
{ Aku tidak percaya takdir. Karena takdir terlalu sering mempermainkan hidup ku }
...–Reva–...
...[ Meet Again ]...
Iris abu itu hanyut dalam kegiatannya hingga tidak menyadari kehadiran seorang pengusik, Lea menendap-endap kearah Reva yang kebetulan duduk membelakanginua menghadap jendela besar di depannya.
Satu...
Dua...
Ti–...
"Jangan macam-macam denganku" ucap Reva yang sebenarnya sudah menyadari kedatangan sahabatnya itu. Lea berdecih lalu mengambil tempat di salah satu sofa, ia menatap bosan Reva yang sedari tadi hanya terfokus oleh berkas-berkas kantornya.
"Apa kau selalu seperti ini?" Tanya Lea memecahkan keheningan.
"Mungkin" sahut Reva di sela-sela pekerjaannya.
"Apa kau sering lupa waktu? Bukankah kau membenci orang yang lupa waktu"
Gadis itu tidak menjawab, hanya sorot kosong yang ia perlihatkan.
"Rere" panggil Lea pelan.
Surai gelap itu membuang pandangannya, ia tidak sanggup menatap mata temannya terlalu lama. Hela nafas berat meluncur begitu saja di antara kedua pribadi saling bertolak belakang itu lalu kembali menatap gadis surai caramel yang terfokus pada pekerjaannya.
"Ayo makan" Ajak Lea akhirnya. "Tidak" Lea menyergit.
"Kenapa?" Manik abu itu membuang nafas panjang.
"Aku harus mengoreksi berkas untuk rapat proyek baru besok siang, kau tidak masalah makan sendirian kan?" Jika Reva sudah berkata seperti itu Lea tidak dapat berkata tidak. Mengingat tingkat keras kepala yang akut dan tak terbantah milik Reva, tidak ada cara lain selain mengalah.
"Oke fine. Tapi kamu juga harus makan, okay?" Reva hanya berdeham mengiyakan perkataan Lea.
"Aku pergi dulu"
Sekali lagi hanya dehaman yang Lea dapatkan. Lea keluar dari ruangan dan menuju meja sekretaris sahabatnya itu.
"Hei tuan, jika ada apa-apa dengannya tolong hubungi aku" Pinta Lea pada Erik yang menatapnya sedikit kaget.
"Ini nomer ponselku, ingat kabari aku!" Sambung Lea tak terbantah.
"Tapi n–"
"Tidak ada tapi tapian, hanya saja firasatku menyuruhku untuk terus waspada" Erik terteguh.
"Ah sudah lah pokoknya hubungi aku jika ada masalah" Setelah itu Lea meninggalkan Erik yang sedang mengusap pelan pepilisnya bingung.
...**€**...
Pria itu memasuki mobil yang sedari tadi menunggunya di landasan pacu. "Jam berapa meetingnya?" Tanyanya yang baru saja duduk.
"Besok siang tuan" sahut wanita yang sedaritadi ikut menunggu kedatangan atasannya.
"Baiklah"
Setibanya di hotel pria itu –Brian– menjatuhkan diri di sofa kamarnya setelah membersihkan diri. Ia menatap balkon kamar yang ia tempati dengan seksama.
Pemandangan kota dimalam hari yang ramai di hiasi oleh lampu beraneka ragam warna. Entah kenapa ia sangat menunggu datangnya hari esok.
...*^*...
Para staff karyawan inti berjejer di depan pintu masuk, menyambut kedatangan tamu spesial.
"Selamat datang di Nel's Crop Mr. Rohwan"
Sambut mereka seirama dan sopan, "Mari saya antar tuan" Tanpa basa-basi brian berjalan mendahului orang itu.
Setibanya di ruang meeting, manik ember itu menatap lurus kearah seorang gadis dengan pakaian kantor sopan dan rambut setengah tergerai yang semakin membuatnya mempesona.
Gadis bermanik abu itu sedikit tersentak mendapati sosok Pria yang sangat ingin ia hindari berada satu ruangan bersama dirinya, Reva tersenyum profesional kala manik keduanya tak sengaja bertemu. Ia terlihat sangat natural menyembunyikan keterkejutannya, semakin di amati banyak pemimpin perusahaan mencari muka di hadapan pria yang kini secara terang-terangan menatapnya intens.
Marga yang melekat pada pria itu membuat pribadinya sangat tersorot. Reva membuang nafas lelah.
Pantas saja aku merasa tidak asing dengan namanya, ternyata dialah orang yang berada di puncak rantai dunia bisnis. Ucap Reva dalam hati.
Reva bangkit dan berjalan santai kedepan layar presentasi, menatap berani semua pasang mata yang menyorotnya. "Selamat siang saudara sekalian — seperti yang kalian ketahui saya akan membahas proyek rencana pembangunan———" dengan lugas ia mempresentasikan isi proyeksi tersebut.
Setiap gerak gerik Reva tak lupus dari iris Amber yang sangat memikat, sayangnya hal itu masuk belum cukup untuk memikat seorang putri tunggal Noela.
Ia terlalu larut dengan pesona milik Reva hingga tak menyadari banyak pasang mata menatap gadis incarannya sebagai santapan lezat sebelum berpesta. Brian yang baru menyadari itu mengepalkan tangannya kuat hingga pulpen yang tengah ia genggam patah, hingga menimbulkan atmosfer yang tak mengenakan.
Reva yang menyadari itu berdeham, "Mr. Rohwan, Apakah ada yang ingin ada sampaikan terkait presentasi yang saya sampaikan?" Tanyanya dengan lantang.
Masih dengan tatapan yang sama, gadis itu diam dengan bosan, Brian sangat terhibur dengan respond Reva. "Dan semua itu membuat aku tertarik, sama hal nya dengan aku tertarik dengan mu Miss Noela"
Reva bergeming begitupun anggota rapat lainnya yang begitu terkejut dengan perkataan tuan muda kaya raya itu. "Sebelumnya terima kasih atas pujian anda dan maaf sepertinya hal tersebut tidak ada kaitannya dengan rapat ini" jawab Reva dengan profesional, meski demikian dalam hati ia mengumpat kasar untuk Brian.
"Baiklah, aku akan menjadi investor utama dari proyek ini" nafas Reva tercekat, namun ia tetap memperlihatkan senyum profesionalnya.
Taktik apa yang sedang ia mainkan?. Batin Reva bertanya.
"Apakah anda bersungguh-sungguh dengan perkataan anda?" Brian menganggu.
"Ya— tapi dengan syarat"
"Syarat apa yang anda ajukan?" Brian memperlihatkan smriknya, membuat ia terlihat menawan.
"Berkencanlah denganku, Nona"
Iris abu itu menyorot Brian tak senang dengan persyaratan yang di ajukannya, begitupun dengan para anggota rapat lain yang berbisik membicarakan perkataan Brian yang begitu terang-terangan menunjukan ketertarikannya kepada Reva.
Gadis itu menghela nafas pelan, "Maaf? Apa ya—"
"Itu persyaratan yang ku berikan, dan aku menolak untuk ditolak" potong Brian menyudutkan posisi Reva yang seakan tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawarannya.
"Sepertinya anda terlalu meremehkan saya, Mr. Rohwan—" ucap Reva datar. "Apa perlu saya tekankan sekali lagi jika persyaran yang anda ajukan sama sekali tidak berkaitan dengan proyek yang sebelumnya kita bahas" sambungnya.
"Tapi menurutku itu adalah tawaran yang bagus, benarkan?" Tanya Brian yang banyak mendapatkan anggukan setuju dari anggota rapat lainnya.
"Maaf tuan, tapi saya ingin melinatkan masalah pribadi kedalam bisnis" sahut Reva dingin sedingin tatapan matanya menyorot Brian.
"Jadi kau menolak ku?"
Suasana di dalam ruang meeting semakin menegang lantaran percakapan antara 2 insan tersebut. "Astaga gadis itu menolak pria kaya"
"Dan yang ia tolak adalah tuan Brian, sungguh gadis yang aneh"
"Sepertinya dia gadis pertama yang di ajak tuan Brian bekencan, mengingat tuan Brian tidak pernah menginginkan wanita mana pun"
Reva tidak mempedulikan ocehan demi ocehan yang mengudara mengatakan keanehannya menolak seorang pria tampan nan mapan tepat dihadapannya. Karena baginya kehidupan pekerjaan dan pribadi tidak bisa di gabungkan.
"Iya saya menolak" Tegasnya.
Brian mengangguk dengan ekspresi wajah yang tidak dapat Reva artikan. Pria itu sangat kagum dengan sikap Reva yang sangat berani menolaknya didepan semua orang.
"Baiklah, aku akan menjadi investor utama kalian dan aku hanya akan menerima keuntungan 20%" Reva bergeming, binggung harus merespond seperti apa. Namun ia tetap mengucapkan terima kasih dan mengakhiri rapat dengan sebagaimana mestinya serta tak lupa menyumpah dalam hari karena pria itu sudah berani mempermainkan dirinya di tengah meeting.
Setelah itu bersalaman dengan anggota rapat lainnya, Brian mendekat dengan hati tak senang Reva menerima uluran tangan pria itu lalu ia mendekat dan berbisik. "Aku menantikan perkembangan hubungan kita, Nona"
Reva hanya tersenyum lalu dengan segera mengambil langkah seribu menuju lift. Erik dengan sigap mengejar atasannya tersebut.
"Nona Reva, tunggu"
Gadis itu menahan pintu lift untuk Erik, namun dengan cepat pribadi lain memasuki lift dan menutup pintu lift cepat. Reva melirik datar mendapati tengannya di genggam oleh pria sinting yang beberapa saat lalu mengajaknya berkencan di depan kolega bisnisnya lalu ia menghempas lengan Brian dengan kasar.
"Jangan menyentuhku"
"Apa sangat sulit untuk menerima tawaranku tadi?" Reva tidak membalas pertanyaan yang menurutnya sudah jelas jawabannya.
"Jangan mengabaikan aku!!" Reva terlihat tidak terusik dengan bentakan Brian, justru ia berani menatap tepat di iris Amber pria itu.
"Untuk apa saya menjawab jawaban yang pasti sudah anda ketahui" Lift terhenti di lantai 23, dimana ruangan Reva berada.
"Permisi"
Brian menarik masuk pergelangan tangan gadis itu sebelum benar-benar meninggalkan lift. Lalu menutup kembali lift, menekan angka menuju basement tempat parkir.
"Apa yang kau lakukan?" Ketus Reva yang tak lagi menggunakan bahasa formal, ia sangat kesal dengan tindakan yang pria itu lakukan.
"Menculikmu mungkin" sahut Brian menatap licik sorot abu Reva, membuat gadis itu mengumpat kesal dalam hati.
...*^*...
Selama di perjalanan keduanya di liputi keheningan, tak ada satupun dari kedunya berniat untuk memulai pembicaraan. Hingga mobil keluaran terbaru itu terparkir rapih di basemant gedung perumahan Reva. Kini keduanya sudah berada di depan pintu penthouse milik Reva, "Penguntit" cerca Reva seakan tak lagi terkejut dengan aksi Brian.
Brian tidak menjawab, ia menggendong Reva ala bridal style karena gadis itu tidak ingin masuk bersama dengannya. "Turunkan!!!!" Ronta Reva di dalam gendongan Brian. Pria itu menurunkan Reva di sofa empuk ruang tamu.
Iris abu miliknya kini bertemu langsung iris amber milik Brian, ia menyorot pria itu tak senang serta amarah yang mulai memuncak. Bukannya tersinggung, pria itu justru bertanya hal aneh.
"Apa kau seorang Alexithymia?"
...**€**...
Alexithymia adalah gangguan psikologis yang dicirikan dengan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan secara verbal emosi dan perasaan yang dialami di dalam dirinya seperti orang lain.