
{ Jika di umpamakan kamu itu seperti pecahan puzzel yang rumit }
–Brian–
Author POV
"Aku menginginkanmu"
Iris abu itu menatap santai berbeda dengan brian yang terlihat serius, "Tidak denganku"
"Berhentilah mencengkal lenganku, aku ingin pulang. Pacarku sedang menungguku" Kata reva malas.
"Pacar?" Brian tertawa sumbang lalu menarik reva mendekat.
"Kau tidak memilikinya"
Reva berdecih dan mendorong tubuh brian meenjauh. "Dengar ya. Aku sudah punya pacar dan saat ini dia sedang menungguku dirumah. Permisi"
Setelah itu reva pergi meninggalkan brian, kali ini pria bertubuh tegap itu tidak mencengkalnya. Ia hanya menatap punggung gadis itu dengan sorot aneh dan tak terbaca.
*^*
"I'm home"
"Dari mana saja huh??" Tanya lea yang menyilangkan tangan di dada.
Gadis berkuncir satu itu menghela nafas, "Dari super marketlah" dan berlalu begitu saja melewati lea.
"Kamu sadar gak sih ini sudah larut banget"
"Kan aku jalan kaki" sahut reva tak mau kalah setelah meletakan belanjaannya di tempat sebagaimana mestinya.
Reva mendekati lea, "Udah malem gue mau tidur"
Lea tersentak mendengar ucapan reva, 'Lo-gue? Ada yang gak beres' ucap lea membantin lalu menatap punggung reva yang menghilang di balik pintu.
Reva membuka sweaternya kasar dan hanya menyisakan tantop di tubuhnya, ia membasuh wajahnya kasar. Dan berjalan mendekati king bed, lalu menghempaskan diri disana.
Pikirnya menerawang akan kejadian di taman tadi, di mana ia terbuai oleh pelukan hangat dari brian. Manik ambernya yang terang membuatnya merasa hangat.
Reva menutup wajahnya yang mulai memerah dengan kedua tangannya.
Kamarnya sangat hening membuatnya semakin malu di kala ia mampu mendengar detak jantungnya yang sangat keras tanpa menggunakan alat bantu apapun. "Sialan" umpatnya kasar.
*^*
Siang ini reva di tinggal sendirian di penthouse, karena lea dan mr.han memiliki urusan mereka masing-masing.
Jika mr.han sedang berkunjung ke restoran cabang sweden yang di kelola mamahnya seperti yang gadis itu pinta berbeda dengan lea yang sedang shopping di mall.
Awalnya lea mengajak reva tapi karena gadis itu sangat keras kepala dan ingin menikmati hari libur di rumah sambil nonton drakor yang sudah di downloadnya, jadi ia menyerah dan pergi sendiri.
Ya, mungkin dengan beberapa bodyguard yang reva kirimkan untuknya.
Kini reva dengan santainya memakan cemilan sambil berbaring yang hanya menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek tidak lupa rambutnya di cepol tinggi. Dia nampak seperti gadis rumahan biasa.
Suara pintu terbuka tanda seseorang memasuki rumah tanpa perlu menengok gadis itu menyapa, "Cepat sekali kau pulang, apa bawa oleh-oleh buatku?" Tanya reva.
Gadis itu mendengus karena tidak mendapat jawaban dari sahabatnya, lalu mempause drama yang tengah ia tonton di tv.
Ia terduduk lalu menoleh kebelakang, "Lea tidakkah kau mend–" gadis itu tercekat tidak mampu melanjutkan perkataannya.
"Hello dear"
"What are you doing in my house, jerk" Sarkas reva dengan tatapan tajam yang menghiasi iris abunya.
Brian tidak langsung menjawab, ia lebih mendekat kearah reva dan duduk di single sofa dekatnya.
Ia melihat sekeliling mencari keberadaan seseorang, "Dimana pacarmu?" Reva dapat melihat dengan jelas jika laki-laki itu sedang menyeringai.
Iris abu itu menatapnya malas lalu memplay tv yang menayangkan drama korea, tanpa memperdulikan kebedraan brian di dekatnya. Gadis itu bahkan mengambil snaknya dan berbaring seperti posisi awal.
Brian tak suka di abaikan begitu saja terlebih oleh gadis yang lebih muda 5tahun darinya itu. "Hei aku bert-"
Reva berteriak saat melihat adegan yang memperlihatkan visual aktor favoritenya dan tanpa di sengaja ia memotong ucapan brian, membuat laki-laki itu tambah kesal.
"Hei! Jangan ab-"
Lagi-lagi reva terpekik memotong perkataan brian sambil meracau tidak jelas, "Omo!! Oppa nado saranghae"
"Aa boyfriend materialku!" Pekiknya lagi, melupakan keberadaan brian yang kini di liputi amarah.
Brian merebut remote tv dari gadis itu lalu mematikannya. "Heii!! Kembalikan pacarku!" Teriak reva marah.
Gadis itu tidak peduli lagi tentang image acuh dan dingin yang melekat pada dirinya. Ia paling tidak suka hari liburnya di ganggu oleh orang yang ia anggap tidak penting seperti brian.
"Apa kau tidak mendengarnya?" Pria itu menoleh, "Kembalikan remotenya!!"
Reva mengambil alih remote sesaat brian lengah lalu menyalakan tv. Brian tertegu dengan pemandangan yang ia lihat saat ini, gadis itu tengah tersenyum meski dia bukan alasannya tersenyum entah kenapa ia ingin menjadi alasan gadis itu tersenyum.
Brian menghela nafas, 'Sesulit ini kah untuk menghukummu?' Tanya brian membatin.
Reva meredakan tawanya saat drama yang ia tonton selesai yang artinya ia harus menunggu minggu depan untuk menonton episode selanjutnya.
Ia menghela nafas lega, Sedetik kemudian pandangannya jatuh pada laki-laki berkemeja rapi yang tengah duduk memperhatikannya.
"Jadi ada urusan apa kau kemari" Reva mengawali pembicaraan.
"Jangan terlaluu dekat dengan pria lain, dear" gadis itu mengerutkan kening tak suka, 'Emangnya lo siapanya gue'. Sinis reva membatin.
"Pardon?"
Brian medekati reva yang sedang meminum jus buah kemasan di pantry. "Kau itu milikku, dan aku tidak suka orang lain menyentuh milikku" bisiknya tepat di telinga reva.
Ia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi peenglihatan gadis itu, lalu tatapannya turun pada bibir raum reva. Brian mulai menghapuskan jarak, ia menyapu pelan bibir gadis itu membuatnya kehilangan akal sehat.
Reva ikut terbuai oleh sentuhan yang di berikan brian, saat kesadarannya telah kembali ia memalingkan wajah tepat saat brian ingin menciumnya. Alhasil brian mengecup pipi mulus reva.
Gadis itu memberi jarak dan menatap iris amber itu dengan sorot tak terbaca, "Pulanglah, aku ingin menyendiri"
Ia bangkit menjauhi brian yang terpaku, "Kenapa?"
Reva menoleh, "Sampai jumpa minggu depan saat rapat final tuan Rohwan" Brian membuang nafas kasar.
'Kenapa kau sangat sulit di dekati'. Tanya brian membatin.
Ia seakan bisa merasakan ada tembok penghalang yang menjulang tinggi mengelilingi gadis itu, seakan tengah mengisolasi diri.
Meski ia sudah mencuri ciuman dari gadis itu, tapi itu tidaklah cukup untuk meruntuhkan pertahanan kokoh yang sudah di bangun gadis berparas cantik itu.
**€**
Gadis bersurai gelap sebahu itu merasa risih di awasi oleh 4 orang pria berpakaian rapi di belakangnya. Ia merasa seperti seorang tawanan penjara.
Namun dia bisa apa? Ia menghela nafas lelah dan kembali melihat deretan baju di depannya, sesekali mencoba mencocokan pada tubuhnya.
"Nona lea?" Panggil seseorang.
Lea yang merasa terpanggil menoleh ke sumber suara dan mendapati erik yang terlihat styles dengan hoodie dan celana pendek setulut yang ia kenakan.
"Eeh?"
Erik tersenyum canggung sesaat ia ingin mendekati lea, salah seorang bodyguard kiriman reva menghalangi jalannya.
"Ed?" Panggil erik memastikan.
"Hai er" Sapa edward yang tengah menghalangi erik untuk mendekati lea.
"Kenapa kau menghalanginya?" Tanya lea membuka suara. Lalu edward menyingkir ke samping.
"Kau mengenalnya?"
Erik menoleh dan tersnyum sopan, "Tentu nona, dia selalu menemani nona reva dan saya saat perjalanan bisnis" lea mengangguk mngerti mendengar penjelasan erik.
Hening.
Lea kembali menyibukan diri dengan berbagai macam baju dan sepatu di depan matanya dan Erik nampak bingung untuk memulai perbincangan.
"Nona, apa anda sendirian?" Tanya erik pada akhirnya.
"Bisa di katakan iya tapi bisa juga tidak" sahut lea santai seraya mencoba heals.
"Maksud anda?"
Lea melirik erik, "Aku bukan boss mu jangan terlalu formal, lagian aku merasa sendiri karena rere tidak ingin waktu liburnya aku ganggu dengan mengajaknya ke mall dan aku merasa tidak sendiri karena bodyguard yang di kirim rere untuk menjagaku"
Erik mengangguk mendengarkan perunturan sahabat boss nya itu. Dan entah kenapa ia sangat berani untuk mengatakan, "Mau jalan bersamaku?"
Lea menghentikan aktivitasnya lalu menatap erik tepat di iris gelap miliknya. Ia mengembangkan senyum mendengar ajakan erik yang terkesaan tiba-tiba itu. "Tentu"
Erik merasa ada kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya tatkala memandang senyum menawan milik lea. "Cantik" gumamnya tanpa sadar.
"Eh apa?" Tanya lea mengedipkan matanya. Edward yang berada di samping erik ******** senyumnya saat melihat erik salah tingkah.
"Tidak apa-apa, ayo jalan" lea mengangguk lalu saat ingin mengambil kantongan belanjaan ia di dahului oleh edward.
"Biar saya yang membawanya nona" tawar edward, lea mangangguk mengiyakan.
Lalu berjalan beriringan dengan erik, sesekali mereka tertawa karena candaan yang mereka lontarkan satu sama lain.
**€**