I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
21. Big Bro



{ Dia mencintaimu, percaya padaku. Aku dapat melihat itu dari matanya. }


-William-


Author POV


"Who?"


Laki-laki itu mengerutkan keningnya, "Apa aku salah pintu?" Bukannya menjawab laki-laki itu justru balik bertanya. Brian hanya memperlihatkan wajah datarnya tanpa berniat menjawab pertanyaan dari laki-laki asia di depannya itu.


"Willy?" Panggil reva dari balik punggung brian.


"Hai!" Gadis itu melalui brian yang sedari tadi menghalangi pintu masuk dan langsung memeluk laki-laki yang ia panggil willy. Brian memandang reva kaget saat gadis itu mencium kedua pipi laki-laki asia itu di depannya.


"Willy, I miss you!!"


"I miss you too" balas willy yang ikut mencium kedua pipi reva berganti. Brian yang melihat interaksi kedua orang itu terbakar api cemburu.


Reva tidak pernah menyambutku seperti itu. Batin Brian kesal.


"Ayo kita masuk" willy mengangguk dan menggikuti langkah reva dan melupakan keberadaan brian. Brian bergeming beberapa saat lalu mengikuti kedua orang itu ke ruang keluarga.


"Omg Willy!!" Pekik lea dan menghamburkan pelukan ke laki-laki itu, sama seperti reva hanya saja tanpa ada kecupan di pipi. Membuat brian bertanya-tanya akan sosok laki-laki yang kini sudah duduk di samping kekasihnya itu, mereka bertiga terlalu fokus dengan keberadaan willy hingga melupakan brian.


"Ekhm!" Mereka bertiga menoleh bersamaan, reva sedikit tesentak menyadari keberadaan brian begitupun lea, hanya saja gadis bersurai gelap itu kembali acuh tak acuh dengan brian.


"Astaga aku hampir melupakanmu jika saja kamu tidak berdeham" ungkap reva jujur dan berpindah tempat mendatangi brian.


"Hm"


"Jadi, ini siapa?" Tanya willy yang dari tadi mengamati tingkah 2orang itu.


Wht? Harusnya aku yang bertanya seperti itu!. Batin Brian


"Aku kekasihnya" kedua mata william membola, ia terkejut atas pengakuan yang sedang melipat kedua tangannya dii depan dada itu.


"Reva, apa itu benar?" Iris abu itu menyorot ragu untuk memberitahu kebenarannya, pada akhirnya ia mengangguk mengiyakan pertanyaan william, ia tidak ingin memperkeruh suasana. William membuang nafas panjang lalu menyenderkan bahu di sofa.


"Jadi.. kau kekasih reva huh?"


*^*


Brian's POV


Aku hanya mengangguk angkuh menjawab pertanyaan yang di berikan pria asia itu, bisa ku lihat ia tersenyum tipis menanggapinya. Argh.. aku sangat tidak menyukai kedatangannya kemari apa lagi sikap reva terhadapnya sangat berbeda saat bersamaku.


Cemburu? Tentu saja.


"Rere, sini" perintah laki-laki itu sambil menepuk tempat kosong di sampingnya, ku tahan pergelangan tangan reva saat ia hendak mengikuti perintah laki-laki itu. Aku menatap datar gadis itu saat ia melepas cengkalanku.


Untuk pertama kalinya aku tidak senang melihatnya menjadi gadis penurut. Astaga kesabaranku hampir habis saat lelaki itu memeluk gadisku dari samping lalu mencium seluruh wajahnya kecuali bibir.


"Kenapa kau diam saja?!"


"Maksudmu?" Apa dia tidak mengerti? Aku bangkit dan memukul wajah laki-lakii itu, persetanan dengan pekikan dua gadis yang menyuruhku berhenti.


"Brian! Berhenti!" Teriak reva.


"Heh orang gila dia bisa mati jika kau memukulinya seperti itu! Rere tahan dia" reva langsung memeluk dan menahan tubuhku dari belakang lalu lea membantu si willy willy itu untuk duduk dengan benar. Nafasku terhenggah-henggah, aku masih belum puas untuk memukulinya.


Aku merasakan sebuah tangan menampar punggungku keras membuatku sedikit meringis ngilu, "Auch" iris abu itu menatapku tajam dan ku balas dengan tatapan datarku.


"Apa?" Ia berdecak sebal,


"Kau bilang apa? Harus nya aku yang berkata seperti itu!" Dia marah lalu menghampiri laki-laki itu tanpa memperdulikan ku, lagi.


"Pergi ke kamar, nanti akan ku jelaskan" aku menuruti permintaan, lebih tepatnya perintah reva dengan rasa bercampur aduk.


Sebelumnya aku sempat melirik laki-laki itu sinis dan pergi menuju kamar.


*^*


Author POV


"Apa kau tau apa yang sudah kau lakukan hah?!"


Gadis itu mendekati ranjang lalu mengangkat dagu brian kesal, "Tatap aku saat aku bicara."


"Baiklah baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan"


Gadia itu melotot tak suka dengan sikap santai yang brian tunjukan padanya, "Apa kamu tidak merasa bersalah dengan willy?" Brian mengendik acuh.


"Brian" panggil reva melembut, jika dengan nada keras tidak bisa mungkin sebaliknya bisa. Pria itu menatap datar reva.


"Hei dengar, aku tidak tau a-"


"Aku cemburu!" Reva mengusap pelan rahang brian.


"Really?" Laki-laki itu mengangguk, menarik pinggang reva mendekat lalu memeluknya, mengusapkan wajah di perut rata gadis itu.


"Aku mencintainya bri"


"Siapa?" Tanya brian menatap reva dingin lalu melepaskan pelukannya dari pinggang gadis itu setelah beberapa saat terdiam. Sedangkan reva, ia mati-matian menahan tawanya dan berdeham meredakan keinginannya.


"Jawab aku" lepas sudah tawa yang sedari tadi gadis itu tahan, ia tertawa terpingkal-pingkal di atas ranjang tanpa memperdulikan kebingung brian. Brian berdecak kesal saat reva menyeka air matanya akibat tertawa tadi, "Dia saudara sepupuku" jelas reva setelah tawanya mereda.


"Aku tidak peduli"


Reva mengerngit, apa yang tidak dia pedulikan memang?. Batin reva


"Kau hanya milikku, mulai saat ini kau tidak boleh berhubungan dengan pria manapun kecuali aku. KE-KA-SIH-MU" Ucap brian penuh penekanan. Reva melotot kelas tidak terima dengan perkataan brian yang begitu mendominan.


"Aku tidak akan menurutimu!"


"Jangan keras kepala"


"Aku memang keras kepala" Sahut gadis itu sengit tak mau kalah. Ia mendorong brian menjauhi ranjang. "Tidur di luar!" kali ini reva lah yang berucap penuh penekanan di setiap katanya.


Brian mendengus lalu mengecup singkat bibir reva dan pergi keluar kamar sebelum gadis itu mengamuki dirinya. Dan benar apa yang ia duga, Reva berteriak nyaring menyerukan nama Brian dengan murka. Sedangkan Brian sendiri hanya bernafas lega karena sudah keluar dari kamar.


"Can we talk?" Brian menoleh dan mendapati Willy yang berdiri tepat di sebelahnya.


Dengan wajah datarnya brian mengiyakan ajakan Willy tersebut, dan mengikutinya keluar dari Penthouse.


"Langsung saja, apa hubunganmu dengan gadisku"


 


 


**€**


NOTE;


Hi reader's sebelumnya saya ucapkan maaf di karenakan jarang update.


Mungkin ada beberapa faktor tertentu yang membuat saya lambat publish cerita dan salah satunya sulit mengatur waktu. Saya baru saja memasuki awal masuk perkuliahan dan jadwal kuliah saya masih berantakan, mungkin hanya itu alasan yang bisa saya berikan untuk kalian para pembaca i can't say I Love You.


Ohya!! jangan lupa mampir untuk membaca cerita saya yang berjudul ALL: Aku, Lalu Luka


Dukung karya saya dengan menambahkan cerita saya di favorit kalian dan beri saya like.


Sekian dari saya, Teriamaksih


-chioo_coco