I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
11. Whatever



{ Sekuat apapun kamu menjaga, yang pergi akan tetap pergi. Sekuat apapun kamu menolak, yang datang akan tetap datang. }


–Arta Noela–




Reva's POV




Hari demi hari ku lewati dengan baik, aku sedikit bersyukur setelah hari itu ia tidak lagi menemui atau mengirimkan bingkisan untukku.



Mungkin aku di anggap bodoh karena menolak ajakan kencan dari pria setampan dan sekaya dirinya, namun apa daya aku yang masih terikat oleh masa lalu.



Maksudku, aku tidak ingin menjadikannya pelampiasan atau apapun yang membuatnya sakit kelak.



Terlebih saat aku menatap manik amber miliknya yang memikat, aku sudah mengetahui jika dia pria yang baik meski aku dapat merasakan aura membahayakan darinya akan lebih baik jika aku menjaga jarak darinya.



Dari awal pertemuan pun aku sudah dapat menebak jika dia mengincarku, sorot matanya tidak dapat menipuku.



Jika boleh jujur aku sangat ketakutan saat ia berani mencuri ciuman dari ku, aku takut ia mampu meruntuhkan pertahanan yang ku bangun dengan susah payah.



Dan aku takut jika hal yang sama terulang kembali.



"Nona, kita telah tiba di bandara" perkataan erik memecahkan lamunanku.



Aku bangkit dan keluar dari kabin pesawat pribadi milik keluargaku di ikuti erik dari belakang. Begitu juga saat aku memasuki mobil yang telah menunggu kedatanganku.



Sesampainya di hotel kami di sambut dengan baik oleh managernya yang memang sudah mengenalku sejak lama dan aku adalah pelanggan VVIP-nya.



Aku menghempaskan diri ke kasur setibanya di kamar yang biasa aku tempati, ku tatap langit kamar lalu menghembuskan nafas lelah.



Entah kenapa perjalanan kali ini aku merasa lebih lelah dari perjalanan sebelumnya, apa karena besok aku akan bertemu brian? Entahlah hanya tuhan yang mengetahuinya.



Setelah puas berbaring aku berniat untuk berendam di air hangat, rasanya sudah lama dari terakhir kali aku berendam. Aku membongkar koper, mencari botol mandi aroma mawar yang selalu menjadi favoriteku. Ketemu.



"Waktunya mandi" Ucapku kegirangan.



Dengan telaten aku menuangkan isi botol beraroma mawar itu, sebelumnya aku sudah mengisi battube debgan air dan sabun cair mawar yang sudah tersedia di kamar mandi ini.



Saat aku melihat sabun cair itu aku sedikit terkekeh, pelayanan hotel ini memang tidak pernah mengecewakanku mereka tahu betul apa yang aku suka dan apa yang membuatku tidak nyaman.



Rasa penat dan lelah seketika hilang saat aku merendamkan diri di battube yang penuh busa ini, bisa ku endus bau mawar yang begitu menenangkan. Kini aku merasakan surga duniawi.



Ku pejamkan mataku sejenak untuk meresapi ketenangan yang ada, namun seketika terbesit gambaran masa lalu dari benahku. Aku membuka mata terkejut, nafasku memburu dan air mataku menetes dengan sendirinya.



Ku tubuh ku di dalam air, bahkan air yang tadinya sangat menenangkan kini berubah menjadi air dingin yang menusuk kulit putih polosku.



Merasa cukup aku keluar dari battube dan membilas diri di shower, membiarkan wajahku terpimpa derasnya air dingin.



Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang memiliit di tubuh rampingku. Dan tubuhku membeku sesaat aku melihat iris amber yang tengah menatapku tanpa berkedip.



Sial!




**€**




Brian's POV




Setelah pulang dari penthouse gadis itu moodku sangat berantakan. Etss tapi tidak dengan hari ini, karena sore ini gadis itu tiba di los angeles tentu saja mood ku menjadi baik dari hari-hari sebelumnya.



Bahkan hanya dengan mendengar kabarnya saja hatiku menjadi tenang, terkadang aku sempat berpikir apa aku telah jatuh cinta padanya? Dengan waktu sesingkat ini?



Entahlah urusan cinta-cintaan nanti saja, sekarang aku menuju hotel dimana gadis itu menginap. Setelah mendapat kunci kamarnya aku langsung masuk dan menunggu dengan tenang di sofa.



Jika ada yang bertanya kenapa bisa aku mudah mendapat akses masuk kamarnya? Hahaha jawabannya sangat mudah, karena aku pemilik hotel ini.



Ku amati kamar yang kini gadis itu tempati, bisa kulihat ia baru saja membongkar kopernya karena terlihat berantakan.



Cklek..



Aku memusatkan perhatianku pada pintu kamar mandi yang terbuka– maksudnya di buka oleh gadis cantik yang hanya berbalut handuk di tubuhnya.



Astaga! Cobaan macam apa ini?



Pandangan kami bertemu, bisa kulihat tubuhnya membeku, manik abu nya membulat, dapat kutangkap ekspresi terkejut darinya saat melihat keberadaanku.




Pandangan ku jatuh pada leher dan tulang selangka yang masih basah bisa ku lihat tetesan air itu turun kebawah dan tanpa sadar mataku mengikuti tetesan itu mengalir disela-sela dadanya. Astaga, dadanya terlihat berisi dapat di lihat dari belahannya.



Tiba-tiba melenggangkan kaki ke arah koper lalu menutup dan menarik koper itu masuk kedalam kamar mandi bersama dengannya. Tidak lupa ia membanting pintu kamar mandi keras.



Membuat ku tersadar dari lamunan erotis yang hampir saja meracuni akal sehatku. Aku meringis mengingat pemandangan yang ku dapati beberapa menit lalu.




*^*




Author POV




Reva keluar dari kamar mandi dengan baju kaos dan celana kain pendek di atas lutut seraya menyeret kopernya.



Setelah meletakan koper di dekat kasur ia menghampiri brian dan duduk di single sofa dekat pria itu.



Gadis itu bersikap biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, membuat brian agak kikuk menghadapinya.



'Dia pandai menyembunyikan emosi ternyata' ucap brian membatin.



"Ada apa?" Tanya reva memecahkan kecanggungan.



Brian menatap manik abu itu dengan tatapan kerinduan, "Apa kau tidak merindukanku?"



Iris abu itu berkedip beberapa kali mencoba mencerna pertanyaan yang di lontarkan pria jakung di dekatnya itu.



"Of course not" Jawab gadis itu enteng. "Terlebih tidak ada untungnya bagiku merindukanmu" sambung reva.



Brian mendengus, "Aku ini pacarmu, kekasihmu kau tau!"



Reva batuk tersedak saliva-nya sendiri, ia tak menyangka pria beriris amber itu mengaku sebagai kekasihnya. Ia bahkan tidak pernah ingat menerima pernyataan cinta dari pria manapun termasuk brian.



"Aku tidak merasa memiliki kekasih sepertimu"



Brian memperlihatkan smirk-nya, "Bukankah aku pernah mengajakmu berkencan nona" Kata brian yang kini sudah di hadapan reva.



Bau mawar menusuk rongga penciuman brian sesaat ia mendekati gadis yang tampak tidak terusik oleh sikapnya.



Terkadang ia sering heran dengan sikapnya yang 180derajat berbeda jika berhadapan dengan gadis cantik bersurai pirang sepunggung di depannya itu.



"Tapi aku tidak pernah mengatakan setuju" Elak reva menyelipkan rambut di belakang telinganya.



Lalu menatap tajam brian yang sudah berada tepat di depan wajahnya, tangan pria itu bertumpu pada lengan sofa dan menggunci pergerakan reva.



Gadis itu mendengus kasar, "Aku lupa memberitahumu jika aku tidak memerlukan persetujuan darimu" Brian mengecup pelan bibir soft pink milik reva.



Sesaat ingin mengecupnya lagi dengan cepat gadis itu menghalangi mulutnya dengan tangan, "Whatever you say, sekarang menjauhlah" Ucap gadiss itu malas berdebat lebih jauh.



Brian menjauhkan dirinya dan menatap punggung reva yang berjalan mendekati kasur, ia pun mengekorinya.



"Jadi sekarang kau adalah kekasihku kan?" Tanya brian begitu bersemangat, gadiss itu hanya berdeham mengiyakan.



Brian ikut berbaring di sisi ranjang kosong yang di tempati gadisnya itu, reva nampak tak terusik saat king size-nya bergerak.



"Pulanglah brian, aku lelah ingin tidur" Pinta reva sedikit kesal dan lelah.



Brian menatap gadis itu takjub, untuk pertama kalinya reva menyebut namanya. Ini sungguh hari yang luar biasa baginya.



"Apa kau tidak mendengarkan aku?" Tanya reva kesal.



Brian terkekeh lalu bangkit dari tidurnya, di ikuti reva. "Baiklah aku akan pulang, istirahatlah" katanya nampak tulus di mata reva.



Lalu brian mengecup kening gadis itu lama. "Ini dari kekasihmu" Sambung brian sambil terkekeh geli dan meenggangkan kaki meninggalkan kamar hotelnya.



Gadis itu membaringkan diri di kasur king size-nya, menatap langit kamar kosong.



"What have I done?"




**€**