I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
7. Bertemu kembali



{ Aku tidak percaya takdir. Karena takdir terlalu sering mempermainkan hidup ku }


–Reva–





Author POV




Gadis berisi abu itu hanyut dalam kegiatannya hingga tidak menyadari kehadiran seorang pengusik, seperti sekarang ini.



Lea menendap-endap mendatangi reva yang kebetulan membalikan kursi kearah jendela besar di belakangnya.



Satu...


Dua...


Ti–...



"Jangan macam-macam denganku" Sarkas reva yang sebenarnya sudah menyadari kedatangan sahabatnya itu.



Lea berdecih lalu mengambil tempat di salah satu sofa, ia menatap bosa reva yang sedari tadi hanya terfokus oleh berkas-berkas kantornya.



"Apa kau selalu seperti ini?" Tanya lea memecahkan keheningan.



"Mungkin" sahut reva di sela-sela pekerjaannya.



"Apa kau sering lupa waktu? Bukankah kau membenci orang yang lupa waktu"



Reva bergeming, gadis itu menyorot kosong ke arah lea. "Rere" panggil lea pelan.



Lea membuang pandangannya, ia tidak sanggup menatap mata reva terlalu lama. Ia menghela nafas berat dan kembali menatap reva yang kini kembal fokus pada pekerjaannya.



"Ayo makan" Ajak lea akhirnya. "Tidak" lea menyergit.



"Kenapa?" Manik abu itu membuang nafas panjang.



"Aku harus mengoreksi berkas untuk rapat proyek baru besok siang, kau tidak masalah makan sendirian kan?"



Jika sudah berkata seperti itu lea tidak mampu membujuk gadis keturunan noela itu. Mengingat sahabatnya memiliki tingkat keras kepala yang akut dan tak terbantah, membuatnya semakin sulit untuk merayunya untuk sekedar makan.



"Oke fine. Tapi kamu juga harus makan, okay?" Reva hanya berdeham mengiyakan perkataan lea. "Aku pergi dulu"



Sekali lagi hanya dehaman yang lea dapatkan. Lea keluar dari ruangan dan menuju meja sekretaris sahabatnya itu.



"Hei tuan, jika ada apa-apa dengannya tolong hubungi aku" Pinta lea pada erik yang menatapnya sedikit kaget.



"Ini nomer ponselku, ingat kabari aku!" Sambung lea ttak terbantah.



"Tapi n–"



"Tidak ada tapi tapian, hanya saja firasatku mengatakan harus menjaga reva" Erik terteguh.



"Ah sudah lah pokoknya hubungi aku jika ada masalah" Setelah itu lea meninggalkan meja erik yang sedang menggaruk pipinya bingung.




**€**




Pria itu memasuki mobil yang sedari tadi menunggunya di landasan pacu. "Jam berapa meetingnya?" Tanyanya yang baru saja duduk.



"Besok siang tuan" sahut wanita yang sedaritadi ikut menunggu kedatangan boss nya.



"Baiklah"



Setibanya di hotel pria itu–brian– menjatuhkan diri di sofa kamarnya setelah membersihkan diri.



Ia menatap balkon kamar yang ia tempati dengan seksama, pemandangan malam perkotaan yang di hiasi oleh lampu beraneka ragam warna. Entah kenapa ia sangat menunggu datangnya hari esok.




*^*




Para staff karyawan inti berjejer di depan pintu masuk, menyambut kedatangan tamu spesial.


"Selamat datang di Nel's Crop Mr. Rohwan" 



Sambut mereka seirama dan sopan, "Mari saya antar tuan" Tanpa basa-basi brian berjalan mendahului orang itu.



Sesampainya di ruang meeting, manik ember itu menatap lurus kearah seorang gadis dengan pakaian kantor sopan dan rambut yang tergerai indah.



Gadis bermanik abu itu sedikit tersentak mendapati brian yang kini berada di sisi kiri meja rapat berhadapan dengannya, namun segera ia netralkan dan bersikap professional.



Reva tidak lagi terkejut mendapati para pemimpin perusahaan nampak begitu mengutamakan pria yang menatapnya intens itu. Ia mengingat jelas siapa nama pria tersebut dan nama keluarganya.



'Pantas saja aku merasa tidak asing dengan marganya, ternyata dialah orang yang berada di puncak dunia bisnis'. Ucap reva dalam hati.



Reva bangkit dan menaiki podium yang ada di ruangan, seketika seluruh pasang mata menatap fokus kearahnya. Sebelumnya ia memperkenalkan diri dan memulai presentasi tentang rencana pembangunan yang ia susun sedemikian rupa.



Pergerakan reva tidak pernah luput dari iris amber yang menatapnya dalam. "–dengan demikian saya menyarankan pembangunan kontruksi ini berada di alaska. Lalu–"



Brian terus memperhatikan kegiatan yang di lakukan gadis itu– bukan tapi miliknya. Pria itu baru menyadari banyak pasang mata yang menatap reva dengan pandangan lain, mereka menatap gadis miliknya penuh minat.



Membuat brian menggepalkan tangan menahan amarah. Seusai reva presentasi, banyak dari mereka menyetujui untuk menginvestasikan dana mereka ke proyek baru perusahaannya.



Membuat ia merasa sedikit lega, hingga suara hentakan meja mengagetkannya begitu dengan orang yang ada di dalam ruangan yang sama dengannya.




Brak!





Tapi ia menutupinya sangat apik dengan wajah datar tanpa ekspresi yang selalu ia pajang. "Aku akan menginvestasikan 35% sahamku untuk proyek ini"



Nafas reva tercekat begitupun orang yang di sekitarnya. 'Taktik apa yang sedang ia mainkan?'. Batin reva bertanya.



"Apakah anda bersungguh-sungguh tuan Rohwan?" Tanya gadis itu meyakinkan sekali lagi.



"Ya, tapi dengan satu syarat" Sebelah alis gadis itu terangkat, tanda menanti ucapan yang menggantung itu. "Kau harus berkencan denganku"



Manik abu itu menyorot tak suka kearah brian yang memperlihatkan smirk-nya.



Banyak dari kolega itu berbisik membicarakan perkataan yang brian lontarkan.



Reva menghembuskan nafas pelan, "Maaf? Apa ya–" perkataan gadis itu terputus begitu saja.



"Itu persyaratan yang ku berikan" Ruang meeting mulai ricuh. "Ah.. aku naikan menjadi 50%"



"Bagaimana? Kau bisa mempertimbangkannya"



"Maaf tuan, saya keberatan dengan persyaratan yang anda ajukan" Reva menanggapinya dengan tenang lalu memberi kode kepada erik.



Erik yang mengertipun langsung mengajukan pendapatnya, "Maaf menyela, tapi persyaratan yang anda berikan tidak ada sangkutpautnya dengan pekerjaan tuan Rohwan"



Suasana di dalam ruang meeting semakin menegang lantaran penolakan yang di lakukan reva.




"Astaga gadis itu menolak pria tampan"



"Dan yang ia tolak adalah tuan brian, sungguh gadis yang aneh"



"Sepertinya dia gadis pertama yang di ajak tuan brian bekencan, mengingat tuan brian tidak pernah menginginkan wanita mana pun"




Reva tidak mempedulikan ocehan demi ocehan yang mengatakan dia aneh karena menolak pria tampan nan mapan di depannya ini. Karena baginya kehidupan pekerjaan dan pribadi tidak bisa di gabungkan.



"Apa kau menolaknya?"



"Maaf tuan, saya tidak membahas permasalahan pribadi saat meeting kantor yang tidak ada sangkutpautnya dengan kehidupan pribadi saya" Tegasku.



Pria beriris amber itu terkekeh pelan melihat keteguhan hati gadis berambut sepunggung itu. "Baiklah, saya akan invenstasikan saham saya 50% tanpa persyaratan apapun"



Gadis itu tidak memberikan reaksi apapun, ia hanya mengucapkan terimakasih dan mengakhiri rapat sebagaimana semestinya.



Rapat yang melelahkan!. Batin reva kesal.



Erik segera menyusul reva yang ingin memasuki lift. "Nona reva, tunggu"



Gadiss itu menahan pintu lift untuk erik, namun dengan cepat brian memasuki lift dan menutup pintu lift cepat.



Reva tersentak mendapati tengannya di genggam oleh pria sinting yang beberapa saat lalu mengajaknya berkencan di depan kolega bisnisnya. Gadis itu menghempas lengan brian keras.



Hening.



"Apa sangat sulit untuk menerima tawaranku tadi?" Gadis itu tidak membalas pertanyaan yang menurutnya sudah jelas jawabannya.



"Jangan mengabaikan aku!!" Teriak brian marah. Gadis itu terlihat tidak terusik dengan bentakan brian, justru ia berani menatap iris amber miliknya.



"Anda telah mengetahui jawabannya" Lift terhenti di lantai 23, dimana ruangan reva berada. "permisi"



Brian menarik masuk pergelangan tangan gadis itu sebelum benar-benar meninggalkan lift. Lalu menutup kembali lift, menekan angka menuju basement tempat parkir.



"Apa yang anda lakukan?" Tanya reva masih terlihat tenang.



Nyatanya kini jantungnya berpacu dengan sangat cepat, beruntung tubuhnya tidak gentar sama sekali. Sehingga kemungkinan kecil brian akan tau jika ia mulai gelisah.



"Menculikmu mungkin" Ucap brian menatap sorot abu reva, namun ia tidak dapat mengartikan sorot pandang gadis itu, terlebih gadis itu hanya memasang wajah tanpa ekspresinya.




*^*




Gadis itu tersentak saat brian menarik tangannya keluar dari mobil yang kini telah terparkir rapi di basemant gedung perumahan reva.



Hingga tibanya mereka di depan pintu penthouse miliknya, Reva membulatkan mata terkejut.



"Apa anda seorang penguntit?" Datarnya.



Brian tidak langsung menjawab, ia menggendong reva ala bridal style karena gadis itu tidak ingin masuk bersama dengannya.



"Turunkan!!!!" Rontan reva di dalam gendongan brian. Pria itu menurunkan reva di sofa empuk ruang tamu.



Iris abu miliknya menatap langsung iris amber milik brian dengan amarah yang mulai memuncak.



"Apa kau mengidap Alexithymia?"





**€**




[ F.Y.I ]


Alexithymia adalah gangguan psikologis yang dicirikan dengan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan secara verbal emosi dan perasaan yang dialami di dalam dirinya seperti orang lain.