I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
6. He's dangerous



{ Siapapun dia aku harus menjauh darinya }


–Reva–






Reva's POV




Aku menatap tak minat pantulan diriku sendiri yang sudah di dandani layaknya boneka oleh gadis yang kini menatapku takjub.



"Aww kau sangat cantik, tidak sia-sia aku mendandanimu berjam-jam"



Aku menghela nafas lelah, belum sempat aku mendudukan diri lea mencengkal pergerakanku. "Kenapa?"



"Kita harus berangkat saat ini juga" Aku menatapnya gusar, sungguh aku tidak memiliki rencana untuk berdandan seperti ini hanya untuk menghadiri pesta dari kolega bisnis.



"Nona muda, anda terlihat sangat menawan" Sanjung mr.han, membuat moodku semakin buruk.



"Mr.han tolong jangan ikut-ikutan lea" Pria itu hanya terkekeh mendengar keluhanku. Argh ini sungguh tidak lucu.



"Aishh!! Duduklah layaknya seorang nona muda" Aku berdecih tak suka mendengar omelan lea yang satu ini. Aku hanya duduk seperti biasanya, lalu apa hubungannya dengan kedudukan ku sebagai nona muda? Ini akan menjadi malam yang panjang.



Ada apa lagi ini? Lea mencegahku sebelum keluar dari limousine dan ia keluar lebih dulu. Dan memberikan tangannya untuk membantuku keluar dari limousine.



Aku menatap tangannya malas. "Apa ini alasan kau keluar terlebih dahulu?" Gadis bersurai gelap itu hanya tersenyum penuh arti.



Seperti yang di duga oleh lea, banyak pasang mata menatap kearah kami– koreksi, maksudnya aku. Lea tersenyum penuh arti, sedangkan aku? Jangan di tanya, aku tidak memberikan ekspresi apapun.



Aku tidak peduli orang menatapku sombong atau apapun itu yang pasti moodku sangat tidak baik saat ini.



Aku paling tidak suka menggunakan dress dengan warna terang seperti sekarang ini–merah– aku tau ini pasti perbuatan lea. Karena aku sudah meminta wanda untuk menyiapkan dress hitam untukku, tapi yang wanita itu kirimkan malah warna merah.



Terlebih lagi aku bisa merasakan para kaum adam menatapku lapar, membuat ku jenggah. Andai mereka tau jika aku gadis di bawah umur, mereka pasti akan berpikir 2kali untuk menatapku seperti itu.



"Rere, apa kau mau minum?" Tanya lea memecahkan lamunanku. Aku hanya mengangguk sebagai balasannya.



Eh! Tunggu. Aku mengcengkal lengan lea. "Ada apa?"



"Aku ikut bersamamu" Kataku tanpa memperlihatkan guratan ekspresi apapun.



"Haha... apa kau takut sendirian?" Aku berdecih, membuat lea semakin menertawakanku. Kadang aku berpikir apa dia sungguh temanku.



Dengan diam ia menggiringku ketempat minuman berada. "Etss... no wine for you, sis"



"Lalu untuk apa aku kepesta jika aku tidak boleh meminum wine huh?" Kataku berdesis.



Lalu aku mengambil lemon tea yang ada di sebelah deretan wine. Lea menyenggol lenganku pelan, aku mentapnya bertanya.



"Ada yang datang" Aku hanya memutar bola mata malas dan meminum, minumanku.



Hingga suara bariton menginstrupsiku. "Permisi nona" Sapanya sedikit genit, membuatku ingin muntah.



Aku menoleh dan mendapati 2 orang pria tampan, "iya?" Sahutku mencoba tidak acuh agar tidak terlihat kurang sopan.



"Perkenalkan namaku Mickel Alexander, aku tuan rumah acara malam ini. Kau dapat memanggilku, Mike" Ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata kearahku. Wht?



Sedetik kemudian bulu kudukku berdiri, lalu apa katanya tadi? Mike? Aku bahkan tidak akrab dengannya.



"Namaku Reva Andya Noela, senang berkenalan denganmu tuan Alexander" Ucapku MENCOBA sopan. Bisa ku lihat ia terlihat kikuk karena mengacuhkan panggilan yang ia tawarkan.



Dan dapat ku rasakan lea yang ada di sampingku menahan diri untuk tidak tertawa saat ini.



"Ah baiklah. Oh ya ini temanku" bisa ku lihat ia menyikut temannya. "Hei berkenalanlah"



"Brian Arlando Rohwan" singkatnya.



Rohwan? Nama yang tidak asing.



"Salam kenal tuan Rohwan" Sapaku sopan. Aku menatapnya sekilas, entah perasaan aku saja atau bagaimana.



Tapi setelah melihat tatapan matanya, aku merasa jika dari awal aku masuk ruangan ini ia telah mengintaiku. Ah mungkin perasaan ku saja.




"Salam kenal" Bagus lea, kau harus jual MAHAL.



Aku kembali menatap 2 pria beda keluarga itu dengan tatapan tak minatku, agar mereka sadar dan menjauh. Aku tidak bettah berlama-lama dengan mereka, terlebih laki-laki bermarga rohwan itu.



Entahlah hanya saja firasatku mengatakan aku harus jauh-jauh darinya.



"Tuan muda Alexander" pria itu menatapku berbinar.



"Bukankah kau harus menyapa tamu yang lain juga?" Usirku halus.



"Ah iya benar, kalau begitu sampai nanti nona noela" aku hanya mengangguk tanpa tersenyum sedikitpun.



Pandangan kami bertemu. Lagi-lagi pria beriris amber itu menatapku aneh seakan-akan tatapannya berkata. –kau–milikku!.



Aku membuang pandanganku cepat agar tidak terhanyut di dalamnya. "Hei, benarkan apa yang ku katakan"



"Memangnya kau berkata apa?" Lea menatapku malas.



"Kau akan menjadi pusat pehatian" aku menghembus nafas lelah.


"Yayaya terserah apa katamu"



Lea terkekeh pelan, lalu menatap kearah 2 pria tadi berjalan. "Hei apa kau tertarik dengan salah satu di antara mereka tadi?"



Aku menaikan sebeah alisku, "Tidak" elakku cepat.



"Kenapa!" Ucap lea setengah berteriak membuat kami menjadi pusat perhatian lagi, namun aku mengacuhkan mereka yang menatap kami penasaran.



"Mereka nampak berbahaya lea. Tidakkah kau lihat pria yang mengedipkan matanya itu? Di terlihat tidak baik, dan temannya itu" Aku merindinh mengingat pria bermanik amber itu.



"Dia memiliki aura menyeramkan dan terlihat berbahaya" sambungku. Semua yang ku katakan penuh penafsiran.



Gadis bersurai gelap itu menatapku jenggah. "Jangan sering-sering menilai orang seperti itu. Tidak baik" aku hanya mendelik bahu tak peduli.



"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya"



"Apa maksudmu?" Tanya lea penasaran.



"Pria itu berbahaya, dan aku harus menjauhinya sebelum terlambat" lea menatapku menyelidik.



"Siapa?"



Aku menoleh menatap lea yang terlihat sangat penasaran. "Brian Arlando Rohwan"




**€**




Author POV




Setelah pesta yang di adakan mike, keadaan brian tidak terlihat baik-baik saja. Terbukti sudah 1 minggu yang lalu acara itu di selenggarakan namun masih membekas di ingatannya tentang gadis itu.



Brian membuka laci meja kerjanya, dan mengambil sebuah foto dimana seorang di dalamnya ada seorang gadis yang tengah tersenyum menatapnya dari dalam foto.



"Dia terlihat sama, hanya saja–" ia menjeda kalimatnya, dan mntao foto itu lekat. "–tidak ada senyuman di wajahmu"



Brian kembali mengingat perkenalan resminya dengan gadis keturunan noela itu. Tanpa ekspresi. Itulah yang ia ingat.



Selama jalannya acara ia terus mengamati gerak gerik reva. Namun selama itu pula ia tidak mendapati sebuah senyuman yang mnghiasi wajah manis gadis itu.



"Apa ini alasan kakek arta memberiku pertimbangan untuk mendekatinya?" Tanyanya pada diri sendiri.



Ia bangkit lalu mengenakan kembali jas kerjanya. Mengingat hari ini ia ada rapat penting dan mengharuskan ia pergi ke luar kota malam siang ini juga.



"Entah kenapa aku memiliki firasat baik tentang perjalanan kali ini"





**€**