
Acara kembali berlanjut pada pukul satu siang, beberapa pertandingan semifinal dan final untuk pertandingan Sepak Bola, Basket, Volly, Tenis Meja, Tenis Lapang, lari jarak dekat, dan Bulu Tangkis.
"Za, jangan sampai kamu enggak fokus ya! Habis pertandingan ini kita bisa liat pertandingannya Intan," ucap Haris mengingatkan.
"Hm ... aku usahain," jawab Rikza tak yakin.
"Masalahnya pertandingan ini lawannya kelas XI IPA 1. Kita enggak boleh kalah dari adik kelas kita, lah. Intan aja berjuang buat menang, masa kamu enggak bisa?" ucap Haris berujar.
"Kamu enggak usah khawatir, Ris. Aku pasti pasti akan melakukan yang terbaik," jawab Rikza meyakinkan. Hal itu tentu saja membuat Haris tersenyum lega.
Pertandingan pun berlangsung, sesuai dengan janji. Rikza melakukan yang terbaik. Kerja sama tim yang baik membuat XII IPA 1 berhasil menjadi pemenang.
"Bro, aku sama si Rikza duluan ya," ucap Haris berpamitan.
"Mau ke mana kalian?" tanya aldrian penasaran.
"Nonton permainan Bulu Tangkis," kini giliran Rikza yang menjawab.
"Oh ... iya, kalau kami mau ke lapang Volly. Nonton pertandingan si Andre sama yang lain," ujar Aldrian berikutnya.
..._____◇◇◇◇◇_____...
Intan tampak sedang melakukan pertandingan final melawan kelas XI IPS 3. Namun, keadaannya saat ini tampak sudah mulai kelelahan. Wajahnya tampak memucat dan seperti sedang menahan sakit.
"Tahan, Intan! Sebentar lagi pertandingannya selesai!" gumam Intan membatin.
Sedangkam Rikza yang kini tengah menonton di pinggir lapang bersama Haris tampak menunjukkan raut wajah cemas dan khawatir. Lelaki itu menyadari bahwa Intan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Membuat dirinya ingin sekali berteriak dan menghentikan pertandingan ini. Namun, akal sehatnya masih mampu bekerja. Ia tidak boleh gegabah mengingat dirinya juga salah satu bagian dari panitia OSIS.
Ditengah kekhawatirannya, salah seorang adik kelasnya yang bernama Hendra datang dan memohon bantuan. "Kak Rikza, kami buntuh bantuan. Ada keributan di lapang basket. Kak Rayyan bertengkar dengan Kak Revan," pungkas anak itubmemberi tahu.
"Astagfirullah!" gumam Rikza geram. "Duh! Bisa-bisanya dia berantem di saat seperti ini."
"Enggak ada yang bisa lerai mereka memang?" ucap Rikza kemudian bertanya.
"Tidak ada yang berani mendekati mereka, Kakak tahu sendiri 'kan kalau Kak Revan dan Kak Rayyan seperti apa bila sudah ribut?" jawab Hendra memberi tahu.
Rikza mengehela nafas berat. "Ok, aku ke sana sekarang."
"Baik Kak, terima kasih," ucap Hendra berterima kasih seraya kembali bergegas ke tempat keributan.
"Ris, aku titip Intan, ya! Awasin dia, wajahnya udah kelihatan pucat banget," pinta Rikza penuh kekhawatiran.
"Sip! Serahin yang di sini sama aku. Kamu cepet tanganin dua bocil yang lagi berantem di ruang basket aja, sana! Jangan sampe guru yang bertindak, bisa berabe entar," jawab Haris dengan senyum menenangkan.
..._____◇◇◇◇◇_____...
..."...
Rayyan tampak terkekeh pelan. "Gak salah? Kalau gua anjing terus lo apa? Babi?" ejek Rayyan balas memukul orang itu.
"Sialan! Bangsat," marah Revan membabi buta.
Sedangkan Rayyan pun tampak tidak diam saja. Ia membalas setiap pukulan yang dilayangkan Revan padanya. Keduanya bertengkar hebat, saling menghajar dan menonjok satu sama lain. Tidak memetulikan pekikan panik dari anak-anak lain.
Sampai akhirnya Rikza tiba di sana. "Hey, kalian berdua. Berhenti!" teriaknya tegas memerintah.
Namun, Rayyan dan Revan tampak mengacuhkannya. Membuat Rikza tidak punya cara lain selain mendekat langsung ke arah keduanya. Mengabaikan resiko bahwa mungkin dirinya akan ikut terkena pukulan yang dilayangkan.
Rikza tampak menghela nafas pelan, lantas menahan kedua pukulan yang dilayangkan Rayyan dan Revan dengan kedua tangannya. Hal itu sontàk membuat mereka menghentikan perkelahian panas tersebut.
"Rikza!" ujar kedua orang itu bersamaan.
"Gila! Lo cari mati ya?" ujar Revan sarkas.
"Kalau aja kami gak berhenti bisa-bisa kamu babak belur, Za!" ucap Rayyan berikutnya.
Rikza tampak tersenyum miring. "Memangnya siapa yang udah bikin aku ngambil resiko kayak tadi?" jawab Rikza menyindir.
"Cih!" Revan berdecih kesal. "Harusnya lo enggak perlu ikut campur masalah antara gua sama Rayyan," ujarnya terdengar sinis.
"Sebenarnya sih aku males ngurusin kalian, tapi karena aku adalah mantan ketua OSIS sekaligus panitia acara ini. Aku gak bisa biarin kedua temanku bertengkar di lingkungan sekolah," jawab Rikza terdengar kesal. "Sebaiknya sekarang kalian pergi ke kelas masing-masing! Kalau enggak aku akan laporin masalah ini ke guru BK dan kalian mungkin akan di diskualifikasi dari pertandingan porak kali ini," tambahnya mengancam.
"Ck! Urusan kita belum selesai, Ray! Gua ngalah karena ngehargain Rikza sebagai teman gua pas SMP!" ucap Revan seraya pergi meninggalkan lapangan bersama anggota gengnya.
Sedangkan Rayyan memilih untuk diam tak menjawab, lantas ikut pergi meninggalkan lapang basket. Meninggalkan Rikza yang masih berdiri di tempat.
Rikza sendiri tampak menghembuskan nafas lega. Namun, sesaat kemudian seulas senyum miris terukir di wajahnya. Anggannya teringat pada masa 3 tahun lalu. Saat Rayyan, Revan dan juga dirinya masih menjadi menjadi sahabat lengkap.
Sejak awal Revan memang orang yang berjiwa bebas dan seringkali bersikap liar. Sifat humble dan humoris yang dimiliki olehnya membuat lelaki itu banyak disukai oleh banyak orang, khususnya perempuan. Sedangkan Rayyan merupakan lelaki yang selalu tersenyum hangat dan ramah ke setiap orang. Meski begitu ia memiliki sifat yang tertutup dan cenderung misterius, hal itu menyebabkan dirinya seringkali membuat para wanita kagum dan penasaran secara bersamaan.
Lalu Rikza sendiri sejak dulu sampai sekarang terkenal sebagai lelaki yang memiliki sifat kalem dan pendiam. Tidak suka ribut apalagi ikut campur ke dalam masalah orang lain. Selalu bersikap acuh tak acuh dan berbicara seadanya, khususnya pada perempuan. Itulah sebabnya tindakannya pada Intan akhir-akhir ini membuat banyak orang berspekulasi dan mengira bahwa keduanya tengah berpacaran. Mengingat Rikza tidak pernah bersikap manis apalagi perhatian pada gadis mana pun sebelumnya.
Rikza, Rayyan dan Revan. 3R, begitulah orang-orang memanggil mereka. Bagaikan tiga serangkai yang selalu bersama-sama di SMP, memiliki hobi dan pemikiran yang sama membuat mereka bisa bersahabat dekat meski memiliki sifat dan kelakukan yang berbeda.
Hingga suatu ketika sekolah kedatangan seorang siswi baru bernama Kiara, gadis cantik yang langsung menjadi primadona sekolah. Sosok yang mampu memikat hampir seluluh siswa lelaki di SMP-nya saat itu. Termasuk juga Revan dan Rayyan.
Entah bagaimana ceritanya, gadis bernama Kiara itu akhirnya bisa masuk ke dalam lingkaran pertemanan mereka. Sampai akhirnya sebuah tragedi menimpa Kiara di malam kelulusan SMP. Sesuatu yang kemudian menjadi penyebab retaknya persahabatan mereka, membuat Rayyan dan Revan menjadi musuh bebuyutan hingga sekarang.
Sebuah dering ponsel membuyarkan lamunan. Rikza pun buru-buru saja meronggoh saku celanya.
Haris Al-Ghifahri
Nama yang tertera di layar kaca ponsel miliknya. "Za, cepat ke parkiran sekarang! Perut Intan sakit."