I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
Paket {Revisi}



{ Aku bukan barang yang bisa di akui dengan mudah }


...-Reva-...


"Apa kau mengidap Alexithymia?"


Gadis itu mengerutkan keningnya bingung, terlihat dari guratan di kening serta ujung bibirnya yang seakan menahan senyum.


"Alexithymia katamu?" Tanya Reva memastikan pendengarannya. Setelah mendapatkan anggukan pasti dari lawan bicaranya, ia tertawa kecil seraya menggeleng pelan kepalanya.


"Sebenernya dari mana kau mendapatkan informasi itu, menurutmu bagaimana? Apa aku terlihat seperti itu?" Pria itu hanya bisa terdiam. "Lihat? Kau bahkan tidak dapat menjawabnya" Reva menggeleng pelan lalu menjatuhkan diri kesofa panjang.


"Oh iya, aku cukup penasaran. Bagaimana cara tuan muda Rohwan mengetahui kata sandi penthouse milikku ini" gadis itu menatapnya tajam begitupun sebaliknya Brian menatapnya dengan tatapan santai dan tak bersalah miliknya.


"Seperti yang kau katakan, aku seorang Rohwan. Tidak ada yang tidak bisa ku dapatkan termasuk dirimu Nona" ucap Brian arogan.


"Aahhh ternyata kau seorang penguntit" cetus Reva yang sudah terlanjur kesal.


"Atau kah kau— mhpphp!!" Brian mengambil langkah lalu membungkam ruam manis Reva dengan bibirnya sebelum gadis itu kembali melontarkan kecurigaannya.


Gadis itu meronta, mendorong keras tubuh besar Brian dengan sekuat tenaganya. Nihil, pria itu semakin memperdalam ciumannya dengan menekan teruk leher Reva memaksa gadis itu membuka mulutnya dengan mengigit ruam kecilnya itu.


Tak ingin semakin tak terkendali Brian lantas menyudai aksinya lalu mengecup singkat bibir manis Reva yang agak sedikit membengkak. "Kau sangat manis sayang"


Reva menatap pria itu berkaca sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Laki-laki brengsek!


Plak!!


Terdengar dari suaranya saja pasti tau, tamparan yang di layangkan Reva sangatlah sakit. "Apa—"


"


Keluar" potong gadis itu dengan nada dinginnya.


"Ti—"


"I said GET OUT!" Bentaknya dengan penuh amarah.


Brian tidak dapat membantah lagi, lantas ia pergi tanpa mengucapkan sepata kata dan membanting pintu penthouse dengan keras.


Brak!


"Brengsek!" Umpat Reva setelah pria itu benar-benar pergi meninggalkan kediamannya.


...**€**...


"Dulu aku sempat bingung bagaimana cara keluarga Noela membesarkan seorang anak karena hampir semua keturunannya memiliki sifat dingin yang sama rata" ucap Brian yang kini sudah berada di apartment yang akan ia tinggali selama disini dan tentunya milik pribadi yang baru saja ia beli karena tidak terlalu betah tinggal di hotel.


"Memangnya apa yang sudah terjadi sampai kau berkata seperti itu?" Tanya Mike dengan sekaleng soda di tangannya.


Brian tidak langsung menjawab, ia termenung beberapa saat mencoba mereka ulang ingatannya di kediaman gadis incarannya tersebut. "Emm.. aku menciumnya" ungkapnya tanpa merasa menyesal.


Mike lantas menyemburkan soda yang tadi ia minum sambil terbatuk-batuk, "Kau apa??" Tanyanya lagi seakan apa yang ia dengar sebelumnya adalah kesalham dari indera pendegarnya.


"Aku menciumnya" jawab Brian, membuat Mike semakin terbatuk. "******* bibir Nona muda Noela" sambungnya lagi.


"Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau melakukan hak se-ekstrim itu!" Ucap Mike penuh dengan nada keluh kesah. "I mean dude, aku tau kau tertarik dengannya tapi apakah harus langsung menerkamnya?!" Sambungnya lagi, Mike benar-benar tidak tau harus berbuat apa dengan sikap tidak tau diri temannya yang satu itu.


"Bukan salah ku, salahkan dia yang terlalu menggoda" elak Brian.


"Oh ayolah dia hanya gadis 18 tahun sedangkan kau sudah berkepala 2" Brian hanya menaikan bahunya acuh.


...**€**...


Reva membasuh wajah dengan air dingin serta mengosok gigi dengan pasta gigi mint berkali-kali hingga ia sendiri lupa sudah kali keberapa ia mengulanginya. Lea yang baru saja tiba dari super market menatap bingung Reva yang keluar dari kamar mandi dengan wajah kesal.


"Rere?" Panggilnya memastikan keadaan sang sahabat.


Merasa di abaikan, gadis bersurai gelap itu menghampiri Reva yang kini sudah merebahkan diri di sofa ruang tengah.


"Sudah pulang? Baru juga jam 3, tumben" tegur Lea.


Reva mendengus mengabaikan pertanyaan Lea dan mencari posisi nyaman untuk tiduran, tanpa permisi gambaran adegan bersama Brian terulang sangat jelas dalam benahnya membuat Reva terkejut. "Astaga! Ada apa denganmu??" Tanya Lea cemas lantaran Reva tiba-tiba bangkit dari posisi nyamannya.


"Aku tidak apa-apa" sahut Reva mencoba tenang. Lea menatapnya penasaran.


"Aku tau kau sedang berbohong, tapi tidak apa. Ceritalah jika kau ingin" jawab Lea lalu pergi ke dapur membereskan barang belanjaannya.


Reva mengganguk singkat lalu mengikuti Lea ke dapur, meminta air minum. Lea mengamini permintaan sang sahabat, "Nih, jus jeruk" surung Lea.


Reva tersenyum singkat, namun mengerutkan keningnya penasaran. Pandangannya terjatuh pada bibir Reva yang agak membengkak. "Rere, kamu tadi abis makan-makanan pedas?"


Reva mengerutkan kening, "Engga kok, kenapa nanya gitu?"


"Bibir kamu kelihatan bengkak, apa perlu aku ambilkan air es?" Perkataan Lea suksek membuat wajah Reva memerah bagai tomat matang. "Astaga! Kamu sakit, Re?" Reva menggeleng kencang dan langsung meninggalkan Lea dengan kekhawatirannya.


"Lah malah kabur?"


...*^*...


"Nona"


"Nona Reva" Gadis itu tersentak dan terbangun lamunannya, lalu menatap sekretaris dengan tatapan bertanya.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" Tanya Erik agak khawatir, terlebih wajah cantik atasannya itu terlihat agak pucat.


"Ya aku baik-baik saja" Ucap Reva lalu pandangannya jatuh kepada sebuah kotak di atas meja dekat sofa di ruangannya. "Apa itu?"


"Kata respesionis, ada kiriman paket untuk anda. Itu alasan saya datang kemari"


Keningnya mengerut penasaran, baru kali ini ia dapat kiriman paket di kantor "Dari siapa?" Tanya Reva yang kini sudah mendudukan diri di sofa.


Erik nampak bimbang untuk memberitahu, "Kenapa diam?" Tegur Reva..


"Emm— tidak ada lebel pengirimnya, Nona" Gadis itu menghela nafas panjang.


"Lalu kenapa kau memasukan barang itu kedalam kantorku?! Ini adalah hal dasar yang harus diketahui oleh sekretaris, sebenarnya apa saja yang sudah kau pelajari saat pelatihan karyawan!" Erik menunduk takut, baru kali ini ia mendapati atasannya marah.


"Maafkan saya, Nona. Saya ti—"


"Sudahlah, lanjutkan saja pekerjaanmu dan bawa kembali paket itu" tanpa sengaja Reva melihat greeting card yang terselip pada bunga yang ada pada paket tersebut.


Keningnya semakin mengerut tak senang, membuat Erik merasakan tanda bahaya. "Cepat kau bawa kembali paket ini kepada pengirimnya" kesal Reva.


"Tapi, Nona. Saya tidak tahu siapa pengirimnya" Reva memijat pelan pangkal hidungnya.


"Baik, Nona" Tegas Erik lalu membawa kembali paket tersebut dengan tergesa-gesa.


Tak lama setelah itu ponselnya berdering tanda panggilan masuk. "Nomer tak dikenal" gumam Reva yang baru saja mendudukan diri di kursi kebesarannya.


"Hola señorita" Sapa seseorang dari panggilan tersebut. Reva yang memiliki ingatan cukup kuat, mengepalkan tangannya.


"Apa yang kau mau tuan muda Rohwan" sahut Reva yang sudah mengetahui siapa sang penelepon mistrius itu.


"Wow!! Bagaimana kau tau ini aku? Mengesankan"


"Aku cukup ingat dengan suara menyebalkanmu" sahut Reva dingin.


"Ahh aku sangat tersanjung karena Nona Noela meningat suaraku, aku sangat tau suara ku ini sangat menggoda" Reva memutar bola matanya malas mendengar kepercayaan diri Brian yang terlalu tinggi itu.


"Huft, aku sudah menerima paketmu" ucap Reva serya menandatangi dokumen yang sudah ia baca.


"Bagus jika sudah kau terima. Ah I almost forgot, i miss your lips"


"And I don't! Bay the way, paketnya sudah aku kirim kembali" setelah mengatakan itu Reva lantas menutup sambungan teleponnya.


Gadis itu membuang nafas kasar lalu menekan telepon kantor yang tersambung langsung dengan Erik, "Erik, apa schedule aku hari ini?"


"Anda hanya memiliki jadwal makan malam bersama para kepala divisi kantor, Nona" terang Erik melalui saluran telepon.


"Hanya itu?" Tanya Reva memastikan.


"Iya, Nona. Hanya itu saja"


"Baiklah, tolong kirimkan waktu dan alamat restorannya lewat via chat. Terima kasih"


"Baik, Nona sama-sama"


Gadis itu langsung menyandarkan tubuh kecilnya di kursi kebesarannya itu seraya mentap pemandangan kota melalui kaca besar di samping meja kerjanya. "Aku terlalu malas ikut makan bersama malam ini" keluhnya.


"Apa aku ajak Lea saja ya?" Tanyanya pada diri sendiri. "Sepertinya itu ide yang bagus"


...*^*...


Gadiss bersurai gelap itu nampak gelisah, lantaran terjebak makan malam bersama karyawan kantor teman sahabatnya bekerja. Ia sungguh menyesal menerima ajakan Reva sebelumnya,


Jika tau begini harusnya aku makan malam dirumah saja bersama drama korea. Batin Lea.


Lea menyenggol lengan Reva yang tengah asik mengunyah makanannya, lalu mendekat dan berbisik "Rere— kapan ini akan berakhir?" Gadis bersurai gelombang itu hanya mengangguk dan berdeham.


Lalu menjawab dengan santai "Tidak lama lagi" dan meneguk segelas wine mahal dengan elegant. Lea yang melihat itu hanya bisa menghela nafas lelah, ia tidak bisa menghentikan Reva meminum alkohol.


"Lea, jika aku mabuk tolong antar aku den -hick- gan selam -hick- at" ucap Reva diiringi cegukan.


Ting ~ ting ~ ting


Seseorang mengetuk gelas wine dengan sendok, hal tersebut cukup membuat Reva menatap pria paruh baya itu sinis. "Perhatian untuk semuanya dan Nona Noela, saya selaku kepala divisi marketing sangat senang dengan kinerga anda yang baru beberapa bulan menjabat" ucap salah satu karyawan Reva.


"Saya mewakili semua kepala divisi lain mengucapkan terima kasih. Dengan kehadiran anda perusahaan yang sebelumnya di ambang kebangkrutan kini sudah beranjak stabil" sambungnya mendapat sorak gembira dari yang lain.


Reva tersenyum kecil lalu bangkit dari duduknya, "Aku terima ucapan terima kasih kalian dan aku juga berterima kasih kepada kalian yang sudah mempercayai aku sebagai pemimpin perusahaan ini. Bersulang!"


Lea yang melihat hal tersebut merasa bangga dan ikut bertepuk tangan seperti yang lainnya.


Kini hari kian larut, Reva terlihat semakin sulit mempertahankan keseimbangan tubuhnya. "Astaga sudah ku katakan sebelumnya, jangan minum terlalu banyak!" Kesal Lea sambil menahan lengan kiri Reva.


"Maafkan saya, karena tidak bisa menjaga, Nona Reva. Nona Lea" ucap Erik yang ikut menahan atasannya di lengan kanan tesebut menyesal.


"Diam. Aku tidak bicara denganmu" kesinisan Lea membungkam Erik.


Keduanya bernafas lega kala berhasil memasukan Reva kedalam mobil. "Cepat antar kami" ucap Lea.


Selama di perjalanan Reva meracaukan kata-kata aneh yang tidak di pahami dua pribadi yang ada di dalam mobil yang sama dengannya.


"Sial! Aku ben -hick- ci sekali"


"Aku bu -hick- kan barang yang bi -hick- sa di miliki se -hick- enaknya" racau Reva semakin menjadi, Lea hanya bisa menepuk punggung sahabatnya itu pelan, "Sudah— sudah aku disini" Reva menoleh, lalu memeluk Leaa erat.


"Lea, I want to go home" racau Reva.


"Kita lagi di jalan" sahut Lea.


"Aaa— stop kiss -hick- ng me yo -hick- u idiot" tidak hanya Lea, Erik yang mendengar kalimat itu langsung diam membatu. Atmosfer berubah menjadi hening dan mencengkram bagi Erik lantaran tatapan tajam dari kursi penumpang yang mengarah kepadanya.


Erik melihat itu semua melalui kaca dashboard mobil, "Apa yang kau lalukan padanya hah!" Teriak Lea membuat Erik salah tingkah, bukan karena ia takut melainkan ia bingung harus menjawab apa.


"Apa kau bisu!"


"Saya tidak tau apa-apa, Nona. Sungguh" sahut Erik gugup, dalam hati ia menjerit sedih karena hari ini ia kena siraman amarah dari 2 perempuan yang kedudukannya sangat tinggi.


Sesampainya di penthouse Erik harus mengenyampingkan niat awalnya untuk kembali kerumah dengan cepat, karena keadaan yang tidak menguntungkan ini.


Setelah membaringkan Reva di kamarnya Lea kemudian menghampiri Erik yang berada di ruang tengah. Melihat kedatangan Lea, Erik langsung bangkit dari duduknya. "Aku tidak menyuruhmu untuk berdiri, duduklah dengan nyaman"


Saya tidak bisa duduk dengan nyaman, Nona. Jerit Erik dalam hati.


"Bicaralah"


Erik membuang nafas pelan dan mulai berbicara, "Siang tadi Nona Reva mendapatkan kiriman dari—" ia menundukan kepalanya, rasa ragu kini menyelimutinya.


Berbeda dengan Lea yang sudah penasaran dengan kelanjutan cerita Erik.


"Siapa?" Laki-laki itu menatap berani Lea, "Tuan Muda Rohwan, Nona" Lea terdiam sejenak.


Apa mungkin?. Batin Lea


...*^*...


"Tuan, dia sudah bertindak" Lapor seseorang dari ujung telepon.


"Bagus. Tetap awasi mereka"


"Baik tuan"


Arta menutup sambungan teleponnya, lalu kembali menatap pemandangan kota Jakarta dari jendela besar.


"Suatu hari ini kau akan berterima kasih padaku"


Ia memejamkan mata sambil menyenderkan bahu di kursi kerjanya.


...**€**...