I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
8. Paket



{ Aku bukan barang yang bisa di akui dengan mudah }


–Reva–





Reva's POV




"Apa kau mengidap Alexithymia?"



Ingin sekali aku tertawa di depan wajah menyebalkannya itu. Alexithymia? Yang benar saja. Bagaimana bisa dia berasumsi aku pengidap penyakit semacam itu.



Aku menatapnya remeh, "Menurutmu bagaimana?"



"Kau bahkan tidak bisa menjawab pertanyaanku" Sarkasku. Bisa ku lihat ia sedikit terusik dengan perkataanku.



"Dan tuan, bagaimana kau menggetahui kata sandi rumahku" Pria itu menatapku tajam. "Apa kau penguntit?" Tanyaku memancing amarahnya.



"Ah atau kau se–mhpppp!!!"



Ia membungkam bibirku dengan bibirnya! Aku mencoba mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga, bukannya menjauh ia malah semakin memperdalam ciumannya.



Aku ingin menangis saat ini juga! Ia memaksa aku untuk membalas ciuman menuntut darinya, membuatku sedikit meringis saat dia mengigit bibir bawahku.



"Kau sangat manis" ucap pria itu setelah melepas tautannya dari bibirku.



Aku menghirup oksigen sebanyak yabg aku bisa. Dia bajingan berani-beraninya ia menciumku!



Plak



Aku menampar wajahnya keras hingga wajahnya tertoleh kearah samping. "Keluar"



Mata ambernya menatapku marah, "Apa yang kau lakukan hah" desisnya mencoba menciutkan nyaliku. Sayangnya itu tidak berhasil.



"I said, GET OUT Mr. Rohwan"



Pria itu bangkit berjalan menuju pintu keluar, aku memandang punggung lebarnya penuh amarah.



Brak!



"Kurang ajar" umpatku setelah ia membanting pintu penthouse ku.




**€**




Brian POV




Perkataan sarkas darinya tidaklah mempan untukku, bukannya terlihat seram justru ia terlihat menggemaskan.



"Dan tuan, bagaimana kau menggetahui kata sandi rumahku" Aku manatapnya tajam dan sedikit meremehkan.



"Apa kau penguntit?" Tanyanya. Baiklah aku akui jika mengorek informasi pribadinya, tapi penguntit? Haha yang benar saja.



Dan lagi, baru kali ini aku melihatnya berbicara bayak. Lalu bibir raumnya, apa dia sedang menggodaku?



"Ah atau kau se–mhpppp!"



Aku tidak tahan lagi, ia berhasil meruntuhkan pertahananku. Aku melumat bibirnya kasar, gadis itu tengah merontan dari pelukanku.



Ia mendorong dadaku menjauh membuatku menarik pinggangnya mendekat dan memperdalam ciumannya.



Aku menuntutnya untuk membalasku dengan mengigit bibir raumnya. Aku melepas tautan bibir kami.



"Kau sangat manis"



Ahh dia sangat rakus menghirup oksigen. Aku melirik kembali bibir raumnnya yang tadi sempat ku gigit senyuman kecil terbit dari sudut bibirku.



Sial! Aku merasakan panas yang menjalar di pipi kiriku. Reva, gadis itu menamparku, "Keluar"



Aku menatapnya marah, "Apa yang kau lakukan hah?" Aku berdesis tajam, bukannya takut ia justru berani menatap mataku.



"I said, GET OUT Mr. Rohwan"



Aku agak tersentak, hanya karena menciumnya ia mengusirku? Baiklah jika itu maunya.



Aku bangkit dan keluar dari penthouse, ohh sebelum itu aku sempat membanting pintunya.



5detik..


10detik..



Aku berbalik mentap pintu yang beberapa saat lalu ku banting. Lalu melenggangkan kaki keluar dari gedung ini.




**€**




Author POV




Reva membasuh wajahnya dan mengosong giginya berkali-kali. Entah sudah yang ke berapa kalinya.



Lea yang baru saja tiba dari super market menatap reva bingung. "Rere?"



Gadis bersurai gelap itu menghampiri reva yang baru saja merebahkan diri ke sofa. "Sudah pulang? Baru juga jam 3, tumben"



Reva mendengus mengabaikan pertanyaan lea yang kepo. Ia menyenderkan kepalanya di bahu sofa, sebesit gambaran tentang adegan beberapa waktu lalu terulang di benahnya.



Iris abu itu membuat dengan sempurna lalu menampar wajahnya keras. Lea yang ada di sampingnya tebelak kaget dengan sikap sahabatnya yang tiba-tiba.



"Hei hei!! Kamu kenapa??"



"Reva! Sadar!!" Teriak lea.



Lea mengerutkan dahinya penasaran, lalu menyentuh bibir bawah reva yang sedikit bengkak? Reva menepis tangan lea cepat. "Rere? Wajahmu sangat merah, apa kau sakit?"




*^*




"Nona"



"Nona reva" Gadis itu tersentak dari lamunannya dan menatap erik bertanya.



"Nona apa kau baik-baik saja?" Tanya erik sedikit khawatir, terlebih wajah cantik atasannya itu kini terlihat agak pucat.



"Ya aku baik-baik saja" Ucap reva lalu pandangannya jatuh kepada sebuah kotak di atas meja dekat sofa di ruangannya.



"Apa itu?"



"Kata respesionis, ada kiriman paket untuk anda. Itu alasan saya datang kemari"



"Dari siapa?" Tanya reva yang kini sudah mendudukan diri di sofa.



Erik nampak bimbang untuk memberitahu, "Kenapa diam?" Tanya reva sambil memandang wajah bimbang erik.



"Emm, kurir tidak memberitahukannya nona. Maaf" Gadis itu menghela nafas lalu menyuruh erik melanjutkan pekerjaannya.



Iris abu itu menatap penasaran kotak sedang berwarna merah hati yang kini ada di pangkuannya.



"Bunga?"



"Ehh ada parfum di bawahnya"



Reva mengambil sebuah kartu yang bergantung di tutup parfumnya. Gadis itu berdecak tak suka saat mengetahui pengirim paket tersebut.



"Erik!!!"



Pria berkulit putih itu masuk ke dalam ruangan reva dengan tergesah-gesah. "Ada apa nona?"




"Tapi nona.. siapa?" Tanya erik sedikit memelas.



"Brian"



"Maaf?" Gadis itu menoleh.



"Brian Arlando Rohwan"



"Ba–"



Tring...


Tring...



"Hallo?" Sapa reva mengawali panggilan.



"Miss me?" Gadis itu tersentak mengenali suara penelepon.



"Kau?!" Teriak reva marah. Suara kekehan terdengar jelas di pendengarannya dari seberang sana.



"Ah ternyata kau mengenali suaraku, apa kau sudah menerima paketnya?"



"Aku akan mengem-"



"Bagus jika sudah kau terima. Ah I almost forgot, i miss your lips" Setelah mengatakan itu brian menutup sambungan telepon.



"Hallo?"


"Hei!!!"



Gadis itu membuang nafas kasar lalu pandangannya jatuh pada kotak di depannya. "Apa jadwalku hari ini"



"Eh? Ah hari ini anda ada makan malam bersama dengan karyawan kantor" Ucap erik sedikit terbata-bata.



Ia terlalu terpaku dengan emosi yang di tunjukan oleh atasannya, ini pertama kalinya reva menunjukan emosi meluap-luap. 'Tuan Rohwan benar-benar bukan orang biasa'. Erik membatin dalam diam.



"Kapan?" Tanya reva yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya.



"Sepulang kantor nanti nona" gadis itu nampak berpikir hingga akhirnya menyuruh erik kelur dari ruangannya.



Ia merenggangkan tubuhnya, "Ajak lea" ucapnya sambil tersenyum kecil.




*^*




Sedari tadi gadis bersurai gelap itu nampak gelisah, lantaran terjebak makan malam bersama karyawan sahabatnya yang tidak ia kenal sama sekali.



Lea menyenggol lengan reva pelan, namun hanya di balas dehaman semata. "Rere kenapa kamu mengajakku kesini huh?" Tanya lea setengah berbisik menggunakan bahasa indonesia.



"Jika aku mabuk kau bisa mengantarku pulang dengan selamat" sahut reva acuh.



"Hei kalian semua!" Teriak reva pada karyawan yang bekerja di bawah kendalinya langsung.



Mereka tersentak kaget, "Kalian harus makan dengan baik, agar kerja kalian maksimal. Paham?!"



Bukan hanya karyawan itu yang melonggo, lea yang ada di samping reva pun ikut melonggo mendapati sahabatnya yang mulai mabuk.



"Aish!!"



Kini mereka sedang berada di salah satu rumah makan yang sering di kunjungi oleh karyawan kantor, untuk pertama kalinya reva sebagai atasan ikut bergabung dalam acara makan malam kali ini.



Banyak dari mereka yang canggung dan sebagian ada yang ikut senang karena atasan mereka yang terkenal jarang berbaur, kini ikut makan malam bersama mereka meski hanya di restoran sederhana.



Bisa di lihat jika reva sangat menikmati makan malamnya, gadis itu bahkan hampir di kendalikan oleh alkohol.



"Astaga!! Rere!!" Pekik lea tidak tahan.



Harusnya tadi ia menahan reva untuk minum, ia baru ingat jika gadis bersurai pirang ini hanya mampu menampung 2gelas alkohol itu pun bukan mengunakan gelas biasa.



"Kenapa kalian tidak menahan dia minum sampai sebanyak ini?" Tanya lea frusatasi mendapati reva meminum 6 gelas alkohol menggunakan gelasa biasa.



Baru saja ia tinggal untuk ke kamar mandi sebentar dan keadaan sudah sangat kacau. "Maaf nona, tapi kami tidak berani menahan nona reva" ungkap karyawati itu merasa bersalah, begitupun yang lainnya.



Lea menghela nafas lelah. "It's okay, ini semua bukan murni kesalahan kalian" Ucap lea yang merasa tidak enak hati.



"Huhuhu... aku tidak suka padanya!"



"Aku bukan milikmu... huhu"



Lea menepuk punggung reva pelan, "Sudah... sudah aku disini" Reva menoleh, lalu memeluk lea erat.



"Lea, I want to go home" racau reva.



"Biar saya antar, nona" Ucap erik menawarkan diri, lalu bangkit menujk parkiran.



"Kalian sebaiknya juga pulang.. ini sudah terlalu larut" Suruh lea pada semua bawahan sahabatnya itu, lalu erik datang dan ikut membantu lea membopong tubuh ramping lea.



"Hei tuan, bisa kau katakan padaku apa yang telah terjadi dengan gadis ini" Tanya lea sedikit sinis, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju penthouse.



Erik tidak langsung menjawab, ia hanya fokus mengemudi. Perilakunya membuat lea kesal. "Hei! Aku bertanya"



"Aa.. berhenti mencium ku bajingan!"



Hening.



Lea yang ada di kursi penumpang menatap menyalang di kaca dashboard yang menampakan iris gelap erik.



"Apa yang kau lakukan padanya hah!!"



Errik nampak salah tingkah, bukan karena ia takut melainkan ia bingung harus menjawab apa.



"Apa kau bisu!"



"Saya tidak tau apa-apa nona, sungguh" ucap erik sedikit gugup.



Sesampainya di penthouse erik harus mengenyampingkan niatnya untuk kembali kerumah dengan cepat, saat ini keadaan sangat tidak mendukung dirinya.



Gadis berambut sebahu itu kini menatap tajam pria bermanik gelap di hadapannya, tidak ada meja pembatas atau semacamnya.



Menurut lea akan lebih mudah mencekik tanpa ada pembatas apapun.



"Biacaralah" Ucap lea mencoba tenang.



Erik menghela nafas dan mulai berbicara, "Petang tadi nona reva mendapatkan kiriman dari.." ia menundukan kepalanya, rasa ragu menyelimutinya.



Berbeda dengan lea yang semakin menjadi, "siapa?" Laki-laki itu menatap berani lea, "Tuan Rohwan"



Lea bergeming, 'Apa mungkin?' Ucapnya dalam hati.



"Maksudmu.. dia.."




*^*




"Tuan, dia sudah bertindak" Lapor seseorang dari ujung telepon.



"Bagus. Tetap awasi mereka"



"Baik tuan"



Arta menutup sambungan teleponnya, lalu kembali menatap pemandangan kota dari jendela besar.



"Suatu hari ini kau akan berterima kasih padaku"



Ia memejamkan mata sambil menyenderkan bahu di kursi kerjanya.




**€**