
{ You Only For Me }
–Brian–
Brian's POV
"Apa katamu?!"
"Nona reva mabuk dan di bopong oleh sek-"
Prang!
Aku menggeser kasar vas bunga hingga pecah, tapi amarahku belum juga surut.
"Keluar" ucapku dingin, mendengar kabar bahwa gadisku di sentuh oleh pria lain selain aku.
Mabuk? Astaga apa yang di pikirkan oleh anak itu! Usianya bahkan baru 18tahun tapi sudah berani minum alkohol?
Dan di antar oleh sekretarisnya? Lelucon macam apa ini. "Sial!" Aku menendang kursi kerjaku keras.
Aku mengambil ponsel di dalam saku jas, "Jack siapkan keberangkatan ku ke swedia, sekarang!" Aku menutup sepihak sambungan.
"Kosongkan jadwalku selama 4hari kedepan" Ucapku saat melewati meja sekretaris.
"Tap-" aku menatapnya tajam dan berlalu meninggalkannya begitu saja, masa bodo dengan pekerjaan yang terpenting sekarang adalah gadis itu.
Aku akan menghukumnya.
"Tunggu aku gadis nakal"
**€**
Reva's POV
Kepalaku pening, aku membuka mata perlahan membiasakan cahaya yang masuk ke retina mata.
Bisa di katakan kondisiku tidak kelihatan bagus, bau dan rasa alkohol hinggap di indra perasaku. Apa aku mabuk?
Aku mencoba bangkit hanya sekedar membasuh wajah, aku meringis melihat pantulan diriku sendiri di cermin.
"Apa itu aku" Kataku dengan suara serak terdengar seperti pernyataan.
Dengan wajah khas bangun tidur, rambut acak-acakan terlebih aku masih menggunakan baju kemarin. Aku membuang nafas kasar.
"Lebih baik aku membersihkan diri"
*^*
"Emm segarnya!"
Beruntungnya ini hari sabtu, aku tidak bekerja dan juga tidak memiliki jadwal lain. Hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Good morning everyone!!" Sapaku pada lea dan juga mr.han yang tengah berbincang di dapur.
Mereka terlihat aneh atau aku yang terlihat aneh?
"Ada apa?" Tanyaku polos.
Bisa ku lihat mr.han yang sedang memberi kode untuk melirik gadis di sampingnya dan..
Tatapan apa itu? Apa dia berniat untuk membunuhku? Aku menelan saliva kasar. "Lea?"
Ia menatapku tajam seolah-olah ia berkata–Tidak ada hari esok untukmu–
Aku memaksakan senyum saat ia mulai beranjak mendekatiku, okay aku mulai takut saat ini. "Hei miss kristofer" panggil ku formal.
Dan,
"Awww! Apa yan-" erangku kesakitan.
Aku salah apa hingga ia memukulku berkali-kali?
"Siapa pria itu!" Tanyanya melengking bahkan mr.han yang sedang menikmati kopi terganggu karnanya.
Tapi maksudnya pria? Apa?
"Kau tidak ingat?" Tanya lea menyadarkanku dari lamunan singkat.
Aku mengedik bahu acuh dan ikut bergabung dengan mr.han, aku memakan roti selai stroberi yang di berikannya.
Aku menatap mr.han bertanya tapi dia hanya menggeleng pertanda tidak mengerti. Lea nampak frustasi dan menghentak meja makan sedikitt keras.
Brak!
"Siapa yang berani menciummu?" Aku tersedak mr.han sigap memberikan minum untukku. Aku meneguknya rakus dan menatap lea pura-pura bingung.
"Jujur saja"
Aishh! Kenapa begitu sulit menyembunyikan sesuatu darinya.
*^*
Author POV
Gadis bersurai gelap itu memijat pangkal hidungnya lelah, lalu menatap reva yang sedang tertawa di depan televisi.
"Astaga! Dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya kau makan mie instan dengan santai sambil nonton tv"
"Tapi kau sendiri yang bilang, jika dia itu berbahaya" Manik coklat itu menyorot kesal dan juga cemas. "Apa kau sudah lupa dengan perkataanmu sendiri huh?"
Reva bergeming lalu kembali melanjutkan aktifitasnya mencoba mengabaikan apa yang telah sabahatnya ingatkan padanya. Setidaknya untuk sekarang ia hanya bisa diam tanpa memperkeruh suasana hati lea.
"Astaga!! Mr.han lakukan sesuatu, tolong" Pria paruh baya itu tersenyum seraya memakan apelnya.
"Nona lea tidak perlu terlalu cemas, nona reva bukan anak-anak lagi" Ucap mr.han dan berlalu meninggalkan 2 gadis yang sedang berbeda pendapat itu.
"Mr. Han dong-joo!!!" Pria berkebangsaan korea itu hanya melambaikan kedua tangan tanda menyerah.
"Aishh!!" Ringis lea menghentakan kaki, lalu matanya bertatapan langsung dengan iris abu milik reva.
"Apa?" Lea mendengus melihat tingkah polos reva lalu meninggalkan gadis itu bersama reality show korea yang sedang di tontonnya.
Reva begendik acuh.
**€**
Seorang laki-laki berteriak lantang menyebut nama tuan rumah. "Tuan Noela! Keluar!"
"Tolong jangan berteriak tuan saya mohon"
"Keluar lah!! Aku hanya ingin bicara" pintanya terlihat menyedihkan.
"Aku disini" Ucap arta yang baru saja menuruni tangga, memberi lirikan untuk melepaskan pegangan pada laki-laki yang tadinya memberontak.
Laki-laki itu menghampiri arta dengan terpogah-pogah, "Beritahu aku, tolong"
Pria berumur 60tahun itu diam menatap laki-laki menyedihkan di depannya.
"Aku ingin bertemu dengannya"
"Aku merindukannya.. tolong.. izinkan aku bertemu dengannya" Laki-laki itu memelas.
Arta mendudukan diri di salah satu sofa membiarkan laki-laki berdarah korea-indo itu mengekor padanya.
"Lihatlah dirimu" ia menatap laki-laki jakung itu sinis. "Menyedihkan"
"Ya aku memang menyedihkan! Lalu kenapa? Kau tidak suka? Ini semua karenamu!" Ucap laki-laki itu penuh emosi dan penekanan.
"Tidakkah kau ingat sesuatu, aresh?" Tanya arta tenang.
Laki-laki itu– Aresh– bungkam dan menundukan kepalanya. "Kau belum lupa ternyata, baguslah" ucap arta seraya terkekeh pelan.
Ia bangkit dan meninggalkan aresh dalam keadaan tidak baik. Sepeninggalan arta, aresh mengusap wajahnya kasar penuh penyesalan.
**€**
Tidak terasa matahari telah berganti bulan, gadis bersurai pirang itu menelusuri jalanan malam yang di terangi oleh lampu jalan.
"Untuk beli kamu aku rela jalan kaki" ucap reva sambil mengangkat kantongan plastik berisi mie instan dan buah.
Ia berhenti di sebuah taman dekat gedung penthousenya dan menatap jalanan lirih, lalu ia merasa sebuah tangan besar merengkung pinggangnya.
Pikirannya seketika menjadi kosong, ia masih belum mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Sekarang ia merasakan sebuah kepala bertumpu di bahu kanannya dan mengeratkan pelukannya dari belakang.
Hangat...
Gadis itu menoleh dan iris abunya bertemu langsung dengan iris amber yang menyorotnya rindu bercampur dengan amarah?
"Apa yang kau lakukan!" Pekik reva dan melepaskan pelukan pria itu.
"Lalu kau sendiri? Sedang apa?" Bukannya menjawab brian malah kembali melontarkan pertanyaan.
Gadis itu berdecih dan mengangkat belanjaannya di hadapan brian, "Aku habis belanja, puas?"
Setelah mengatakan itu reva berbalik berniat meninggalkan brian, namun lengannya di cengkal. Reva melirik sekilas cengkalan di tangannya lalu menatap sang pelaku bertanya.
"Apa kau tidak merasa bersalah, dear?"
Reva berkedip benerapa kali, ia terlihat manis di mata brian saat ini. "Tidak" Sahut reva santai lalu menurunkan cengkalan dari pria bertubuh tegap itu.
Dan berjalan meninggalkannya.
Iris abu itu menutar bola matanya malas, tanpa ia berbalik pun ia tau jika pria itu sedang mengekor padanya.
"Pergi lah, jangan ganggu aku"
Brian terus mengikutinya, tanpa merubis ucapan dari gadis berkuncir di depannya. Ia ikut berhenti saat langkah gadis itu terhenti,
"Apa mau mu huh?" Tanya reva tak minat, ia tidak ingin hari liburnya terganggu hanya karena orang dihadapannya saat ini.
"Aku menginginkanmu"
*^*
Di lain sisi lea merasa cemas, "Mr.han tidak bisakah kau mencarinya? Ini sudah terlalu larut tapi rere masih belum datang"
Rengeknya menghampiri mr.han yang sedang membaca buku di pantry.
"Nona reva akan baik-baik saja, percayalah pada saya nona. Kau tidak perlu cemas" Ucap pria usia 30tahun itu mencoba menenangkannya.
Tapi hal itu tidak berefek apa-apa pada gadis bersurai gelap satu ini.
**€**