
{ Aku tau kalian sosok yang berbeda, maaf karena tanpa sengaja aku membandingkanmu dengannya }
–Reva–
Reva's POV
Aku menghampiri brian yang nampak kewalahan lalu memberikannya iced coffee latte dan ikut duduk tepat di sampingnya, mendekatkan diri.
Bisa ku lihat ia menatapku bingung dan penuh selidik dengan sikap manis yang jarang ku tunjukan padanya.
Terkutuklah masa periods, karena itu moodku naik turun beserta tingkahku yang kadang aneh-aneh.
Ku rapikan rambutnya yang terlihat berantakan lalu ku kalungkan lenganku di lehernya. Ia tampak menikmatinya.
"Capek ya?" Tanyaku basa-basi.
"Engga, mau lanjut belanja lagi?"
Aku kasihan padanya yang menjadi korban moodku tapi tidak bisa ku pungkiri aku mengembangkan senyuman dan mengangguk antusias.
Namun jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya, sesaat mendengar suara bariton yang sangat ku kenali.
"Reva?"
Tidak mungkin, bagaimana bisa ia ada sini? Aku menatapnya dengan sorot yang aku sendiri tidak bisa ku artikan, aku merindukannya tapi aku juga sangat sedih saat melihat dia terlihat baik-baik saja.
"Ka Aresh?"
Bahkan menyebut namanya suaraku bergetar. Ingin rasanya aku menangis saat ini juga dan meneriaki dirinya, tapi aku tidak mampu.
Air mataku seakan mengering untuknya, tapi rasaku untuknya masih ada dan masih dapat ku rasakan.
Aku memaksakan senyuman, "Kakak kok ada disini?" Tanyaku basa-basi.
Ia nampak tersenyum kaku, "Ah kakak ada seminar tadi jadi pulangnya mampir kesini buat jalan-jalan"
"Kamu sama te-"
"Ahh dia pacarku kak, kenalin ini brian" potongku cepat, aku meliik kearah brian yang menatapku bingung, mungkin karena dia tidak mengerti bahasa indonesia. Aku maklum.
"Brian, introduce yourself"
"Hello, Brian i'm reva's boyfriend" Ucap brian penuh percaya diri.
Bisa kulihat tatapan lirih dari ka aresh saat brian memperkenalkan diri sebagai pacarku.
Maaf kak, ini yang terbaik untuk kita.
"Dear, bukannya kamu masih ingin jalan" Perkataan brian memecahkan lamunan singkatku tentang ka aresh yang beberapa menit lalu sudah pamit undur diri.
"Ah kita pulang saja, tidak apakan? Aku mau istirahat" Elakku mencari alasan.
Bisa ku lihat ia mengangguk menyetujui keinginanku.
Sebenarnya aku tidak ingin berada di satu tempat dengan ka aresh, itu cukup menyesakan untukku.
Aku tidak ingin luka yang belum sepenuhnya kering kembali terbuka hanya dengan bertemu kembali dengan sang penyebab luka tersebut.
**€**
Author POV
"Nona lea?" Panggil pria itu sedikit ragu.
"Hai" sapa lea santai.
"Kenapa nona ada disini?" Gadis berponi itu paling tidak suka di panggil nona.
"Berapa kali aku bilang, jangan panggil aku nona" koreksi lea jengkel.
Erik nampak kikuk lalu berdeham menetralkan kegugupannya. "Baiklah lea, apa yang kau lakukan di sini? Apa kamu memiliki keperluan?"
Gadis itu tersenyum tipis dan mendekati erik, "Aku hanya ingin mengantarkan kepergianmu, apa itu salah?" Ujarnya sambil tersenyum geli mendapati telinga erik yang memerah.
'Dia sangat lucu ternyata hehe'. Batin lea.
"Ahh jika begitu, ku ucapkan terima kasih dan sampai jumpa." Ucap erik terlihat buru-buru dan meninggalkan lea yang sudah tertawa terpingkal-pingkal.
"Hei jangan lupa sampaikan pada brian jika dia harus berhati-hati dengan reva saat ini" Teriak lea lantang menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian saat ini.
Erik hanya mengacungkan jempolnya dan berjalan dengan tergesa-gesa karena malu.
"Astaga dia sangat lucu bukan mr.han?" Tanya gadis itu seraya menyeka air mata karena gelak tawanya.
Mr.han yang sedari tadi diam menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Anda terlalu jail nona"
"Huft! Jika tidak begitu aku tidak akan tau sifatnya" Seru lea tak mau kalah dan berbalik ingin pulang.
**€**
Brian's POV
Sepulangnya kami dari mall reva masih bungkam dengan sorot sedihnya, ia tampak sedang bergulat dengn pikirannya. Aku sangat cemas dengan sikapnya yang baru ini.
Lebih baik aku melihatnya mengacuhkanku dari pada melihatnya seperti mayat hidup dengan sorot kesedihan yang terpancar jelas di wajahnya.
Ku ganggam tangan mungilnya lembut, lalu memusatkan perhatiannya padaku. Ia tersenyum seolah berkata baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.
Aku mengerutkan keningku heran, sejak kapan ia memanggilku 'Sayang' ?
"Dear, apa kau baik-baik saja? Apa kau ingin ke dokter?" Tanyaku sedikit ketakutan sekarang.
"Apa aku terlihat sakit?"
"Mungkin" Ia memincingkan mata curiga, "Aishh... tidak biasanya kamu memanggilku dengan panggilan 'sayang' jadi wajar saja aku cemas, takut-takut kamu habis terbentur sesuatu" Sambungku.
Ia terkekeh lalu memberi intruksi untuk mendekatinya, dan aku menuruti. Baru aku duduk di sampingnya, ia langsung pindah dan duduk di atas pangkuanku sambil mengalungkan tangannya di leherku.
"Apa yang kau lakukan hm?" Tanyaku sedikit tertahan.
"Entahlah, 2 hari belakangan ini moodku seringing berubah-ubah" Terangnya membuatku bingung.
Aku memejamkan mata saat ia berani menciumi leherku, "Sayang, tolong hentikan"
"Kenapa? Kau tidak suka?" Tanyanya polos lalu mengecup pipiku bergantian.
"Jangan menggodaku, aku tidak ingin melewati batas"
Ia tersenyum nakal? Wahh baru kali ini aku melihat keagresifannya. Ia mencium bibirku tapi itu tidak seperti ciuman melainkan lumatan, aku tersentak kaget dengan aksi tiba-tibanya.
Tanpa sadar aku membawanya ke kasur dan menindihi tubuhnya tanpa melepaskan tautan di bibir kami.
Ciumanku turun di tengkuk lehernya membuat beberapa kissmark disana, tanganku sudah merayap masuk kedalam dress pink hitam yang ia kenakan.
Ia seperti tersadar akan suatu hal lalu mencubit dan memukul lenganku pelan.
"Brian..." panggilnya saat aku serang sibuk membuat tanda kepemilikan. "Berhenti" peringatnya lalu mencubit lenganku keras.
Aku berhenti dan menatapnya dengan pandangan berkabut di kuasai gairah, "Kenapa?" Suaraku terdengar parau.
"Aku tidak mood lagi" Perkataannya bagaikan di sambar petir di siang bolong.
Ia mendorong tubuhku kesamping lalu membelakangiku, mengangkat dressnya keatas membenari pengait bra-nya tanpa peduli aku aku bisa melihat punggung putih mulusnya itu.
"Dear..."
Ia bangkit menuju meja rias dan masih mengabaikan aku yang dalam keadaan tidak baik. Aku mendekat dan menyibak rambutnya kesamping, menciumi lehernya dari belakang.
Dengan santai ia bangkit dan menghap kearahku, "Maaf brian, aku masih dalam masa periodku"
Aku melongo, jadi seharian ini sikap manisnya hanya sebatas mood bulanan dia?
"Kau jahat sekali" Kataku lalu menenggerkan kepala di sela tengkuk lehernya.
Tubuhnya bergetar karena tertawa. Dia gadis yang jahat. Aku mundur memberi jarak lalu masuk kedalam kamar mandi untuk berendam air dingin.
*^*
Pagi ini aku telah berpakaian rapi siap untuk ke kantor, saat menuruni tangga dapat ku lihat gadis itu dengan pakaian rapi duduk di meja makan seraya memakan roti selai stroberi.
Aku ikut duduk bersamanya dengan tenang, ia menyadari kehadiranku dan memberikan senyuman manisnya. Karena aku masih merajuk, ku palingkan wajah kearah lain.
Dan memakan roti isi selai kacang yang baru saja di berikan oleh maid. "Brian, hari ini aku akan pergi keluar"
Aku tidak menanggapinya. Ya, walaupun aku sedikit penasaran tapi aku masih agak kesal dengannya karena dipermainkan jadi tidak mungkin aku bertanya bukan?
"Aku akan bertemu dengan mike untuk merencanakan kerja sama dengan perusahaannya" Jelasnya, aku hanya berdeham masih tidak ingin berbicara dengannya.
Meski ada rasa cemburu melintas, aku tetap bungkam. Child's? Masa bodo.
"Erik baru saja tiba di L.A aku ingin menusulnya, maafkan aku tentang malam tadi"
Ia bangkit mendekatiku setelah menghabiskan segelas susu vanillanya, lalu mengecup kedua pipiku bergantian dan terakhir mengecup singkat bibirku.
Astaga!! Ini masih pagi tapi ia sudah menggodaku, aku benci di permainkan oleh mood bulanannya itu.
**€**
Hari menjelang sore pria itu terlihat resah mengingat perkataan kekasihnya yang akan bertemu dengan mike. Bahkan ia tidak bisa berkonsentrasi saat rapat berlangsung beberapa saat lalu.
Dan sekarang ia masih berada di dalam ruang rapat menunggu kedatangan kolega bisnisnya, rapat sebelumnya hanya untuk para staff kantor dan kali ini adalah rapat pertemuan ceo-ceo muda dari berbagai perusahaan.
Lalu jack masuk kedalam ruangan di iringi oleh kedatangan gadis cantik berbalut dress kerja yang sedana dengan manik abu nya.
Iris amber itu menatap reva tak percaya lalu bangkit dan memeluk gadis itu erat tanpa memperdulikan tatapan terkejut dari orang lain.
Reva yang terlihat jenggah dengan sikap kanak-kanak dari brian menginjak kaki pria itu keras.
'Mampus, untung pake heals. Sakitkan!' Batin gadis itu menyumpah.
Brian otomatis melepas pelukan dan meringis kesakitan, "Sayang! Tidak bisakah kau bersikap lembut padaku" Keluhnya.
Gadis itu mengangkat bahu tidak peduli dan berlalu melewati brian dan duduk di salah satu kursi kosong yang ada di ikuti erik yang baru saja tiba dari sweden.
Sebelum melewati brian, erik sempat berbisik kepada brian, "Tuan Rohwan, anda harus behati-hati mood nona saat ini tidak stabil, saya menyampaikan hal ini karena baru saja di beritahu oleh lea"
Setelah itu barukah erik ikut mendudukan diri di samping reva. Brian mendengus dan menyuruh jack memulai rapat kali ini, iris abu reva terlihat sangat serius menatap layar protektor yang tengah memperlihatkan kurva.
Setelah rapat di bubarkan jack sempat menahan brian yang ingin mengejar reva yang keluar dari ruang rapat. "Ada apa?" Kesalnya.
"Kata nona reva bicara di mansion saja" Ucap jack sebagai perantaran.
Brian mendesah kesal, ia menyesal sudah mengabaikan gadis itu tadi pagi dan berakhir tidak bisa bermanja dengannya hingga sampai ke mansion nanti. Itupun jika gadis itu tidak mengabaikannya.
**€**