I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
17. Flashback I



{ Cukup aku dan Tuhan yang tau seberapa aku mencintaimu di dalam diamku. }


–Reva–




Author POV




<<<<4 tahun yang lalu<<<<




"Happy birthday to you,


Happy birthday to you,


Happy birthday...


Happy birthday....


Happy birthday to you


Horee Selamat ulang tahun reva!!!"


Ucap mereka serentak setelah bernyanyi bersama.



Gadis bermanik abu itu manatap tak menyangka kepada teman sekelasnya, ia tidak pernah membayangkan jika ulang tahunnya yang ke-14 ini akan di rayakan oleh teman sekeasnya sendiri.



"Terimakasih" Katanya sambil menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipi mulus gadis itu.



"Ehh jangan nangis... ntar gue di tangkep polisi lagi gara-gara udah nolak cinta anak di bawah umur" kata seorang siswa ngelantur.



"Apaan sih lo yo, gak jelas deh" Hardik lea yang sudah berada di samping reva yang kini tertawa bahagia.



"Makasih ya semua.. ini baru perrama kalinya aku di rayain ulang tahun sama temen di sekolah hehe" Tulus reva memamerkan senyum manisnya.



Membuat semua orang terpanah oleh kecantikan gadis blasteran itu.



"Demi neng cantik apa aja boleh deh" gombal mario semakin menjadi. Gadis itu hanya tersenyum geli menanggapinya.



Sepulang dari sekolah reva meradarkan penglihatannya mencari sosok yang selalu menemaninya dirinya saat kedua orang tuanya sedanh dinas keluar negeri.



"Bibi.. kakek ada dimana?" Tanya gadis itu tak sabaran saat tak sengaja bertemu dengan salah satu maid di mansionnya.



"Non reva bisa cari ketaman belakang" jawab maid itu santun.



"Selarut ini?" Setelah mendapati anggukan dari maid itu, reva langsung berlari riang menuju taman belakang.



Berharap kakeknya ada disana menyambut dirinya. "Kakek! Rere yang cantik udah pulang!" Seru gadis yang baru menginjak remaja itu riang.



"Loh kok gelap? Kakek dimana?" Iris abu itu menyorot bingung taman yang biasanya terang kini terlihat gelap tanpa ada lampu yang meneranginya.



Saat ia ingin berbalik tiba-tiba lampu menyala dengan terang, ia terpaksa mengalihkan perhatiannya ke taman yang kini sudah ada banyak orang yang ia kenali.



"KEJUTAN!!"



Gadis itu mengembangkan senyumnya, hari ini ia sangat bahagia mendapati 2 kejutan berbeda dari orang terdekatnya.



"Happy birthday sayang!!! Mamah dan papah sangat bangsa sama kamu!"



Gadis itu menghamburkan pelukan kepada sepasang suami-istri didepannya. "Mah, pah, i miss you so bad!"



"Kami juga sayang" lalu mereka mengecup sayang pipi gadis yang kini usianya menginjak 14 tahun.



"Grandpa!! I love u!" Seru gadis itu setelah terlepas dari pelukan orang tuannya.



"I love you to granddaughter" Sahut arta yang sangat menyayangi cucu tunggalnya.



"Rasanya baru kemarin kakek menimang kamu, sekarang kamu sudah tumbuh jadi gadis manis" lirih arta.



Reva tersenyum geli, "Kakek tenang! Rere akan tetap berada di samping kakek" arta hanya mampu terkekeh menanggapi sikap cucunya yang masih belia itu.




Gadis beriris abu itu mengembangkan senyumnya hingga matanya menyipit, "Hallo nama aku Reva, kakak bisa panggil aku reva atau rere" Riangnya.



Laki-laki itu ikut tersenyum melihat senyum mengembang yang di berikan gadis remaja di hadapannya itu. "Aresh, panggil aja ka aresh. Salam kenal reva"




**€**




Setelah berkenalan dengan aresh saat ulang tahunnya yang ke-14, mereka menjadi semakin akrab dari hari ke hari.



Awalnya aresh tidak percaya saat mengetahui jika gadis berumur 14 tahun itu sudah menginjakan kaki di sekolah menengah atas, ia pikir gadis itu masih SMP mengingat umurnya yang sangat muda itu.



Terlebih ia tidak bisa menghilangkan rasa keterkejut nya saat mengetahui gadis anak dari teman mamahnya itu satu angkatan dengannya, yang saat ini sudah kelas 3 SMA. Menurutnya gadis yang bernama reva itu sangat pintar.



"Kakak!!" Seru seseorang membuyarkan lamunannya.



"Eh? Reva? Kesini sama siapa?" Tanya aresh seraya merenggangkan pelukan dari gadis itu.



"Reva bareng sama mamah kesini, itu mamah lagi di ruang tamu sama tante shilla" jelasnya riang seperti biasanya.



"Samperin mamah sama tentu yuk kak!!" Aresh tidak bisa mengelak jika lengannya sudah di tarik seperti demikian.



"Mamah!"



Risa menoleh saat mendengar panggilan penuh semangat dari putri semata wayangnya, "Rere, apa kamu ganggu aresh lagi?" Gadis itu menggeleng seraya mngembungkan pipinya, terlihat menggemaskan.



"Engga kok tan, reva gak ganggu aku" bela aresh sambil mengusap puncuk kepala reva pelan yang memang tingginya hanyya sebatas bahu aresh.



Sesaat ada desiran aneh yang hinggap di hati gadis bermanik abu itu.



Risa dan shilla terkekeh geli melihat interaksi anak mereka, "Yaudah kamu aja reva main di taman belakang aja ya resh" Aresh berlalu pergi settelah mengangguk dan pamit mengajak reva ke ttaman belakang.



"Ka aresh" panggil gadis itu yang kini sudah duduk di ayunan taman.



"Kakak percaya sama cinta gak?" Tanya gadis itu polos.



Aresh berpikir sejenak lalu tersenyum, "Percaya kok, tanpa cinta kamu gak mungkin bisa hadir"



Reva mengedipkan mata tak mengerti, "Hhahaha kamu terlalu polos re"



"Ih jangan di acak rambut aku, nanti kusutt tau" keluh gadis itu.



"Yaudah engga, terus kenapa kamu tadi nanya kek gittuan" Gadis itu tersipu.



Reva mendongkakan kepalanya kebelakang, iris abunya bertemu dengan iris gelap laki-laki itu.



Dengan wajah penuh rona merah tipis ia pun bekata, "Kaya nya reva jatuh cinta deh kak"



Aresh tertegu, debaran jantungnya menggila. Ada rasa sesak yang hinggap sesaat mendengar pengakuan dari gadis manis yang membelakanginya itu, ia bertanya-tanya dalam benahnya. Apa yang terjadi dengan hati ini?



Ia memaksakan senyumnya lalu berpindah kehadapan gadis beriris abu cantik itu, "Kamu jatuh cinta sama siapa hm?" Tanya aresh lembut.



Hatinya tercubit sesaat melihat binar mata yang tersirat dari iris abu itu ketika ia membahas orang yang mampu membuat gadis di hadapannya ini jatuh cinta.



"Rahasia dong, untuk sekarang cukup aku dan tuhan aja yang tau hehe"



"Yaudah, lain kali cerita ya, janji?"



"Hmm janji" Sahutnya ceria lalu menautkan kelingking mereka mengikat janji yang beberapa saat lalu ia ucapkan.




**€**