
Perlahan Intan pun mulai terbangun dari tidurnya. Ia tampak menggosok matanya yang terasa sembab dan bengkak karena kelamaan menangis. Lantas tatapannya beredar menatap keseliling ruangan asing yang berukuran sedang dengan nuansa cerah tersebut.
"Aku di mana? Bukannya tadi aku masih di mobil bareng Haris sama Rikza?" gumam Intan bertanya pada dirinya sendiri.
"Sudah berapa lama kamu bangun, Intan?" tanya Rikza yang baru saja kembali dari luar dengan membawa sekantung makanan di tangannya.
Intan pun menoleh, "Ah ... aku baru saja bangun," jawab Intan pelan. "Ngomong-ngomong sekarang kita lagi ada di mana, Rikza?" tanyanya kemudian.
"Kita sedang berada di salah satu kamar hotel," jawab Rikza memberi tahu.
"Hah, Hotel? Kenapa kamu bawa aku ke Hotel?" tanya Intan kaget.
Lantas wanita itu tampak mengecek tubuhnya dengan panik. Pakaiannya tampak masih utuh dan sama seperti sebelumnya. Intan menghela nafas lega, sepertinya Rikza tidak melakukan apa-apa padanya.
Rikza terlihat menunjukkan raut wajah heran. "Kamu gak berpikir kalau aku ngapa-ngapain kamu 'kan, In?" tanya Rikza tepat sasaran.
Intan tampak gugup dan salah tingkah. "Meski sekarang sudah enggak perawan, tetapi tetap saja aku harus waspada sama lawan jenis 'kan?" jawab Intan tidak bermaksud menyindir.
Namun, rasa bersalah yang Rikza miliki membuat dirinya merasa tersentil dan tidak enak hati pada Intan. "Maaf, Intan," lirih Rikza pelan dengan penuh ketulusan.
"Maaf?" ulang Intan bingung.
"Ya ... karena sudah mencuri apa yang tidak seharusnya aku ambil," kata Rikza penuh penyesalan.
Bibir Intan terkatup rapat, ia mengerti apa yang Rikza maksud sekarang. Helaan nafas kembali terdengar panjang dan terasa berat.
"Sudahlah, Rikza. Jangan bahas hal itu untuk saat ini, aku lelah," jawab Intan bergumam.
Suasana mendadak hening, rasa canggung menyeruak. Hingga akhirnya Rikza pun membuka suara dan memecah kesunyian.
"O, iya. Intan, ini aku bawain kamu makanan. Kamu juga pasti laper 'kan karena belum makan dari tadi sore," ucap Rikza kemudian. "Aku juga sekalian bawain kamu baju baru buat ganti," tambahnya melanjutkan.
"Hm ... makasih," kata Intan seraya mengulum senyum tipis. "Ah ... ngomong-ngomong sekarang sudah jam berapa ya, Za?" tanyanya kemudian.
"Sekarang sudah pukul 7 malam," jawab Rikza meberi tahu.
"Apa? Pukul 7 malam?" teriak Intan kaget. "Astagfirullah, Bundaku pasti marah karena aku tidak memberi kabar akan pulang telat."
Intan terlihat panik, lantas kelabakan mencari ponsel di dalam tas yang kini tergeletak di sampingnya. Ada puluhan panggilan tak terjawab dan setumpuk pesan dari orang tuanya. Juga belasan chat dan telpon dari kedua sahabatnya, Dena dan Olivia.
Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, menampilkan sebuah panggilan dari sang Bunda. Meski tahu akan di marahi, Intan tetap bertekad untuk menjawabnya.
"Assalamualaikum, Bunda," gugup Intan mengucapkan salam.
"Waalaikumaalam," jawab sang Bunda dari seberang telepon. "Astagfirullah Intan, kamu di mana? Kenapa baru jawab telponnya sekarang? Tadi juga bunda sudah telepon Dena dan Olivia, tapi mereka bilang sudah tidak bertemu denganmu sejak tadi siang," cerocos Nia berikutnya. Suaranya terdengar cemas dan khawatir.
Intan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, gugup dan juga gelisah. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa.
"Ma-maaf, Bunda. Itu ... anu...," gugup Intan bingung.
"Anu apa? Kamu baik-baik saja 'kan? Kamu di mana sekarang?" tanya Nia tak sabar.
Melihat Intan kebingungan Rikza pun akhirnya memutuskan turun tangan dan membantu Intan. Di raihnya posel milik Intan, hal yang sontak saja membuat Intan tersentak kaget.
"Assalamualaikum, Tante. Mohon maaf sebelumnya, saya Rikza. Teman sekelasnya Intan sekaligus rekannya saat menjadi OSIS," ucap Rikza penuh kesopanan. "Jadi begini, Tante. Tadi siang saya meminta tolong pada Intan untuk membantu packing hadiah yang akan diberikan pada para pemenang lomba di acara sekolah beberapa hari ini. Itu sebabnya Intan masih belum pulang sampai sekarang," jelas Rikza menerangkan dengan penuh kesopanan. Ia terpaksa berbohong pada bundanya Intan.
"Waalaikumsalam, oh begitu rupanya. Tapi kenapa tadi Intan malah diam saja dan tidak menjelaskannya sendiri?" jawab Nia balik bertanya kembali.
"Maaf, boleh berikan HP-nya kepada Intan? Tante ingin berbicara sebentar dengan Intan," pinta Nia berikutnya.
"Baik, Tante."
Lantas Rikza pun menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada Intan.
"Halo, Bunda," ucap Intan pelan.
"Intan, apakah yang dikatakan temanmu itu benar?" tanya Nia melunak.
"Iya, Bunda. Intan tadi enggak berani langsung ngomong ke Bunda karena takut dimarahi gara-gara lupa ngasih kabar," bohong Intan dengan tubuh gemetar. Ia benar-benar merasa bersalah pada sang Bunda.
"Lalu, apa pulangnya masih lama?" tanya Nia kemudian.
"Em ... jika bunda mengizinkan hari ini Intan berpikir untuk menginap di rumah teman. Soalnya kerjaannya lumayan banyak dan harus segera selesai. Jum'at nanti 'kan pembagian hadiannya berbarengan dengan pembagian raport," jawab Intan kemudian. Dalam hati ia berdoa semoga bundanya itu mengizinkan.
"Kamu nginep di rumah cowok?" tanya Nia berikutnya.
"Tidak, kok. Masa Intan nginap di rumah cowok," sangkal Intan cepat. Kali ini ia tidak berbohong. Mana mungkin dirinya berani menginap di rumah laki-laki.
"Di rumah siapa kamu akan menginap?" tanya Nia penasaran.
"Em ... rumahnya Mala, Bunda," jawabnya berbohong.
"Baiklah kalau begitu, lalu untuk baju sekolah besok dan baju ganti untuk hari ini bagaimana?" Nia bertanya kembali.
"Intan pinjam punya Mala, lagipula besok kami boleh pakai baju bebas selama itu sopan dan tidak berlebihan," jawab Intan lagi berikutnya.
"Ya sudah kalau gitu, kamu jangan main kelayapan nggak jelas, ya! Jangan khianati kepercayaan bunda sama kamu, paham!" tegas nia memperingatkan.
"Iya, Bunda," jawab Intan pelan.
Lalu setelah mengucapkan salam penutup telepon itu pun di tutup. Ada perasaan bersalah yang menelusup di hati Intan. Ia merasa berdosa karena sudah membohongi orang tuanya, Bundanya itu pasti akan kecewa bila memgetahui apa yang sedang Intan sembunyikan saat ini bukan?
Hingga sebuah seruan pertanyaan membuyarkan lamunan Intan. "Intan, kamu mau nginap di rumahnya Mala?" tanya Rikza penasaran.
Intan pun menoleh, lantas menggeleng cepat. "Tidak, aku terpaksa berbohong pada Bunda. Aku pikir tidak mungkin untuk pulang dengan mata yang sembab dan bengkak, bisa-bisa kamu juga akan ikut diintrogasi, Za," jawab Intan menjelaskan. "Mungkin malam ini aku akan tidur di sini saja," tambahnya melanjutkan.
Rikza tampak mengangguk tanda mengerti. "Baiklah kalau begitu, aku juga akan menemani kamu tidur di sini," kata Rikza kemudian. Hal itu sontak saja membuat Intan melotot kaget.
"Maksudnya kamu akan tidur di kamar yang sama denganku?" tanya Intan tak percaya.
Rikza tahu apa yang Intan pikirkan. "Tidak perlu khawatir, lagipula aku akan tidur di sofa kok," jawabnya memberi tahukan.
"Apa tidak masalah? Bagaimana bila tubuh kamu sakit? Besok 'kan kamu masih harus ikutan PORAK," tanya Intan merasa tidak enak hati.
"Memangnya kamu mau tidur di kasur bareng aku?" jawab Rikza balik bertanya.
Sontak saja itu membuat mata Intan membola kaget. "Te-tentu saja tidak! Maksudku kamu boleh tidur di ranjang, biar aku saja yang di sofa," jelas Intan menjawab. Wanita itu terlihat salah tingkah.
Rikza tampak mengulum senyum tipis, merasa lucu dengan Intan yang salah tingkah. Ternyata seperti ini yang Rayyan rasakan setiap bersenda gurau atau berbincang santai dengan wanita ini.
"Sudah, kamu tidur di kasur saja, Intan. Lagian mana bisa aku membiarkan wanita yang sedamg hamil tidur di sofa? Jadi jangan keras kepala lagi, ok!" tegasnya mutlak.
"Tapi sebelum tidur sebaiknya kamu makan saja dulu, sekalian ganti baju agar tidurnya bisa lebih nyaman," kata Rikza berikutnya. Suaranya terdengar lembut dan penuh perhatian.