
Author POV
"Langsung saja, apa hubunganmu dengan gadisku" Willy tertawa pelan menanggapi perkataan dingin dari brian.
"Kau sangat lucu sobat" ucap willy di sela sela tawanya. Brian hanya menatap willy datar ttanpa berniat membalas perkataan dari laki-laki tersebut. "Okay okay, rere is my cousin dude" brian mengangkat sebelah alisnya tak percaya.
Willy menghela nafas pendek lalu menepuk bahu brian pelan, "Aku mengatakan hal yang sebenarnya and" willy mengalihkan pandangan kesekitar lalu mendekatkan wajah tepat di telinga brian, "aku mendukungmu dengan adikku"
Setelah mengatakan itu willy pergi menjauh meninggalkan brian yang masih setia berada di tempatnya.
**€**
Reva's POV
Setelah menyisir rambut panjangku, ku sibakan selimut bersiap untuk tidur. Tapi sebelum itu aku menoleh saat mendengar suara pintu kamar yang terbuka dan menampakan keeberadaan brian yang memasuki kamar dengan langkah lambannya.
"Kenapa kembali?" Tanyaku dengan nada acuh. Brian hanya menatapku dalam, lalu menimpa tubuhku dengan posisi memeluk.
"Hei!!" Pekikku saat ia memelukku dengan erat saambil memukuli lengan kekarnya. "Ada apa denganmu hah?" Sergaku setelah brian melonggarkan pelukannya.
"Maafkan aku" imbuhnya lalu kembali memelukku. Aku masih diam mencerna tingkah brian yang mendadak aneh, lalu tanganku bergerak mengusap punggungnya pelan.
Dan berkata dengan nada pelan dan penuh penekanan. "Lepas"
Brian langsung melepaskan pelukannya dan memposisikan diri duduk di atas ranjang. Aku membenahi rambutku yang sedikit berantakan akibat ulah brian, "Jelaskan" suruhku. Dan mengalirlah cerita tentang percakapan brian dengan willy sebelumnya.
Aku tidak terlalu menyimak dengan apa yang brian katakan, jujur saja telingaku tiba-tiba menuli dan hanya terfokus pada ekspresi wajahnya yang terlihat sangat menggemaskan saat bercerita.
"Sayang"
"Sayang"
"Ah?" Tersadar dari lamunan singkat, aku menatap brian dengan ekspresi bingung. "Ada apa?"
"Apa kau mendengarkan ku?" Decaknya kesal. Aku terkekeh pelan lalu mendekat lalu duduk di pangkuannya, mengusap rahangnya pelan lalu memberikan kecupan lembut disana.
Laki-laki itu terlihat menahan nafas singkat lalu menatapku dengan pandangan bertanya miliknya yang khas. "Jangan memancingku"
Aku tertawa kecil dan menggeleng pelan, "Apa kau melihat aku membawa umpan?" Tanyaku seraya meletakan tangan di leher laki-laki itu.
Ah... wajahnya telihat sangat lucu.
"Aku tidak suka candaanmu, sayang" keluhnya.
Karena kasihan aku mengecup seluruh wajahnya cepat, dari pipi kanan dan kiri, kening, hidung, dagu lalu bibirnya. Mataku terbelak saat ia menahan kepalaku dan memperdalam ciuman kami, aku merontan ingin berhenti tapi di detik berikutnya aku terbuai oleh permainannya.
Ia melepaskan tautannya, nafas kami saling memburu. Kurasakan benda kenyal mengecup keningku lama, "Tidur, udah malam" perintahnya lalu menarik selimut keatas.
Terlihat jelas tidurnya mulai terganggu karena perkataanku, hahahaha ia sangat menggemaskan. Tapi aku tidak menyesal pernah menilainya pria yang dingin dan licik, karena pada dasarnya itu memang sifat alami seorang pengusaha.
"Berhenti menatapku dan tidurlah" aku tegelak lalu mengecup singkat bibirnya tepat saat brian membuka matanya. "Jangan mencoba mengalihkan pe-"
Dengan cepat ku bungkam bibirnya dengan sebuah ciuman, sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu sering berinisiatif untuk menciumnya. Brian menyelusupkan sebelah tangannya pala leher jenjangku, dan sebelahnya lagi mengusap punggungku bergairah.
Dan aku baru menyadari posisi brian yang kini sudah berpindah di atasku, kurasakan tuntutan yang ia berikan pada pagutan bibir kami, suara desah tiba-tiba saja keluar dari rongga mulutku. Membuat brian semakin memperdalam ciuman kami, lalu ia membantuku melepas tshirt yang ku kenakan menyisakan bra, begitupun dengan tshirt dan kembali melanjutkan aktifitas yang tadinya tertunda.
*^*
Brian's POV
Aku menatap lapar gadis yang ada di bawahku terlebih dengan tubuh yang hanya di balut pakaian dalam warna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya lalu tatapan gairah yang menyorot memohon, aku kembali mencumbu bibir manis yang kini menjadi canduku, mengecap intenst tanpa memberikan cela bagi reva untuk bernafas bisa ku dengar lagi suara desah yang ia keluarkan membuatku semakin bersemangat.
"Bria..ahn" seraknya, tepat saat ciumanku turun di dada indah miliknya, "hmm" gumamku yang masih terfokus memberikan mark di tekuk leher dan dadanya yang masih terbungkus bra.
Aku menatapnya dengan kabut gairah, "kenapa?" Tanyaku saat tangannya menahanku untuk melepas kaitan bra-nya. Ia menggeleng sambil membenahi tali bra yang ada di bahunya yang tadi ku turunkan lalu mengalungkan tangannya di leherku dan mengecup lembut pipi kananku.
"Aku lelah" keluhnya. Apa aku tidak salah dengar? Untuk ke sekian kalinya, ia selalu meminta ku berhenti bahkan di saat aku belum memulainya.
"Sweet heart" panggilku, membaringkan diri di atasnya, meski berat aku yakin ia mampu menahan bobot tubuhku. "Brian, aku lel..shh ah"
Aku tersenyum miring di sela-sela memberi mark di dekat tulang selangkanya, mengenyampingkan keluhan yang membuatku sedikit menderita disini. "Stop sshh it"
"Kau menikmatinya sayang" bisikku dengan suara serak di selimuti gairah. Helaan nafas berat darinya terdengar jelas di telingaku, dan...
**€**
Author POV
"Aku rasa mereka semakin dekat" pria tua itu sedikit menoleh lalu terkekeh pelan dan membalas,
"Bukankah itu hal yang bagus?"
"Oh come on! Dia putraku, jangan permainkan dia Arta" ucapnya lalu mendengus kesal, Arta hanya tertawa kecil sambil mengesap teh herbal miliknya.
Adam yang melihat itu kembali bersuara, "Kau terlihat santai sekali" Arta tidak menyahuti perkataan sarkasme yang Adam lontarkan padanya, matanya menatap lurus kedepan.
"Aku berharap banyak padanya" ungkap Arta ambigu sembari meletakan kembali cangkir teh kosong. Pria berkemeja pastel itu tersenyum tipis, "Jangan membebaninya dengan harapanmu orang tua"
Arta menoleh, "Terserah kau saja" lalu merek tertawa menikmati sore bersama.
**€**