I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
14. Dia



{ Kenapa kamu kembali hadir di saat aku mulai melupakanmu? }


–Reva–




Brian's POV




Aku menerjapkan mata menyesuaikan cahaya masuk, aku melirik kesamping tempat tidur, Kosong.



Dimana reva? Ahh aku lupa jika ini hari minggu, hari dimana gadis itu bangun pagi demi kartun kesayangannya.



Aku pergi membasuh diri di kamar mandi lalu memasuki wearing room yang memang ada beberapa baju ku disana karena aku sering menginap ketika berkunjung kesini, hitung-hitung agara semakin dekat dengan gadis itu.



"Dear, kenapa kau tidak membangunkanku huh?" Keluhku saat mendapati kekasihku itu sedang sarapan bersama temannya yang memang ikut tinggal bersama dengan reva.



"Kau tidur seperti kerbau" Sarkasnya, lalu bangkit mengambilkan mangkuk untukku. "Ini" Surungnya setelah mengisi mangkuk itu dengan sereal dan susu.



Ia sangat lucu dengan ekspresi datarnya saat tengah memperhatikan aku. Apa ini daya tariknya?



"Rere, hari ini aku pergi" Bisa ku lihat gadis itu tengah menatap sahabatnya bingung.



"Oh.. okay" Singkatnya.



"Baiklah, sebentar lagi erik akan menjemputku" Aku dengan segera menepuk pelan punggung reva dan menyurungkan air saat ia tersedak pie yang ia makan.



Kami sama-sama menatap lea, jika aku dengan pandangan biasa maka reva dengan tatapan menyelidiknya.



"Erik? Apa hubungan kalian?"



"Emm entahlah" jawab lea seadanya.



"Sayang biarkan saja mereka, bukankah itu bagus"  Tanpa sadar aku membela lea.



Jujur aku sangat mendukung jika lea berkencan dengan erik itu artinya aku tidak perlu terlalu khawatir jika mereka sedang bersama, karena reva tipekal setia kawan dan tidak akan mengkhianati pertemanan.



Terlebih sifat acuh tak acuhnya, membuat aku semakin yakin dengan hal itu.



Tingtong...


Tingtong....



"Itu pasti erik, biar aku yang buka!" Lea terlihat bersemangat.



Arah pandangku ikut tertuju pada lea yang sedang merapikan diri dan menetralkan ekspresi seperti biasa-biasa saja sebelum membukakan pintu.



"Sayang, apa kamu pernah seperti itu saat aku datang berkunjung?" Tanyaku berbisik tepat di telinga reva.



Gadis itu membalikkan badan dan menatapku aneh. Eh? Apa aku salah berbicara?



"Tidak, biasanya kau langsung masuk kedalam rumah tanpa mengetuk terlebih dahulu"



Astaga gadis ini terlalu jujur!



"Apa kamu sedang menyindirku huh?" Kataku terdengar seperti orang menajuk.



Entah sudah keberapa kalinya sejak kedatanganku, aku merajuk padanya hanya untuk di perhatikan.



Sungguh ini seperti bukan diriku, tapi aku memang tengah mencari perhatiannya. Aku sangat menyukai setiap perhatian yang gadis itu berikan padaku.



"Berhentilah bersikap seperti itu dan makan sarapanmu, atau mau makan yang lain?" Ini dia yang ku nantikan, sifat perhatiannya.



"Aku ingin pie melon yang ada di piringmu, suapi aku"



Meski nampak kesal ia tetap melakukan apa yang ku minta dan ia terlihat sangat berpengalaman dengan menyapu sisa makanan yang ada di sudut bibirku setelah menyuapkan makanan.



"Kalian! Berhentilah bermesraan, ingat disini masih ada orang lain selain kalian berdua" Sergah lea.



"Penganggu!" Sahutku nyaring, membuat gadis bersurai gelap itu mendengus.



"Ayo erik kita pergi" Setelah mengatakan itu ia erik dan lea hilang di telan pintu.



Aku kembali melirik reva yang terlihat manis dengan baju tanpa engan dan celana trening selutut. Dengan cepat aku mencium bibirnya. Manis, rasa melon.



Ia memukul lengan kekarku, "Jangan jahil"



"Tapi aku merindukan bibirmu lagi" kataku lalu kembali melumat bibirnya, sambil memeluk erat.



Jangan salahkan aku jika pagi ini ia terlihat menggiurkan.




**€**




Author POV




Sudah 1 mingguu sejak kepergian brian dari sweden, sekarang reva lah yang harus mengunjungi pacarnya itu meski perkataannya di anggap bercanda oleh brian, ia tetap pergi mengunjungi pria kekanak-kanakan itu.



Tanpa memberi info kedatangannya, ya anggap saja sebagai kejutan karena tidak memperrcayai perkataannya.



Kini gadis itu sudah berada di gedung pencakar langit milik brian, dengan dress pendek swags pink hitam di padu dengan boots pendek pink dan tas trasparan dengan gantungan boneka Koya BT21 dan photocard Kim Namjoon.




Awalnya reva memberontak namun saat mengenali aroma parfum yang di gunakan orang yang memeluknya ia jadi sedikit tenang, ia mencubit perut berotot milik pria itu agar merenggangkan pelukannya.



"Aww, itu sangat menyakitkan kau tau" keluh brian yang sudah merenggangkan pelukannya.



Tanpa memperdulikan pandangan karyawan yang lalu lalang di lobby, brian menciumi pipi mulus reva bergantian.



"Brian stop it. Disini banyak orang"



Pria itu tertawa geli lalu merangkul reva menuju lift, menyisakan pandangan tak percaya dari orang-orang yang melihat kejadian sekilas tadi.



"Apa kau melihat itu? Tuan muda Rohwan tersenyum" tukas salah satu repsesionis.



"Ya bahkan dia mencium gadiss itu di depan umum. Setauku tuan muda anak tunggal" Perkataannya di angguki oleh semua orang yang ada di sana.



Dan gosip pun tersebar.



"Sayang.. kenapa kau tidak bilang jika akan kemari? Jika tau begitu aku akan menjemputmu di bandara" Ucap brian yang baru saja memasuki ruangan setelah reva.



"Kamu tidak akan percaya jika aku akan mengunjungimu" Pria itu terteguh.



"Apa sekarang kau mulai memperhatikanku?" Reva tersenyum lalu menggeleng pelan.



"Terserah apa katamu, ayo keluar. Aku lapar" Ajak reva.



"Jangan di Mcd" Tukas brian merasa keberatan. "Kenapa?"



"Aku ingin makan yang lain" Ucap brian lalu memeluk reva dari belakang



Steaks pesanan mereka telah tiba, begitupun pasta yang reva pesan beberapa saat yang lalu.



"Jadi ini yang ingin kau makan" Sergah reva.



"Ya, tapi ngomong-ngomong foto siapa itu yang bergantunh di tasmu?" Terdengar nada tak suka dari pertanyaannya itu.



"Pacarku" singkat reva lalu memasukan pasta kedalam mulutnya.



"Lalu ak-"



"Begitulah resiko memacari seorang fangirl, jadi diam dan fokus pada makananmu brian" Laki-lakii itu mengerutuk tak suka tapi tetap mematuhi apa yang di katakan gadis itu. Dari pada ia kena amuk.



"Temani aku ke mall sebentar, ada yang ingin aku beli" Pintta gadis itu setelah memasuki mobil yang di kendarai brian.



"Memangnya apa yang ingin kau beli?" Gadiss itu hanya tersenyum lalu mengecup singkat pipi brian. "Rahasia"



Brian bungkam, ia cukup senang dengan perilaku reva yang berinisiatif membuat ia tidak jadi merajuk.




*^*




Brian's POV



"Sayang... apa masih ada lagi yang ingin kamu beli?" Tanyaku yang cukup kewalahan mengikuti pergerakan lincah reva yang keluar masuk toko.



Astaga rasanya kakiku mati rasa, bagaimana bisa kaki ramping dan kecilnya itu masih sangat gesit berpindah-pindah toko dari 2 jam yang lalu?



Dan tanganku sudah ada 5 paperbag, sebenarnya apa lagi yang gadis cantik ini cari?



Ku lihat gadis itu mendekat kearahku lalu menuntunku duduk di sebuah cafe yang ada di mall, cukup ramai mengingat hari menjelang sore.



"Minum dulu" Suruhnya dan aku turuti.



Ia duduk di sampingku lalu menganggam tanganku, ada apa ini? Biasanya jika ia bersikap manis pasti ada yang ia inginkan dariku.



Bisa ku lihat tangannya merapikan rambut coklat gelapku yang agak berantakan, lalu mencubit pipiku pelan dan terakhir mengalungkan tangannya di leherku.



Astaga ia terlihat sangat menggemaskan, beruntung sofa yang ku duduki ini muat untuk 2 orang jadi ia cukup leluasa mendekat kearahku.



"Cape ya?"



"Engga, mau lanjut belanja lagi?" Bisa kulihat ia mengangguk dengan senyum mengembang yang tercetak di bibir manisnya.



Apa hari ini moodnya sangat baik?



Belum sempat kami bangkit dari tempat aku bisa merasakan tubuh reva menengang saat ada yang memanggil namanya.



"Reva?"



Kulihat pria yang memanggil nama kekasihku itu dan mataku kembali tertuju kepada reva, matanya seperti menyorotkan kerinduan dan kepedihan secara bersamaan.



"Ka Aresh?" Ucapnya dengan nada bergetar.



Siapa sebenarnya pria itu? Lalu kenapa reva menatapnya sedemikian rupa?




**€**