I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
Pesta



{ Untuk yang ke sekian kalinya tanpa sadar aku telah mengagumi gadis itu }


–Brian–





Author POV





Los Angelesss, USA



Lea mendengus melihat otoriter kamar hotel yang akan mereka tempati untuk benerapa hari kedepan.



Gadis beriris abu itu menatap temannya heran. "Apa kau ingin kita ganti kamar?" Tanya reva sambil mengeringkan rambut dengan handuk.



Manik coklat itu membola, "Ti–tidak usah!"



"Tapi kau seperti tidak menyukai kamar ini, apa ini terlihat biasa saja?"



Reva yang hanya berlilitan handuk putih di tubuhnya mulai mengitari kamar yang lumayan luas untuk ukuran hotel biasa.



"Kau bener... kemasi barangmu, kita pindah hotel" suruh reva.



"Astaga tidak usah. Disini sudah cukup"



"Terserah kau saja"



Lea bernafas lega mendengar ucapan sahabatnya yang terlampau kaya itu.



Reva kembali dari dari wearing room dengan crop hoodie biru, rok jeans pendek serta sepatu ket warna putih.



Gadis bersurai gelap itu memandangi reva bertanya. "Ayo makan" ajak reva.




*^*




"Rere... bukannya kita mau makan? Tapi kenapa kesini?" Tanya lea heran.



Reva tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan memilih fokus dengan jalan di depannya.



"Astaga!! Reva? It's that you girl?" Pekik seorang wanita dari ujung sana. Dan memeluk reva.



"Apa ada reva lain yang kau kenal?"



Wanita itu merenggangkan pelukannya, "Kau satu-satu, dear"



"Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?" Tanya wanda.



Gadis bermanik abu itu tersenyum tipis, "Apa kau melupakan sesuatu?" Wanda tampak berfikir, lalu menjentikan tangannya tanda ia mengingat sesuatu.



"Astaga dress mu" ucapnya seraya terkekeh. "Mari aku antar" Reva menggeleng.



"Kenapa?" Tanya lea khawatir.



"Ukur sekalian untuk teman ku, besok kami berangkat bersama" Wanda tersenyum ramah, dan menyanggupi permintaan pelanggan VVIP nya itu.




*^*




Hari ini mr.han nampak kewalahan akibat permintaan lea yang bermacam-macam, tapi bukan mr.han namanya jika tidak bisa menyanggupi permintan teman majikannya itu.



"Mr.han tolong tanyakan kepada wanda kapan dress kami akan sampai" Pinta lea dengan senyum mengembang.



"Baik nona lea" lalu mr.han pamit undur diri.



Reva yang sedari tadi hanya duduk menonton tv, melirik lea bingung. "Apa kau salah makan hari ini?"



Lea mengembangkan senyumnya lalu menghampiri reva. "Apa? Menjauhlah" usirnya, namun tak di hiraukan lea.



"Kau akan menjadi pusat perhatian malam ini" Ucap lea lalu meninggalkan reva yang menatapnya aneh.



Belum lama lea meninggalkan reva, ia memanggilnya.



"Rere!!" Sang empun nama menghela nafas mendengar teriakan temannya yang begitu nyaring.



Reva enggan menyahutinya dan memfokuskan ke acara tv yang menayangkan kartun kesayangannya. Fairy odd-parents.



Lea datang menghampiri reva dengan wajah kesal karena di abaikan. "Reva andya!!"



"Hmm" Gadis itu masih fokus dan sesekali tekekeh melihat layar tv.



Lea yang melihat itu pun mematikan tv menggunakan remote. Iris abu itu pun melirik lea malas. "Ayo mandi, katanya mau ke sepesta"



"Ini baru jam 4, sedangkan acaranya jam 8 tepat, lea" Lea tetap menarik tangan reva hingga ke kamar mandi.



"Buka baju mu" Reva mendengus, namun tetap menuruti apa yang di suruh.



Selagi menunggu reva melucuti pakaiannya gadis bersurai gelap itu menuangkan aroma mawar yang biasa temannya itu gunakan kedalam battube.



"Masuk"



Setelah masuk battube lea mengambil sekeranjang penuh kelopak bunga mawar lalu...



Byurr...



"Lea, apa yang kau lakukan? Dan ini–mawar?"



Lea terkekeh, "Aku tau kau menyukai mawar, karna itu aku meminta mr.han membawakan 2 keranjangnpenuh kelopak mawar untuk kau mandi" Iris abu itu menerjap tak percaya.



"Sudah-sudah jangan menatapku seperti itu, anggap saja liburan" kekehnya pelan. "Ah ini keranjang bunganya, tambahkan lagi yang banyak. Aku taruh disini"




Mata reva terbelak kaget. "Kenapa dikunci??" Tak ada sahutan, gadis itu kembali merendamkan diri.



"Ah lupakan, lebih baik aku menikmatinya" Reva menaburkan kembali sekeranjak kelopak mawar, matanya memberat.



"Nanti lea bakal datang lagi juga" Lalu matanya tertutup, alam mimpi menjemputnya.




**€**




Brak..



Pria itu nampak tak terganggu dengan suara pintu yang telah di buka paksa, dengan santainya ia membalikan halaman dokumen di tangannya seolah tak terjadi apa-apa.



"Brian!"



Sang empun nama berdeham ria menyahuti panggilan tersebut. Pria paruh baya itu mendudukan diri dan memijat pangkal hidungnya pelan.



"Kau memiliki kesepakatan apa dengan paman arta, huh?" Tanya pria berkepala empat itu.



"Aku belum memi–"



"Belum katamu? Apa artinya kau memiliki rencana untuk membuat kesepakatan dengan keluarga mereka?"



"Ayah dengarkan aku dulu" pria yang di panggil ayah oleh brian itu mulai terlihat tenang.



"Menurutku kakek arta tidak memiliki niat buruk, hanya saja kita tetap harus berhati-hati" jelas brian yang kini sudah berhadapan dengan Ben-ayahnya-



"Huh baiklah jika kau sudah berkata seperti itu" brian mengangguk.



Ben bangkit dan berlalu begitu saja keluar dari ruang kerja putranya.



Brian menghela nafas berat dan melengangkan kaki ke kamarnya. Membasuh diri, dan siap-siap pergi bertemu dengan gadis itu. Ia menyeringai di sela-sela guyuran shower mengenai wajah tampannya.




*^*




Brian's POV



Aku melengang memasuki ballroom hotel dan di sambut hangat oleh pemilik acara.



"Tuan Rohwan, selamat datang dan selamat menikmati acara" ucap tuan rumah.



"Ah tentu saja Tuan Alexander" Sahutku. Lalu kami berdua tertawa bersamaan.



"Kau tak berubah brian"



"Begitupun kau mike" Mike terkekeh pelan. "Baiklah nikmati saja acaranya masih banyak ya–" Ucapan mike terhenti, aku otomatis mengikuti arah matanya tertuju dan aku bisa melihat..



Dia. Gadis itu.



Gadis yang ada di foto itu baru saja memasuki ballroom, banyak pasang mata yang memandangnya memuja. Dan tanpa aku sadari, aku ikut memujanya.



Dengan dress merah mengembang di bawah lutut tanpa lengan, rambut pirangnya yang di gulung keatas memamerkan leher jenjang dan tulang selangka yang begitu seksi untuk gadis seusianya.



Terlebih bibir merah mudanya yang terlihat glossy, terlihat begitu menggoda.



"Wajah baru, sangat cantik dan wow" Ungkap mike menyadarkan ku dari keterpukauan.



Aku mengerang tak suka melihat tatapan lapar dari para pria di ballroom ini, terlebih tatapan mike terhadapnya. Dia milikku.



"Baiklah brian aku akan menyapa gadis it–"



"Aku ikut" Mike menatapku menggoda.



"Berhenti menatapku seperti itu" ucapku datar.



"Hahaha.. aku hanya terkejut. Baiklah ayo kita mendatangi mereka" Aku meengangguk.



"Permisi nona" Sapa mike lembut, membuatku ingin meencekiknya detik ini juga.



Gadis itu menoleh dengan sangat anggun, "Iya?" Suaranya halus namun terkesan acuh.



"Perkenalkan namaku Mickel Alexander, aku tuan rumah acara malam ini. Kau dapat memanggilku, Mike" Ucap mike sambil mengedipkan sebelah matanya.



Sialan.



Namun gadis itu tidak memekik senang ataupun tersipu malu dengan prilaku mike. Ia hanya diam mengamati tanpa memperlihatkan ekspresi apapun.



"Namaku Reva Andya Noela, senang berkenalan dengan ada tuan Alexander" Ucapnya sopan, bisa ku lihat mike nampak kikuk dan teman dari gadis itu mencoba menahan tawanya.



"Ah baiklah. Oh ya ini temanku, hei berkenalanlah" aku sedikit mengaduh kesakitan saat mie menyikut perutku.



"Brian Arlando Rohwan" Singkatku. Aku menunggu reaksinya dan,



"Salam kenal tuan Rohwan"



Kenapa ia terlihat berbeda? Ia bahkan tidak menunjukan reaksi apapun saat berkenalan dengan ku ataupun dengan mike. Tersenyum pun tidak.



"Ah perkenalkan dia teman saya, namanya Aleana Kristofer" Dia terlihat dingin.



"Salam kenal" ucap gadis ber surai gelap itu sopan.



Cucu tunggal keluarga Noela satu ini benar-benar membuatku terpukau. Dia seperti orang yang berbeda jika dilihat secara langsung. Tapi, sialnya aku semakin menginginkannya.





**€**