I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
She {Revisi}



[ She ]


"Tuan, apa nona akan baik-baik saja?" Arta tidak menjawab pertanyaan dari tangan kanan kepercayaannya tersebut. Ia hanya menatap pemandangan kota jakarta dari balik jendela kantornya, "Lucas, apa kau tau?"


"Tentang apa, tuan?"


"Aku sedang membantunya melepaskan genggaman pecahan kaca alih-alih menggengamnya"


Lucas terteguh tuan besar sangatlah menyayangi cucunya, hanya saja nona muda tidak menyadari hal tersebut.


"Siapkan jet pribadiku, aku ingin bertemu Brian"


Lucas mengangguk mengerti lalu pamit undur diri.


**€**


Aura mendominasi meliputi ruang kerja seorang pria yang kini tengah menikmati secangkir teh hangat di sore hari di temani pemandangan kota. Sebuah ketukan pintu terdengar dari luar kantor membuat pria itu mendesis tak suka ketenangannya di ganggu.


"Masuk!"


Pria itu melirik sekilas asisten pribadinya, menunggu pesan yang akan di sampaikan asistennya itu.


"Maaf menganggu tuan, saya ingin menyampaikan jika malam ini tuan besar Noela akan datang menemui anda" Lagi-lagi aktivitas pria itu terganggu, namun kali ini ia tidak mendesis ataupun marah.


"Arta Noela?" Tanyanya memastikan.


"Iya tuan"


"Baiklah, siapkan mobil aku akan menyambutnya langsung di mansion ku" Jack mengangguk dan pamit undur diri.


Pria itu tersenyum– lebih tepatnya menyeringai. "Firasatku mengatakan ada hal yang menarik"


**€**


Reva merenggangkan tubuhnya saat mentari masuk menyinari kamar penthouse nya. Jam masih menunjukan pukul 07.45 masih ada waktu untuk bermalas-malasan pikir gadis itu polos. Ia lebih memilih mengubah posisi berbaring kearah jendela kaca seraya mengagumi keindahan kota di pagi hari. Hingga sebuah ketukan membuyarkan lamunanya. Gadis itu berdecak kesal, "Buka saja, tidak di kunci"


Muncullah seorang pria berumur 30th dari ambang pintu dengan pakaian formalnya, Semakin membuat reva menekuk wajahnya. "Nona anda harus siap-siap berangkat bekerja" ucap Jiwook mengingatkan.


"Aku tau!" Pria berwajah asia itu hanya menggelengkan kepala maklum mendapati kekesalan dari nona mudanya.


*^*


Kini Reva sudah siap dengan kemeja maroon kebesaran lalu lengannya ia gulung, lalu rok span hitam tepat di atas lutut dengan sepatu heals hitam 5cm dan sentuhan make up tipis natural untuk gadis seusianya, ia juga menguncir rambut caramelnya. And perfect.


Ia keluar dari kamarnya dengan langkah biasa.


"Jiwook tolong hubungi designer-ku untuk mengirimkan catalog dress, minggu depan aku akan menghadiri sebuah pesta" Pintanya setelah meneguk habis segelas susu stroberi.


"Baik nona"


Reva bangkit dan berjalan mendahului Jiwook keluar penthouse.


**€**


Lucas keluar dari mobil, dengan sigap ia membukakan pintu untuk majikannya. Mereka kini berada di Mansion kediaman Rohwan di Los Angeles, pintu mansion terbuka lebar ketika arta turun dari mobil.


"Selamat datang Tuan Noela" Sambut kepala pelayan dan di ikuti oleh pelayan yang lainnya.


"Tuan muda telah menunggu kedatangan anda, mari"


Arta di ikuti lucas di belakangnya berjalan mengikuti jack selaku asisten pribadi brian. Langkah mereka terhenti di sebuah ruangan yang di yakini ruang kerja brian.


Tok...


Tok...


"Masuk" sahut sebuah suara di dalam sana.


"Ah Tuan Noela, apa kabarmu?" Sapa pria itu sambil menghampiri Arta. Arta menyambut jaba tangan dari cucu mendiang temannya itu.


"Kau sudah dewasa" ucap arta basa-basi, lalu duduk di sofa setelah di tawari oleh sang pemilik.


"Ada hal apa sehingga kakek sendiri yang datang kemari?" Pancing pria itu.


Arta melihat jelas smirk yang lawan bicaranya tunjukan.


"Kau pasti mengetahui maksud dan tujuanku, brian"


"Biar aku lihat fotonya" Lucas langsung meletakan sebuah foto, seorang gadis cantik bersurai caramel dengan iris abu-nya yang khas tersenyum kearah kamera dengan dress selutut senada dengan iris matanya. Tanpa di sadari ia telah mengagumi sosok gadis di dalam foto tersebut. Arta tersenyum sekilas mendapati brian yang mengagumi foto cucu tunggalnya.


"Ekhm"


Pria itu berdeham sangat keras menetralkan keterpukauannya.


"Siapa nama gadis itu?"


Arta memincingkan mata, "Reva Andya Noela"


Mine.


*^*


Setelah pertemuannya dengan Arta pria yang masih berbalut kemeja itu terus memandangi foto yang di berikan Lucas.


"Ah.. baru kali ini aku menginginkan perempuan"


Pria itu terkekeh geli dengan keinginannya untuk memiliki gadis yng ada di foto tersebut.


Pria itu Brian –Brian Arlando Rohwan– penerus tunggal kekayaan keluarga Rohwan. Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Cari tau tentang Reva Andya Noela"


"Bukankah itu putri tunggal keluarga noela?" Tanya seseorang dari seberang telepon.


"Ya"


"Baiklah aku mengerti, pedofil" Setelah itu panggilan tertutup membuat brian geram dengan panggilan yang di berikan oleh penutup telepon itu.


"Sialan kau" umpat brian menatap layar hitam ponselnya.


Ia kembali menatap foto gadis itu, terlihat cantik dan polos bersamaan.


"Aku akan menemukanmu sweet heart"


**€**


Hacih...


"Ahh.. aku merasa seseorang tengah membicarakan aku" Reva mengambil menekan tombol di telepon kantor ruangannya. Lalu terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!"


Erik muncul di ambang pintu, ia menunduk hormat sebentar. "Ada yang bisa saya bantu nona?"


Reva mengangguk, "Tolong suruh ob buatkan aku ramyun, ambil mie-nya di laci sana" Pintanya seraya menunjukan arah laci.


Pria itu sudah mulai terbiasa dengan permintaan aneh-aneh dari reva yang tidak lain adalah atasannya sendiri.


1 minggu pertama bekerja, pria itu hampir kehilangan akal dengan segala permintaan dari gadis cantik yang menjelma sebagai ceo-nya. Dan setelah kurang lebih 1 bukan akhirnya ia mulai terbiasa dengn pekerjaannya.


Erik mengangguk dan menuruti perintah atasannya tersebut. "Jika kau ingin, kau bisa mengambilnya juga" datar. Erik hanya tersenyum menanggapinya. Setelah menunggu lama akhirnya ramyun instan pesanan gadis itu tiba di lengkapi dengan tambahan topping, membuat gadis itu kesenangan dalam hati.


Tapi wajahnya tak memperlihatkan raut apapun. "Ini makanan anda nona, selamat makan" ucap Erik pamit undur diri. Sekarang memang jam makan siang jadi wajar-wajar saja jika dirinya minta untuk di makasan ramyun instan oleh pegawainya sendiri. Em mungkin.


"Wahh... ini tetap nikmat" seru Reva.


"Andai saja sekarang aku ada di rumah memakan ramyun instan di temani drama korea.." Ucap gadis itu mulai membayangkan.


"Aaaa pasti sangat menyenangkan" pekiknya keras.


Lalu gadis itu menghembuskan nafas kasar, "Sayangnya itu hanya sebatas anganku saja" sekilas wajah Arta terlintas di benah Reva.


"Ahh aku membenci kakek" teriaknya. Lalu kembali menikmati makanannya.


*^*


Reva masuk kedalam kamarnya, hari ini ia sangat letih. Badannya sangat lengket karena keringat, dengan susah payah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia menatap diam dirinya di cermin, dan kembali menghela nafas. Reva merendamkan diri di bathtub yang tadinya sudah di siapkan oleh pelayannya. Ia sabun cair aroma mawar yang paling ia suka.


Air hangat memang mampu merilexkan tubuhnya, terlintas satu bayang yang sering ia khawatirkan.


"Aku merindukanmu"


**€**