
{ Apa aku pantas di cintai?}
–Reva–
Author POV
Sepulangnya dari kantor pria itu langsung melesat mencari keberadaan gadis yang akhir-akhir ini mengisi hatinya.
"Dear... kamu dimana" Panggil brian untuk kesekian kalinya lalu melihat sekeliling kamar yang mereka berdua tempati.
Ya, selama ini mereka sering tidur seranjang tapi tidak sekalipun melewati batas.
"Nyari apa sih huh?"
Brian mengalihkan pandangannya dan mendapati reva baru memasuki kamar dengan tatapan malas miliknya.
"Kamu dari mana saja? Aku merindukanmu, dear" Kata brian yang sudah menggendong gadis itu di tepi ranjang lalu memeluknya dan membenamkan wajah di sela dadanya.
Reva menautkan alis heran, "Bukannya kamu masih ngambek? Lalu kenapa manja lagi hm?" Tanya gadis itu yang kini mengelus rambut brian pelan.
Ia mengangkat kepala, iris mata mereka bertemu, "Aku mencintaimu"
*^*
Reva's POV
"Dear... kamu dimana?"
Suara brian? Cepet banget pulangnya, aku keluar dari dapur dan mendapati pria itu menaiki tangga.
Sia-sia kamu nyari aku di kamar kalo akunya ada di dapur, punya cowok kok bego sih? Heran aku tuh.
"Dear.. kamu dimana?"
"Nyari apa sih huh?" Tanya ku sedikit kesal.
Bisa ku lihat tatapan berbinarnya saat melihatku, ia mendekat kearahku aku sempat terpekik saat ia tiba-tiba mengangkatku ke tepi ranjang lalu memeluk dan membenamkan wajahnya di sela-sela dadaku heh?
Emang cowo, kalo nyari pasti ada maunya. Cuih. Bilangnya rindu, paling cuma pengen di manjain doang.
Dengan malas aku membalas perkataannya, "Bukannya kamu masih ngambek? Lalu kenapa manja lagi hm?" Tanya ku yang kini mengelus rambut laki-laki itu pelan dan sayang.
Sayang? Hmm mungkin aku sudah mulai membuka hati untuknya.
Saat ia mengangkat kepalanya, iris amber itu bertemuu dengan iris abu milikku, dan ia mengatakan sesuatu yang membuat hatiku berdenyut sakit.
"Aku mencintaimu"
Aku hanya mampu tersenyum simpul menanggapinya, dan memeluknya erat.
Kata yang begitu sakral bagiku, ia ungkapkan dengan penuh hati. Apa yang harus aku lakukan sekarang?Ini akan semakin menyakitkan jika ia mencintaiku.
Tuhan.. apa yang harus aku lakukan? Pria ini terlalu baik untuk tersakiti.
Ku lepas pelukanku lalu menyuruhnya untuk membersihkan diri, setelah itu aku pergi ke taman belakang mansion miliknya.
Aku ingin menenangkan pikiranku sejenak. Mungkin aku memang membuka hati untuknya tapi bukan bearti aku mampu membalas cintanya.
Seharusnya waktu itu aku tidak ceroboh mengiyakan segala perkataannya dan berakhir ia jatuh cinta padaku.
Cinta? Haha apa aku pantas untuk dicintai? Bahkan pria yang dulunya berkata mencintaiku pernah memandang rendah aku layaknya wanita murahan bahkan dengan bodohnya ia mempercayai wanita yang pada dasarnya menjebakku.
Lalu sekarang apa? Aku tidak mampu berkata-kata lagi. Brian, pria itu.
Aku bahkan sempat mengigil mendapati sorot ketulusan yang terpancar dari binar matanya.
Reva.. kokohkan pertahananmu sekarang. Ya, benar aku harus mengokohkan dinding hatiku sedikit kikisan bukanlah masalah besar bukan?
*^*
Brian's POV
Sejak pernyaaan cintaku malam itu, reva terlihat sering tersenyum meski sifatnya yang suka mengabaikanku tidak bisa ia hilangkan. Setidaknya aku menyukai senyumnya.
Apa aku sering-sering saja menyatakan cinta padanya? Hal yang wajar bukan menyatakan cinta pada pasangan sendiri.
"Besok malam aku akan kembali ke sweden" Ia memberitahuku dengan santai, tidak taukah disini aku merasa kehilangan?
"Tinggallah lebih lama, aku ingin terus bersamamu" ia meletakan garpunya lalu menatapku kesal.
"Aku sudah terlalu lama tinggal, brian. Kasihan erik dan mr.han yang mengurus kantorku" Ucapnya sambil memijat pelan pelipisnya.
"Baru juga 5hari" tanpa rasa bersalah aku mengatakan itu dan langsung mendapat tatapan tajam darinya, "Brian sayang, 5 hari bukanlah waktu yang singkat kau tau?"
Setelah perkataan reva waktu malam malam tadi, kini suasana kamar sangat hening. Di antara aku maupun reva tidak ada yang mau buka suara.
Terlebih saat aku membuka kaos dan memperlihatkan perut kotak-kotakku, ia terlihat biasa-biasa saja. Padahal aku ingin di perhatikan, huhuhuhu.
Aku tidak suka suasana canggung dan di abaikan seperti ini. Bahkan pelukanku saja ia abaikan, apa dia marah padaku? Apa aku salah bicara? Aku tidak mengerti perempuan.
"Rere" panggilku sayang. Saat ia menaiki ranjang dengan posisi tertidur.
"Hm" Sahutnya lalu berbalik membelakangiku yang masih terduduk di sofa.
Ku menghela nafas gusar, dan mendekatinya. Kusibak rambut panjangnya lalu kucium mesra leher jenjang miliknya. "Brian berhenti aku ingin tidur"
Aku menuruti apa yang ia katakan, takut gadis itu akan semakin marah padaku. Tapi setidaknya ia membalas pelukanku, ini membuatku sedikitt tenang dan membuatku tidur dengan nyaman.
**€**
Author POV
"Hari ini kita akan keliling Los Angeles sayang!!" Suara berat milik brian menggema hingga ujung mansion.
Membuat Anne—kepala pelayan mansion— yang sedang menghidangkan teh untuk reva tersentak karena suara milik tuan mudanya itu.
"Tidak! Lebih baik kau bekerja saja!" Tolak reva mentah-mentah. Tapi bukan brian namanya jika tidak bisa membujuk reva dengan tingkah manja khas anak-anak hingga gadis itu muak.
"Sayangku, cintaku, ayo kita jalan. Malam ini kamu akan kembali ke sweden, bukannya akan lebih baik jika kamu melihat sekeliling dulu lalu pergi?" Bujuk brian tanpa jeda membuat reva jenggah dan terpaksa mengiayakan ajakan pria itu.
Bibi Anne yang sedari tadi mngamati tingkah laku tuan mudanya hanya bisa tersenyum dan bersyukur karena dapat melihat keceriaan tuan mudanya yang sudah lama tidak ia perlihatkan.
*^*
"Aku kira kita akan keliling kota, lalu kenapa kesini?" Desis reva kesal melihat sekitar.
"Tapi kita udah jauh-jauh ke sini, masa mau pulang sih?"
Reva meringis mendapati wajah sedih brian, "Aku gak bilang mau pulang tuh"
"Yaudah ayok, aku mau beli bikini dulu" brian mencengkal lengan reva membuat gadis ittu mundurr beberapa langkah.
"Kenapa sih?" Tanya gadis itu bingung.
"Jangan pake bikini, aku gak suka banyak yang lihat badan kamu. Cukup aku aja" terang brian dengan wajah tanpa dosa.
"Orangkan punya mata bambank" brian menautkan alisnya cemburu.
"Sayang aku brian, lalu bambank itu siapa?"
Reva terlalu malas berdebat dengan brian yang kini sudang dalam mode kanak-kanaknya.
Ia dengan cepat melesat kesalah satu toko di dekat sana dan membeli 1 set bikini, handuk, alas untuk tidur, beberapa minuman dingin dan krim tabir surya.
Brian mendengus melihat penampilan reva yang begitu menggoda, "Jangan melamun sayang" brian menggeram tatkala mendengar suara reva yang begitu sexy di telinganya.
"Berhentilah menjailiku!" Cibirnya kesal, tapi berjalan sambil memeluk pinggang ramping reva.
Brian mengampar alas untuk mereka berbaring lalu memasang payung sewaan yang cukup untuk menghindari sinar matahari langsung mengingat hari masih siang.
Reva membaringkan diri dengan posisi tengkurap lalu menyuruh brian memakaikan krim tabir surya di punggungnya.
Dengan senang hati ia lakukan, setelah itu ia membaringkan diri di samping gadisnya yang cantik. Banyak pasang mata yang terpergok menatap reva penuh minat oleh brian.
Membuat pria itu menggeram kesal, namun sebuah tangan mengusap lengannya lembut, "Ada apa?" Hati pria itu menghangat saat melihat senyum yang reva tunjukan untuknya.
"Kenapa gadis seusiamu mampu mengikat banyak pria huh?" Pancing brian.
"Entahlah" acuhnya.
Pria itu mendengus melihat sifat acuh gadis itu, "Dear, apa kau melupakan sesuatu?"
Reva terlihat berpikir sejenak lalu menggeleng. Brian memutar bola matanya malas.
"Kau lupa membalas pernyataan cintaku, sweetheart" Lalu mengecup singkat bibir reva.
"I love you re"
**€**€**€**
F.Y.I: Updated di usahakan setiap Minggu dan Senin. Minimal 1 episode sekali Up, kalo langsung 2 itu gak jauh beda sama sekali Up dalam 2hari.
Sekian dan Terima kasih😘😘😘😘