
{ Hidup itu simple,tinggalkan apa yang membuatmu kecewa dan pertahankan apa yang membuatmu bahagia. Nyatanya, aku meninggalkan kebahagiaan untuk kebahagiaan itu sendiri }
–Reva–
[Kepergian]
Seorang pelayan datang dan membungkuk hormat kepada seseorang di balik kursi kebesarannya. "Tuan, nona muda telah tiba" pria paruh baya itu memutar kursi dan menatap santai pelayannya.
"Biarkan dia masuk"
"Baik tuan" pelayan itu membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruang kerja tuannya.
Gadis cantik itu berdiri tegak, menatap tajam kursi yang memunggunginya. "Jangan ganggu dia brengsek!" Pria paruh baya itu terkekeh pelan melihat perbuatan cucunya yang seperti kebakaran jengot lalu mengesap segelas wine yang sedari tadi bertanggar di tangannya. Reva menatap Arta dengan amarah, "Beginikah, kau memanggil kakekmu?"
Brakk!!
"Apa. Mau. Mu. Sialan" reva menghentak meja yang menjadi pembatas antara dia dan kakek-nya. Arta tersenyum tipis, "Kau tau apa yang orang tua ini inginkan" ia menatap manik abu gadis itu,
"Jadi, janganlah membuang waktumu untuk bertanya lebih lanjut, dan lakukan apa yang aku mau" Reva menggeretakan giginya geram, lalu menarik kuat dasi arta.
Tidak mudah baginya untuk menggertak arta, apa lagi ia hanya gadis berusia 18 tahun. "Don't regret leter, grandfather" lalu melepaskan cengkraman dasi sehingga arta sedikit terhuyung kebelakang, lalu meninggalkan ruangan dengan arrogant membuat arta tersenyum puas.
**€**
(Soekarno-Hatta International Airport)
Kini gadis cantik itu tengah menjadi pusat perhatian pengunjung bandara, bukan hanya karena kecantikannya melainkan begitu banyak bodyguard yang menjaganya dari jarak dekat. Seorang ajudan mendekati gadis tersebut, "nona muda, jet pribadi sudah siap dari 5menit yang lalu"
Reva bangkit dan berjalan menuju landasan penerbangan, bersama bodyguard yang berjaga untuk mengawasi dirinya agar tidak kabur.
Ia sudah berada di dalam jet pribadi milik keluarganya, ia memilih duduk di single chair yang berada di dekat jendela. "Maaf, aku pergi tanpa pamit" air mukanya berubah sendu. "Aku akan kembali lagi, janji" ia kembali berbisik sendu menatap keluar jendela yang dihiasi oleh pemandangan kota jakarta.
"Nona, perjalan kali ini menuju Stockholm Arlanda Airport Swedia dengan jarak tempuh sekitar 18jam 35menit"
"Arlanda?" Reva sedikit mengangkat sebelah alisnya. "Benar nona" pramugari tersebut nampak gugup melihat reaksi yang di berikan gadis yang usianya lebih muda darinya.
"Kenapa tidak di Bromma?"
"Nona muda" Reva tidak menanggapi panggilan tersebut, dengan tenang ia menyeruput secangkir teh hijau yang ada di depannya.
"Tuan besar lah yang menentukan tujuan kita" ia tersenyum kecut mendenggar pernyataan ajudan yang di kirimkan arta(kakeknya) untuk menemaninya.
Gadis itu menggerakkan tangan menjauh, tanpa sepata kata pun pramugari dan ajudan tersebut pergi meninggalan nona muda mereka.
*^*
"Nona muda, sesuai perjanjian mulai besok pagi anda akan mengelola perusahaan cabang stockholm" gadis itu menatap malas sang ajudan.
"Lalu jika anda ingin melanjutkan pendidikan, saya akan segera mengurus berkas-berkan anda"
"Well, orang tua itu telah menyiapkan segalanya dengan baik" sindirnya."Ah... Jiwook"
"Ada apa nona?"
"Aku ingin kau mencari infomasi tentang keadaan orangku"
"Baik nona" setelah itu ia meninggalkan reva sendiri di kamarnya. Gadis cantik itu menolak untuk tinggal di mansion dan lebih memilih tinggal di penthouse dekat dengan perusahaan yang akan ia kekola.
Kedatangannya ke benua eropa ini cukup menguras energinya dan memutuskan untuk beristirahat sebelum jadwalnya memadat esok hari, ia membaringkan diri di king bed miliknya, lalu menyalakan lampu tidur yang ada di nakas sebelah tempat tidur.
**€**
Tidak sedikit karyawan berbisik pelan menilai CEO baru mereka yang ternyata seorang gadis berusia 18 tahun. Cukup mengejutkan namun itulah kenyataan yang ada.
"Jiwook siapkan ruang meeting"
"Para dewan inti perusahaan sudah berada di ruang meeting, nona" Reva mengangguk dan segera menuju ruang rapat, sekilas ia menatap para karyawan yang tengah berbisik. Ia enggan menanggapi penilaian para bawahannya, dan itu tidak terlalu penting karena ia datang dengan satu tujuan.
Pintu ruang rapat terbuka lebar dapat terlihat banyak kursi yang telah di isi oleh para dewan inti perusahaan dan mereka menyisakan 1 kursi utama di ujung meja. Dengan percaya diri reva melenggangkan kakinya menuju kursi kosong tersebut, sebelum duduk ia memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Hej, jag är tillfällig VD för min farfar Arta Noela. Jag heater Reva Andya Noela, trevligt att träffa dig"
(Hai, saya adalah CEO sementara menggantikan kakek saya Arta Noela. Nama saya Reva Andya Noela, senang bertemu dengan anda) Lalu ia duduk dengan tenang di kursi utama sembari mendengarkan presentasi yang tengah berlangsung.
"Aktuell aktiföäljning fortsätter att minska och vi saknar investerare"
(penjualan saham saat ini terus menurun dan kita kekurangan investor) Reva mentap tanpa ekspresi pria yang ia perkirakan berusia 24tahun, lalu membuang nafas bosan.
"Menurutmu apa yang membuat investor tidak tertarik untuk menyuntikan dana pada perusahaan kita dan harga saham terus menurun?" Tanya reva yang begitu passih dalam penggunaan bahasa swedish. Pria itu tidak dapat menjawab pertanyaan reva yang tidak pernah ia perkirakan sebelumnya.
"Kau tidak tau?" Sarkas reva, lalu terkekeh pelan membuat suasana di dalam ruangan mulai menegang karena aura yang ia pancarkan.
"Turunkan harga saham kita menjadi 10%" kebanyakan dari mereka terkejut dengan keputusan yang reva ambil dan merasa keberatan.
"Miss Noela 10% bukan lah angka yang kecil, kita akan rugi jika anda menurunkan harganya"
"Lalu apa solusi yang dapat anda berikan Mr. Jo?" Pria yang di panggil Mr.jo tidak dapat menjawab pertanyaan Reva, dan dengan bulat Reva menetapkan harga saham saat ini.
"Susutkan 10% dan kita akhiri pertemuan hari ini"
Ia berlalu begitu saja meninggalan ruang meeting yang kini di penuhi desas-desus tentang keputusan yang Reva buat. "Mana sekretaris baruku?"
"Saya segera memanggilnya kemari nona" lalu Jiwook pamit undur diri. Kini ia tengah membaca beberapa berkas yang ada di meja kerjanya, hingga suara ketukan pintu terdengar. "Masuk"
"Perkenalkan, saya adalah sekertaris baru anda" reva menutup berkas yang telah ia baca lalu melirik sekilas sekretaris barunya.
"Pergilah ke meja kerjamu dan aturkan jadwal ku hingga 2 hari kedepan" Perintah reva tak terelakan.
*^*
Jam sudah menunjukan waktu istirahat namun Reva merasa enggan bangkit dari kursi kebesaannya yang sudah ia dorong menjauh dari meja kerjanya, sambil tersenyum tipis ia menatap jendela kaca besar yang memberikan view kota Stockholm yang ada di ruangannya. Ia baru menyadari kehadiran orang selain dirinya.
"Ah kau" ia membuang nafas lega dan kembali melanjutkan aktivitasnya. "Ini jadwal anda Mrs"
"Don't call me Mrs, I'm not married yet"
"Maafkan saya nona"