
{ Tolong bantu aku untuk bangkit, dan aku akan menghadiahkan hatiku untukumu }
–Reva–
Reva's POV
Hari mulai gelap, anak-anak yang tadinya ku lihat sedang berlarian sudah tidak ada lagi, selama ini kah aku termenung?
Aku menjalankan mobilku dengan kecepatan sedang, aku masih ingin menikmati hari. Terlalu malas untuk pulang, terima kasih kepada lea yang membatalkan semua jadwalku hari ini sehingga hati yang tadinya resah mulai membaik.
Perjalanan menuju penthouse terasa lebih cepat dari biasanya, setelah membuka pintu bukannya sambutan kecerewetan dari lea tapi malah suasana gelap yang hanya di terangi oleh langit malam perkotaan sweden dari jendela.
Ku nyalakan sakelar lampu dan,
"Happy birthday reva,
Happy birthday reva,
Happy birthday...
Happy birthday....
Happy birthday reva!!!"
Tubuhku membeku, Apa ini hari ulang tahunku? Aku masih belum bisa mencerna apa yang saat ini terjadi, bahkan aku tidak sadar jika brian sudah berada di depanku.
"Happy Birthday Sweety" katanya sambil mengecup lama keningku.
Aku menatapnya dalam, tidak ada satu katapun yang mampu ku ucapkan saat ini. Kemampuanku dalam merangkai kata hilang dengan sendirinya, kini aku sudah berdiri di hadapan lea yang sedang membawa kue ulang tahun beserta lilin angka 19.
Ia menyuruhku meniup lilin dan ku lakukan, mereka semua tersenyum bahagia, tapi kenapa aku tidak?
Sebulir air mata lolos dari pelupuk mataku, semua orang terkejut termasuk brian. Aku tidak memperlihatkan ekspresi apapun, tapi mataku tidak dapat berbohong seolah menyuarakan isi hatiku lewat air mata yang terus berjatuhan.
Aku tidak terisak, bersuara pun tidak. Ini sangat menyakitkan di bandingkan tangis penuh gema, ku melihat sekitar, wajah mereka terlihat sedih dan cemas, ah bahkan aku melihat mike yang menatapku berkaca-kaca atau mataku mulai buram karena air mata?
"Rere"
Lea memelukku erat, sangat. Ia menghantarkan energinya, memaksaku untuk berteriak mengeluarkan luka yang ku pendam selama ini, dan ia berhasil.
"Aaaaakhhhh!!!!" Teriakku menggema, menyuarakan rasa sesak di rongga hati.
"Le...a...." panggilku yang masih memeluknya erat.
"Maaf re, aku gak tau kalo kamu terluka sedalam ini, maafin aku" ucap lea dengan segala penyesalan.
Semua kecuali mr.han mungkin tidak mengerti apa yang lea katakan, tapi mereka dapat merasakan nada penyesalan dari perkataan lea. Ku lepas pelukan ku dari lea dan beralih memeluk brian yang sedari tadi berada di sampingku.
"Akan ku buka hatiku sepenuhnya untukmu, buatlah aku mencintaimu..."
"...buatlah aku kembali hidup dengan cinta" Brian tersenyum lalu menghapus jejak air mata yang masih mengalir dengan derasnya.
"Akan ku buat kau mencintaiku dengan sepenuh hatimu" dan memeluk tubuhku erat, aku kembali menangis di pelukan hangatnya.
**€**
Merasa terusik dengan tangan yang entah sejak kapan melingkar di pinggangku, membuat aku terpaksa membuka mata dan mengedarkan pandangan ke samping tempat tidurku yang ternyata di isi oleh Brian yang menenggelamkan wajahnya di tekuk leherku.
Aku senyum kecil terbit dari sudut bibirku, dengan hati-hati aku mencoba melepaskan diri dari pelukan Brian tapi bukannya terlepas justru ia semakin mempereratnya.
"Morning sweetheart" sapa Brian dengan suara khas bangun tidur, lalu mengecup pipiku lembut.
"Morning too"
Brian bergeming menatapku. Apa ada sesuatu di wajahku?
"Kenapa?"
"Senyum kamu pagi ini terlihat berbeda dari sebelum-sebelumnya" aku mengerutkan kening.
"Maksud kamu?"
Brian tertawa kecil, "Lebih tulus" lalu kembali memelukku sambil menggesekan wajahnya di perut rataku membuatku tertawa geli.
"Stop it, ge...haha li.. tau"
Dering nyaring ponsel membuat Brian menghentikan kegiatan jailnya itu, aku ucapkan terimakasih kepada siapapun yang menelepon itu. Brian menatapku lurus membuatku bertanya heran,
"Kenapa?"
"Hand phone kamu bunyi" aku membelakan mata, jadi tadi itu ponselku? Dengan cepat ku ambil ponsel di nakas dan benar saja ada 2 panggilan tak terjawab dari orang yang sama membuatku meringis bersalah.
Brian yang sedari tadi melihatku hanya tertawa geli, aku tersenyum senang melihat ponselku kembali berdering dengan nama panggilan yang sama tanpa ba bi bu, aku cepat mengangkat panggilannya.
"Lama banget elah ngangkat telponnya!!" Aku meringis mendengar ocehan nyaring itu.
"Sorry babe, aku baru bangun tidur" kataku sedikit berbohong, ku dengar suara dengusan dari ujung sana. Brian mendekat kearahku, aku ttau dia penasaran dengan siapa aku melangsungkan panggilan.
"Yaudah, gue cuma mau bilang Happy Birthday" aku tersenyum samar sambil mengusap rambut Brian yang kini berbaring di pangkuanku.
"Thank Will"
"Your welcome, btw katanya lo punya cowo, siapa? Kok gak bilang!!" Aku melirik sekilas Brian, lalu tertawa garing.
"Makanya lo kesini lo gak kangen apa sama gue?"
"Ya kangen lah!"
"Makanya kesini"
"Oke gue kesana, awas lo ngusir gue" timpalnya seraya tertawa geli.
"Oke gue tunggu hahaha"
"Oke wait for me, love you" aku tersenyum.
"Yeah love you too Will" lalu aku memutuskan sambungan telepon dengan Willam.
Aku memutuskan menunggu Brian yang masih belum keluar dari kamar mandi kamarku, bahkan setelah aku selesai mandi di kamar mandi lea pun ia masih belum keluar?
Dengan kesal aku membuka knop pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci. Wht?!
"Brian, kenapa kamu lama sekali?" nadaku memelan saat di ujung pertanyaan, lantas aku mendattanginya lalu memukul lengan berototnya itu keras sampai menimbulkan bunyi.
"Aww, sakit"
"Dari tadi aku menunggu kamu, tapi kamu dengan santainya berendam di sini dan Omg!" Pekikku saat melihat sabun aroma mawarku tumpah.
"Tadi kamu abis ngapain hah?!"
"Aku tidak sengaja" sesimple itu dia mengatakannya? Ia membuattku marah.
"Kenapa kau begitu santai mengatakan hal itu?!" Ia bangkit dari bathtub hanya menggunakan celana pendek, dan berlalu melaluiku menuju wearing room.
"Brian" desisku. Ia tidak menganggapiku, meliripun tidak sangat aneh. Dengan wajah datarnya ia memakai kemeja pria yang memang sengaja ia simpan di wearing room ku.
"Kamu kenapa sih?" Tanyaku akhirnya.
"Seharusnya aku yang nanya kenapa" aku menautkan alis tak suka.
"Maksudnya?"
"Pikir saja sendiri!" Lalu membanting pintu sangatt keras.
**€**
Brian's POV
Dasar perempuan tidak peka! Bisa-bisanya dia membalas perkataan cinta pria lain dengan mudah di depanku tapi tidak bisa membalas perkataan cintaku beberapa hari yang lalu. Aku mendudukan diri di kursi meja makan yang sudah ada Lea disana bersama Mike. Ya, dia ikut menginap tadi malam.
"Ada apa dengan wajahmu itu?" Aku menggeleng pelan membalas pertanyaan gadis berambut pendek itu.
"Dia sedang cemburu" aku langsung membuang muka kearah lain saat Reva datang dan duduk di sampingku.
"Cemburu?" Mike langsung tertawa terpingkal-pingkal setelah lea bertanya dengan heran, aku menatap laki-laki berambut coklat itu sinis.
"U know lah" aku meliriknya kesal, sedangkan reva membalas tatapanku dengan santai, astaga apa dia tidak merasa bersalah padaku?
"Oh god, aku baru tau jika brian bisa cemburu" ucap mike sambil menyeka air matanya akibat tertawa.
"Diam!" Ia semakin tertawa setelah ku bentak, kurang ajar!
Aku merasakan tangan halus sedang mengelus pelan lenganku, "Tenanglah" aku diam dan kembali memakan roti selai ku.
*^*
Author POV
Brian duduk di sofa di temani reva dan lea, mike duluan pulang ke Amerika karena ada masalah mendesak di perusahaannya dan meninggalkan brian yang ingin menetap lebih lama di Sweden bersama kekasih hatinya. Mengingat ia memiliki kekasih yang acuh dan tidak peka tentu saja ia harus menetap, meski ia masih kesal dengan reva tentunya ia tidak ingin meninggalkan gadis itu.
"Hei brian, apa kau sudah bisu?" Serga lea jenggah tidak mendapati respon apa-apa dari brian.
"Rere, lihatlah kekasihmu itu" rengeknya.
Reva hanya melirik sekilas brian lalu kembali menonton tv, "Jika kau masih terus diam jangan harap kau sekamar denganku" brian langsung menatap reva hendak memprotes tapi ia urungkan setelah melihat tangan gadis itu yang mengisyaratkannya untuk diam.
Lea tersenyum puas lalu menjulurkan lidahnya kearah brian, "Cepat ambilkan remote tv itu!" Suruh lea yang membuat pria iitu mengerutuk kesal tapii tetap ia lakukan, kenapa remotenya harus ada di sampingku!!. Batin brian.
"Nih!" Lea tersenyum kemenangan, "Dari tadi dong, lama!" Brian mendengus sebal lalu membaringkan diri di pangkuan reva, gadis itu tidak memprotes malah tangannya bergerak mengusap rambut brian seperti kucing.
Lea yang dari tadi duduk di single sofa menatap brian jenggah, ia tidak suka dengan sifat manja brian yang selalu memonopoli reva untuk dirinya sendiri. "Re, kok willy belum dateng sih" tanya lea menggunakan bahasa indonesia agar brian tidak mengerti.
"Harusnya sekarang udah di bandara sih, hubungi willy gih" brian yang sedari tadi memejamkan mata menikmati sentuhan gadisnya kini ttebangun mendengar nama pria lain yang di sebut oleh reva. Walau ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, bukan bearti dia bodoh untuk mengenali nama pria lain yang baru saja gadisnya sebut.
"Sayang" reva menunduk mendengar panggilan dari kekasihnya menunggu apa yang akan brian sampaikan.
"Apa kamu tidak lapar?" Gadis itu menggeleng pelan lalu tersenyum tipis, "Kamu lapar?" Brian mengangguk lalu kembali berkata, "Aku ingin memakanmu"
Bukannya malu atau marah mendengar gombalan yang brian berikan, reva justru menatapnya datar lalu mencubit pinggang laki-laki itu dengan keras, ia tidak peduli dengan teriak kesakiitan dari brian. "Akhhhh sa..yang sak..it"
Lea yang mendengar suara merdu penderitaan dari brian langsung datang dengan terhenggah-henggah dari kamarnya selepas mematikan sambungan panggilannya dengan Willam. Ah.. dari awal lea memang kurang menyukai brian maka dari itu gadis bersurai gelap sebahu itu menatap sepasang kekasih itu dengan minat terlebih saat reva kembali mencubit dan memukul lengan brian keras, lea sangat tau rasa pukulan itu mengingat dirinya pernah menjadi korban kekerasan reva saat gadis itu kesal.
"Mau lagi?" Brian langsung menggeleng cepat, membuat lea mengerang kecewa.
"Kok udahan sih?" Brian memincingkan mata kearah lea.
"Kamu dari tadi di situ?" Suara itu bukan berasal dari brian tapi reva. Lea mengiyakan pertanyaan yang di berikan dan kembali duduk di single sofa.
Tingtong...
Tingtong..
Awalnya reva hendak membukaan pintu untuk tamu, namun di cegah oleh brian yang sudah berdiri untuk membuka knop pintu untuk tamu yang entah siapa itu.
"Miss me?!!" Ucap seorang laki-laki yang tak brian kenali saat ia baru saja membuka knop pintu, bukan hanya brian tapi laki-laki itu juga menatapnya bingung.
"Who?"
**€**