I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
19. Birthday plan



{ Mungkin kamu belum mencintaiku, tapi satu hal yang harus kamu tau. Dari awal pertemuan kita, aku sudah memberikan seluruh hatiku untukmu }


–Brian–




Reva's POV




From: Baby boy


Dear, minggu ini aku tidak bisa menemuimu.



From: Me


It's okay big boy. Nikmati saja waktumu.



From: Baby boy


I'm sorry for that dear



Aku hanya memandang ponsel datar, sudah terhitung 3 minggu sejak pulang dari Los Angeles tidak bertemu brian. Aku itu merasa sepi tak ayal kadang aku sering tersenyum sendiri mengingat kebersamaannya dengan pria beriris amber itu.



Aneh rasanya ketika ia selalu berada di sekitarku, aku selalu mengusirnya pergi agar tidak mengganggu, tapi kali ini. Akulah orang yang paling ingin di ganggunya. Memikirkannya saja sudah membuatku merindukan sifat manja dan posesif laki-laki yang penuh pesona itu.



Kata orang cinta hadir karena terbiasa, sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan hadirnya. Apa aku sudah mencintainya? Aku harap belum, aku masih belum siap akan segala konsekuensinya. Terlalu menyita waktu dan air mata. Membahas tentang cinta membuatku tersenyum kecut.



"Nona, anda melamun?" Aku menoleh, lalu menggeleng pelan.



"Tidak erik, ada apa?"



"Nona lea menelpon kantor dan meminta saya untuk mengosongkan jadwal anda hari ini, nona. Lalu dia juga meminta anda untuk segera pulang" Aku mengerutkan kening tak suka.



Sejak kapan erik mematuhi perintah lea? Ini membuatku semakin curiga dengan kedekatan mereka berdua dan lagi apa-apaan lea tiba-tiba menyuruhku pulang lewat erik pula.



Helaan nafas keluar dari mulutku, "Baiklah kau bisa pergi sekarang"



Dengan segera aku mengambil tasku dan keluar dari perusahaan. Bukannya cepat-cepat untuk pulang aku malah memarkirkan mobil sport maroon ku di salah center park. Aku duduk di salah satu bangku taman yang mengarah langsung ke air mancur, aku merasa familiar dengan suasana saat ini.



Tidak terlalu sepi, pun ramai.


Tidak terlalu gaduh, pun tenang.


Semuanya imbang, menciptakan keharmonisanya tersendiri untukku nikmati. Dan membuatku betah berlama-lama duduk tanpa melakukan apapun, termasuk berfikir.




**€**




Brian's POV




"Kau menyeretku ke dalam rencanamu tanpa meminta persetujuanku?!"



"Aku tidak perlu persetujuanmu" bisa ku rasakan Mike tengah mendengus kasar.



"Otoriter!! Bagaimana bisa gadis cantik seperti dia jatuh di tanganmu" Aku menyeringai kearahnya, ia membelakan mata tak percaya. Secepat itukah dia mampu membacaku?



"Kau memaksanya?" Aku mengangkat bahu tidak tau, karena menurutku itu bukan pemaksaan.




"Bohong sekali kau" cibirnya sambil menyeruput sekaleng soda. Aku tidak mau ambil pusing dengan perkataan tak berbobot darinya.



Sekarang aku sedang berada di sweden, jadi begini. Hari ini gadisku, Reva ia sedang berulang tahun yang ke-19 hari ini aku cukup exited karena umurnya sudah bertambah 1 tahun membuatku semakin tidak sabar ingin melamarnya saat ia berusia 20tahun.



Apa aku mencintainya?



Hmm, apa kalian percaya love at first sight? Jika iya. Maka kalian sudah ttau jawabannya.



Aku menyadari jika aku sudah jatuh cinta padanya sejak kakek arta mengenalkannya lewat selembar foto. Dan perasaan itu semakin menjadi ketika aku bertatap wajah dengannya, aku juga sadar hatinya tengah hancur dan rapuh sejak saat mata kami saling  bertemu.



Dan aku tau ia menyimpan sebuah cerita kelam di hatinya, terbukti hingga sekarang ia belum mampu membalas ungkapan cintaku.



Awalnya aku resah dan takut, hold a second Brian Arnaldo Rohwan merasa resah dan takut? Ya! Kali ini aku merasakan hal tabu yang belum pernh ku rasakan sebelumnya. Aku takut ia tidak membalas cintaku, dan aku resah ia akan semakin jatuh terpuruk karena hatinya yang sedang luka.



Anggap saja aku sebagai pahlawan kesiangan yang ingin menyelamatkan seseorang dari jurang keterpurukannya. Aku tidak ingin jujur padanya jika aku mengetahui ia sedang terluka, aku tidak ingin rasa kasih ku di anggap hanya sebatas kasihan.



Ada darah keluarga Rohwan yang mengalir di pembulu darahku, kata ibu, kami hanya di takdirkan jatuh cinta untuk 1 wanita. Dan sekarang aku mulai mempercayainya.



"Kau akan pilih yang mana?" Tanya mike membuyarkan lamunan panjangku.



"Menurutmu? Aku tidak terlalu mengerti" kami sedang berada di toko perhiasan ternama di sweden, ia sedang membantuku mencari hadiah yang pas untuk gadisku.



Entah bagaimana lelaki semacam mike bisa mengetahui tempat semacam ini, biarlah yang penting ia ikut membantu walau harus di seret paksa terlebih dahulu.



Mari mulai gelap, setelah membeli kado cantik, aku putuskan untuk pergi ke penthouse milik kekasih kecil ku itu. Aku ingin melihat seperti apa reaksinya ketika melihat kedatanganku, mengingat tadi pagi aku berbohong saat dia sedang menghubungiku.



Sungguh aku berharap dapatt melihat senyum langka yang menghiasi wajah cantiknya itu. Lea, erik dan mr.han menyambutku dan mike dengan baik sembari menunggu reva datang lea memberiku sebuah saran.



"Brian"


Aku berdeham lalu menoleh, menunggu kalimat yang akan lea ucapkan.



Gadis beriris hazel itu tersenyum, "Peluk eratlah dia jika kamu melihat ia mengeluarkan air mata"



Aku ingin bertanya lebih lanjut tapi, mr.han sudah memadamkan lampu. Ahh ternyata gadisku sudah tiba rupanya. Kami mengambil posisi masing-masing, lea sempat mengambil alih kue dari erik sebelum akhirnya lampu di padamkan.



Cklek...



Reva menyalakan sakelar lampu, dan



"Happy birthday reva,


Happy birthday reva,


Happy birthday...


Happy birthday....


Happy birthday reva!!!"



"Happy Birthday Sweety"




**€**