
{ Maaf karena aku tak mencarimu, sungguh aku menyesalinya. Dan aku sangat merindukanmu }
–Aleana–
[ I Miss You ]
Reva's POV
Untuk kesekian kalinya aku mendesah lelah menatap tumpukan dokumen di atas meja kerjaku. "Si tua itu ingin aku mati muda rupanya" hardik ku untuk kakek Arta teercinta.
"Astaga!!"
Aku mengacak rambutku kesal, bagaimana pun aku hanyalah gadis berusia 18 tahun. Di umurku yang terbilang muda seharusnya hangout bersama teman-teman, berkencan, sekolah ya meski aku sudah sarjana. Tapi bukan berarti aku harus mengerjakan pekerjaan yang membosankan ini.
"Astaga, seharusnya dulu aku tidak mengambil jurusan bisnis. Sungguh, aku menyesal!!" Teriakku kesal.
"Sudahlah, ini telah terjadi nikmati saja" Suara ini. Aku menegakkan tubuhku, dan mendapati seseorang yang sangat aku kenali.
"Lea!"
Bisa aku rasakan tubuh Lea terhuyung ke belakang sesaat aku menabraknya kedalam pelukanku. "Aku merindukanmu"
Aleana Kristofer, Sahabat karipku semasa SMA dulu hingga sekarang. Lea terkekeh, "Hei bukankah sekarang kau seorang CEO? Jangan manja hahaha" Aku merenggangkan pelukan lalu menatapnya tajam.
"Hahaha, aku juga merindukanmu Re" ucapnya lalu kembali memelukku erat.
"Bagaimana kau tau aku disini?" Tanyaku setelah puas melepas rindu seraya menggiringnya untuk duduk di sofa.
"Kakekmu yang mengirimku ke sini"
Apa dia sedang mempermain ku?. Tidak mungkin kakekku mau mengirimnya kemari.
Seolah mengerti tatapanku ia kembali melanjutkan perkataannya, "Aku berkata yang sebenarnya, Lucas mendatangi rumahku atas nama kakekmu dan mengatakan bahwa aku akan segera menemuimu setelah 1 bulan kau lenyap tak berkabar. Tentu saja aku sangat senang dengan hal itu"
"Benarkah?" Tanyaku memastikan.
Lea nampak mengangguk pasti.
"Benar aku bahkan sempat terkejut mengetahui kau menjabat sebagai ceo saat aku bertanya di repsesionis tadi" Aku hanya bisa menghela nafas.
Lea, gadis itu nampak sehat dan baik-baik saja. Dan aku berharap 'dia' juga baik-baik saja seperti lea.
"Setidaknya kau selamat sampai disini" kataku sambil menyenderkan kepala di bahunya.
"Hei hei, apa kau tau banyak karyawan yang membicarakan mu" Aku hanya mendelik bahu tak peduli, melihat hal itu lea mengcubit pinggangku keras.
"Aww!! Kau tau itu menyakitkan!"
"Yayaya, andai para pegawaimu tau jika kau bukanlah gadis acuh, dingin dan tak berperasaan seperti yang mereka lihat, melainkan hanya seorang gadis manja yang suka bermalas-malasan pasti mereka akan menatapmu dengan pandangan yang berbeda"
"Begini-begini juga aku mampu menaikan harga sahamku setelah di ambang kebangkrutan kau tau" Gadis itu hanya tertawa lalu menatapku dengan sorot rindu.
"Aku sangat rindu berdebat denganmu" aku terkekeh. "Me too"
*^*
Kami telah memasuki penthouse milikku, lea tampak terpukau dengan pemandangan yang ia saksikan lewat jendela kaca yang menampilkan kota stockholm pada malam hari.
"Kau tinggal sendiri disini?"
Aku menganggukan kepala tanda mengiyakan. Namun ia segera berhenti mengagumi sekeliling dan menatapku perih. Ada apa lagi ini?.
"Apa kau tidak kesepian?"
Aku merasa tertohok dengan pertanyaan itu namun segera ku tepis dan menatap lea dengan senyuman.
"Aku jarang di rumah Lea. Sebagian waktu aku habiskan di kantor, dan disini hanya tempatku untuk istirahat. Kadang hanya ada pelayan yang datang membersihkan tempat ini"
Aku menjelaskan dengan perlahan agar lea mengerti. Terkadang sifat Lea yang mudah bersimpati dan moodly membuat dia terlihat seperti anak-anak di bandingkan aku yang notabenya lebih muda 1 tahun darinya.
Lea menatapku dengan pandangan yang tidak bisa ku artikan maksudnya, "Aku tau kau sakit, maafkan aku yang tidak bisa menemanimu dihari itu"
Nafasku tertahan, tapi aku tetap memaksakan senyum agar lea tidak cemas,
"Lea" panggilku pelan.
"Besok aku akan ke los angeles" Lea bangkit dan menatap ku sengit.
Aku tersenyum tipis, setidaknya aku masih bisa mengalihkan pembicaraan.
"Apa kau berniat meninggalkanku?" Aku menyenderkan tubuh di sofa.
"Aku berniat mengajakmu" sahutku tak minat. Gadis itu terlihat kikuk mengetahui ia salah paham terhadapku. Huh dasar.
Aku bangkit dan menatap lea yang terlihat letih selepas pejalanan dari indonesia, "Istirahatlah besok akan menjadi perjalanan yang panjang, terlebih kau masih jetlag"
Gadis itu mengangguk dan memasuki kamar yang sebelumnya sudah aku tunjukan. Setelah itu aku mandi untuk sekedar menghilangkan rasa gerah, selesai itu aku menghempaskan diri ke kig bed empuk milikku.
"Ini sangat nyaman" Lalu aku menarik selimut sampai dada, lalu meringkuk didalam selimut. Hingga alam mimpi menjemputku.
End POV
**€**
Suara ketukan dari luar pintu bergem di seluruh penjuru ruangan yang di dominasi warna coklat kayu.
"Masuk!"
"Tuan ini salinan berkas lengkap Nona muda Noela yang anda pinta" Brian mengangguk dan menyuruh jack minggalkannya.
Setelah memastikan Jack keluar ia segera keluar dari ruang kerja pribadinya tidak lupa membawa setumpuk berkas yang tadi Jack bawa ke dalam kamarnya di mansion.
Dia menghempaskan diri di sofa kamarnya lalu membaca dengan seksama riwayat hidup gadis marga Noela itu. Brian membuka lembaran demi lembaran hingga matanya tertuju oleh sebuah foto.
Amarahnya tersulut ketika ia menyentuh foto tersebut. Guratan-guratan emosi terlihat jelas di wajah tampannya.
"Sangat menarik."
**€**
Reva menyibakan selimut yang membungkus tubuh lea. "Wake up lazy girl" teriak Reva melengking tepat di telinga gadis yang masih memeluk guling malas.
Gadis itu berdecak tak suka tidurnya di usik. "Cepat mandi dan ganti baju, kita akan segera ke bandara" Lea membelakan mata, rasa kantuknya tiba-tiba saja menghilang.
"Untuk apa? Kau ingin memulangkanku?" Reva mengerutkan dahinya bingung.
"Apa kau lupa jika hari ini kita akan ke L.A?" Lea nampak menunduk malu, "Cepatlah kita tak punya banyak waktu, pakai saja santai agar kau bisa tidur dengan nyaman di pesawat"
Gadis itu mengangguk menuruti apa yang di perintahkan, sedangkan reva yang sudah siap pergi hanya bisa menunggu lea selesai bersiap-siap di sofa ruang tamu. Merasa ada yang tertinggal reva bangkit menuju kamarnya, dan benar saja ia hampir meninggalkan ponsel, dompet beserta passport miliknya.
"Untung aja inget"
Ia melenggang keluar kamar dan mendapati lea yang menegak segelas susu stroberi yang memang telah ia siapkan. Namun pandangan Reva jatuh tepat di pakaian yang di gunakan Lea.
"Rere!" Panggil lea setelah menyadari keberadaan reva.
"Apa ada yang salah?" Tanya gadis berambut sebahu itu, sambil melihat tampilannya.
"Kau memakai b–"
"Ahh ini? Aku kira apa" Lea terkekeh. "Aku sengaja menggunakan pakaian sama agar terlihat couple" riangnya
"Yasudah.. ayo" ajak reva dan di ikuti lea dari belakang.
*^*
Mobil yang mereka tumpangi telah tiba di bandara –lebih tepatnya landasan penerbangan.
"Re, pake jaket dulu "
Jiwook membuka pintu untuk para nona muda yang ada di dalam limusin.
"Selamat datang Nona muda Noela" Reva hanya berlalu mengacuhkan sambutan dari pramugari dan langsung mendudukan diri di single chair dekat jendela. Lea menghela nafas melihat kelakuan temannya yang satu itu dan ikut duduk di single chair berhadapan dengan reva.
Seorang pramugari menghampiri kursi Reva. "Nona, perjalanan kali ini akan memakan waktu 14jam 15menit"
Reva hanya mendengarkan tanpa menyahuti perkataan dari wanita tersebut ia lebih memilih menutup matanya. Pramugari itu hanya memberikan senyum maklum, dan pergi meninggalkan mereka berddua setelh pamit undur diri.
"Rere" Sang empun nama hanya berdeham, enggan mengalihkan pandangan dari jendela luar.
"Kau masih sama" bisiknya. Hanya saja kau tidak terlihat bahagia– sambung lea dalam hati.
"Tidak" Lea sedikit tersentak ia tidak mengira jika reva dapat mendengar ucapannya. Reva menoleh menatap manik coklat lea,
"Aku tidak lagi sama, Lea"
Nafas lea tertahan. Sorot mata itu, apa yang telah terjadi padamu sebenarnya. Tanya Lea dalam pikirannya.
**€**
"Nona Reva telah sampai di los angeles bersama Nona Lea" Lapornya
"Baiklah, terus pantau pergerakan mereka" Lucas langsung mematikan sambungan telepon sepihak.
Lucas berjalan mendekati kursi taman yang di tempati oleh tuannya. "Tuan, nona muda telah sampai tujuan dengan selamat dengan temannya"
Arta menyeruput secangkir teh gingseng dan menatap senang taman yang ada di depannya.
"Temannya?"
"Ya tuan, teman nona muda yang anda kirim untuk menemaninya selama disana"
"Ahh gadis itu, baiklah. Terus awasi mereka, hingga cucuku bertemu dengan- Nya" Arta tersenyum entah apa arti dari senyuman itu.
"Baik tuan" lucas pamit undur diri.
Meninggalkan arta yang di temani oleh kenangan yang terus berputar di dalam otaknya.
**€**