumur hidup itu.


Namun, untuk mengambil simpati Lisa, ia akan melakukan apa pun.


Sambil bersiul santai, Rayhan mempersiapkan pot baru untuk wadah tanaman yang akan dipindahkannya. Pria itu termenung sebentar sebelum menggali tanaman itu sembarangan. Ia tidak berpengalaman tentang hortikultura atau semacamnya dan hanya tahu cabut tanaman itu, masukkan ke dalam pot baru, dan terakhir timbun dengan tanah serta sedikit pupuk.


Hasilnya, Rayhan berhasil mencabut tanaman berbunga merah itu tanpa akar.


Untuk sejenak, Rayhan tertegun sambil memandangi tanaman tanpa akar itu. Oh, ini buruk. Ia mempunyai firasat tidak baik. Lisa pasti akan memarahinya.


Rayhan menelan ludah dengan susah payah. Seharusnya tadi ia lebih berhati-hati.


"Aish, apa boleh buat. Aku pindahkan saja," gumamnya kemudian mencoba menanam tanaman itu tanpa akar. Rayhan memadatkan tanah agar tanaman itu bisa berdiri tegak. Ia membuang akar tanaman itu ke tempat yang tidak bisa dilihat Lisa, lalu bertolak pinggang. Rayhan baru mengerjakan saru pot, tetapi telah membuat kekacauan. Pria itu menggeleng, bingung.


"Sepertinya aku tidak cocok bekerja mengurus tanaman. Sebaiknya aku menyapu halaman ini saja."


"Rayhan? Apa yang kau lakukan pagi-pagi buta begini?" tanya Linda seraya mendekat. Gadis bertubuh tinggi itu menyeka keringat di kening dengan handuk yang tergantung di leher jenjangnya. Sepertinya ia sedang menikmati waktu joging-nya dan menemukan ada seorang pria di depan rumah Lisa yang hendak menyapu halaman.


"A-aku... ingin menyapu halaman ini, Linda. Lihatlah, halaman ini dipenuhi daun-daun kering. Sangat tidak bagus dipandang," ujar Rayhan.


Linda melirik jam tangannya, lalu terkekeh, "Iya, aku tahu. Tapi ini masih pukul setengah enam, Rayhan. Astaga, kau ada-ada saja. Kalau begitu aku ingin membangunkan Kak Lisa dulu dan mengajaknya jalan pagi. Lanjutkanlah pekerjaanmu."


Kemudian, Linda menaiki tangga ke teras rumah Lisa sambil terkekeh.


Rayhan mengusap-usap tengkuknya yang tidak gatal. Sebaiknya ia segera menyapu saja sebelum Lisa keluar dan melarangnya.


Linda hanya perlu mengetuk pintu selama dua kali dan pintu terbuka. Gadis itu tersenyum pada wanita yang lebih tua darinya itu. Ternyata Lisa sudah siap.


"Selamat pagi, Kak! Ayo, kita jalan sekarang. Tapi sebelum itu, coba lihat ke bawah!" ucap Linda diiringi dengan senyuman jahilnya. Lisa memang mendengar suara sapu di halamannya. Lantas ia segera melonggokkan kepala keluar.


Wanita itu mengerjap kaget. Rayhan menyapu halamannya dengan gerakan yang benar-benar kaku.


Jika Lisa tidak sedang merasa kesal pada pria itu, mungkin saat ini ia sedang tertawa terbahak-bahak.


"Apa yang dilakukannya di halamanku?" Lisa bergumam, lalu keluar rumah. Ia menuruni tangga dengan hati-hati, sedangkan Linda mengikutinya dari belakang.


"Kak, sepertinya dia sangat berdedikasi padamu," goda Linda.


"Diamlah, Linda!" desis Lisa.


Suara sapu yang beradu dengan tanah halaman terdengar nyaring di pagi hari itu. Rayhan tidak menyadari kalau Lisa telah berdiri di belakangnya. Ia menikmati pekerjaan barunya meskipun tangannya bergerak kaku.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lisa dingin.


"Eum... menyapu halamanmu," jawab Rayhan. Lisa memutar bola matanya.


"Tidak perlu kau katakan juga aku tahu! Maksudku, apa yang kau lakukan pagi-pagi di halaman rumah orang? Aku tidak perlu bantuanmu, Rayhan! Sekarang taruh kembali sapu itu dan pergi dari halamanku!" usir Lisa.


Linda menggigit bibir, kasihan pada Rayhan.


Linda tahu kalau Rayhan yang menghamili Lisa.  Namun, gadis itu tidak melihat sisi jahat pada pria itu seperti yang diceritakan Lisa. Tentu saja, Lisa menceritakan perangai Rayhan yang dulu. Namun sekarang, Linda rasa pria itu benar-benar menyesali perbuatannya.


Tidak ada pria kaya raya yang congkak bersedia mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini. Menurutnya, itu adalah sebuah bukti kecil dari rasa penyesalan Rayhan.


Rayhan menurut seperti anak berumur enam tahun. Pria itu meletakkan sapu yang dipegangnya kembali ke tempat semula. Lisa masih menatapnya sinis, sampai ia membalikkan badan dan menarik Linda untuk melaksanakan rencana awal, yaitu jalan pagi.


Rayhan mendesah panjang sambil memandangi kepergian Lisa dan Linda.


***


Niat Rayhan untuk membantu Lisa sepertinya tidak akan surut. Ia tidak bisa membiarkan Lisa kelelahan membersihkan rumah. Belum lagi wanita itu harus memasak dan menjual tanaman-tanaman hias.


Setelah sepuluh menit menyapu, kini halaman Lisa bersih dari dedaunan. Rayhan membuka kemejanya dan hanya memakai kaos putih tipis yang biasa ia gunakan untuk tidur, lalu masuk ke rumah Lisa. Untung saja wanita itu tidak mengunci pintu.


Rayhan langsung menuju tempat mencuci pakaian di rumah Lisa itu. Letaknya di belakang rumah, di dekat tiang rumah dan tidak beratap. Namun, sekelilingnya ditembok setinggi dua meter. Rayhan melihat satu ember besar pakaian kotor yang direndam Lisa dengan air sabun.


"Astaga! Apa perutnya tidak sakit mencuci sebanyak ini?" gumam Rayhan kesal.


Dia melihat bangku kecil dan mengambilnya, lalu duduk menghadap ember pakaian kotor dan mengaduk-aduknya. Airnya berbusa dan harum. Rayhan tersenyum, kemudian mulai mencuci.


Rayhan tidak pernah menyangka hidupnya akan seperti ini. Berada di ruang cuci dan mencuci satu ember pakaian kotor. Namun, jika pengorbanannya akan setimpal dengan luluhnya hati Lisa, apa salahnya? Rayhan terus mengucek pakaian-pakaian Lisa sambil tersenyum.


"Astaga, pasti dia kelelahan mencuci sebanyak ini. Belum lagi harus memasak, menyetrika, menjual tanaman. Aish!"


Rayhan kesal kepada diri sendiri mengingat kesulitan Lisa. Selama berbulan-bulan, wanita itu hidup sendiri dengan tegar. Semua ini salahnya, murni kesalahannya, dan kini Rayhan berada di sini untuk membayar semua itu.


"Harusnya dia menggunakan jasa laundry atau membeli mesin cuci. Yah, ternyata lelah juga!" Rayhan terus berbicara pada diri sendiri.


Pria itu menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk mencuci dan membilas dan kini tinggal menjemurnya.


Rayhan tertawa puas pada hasil kerjanya. Ternyata sangat menyenangkan bekerja dengan hati yang ikhlas. Walaupun fisiknya terasa lelah, tetapi hatinya terasa gembira. Rayhan mengangkat pakaian-pakaian bersih yang masih basah itu menuju tali jemuran.


"Wah, sepertinya aku akan menikmati hari-hariku menjadi suaminya nanti." Rayhan terkekeh dengan ucapannya sendiri.


BERSAMBUNG ....