I'm Pregnant

I'm Pregnant
Tangisan Intan



Selama perjalanan pulang Intan tampak lebih banyak diam. Tatapannya yang terlihat sendu menatap nanar ke arah luar jendela.


"Aku tidak tahu harus bersyukur atau kecewa, padahal kandungaku baik-baik saja, tetapi kenapa aku malah tidak bahagia?" lirih Intan pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Rikza dan Haris yang berada di bangku depan.


Sontak saja Rikza menghentikan mobilnya secara mendadak. Beruntung dibelakang tidak ada mobil yang lewat sehingga tidak menimbulkan kecelakaan.


"Astahfirullah, Rikza! Hati-hati kek kalau bawa mobil, gimana kalau kecelakaan coba?" ucap Haris kaget.


Sedang Intan tampak tidak bergeming sedikit pun di tempat. Perempuan itu malah menekuk lututnya ke atas, lantas mulai menangis terisak.


"Sebaiknya kamu parkirin dulu mobilnya ke tepi, Za. Biar nanti aku lagi yang nyetir," kata Haris menyarankan.


Rikza pun menurut saja, lalu setelah selesai memarkirkan mobilnya dipinggir jalan ia pun berpindah ke bangku belakang.


"Intan, kamu kenapa lagi?" tanya Rikza lembut.


"Hiks ... Aku takut, Za. Gimana kalau nanti orang tua sama Kakakku tahu? Gimana kalau nanti pihak sekolah juga tahu? Gimana kalau teman-teman tahu? Gimana kalau nanti semua orang tahu keadaanku?" tanya Intan bertubi-tubi.


"Ayah pasti akan malu dan marah besar, Bunda sama Kakak juga pasti kecewa. Terus aku mungkin akan dikeluarkan dari sekolah. Teman-teman akan menjauh dan mencemoohku. Belum lagi masyarakat umum pasti akan mencibir dan membicarakanku," sambung Intan melanjutkan.


Tangis Intan pecah semakin deras, isakkannya memenuhi ruang mobil yang tertutup rapat.


"Awalnya aku berharap kalau alat pengecek kehamilan itu salah menguji, itu sebabnya aku memberanikan diri untuk ikut pertandingan bulu tangkis. Aku pikir semuanya akan berjalan sesuai dengan yang aku khayalkan, tetapi kenyataannya aku benar-benar sedang mengandung sekarang," lelehan air matanya semakin banyak membasahi wajah cantiknya.


"Rikza, aku gak mau putus sekolah hiks. Aku punya cita-cita, Za. Aku pengen jadi dokter, aku pengen jadi kebanggaan ayah sama bunda. Aku pengen nunjukkin ke Kakak kalau aku juga bisa jadi orang yang berjasa untuk banyak orang." Intan merengek seperti anak kecil. Namun, suaranya terdengar pilu dan menyayat kalbu.


"Apa salah aku, Za? Padahal aku selalu berusaha untuk menjadi anak baik, aku selalu menuruti apa yang orang tuaku katakan, aku tidak pernah melanggar norma dan agama, aku juga selalu menjauhkan diri dari pergaulan bebas apalagi *** bebas. Tapi kenapa aku tetap saja mengalami hal seperti ini?"


"Kenapa harus aku, Za? Dari sekian banyak orang kenapa harus aku?" Suara Intan mulai terdengar serak. Ia mempertanyakan takdirnya.


Rikza hanya bisa terdiam mendengarkan, hatinya terasa sakit saat menyaksikan isak tangis dari gadis yang sudah dia hancurkan masa depannya itu.


Grep


Sebuah rengkuhan hangat mendekap tubuh Intan dengan begitu erat. "Maaf, semua ini salahku. Kamu menjadi seperti ini karena kecerobohanku," ucap Rikza meminta maaf.


Rasa bersalah menggerogoti hati dan pikirannya, memakan habis perasaan Rikza hingga menyebabkan rasa sakit yang tidak bisa ia temukan obatnya.


Sebenarnya Rikza juga sama cemasnya dengan Intan. Bukan Intan saja yang punya mimpi dan cita-cita, dirinya juga memiliki rencana masadepan yang sudah ia rancang sejak jauh-jauh hari.


Namun, harapannya hancur seketika saat kenyataan bahwa Intan tengah tengah mengandung darah dagingnya muncul ke permukaan. Frustasi, tentu saja ia merasakannya. Tetapi keadaan memaksanya untuk tetap tenang dan berpikiran dingin. Mengingat keadaan Intan saat ini lebih menyedihkan.


Haris yang pintar membaca situasi memilih untuk melajukan kembali mobilnya menuju tempat aman. Membawa Intan dan Rikza menuju tempat sepi yang jarang dilalui orang-orang.


..._____◇◇◇◇◇_____...


"Bagaimana nih, Za? Hari sudah makin sore loh ini. Kalau kita sih enggak masalah karena anak cowok, tinggal bilang abis nongkrong bareng temen udah selesai," tanyanya kemudian. "Kalau Intan 'kan beda lagi, bagaimana kalau orang tuanya nanyain? Apalagi setahu aku kekuarganya itu agak ketat peraturannya," tambah Haris melanjutkan.


"Aku juga bingung, Ris. Kita enggak mungkin juga 'kan kalau nganterin Intan pulang dalam keadaannya yang seperti ini. Orang tuanya pasti akan lebih khawatìr dan berpikir untuk bawa Intan balik ke dokter karenya nyangka dia sakit," jawab Rikza bimbang.


"Iya juga sih, yang ada nanti kehamilan Intan malah terbongkar. Bisa-bisa si Intan ngamuk dan marah ke kita, parahnya lagi mungkin dia bisa berbuat nekad," balas Haris berikutnya.


Keduanya tampak menghela nafas panjang, bingung dengan apa yang harus mereka lakukan sekarang. "Mau di bawa ke rumah aku atau kamu pun enggak bisa. Yang ada malah tambah berabe urusanya," ucap Haris kembali berujar.


"Sepertinya kita hanya bisa membawa Intan ke hotel sekarang," kata Rikza seraya berpikir keras.


"Hah? Hotel?" ulang Haris bertanya.


"Iya, lagian enggak mungkin 'kan kalau kita terus di mobil kayak gini. Intan juga butuh tempat yang nyaman buat istirahat," jawab Rikza menjelaskan.


Haris mengangguk tanda mengerti, lantas ia pun kembali melajukan mobil dengan hati-hati menuju hotel terdekat.


..._____◇◇◇◇◇_____...


"Kamu yakin nyuruh aku pulang duluan sekarang?" ulang Haris memastikan.


"Iya, kamu juga pasti mau istirahat 'kan?" jawab Rikza yakin.


"Tapi gapapa nih kalau aku tinggal sendirian aja? Kalian 'kan cuma berdua di sini," tanya Haris tampak ragu. "Gimana nanti kalau kamu khilap lagi kek pas di Villa?" sambungnya sedikit bercanda.


Mata Rikza memicing tajam. "Aku enggak sebejat itu, Ris! Masa ia aku mau tidurin si Intan yang hampir saja keguguran," pungkasnya kesal tidak habis pikir.


"Seingatku pas kejadian waktu itu posisinya Intan lagi gak enak badan loh," goda Haris lagi berikutnya.


"Ya jangan samain hari ini sama pas di Villa waktu itu dong! Dulu itu aku mabuk, sedangkan sekarang aku sepenuhnya sadar. Jadi gak mungkin aku berani nyentuh wanita yang bukan istriku!" jawab Rikza ketus.


Haris tampak tertawa renyah, "Santai, Bro. Aku cuma becanda doang elah," ujarnya selanjutnya. "Habisnya dari tadi kamu kayaknya banyak ngelamun gitu. Inget, Za! Jaga kewarasan kamu, jangan sampai kamu ikut-ikutan hanyut dan terbawa emosi. Apalagi sampai frustasi. Kamu harus bisa tenang buat ngimbangin Intan yang diselimuti kalutan," tambahnya memberi wejangan.


Haris memang suka bersenda gurau dan bercanda, seringkali bersikap usil dan juga jahil. Tetapi ia juga pintar dalam mebaca situasi dan kondisi. Sesekali ia pun akan memberikan saran atau kata-kata bijak jika memang itu diperlukan.


Rikza tersenyum tipis, rasa haru menyeruak. "Thanks banget ya, Is," ucap Rikza tulus.


"Sama-sama," jawab Haris seraya tersenyum tipis. "Kalau gitu aku pamit duluan ya, Za. Jaga diri kamu baik-baik, kalau ada apa-apa juga jangan ragu buat telpon aku," sambungnya berpamitan. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."