I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
2. Kabar



{ Apa dengan seperti ini kau akan baik-baik saja? }


–Reva–





Author POV





Tidak sedikit karyawan berbisik pelan menilai CEO baru mereka yang ternyata seorang gadis berusia 18 tahun. Cukup mengejutkan namun itulah kenyataan yang ada.



"Mr.han siapkan ruang meeting"



"Para dewan inti perusahaan sudah berada di ruang meeting, nona" reva mengangguk dan segera menuju ruang rapat, sekilas ia menatap para karyawan yang tengah berbisik. Ia enggan menanggapi penilaian para bawahannya, dan itu tidak terlalu penting karena ia datang dengan satu tujuan.



Pintu ruang rapat terbuka lebar dapat terlihat banyak kursi yang telah di isi oleh para dewan inti perusahaan dan mereka menyisakan 1 kursi utama di ujung meja. Dengan percaya diri reva melenggangkan kakinya menuju kursi kosong tersebut, sebelum duduk ia memperkenalkan diri terlebih dahulu.



"Hej, jag är tillfällig VD för min farfar Arta Noela. Jag heater Reva Andya Noela, trevligt att träffa dig"


(Hai, saya adalah CEO sementara menggantikan kakek saya Arta Noela. Nama saya Reva Andya Noela, senang bertemu dengan anda) Lalu ia duduk dengan tenang di kursi utama sembari mendengarkan presentasi yang tengah berlangsung.



"Aktuell aktiföäljning fortsätter att minska och vi saknar investerare"


(penjualan saham saat ini terus menurun dan kita kekurangan investor) Reva mentap tanpa ekspresi pria yang ia perkirakan berusia 24tahun, lalu membuang nafas bosan.



"Menurutmu apa yang membuat investor tidak tertarik untuk menyuntikan dana pada perusahaan kita dan harga saham terus menurun?" Tanya reva yang begitu passih dalam penggunaan bahasa swedish. Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan reva yang tidak ia perkirakan sebelumnya.



"Kau tidak tau?" Sarkas reva, lalu terkekeh pelan membuat suasana di dalam ruangan mulai menegang karena aura yang ia pancarkan.



"Turunkan harga saham kita menjadi 10%" kebanyakan dari mereka terkejut dengan keputusan yang reva ambil dan merasa keberatan.



"Miss Noela 10% bukan lah angka yang kecil, kita akan rugi jika anda menurunkan harganya"



"Lalu apa solusi yang dapat anda berikan Mr. Jo?" Pria yang di panggil mr.jo tidak dapat menjawab pertanyaan reva, dan dengan bulat reva menetapkan harga saham saat ini.



"Susutkan 10% dan kita akhiri pertemuan hari ini"



Ia berlalu begitu saja meninggalan ruang meeting yang kini di penuhi desas-desus tentang keputusan yang reva buat. "Mana sekretaris baruku?"



"Saya segera memanggilnya kemari nona" lalu mr.han pamit undur diri. Kini ia tengah membaca beberapa berkas yang ada di meja kerjanya, hingga suara ketukan pintu terdengar. "Masuk"



"Perkenalkan, saya adalah sekertaris baru anda" reva menutup berkas yang telah ia baca lalu melirik sekilas sekretaris barunya.



"Pergilah ke meja kerjamu dan aturkan jadwal ku hingga 2hari kedepan" Perintah reva tak terelakan.




*^*




Jam sudah menunjukan waktu istirahat namun reva merasa enggan bangkit dari kursi kebesaannya yang sudah ia dorong menjauh dari meja kerjanya, sambil tersenyum tipis ia menatap jendela kaca besar yang memberikan view kota Stockholm yang ada di ruangannya. Ia baru menyadari kehadiran orang selain dirinya.



"Ah kau" ia membuang nafas lega dan kembali melanjutkan aktivitasnya. "Ini jadwal anda mrs"



"Don't call me mrs, I'm not married yet"



"Maafkan saya nona"



"Letakan saja di meja lalu tinggalkan" ucap reva acuh. Entah dari mana keberanian itu berasal sekretaris baru itu mendekati reva, "nona apa anda sudah makan siang?"




"Tidak, kau saja" menyadari akan suatu hal gadis itu bertanya dengan lugu. "Kau belum memperkenalkan diri mr. sekertaris"



"Ah maafkan keteledoran saya miss perkenalan nama saya Erik Healton" Reva menautkan alisnya, "Kau bukan orang swedish?"



"Bukan miss, saya imigran dari New York" reva mengangguk menggerti. "Oke mr. healton bukankah kau ingin makan siang?" Erik terkejut dengan pertanyaan aneh boss nya.



"Benar"



"Lalu kenapa kau masih ada di ruanganku?" Tanya reva tak minat, membuat erik agak salah tingkah. "Ah baik miss noela saya permisi" reva tidak menghiraukannya dan kembali menatap jendela.




*^*




Tidak terasa waktu mengarah ke angka 5, tanda jam kerja telah usai. Reva berdiri mendekati mantelnya yang tergantung setelah selesai membereskan meja kerjanya, "ada perlu apa?" Tanya reva menyadari keberadaan erik. "Ini dokumen yang anda minta tadi miss"



"Letakan saja di atas meja" erik melakukan apa yang di perintahkan reva dengan cekatan, tanpa sadar ia memperhatikan kegiatan yang tengah atasannya lakukan dari memasang mantel, mengikat rambutnya menjadi satu. "Apa kau tidak berniat untuk pulang mr healton?" Erik tersentak, beruntungnya atasannya tersebut memungguinya.



"Saya akan segera pulang nona"



"Kau bisa memanggilku reva, jika di jam kerja"



"Baik nona.. maksud saya reva"



"Pulanglah tepat waktu, aku tidak suka karyawan yang lupa waktu" erik bergeming menatap reva yang tidak memperlihatkan ekspresi apapun tapi tetap telihat cantik, "Istirahatlah, aku duluan" erik menunduk hormat saat reva berlalu melewati dirinya, ia merasakan hal aneh.




**€**




"Nona muda, kemarin dia datang ke mansion tuan besar untuk mencari keberadaanmu" gadis itu menghentikan kegiatannya, lalu meletakan pisau dan garpu dengan pelan. "Bagaimana keadaannya?"



"Dia terlihat baik-baik saja, nona"



"Apa yang mereka katakan kepadanya?" Kini ia menatap sang ajudan penasaran.



"Mereka hanya memberikan sedikit informasi tentang anda" reva membuang muka dan lanjut memotong steak di depannya. Mr.han pamit undur diri meninggalkan reva di ruang makan penthouse.



Ia membanting alat makannya sembarang lalu mengusap wajahnya khawatir. "Apa dia akan baik-baik saja?"



"Dan semoga kau selalu baik-baik saja" sebulir air mata terjatuh dari tempatnya, gadis itu menangis. Suara isakan mulai keluar dari bibir manisnya, ruangan yang tadinya sunyi kini di isi oleh suara tangis yang begitu memilukan.





"Bagaimana?"


"Seperti yang anda perintahkan, tuan" mengarahkan ponsel ke arah suara isak tangis.



"Hahaha, tangisnya seperti alunan musik di telingaku"


"Menurutmu apa aku sudah keterlaluan?" Basa-basi seseorang dari ujung telepon sana.



"Tidak tuan, jika itu untuk kebaikan nona sendiri"


"Hahaha, baiklah tetap awasi dia" setelah mengucapkan kata-kata itu ia menutup sepihak telepon.




**€**