
{ Aku acuh bukan karena tidak menyukaimu. Hanya saja jika aku bersikap seperti dulu, aku takut kembali tersakiti }
–Reva–
Author POV
Pagi ini suasana hati brian sangat baik, ia bahkan menyapa jack sambil tersenyum saat pria yang menjadi asisten pribadinya itu. Terlebih saat jack sedang membacakan jadwalnya, pria beriris amber itu terkekeh tanpa sebab membuat jack khawatir terhadapnya.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Tanya jack sedikit merinding mendapati boss-nya sedang tersenyum.
Sejujurnya ia cukup takjub melihat boss-nya itu tersenyum, karena bisa di katakan brian itu tipekal jarang tersenyum dan bila tersenyum itupun hanya terlihat garis kecil. Tidak seperti sekarang ini, brian nampak sangat jelas tersenyum.
"Tidak perlu khawatir. Hari ini mood ku sangat baik" Jawab brian dengan tenang.
"Ah hari ini ada rapat, ayok!" Ajak brian membuat jack semakin cemas dan di buat bingung.
Sesampainya di ruang rapat perusahaan miliknya, brian menyapu pandangan mencari sosok yang ia nanti sedari tadi.
Akhirnya ia menemukan sosok yang ia tunggu datang dari balik pintu bersama dengan seorang pria dan dapat ia lihat mereka terlihat akrab. Membuat mood brian yang tadinya baik menjadi kacau dalam satu detik.
Iris amber miliknya tanpa sengaja bertemu dengan iris abu cantik milik reva, namun gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah pria yang ia ingat sebagai seketaris gadiss itu.
Brian mengepalkan tangan menahan amarah, dan jack yang ada di sampingnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pagi ini ia sudah cukup di buat bingung oleh tingkah brian yang seperti orang tanpa beban dan sekarang ia harus di buat pusing dengan perubahan drastis suasana hati boss-nya kali ini.
Selama rapat berlangsung arah pandang brian tertuju pada gadis yang mencepol rambutnya keatas, dapat ia lihat sorot mata gadis itu tertuju pada pria yang tadi datang bersamanya.
Reva terlihat sangat fokus memperhatikan apa yang erik sampaikan mewakili perusahaannya dalam rapat kali ini, membuat reva cukup kagum pada sekretarisnya itu.
Sebenarnya gadis beriris abu itu menyadari jika pria yang duduk di hadapannya sedang menatapnya tajam, tapi ia mencoba acuh dan fokus dengan rapat pagi ini.
Seusai rapat dengan langkah tenang brian mendekati reva yang sedang bercengkrama dengan beberapa kolega yang lain.
Tangan besarnya menarik gadis itu lembut dan membawanya pergi, dan menyisakan tanda tanya bagi orang yang melihat kejadian yang begitu cepat tersebut.
Bahkan erik dan jack sempat terkejut mendapati atasan mereka berjalan mendekati lift dan meninggalkan mereka sendiri. Poor them.
*^*
Reva menghempas tangan membuat genggaman tangan mereka terlepas sesaat telah tiba di kantor brian.
Gadis itu menghela nafas, "Apa mau mu?"
Pria itu memperlihatkan wajah tanpa ekspresinya membuat gadis itu sedikit mengerutkan keningnya, lalu mengangkat bahu tak peduli dan menjatuhkan diri di sofa panjang tanpa memperdulikan brian.
"Sudahlah aku lelah, katakan saja. Apa salahnya" gerutuk reva sedikit kesal.
Gadis itu sedikit terkejut mendapati brian yang sudah berbaring dan menjadinya pahanya sebagai bantalan.
"Apa aku sungguh kekasihmu?" Reva mengangkat sebelah alisnya, "Em.. mungkin" jawab reva apa adanya.
Brian mendudukan diri dan menatap reva dengan tatapan menyelidik, "Apa kau selalu seperti ini? Kau terlihat seperti anak-anak" keluh reva.
Brian mengangkat bahu lalu kembali seperti posisi awal berbaring, "Hanya di depanmu saja aku bersikap seperti ini" jujurnya.
Hening.
"Brian..."
Tubuh pria itu meremang mendengar namanya di panggil begitu halus, namanya terdengar sangat cocok untuk suara manis itu. Brian berdeham menanggapinya.
"Bangunlah, aku lapar" pria itu langsung mendudukan diri. "Erik pasti sudah menungguku" sambung reva seraya membenarkan tataan rambutnya.
Mendengar perunturan gadis itu brian kembali berbaring di pangkuannya lalu memeluk pinggang ramping reva manja, gadis itu terlonjak kaget. 'Astaga! Kenapa laki-laki ini sangat manja!'. Erang reva membatin.
"Brian aku mau pergi" Kata reva mencoba melepaskan pelukan brian. Nihil tak berhasil, Pria itu pun tidak mau membalas perkataannya.
Dengan berat hati reva mengelus rambut coklat gelap brian lembut, berharap pria itu luluh dan melepaskan pelukannya.
*^*
Brian's POV
Aku merasakan sentuhan lembut di atas kepalaku, apa dia sedang membujukku? Entah kenapa aku menyukainya hehe...
Dan aku semakin mengeratkan pelukan di pinggang kecil miliknya, bisa ku rasakan ia tengah mendengus sebal sekarang.
"Berhentilah, kasihan erik yang sudah menungguku" Gerutuknya sambil mencubit lenganku keras.
Aku mengaduh kesakitan lalu duduk dan melepaskan pelukan, iris abu terangnya itu menatapku kesal lalu bangkit membenarkan pakaiannya yang sedikit kusut karena ulahku.
"Aku pergi dulu, bye" Pamitnya tanpa melirik kearahku. Heh??
Sepenting apa sih sosok erik di pikirannya itu sampai-sampai meninggalkan aku begitu saja dalam keadaan cemburu!
Tunggu cemburu? Apa aku cemburu? Emm itu hal yang wajar bukan?
Aku mengejarnya dan ikut masuk ke dalam lift, reva nampak tidak keberatan aku mengikutinya membuat hatiku sedikit menghangat.
Meski sikapnya masih acuh tak acuh denganku, sepertinya aku harus berusaha ekstra untuk mendapatkan hati dan perhatiannya.
Ohhh ternyata namanya erik, akan ku ingat itu. Aku menghampiri mereka berdua yang tengah bercengkrama, heh? Apa pria itu sedang menggoda gadisku dengan leluconnya?
Dengan sigap aku memeluk pinggul raming reva dari samping dan memberikan senyum formal kepada pria yang ku ingat namanya erik itu.
Erik nampak terkekeh melihat keberadaanku, "Apa dia orangnya nona?" Tanya erik basa-basi.
Dapat ku dengar suara decihan keluar dari bibir manis reva, "Lupakan dia, ayo kita makan. Aku yakin kau pasti lapar er"
Aku menatap gadis kecil ini tak percaya, kenapa ia begitu perhatian terhadap pria yang bernama erik itu?
"Aku ingin ikut!" Ucapku sedikit lantang, bahkan beberapa orang menatapku bertanya.
Reva yang sudah melepaskan dirinya dari pelukanku hanya mengangguk pasrah. Apa aku terlihat kekanak-kanakan? Mungkin iya.
Selama perjalanan tidak ada satu orang pun yang membuka suara, apa karena aku memaksa reva duduk di belakang ketika ia ingin duduk di depan? Entahlah, aku hanya sedang menjaga milikku tetap aman dari pria lain.
Kami bertiga keluar ketika mobil telah terparkir dengan sempurna di restoran cepat saji. Eh? McDonal's?
Aku pikir mereka akan makan di restoran mewah tapi ternyata tidak. Apa mereka akan makan disini?
Aku mengikuti dan erik mengikuti langkah reva yang menuju tablet besar yang menampilkan menu makanan. Erik yang tadinya ada di sampingku kini sudah bertukar tempat dengan reva.
"Erik aku pesan seperti biasa" pinta reva yang di angguki oleh erik. Lalu gadis itu melirik kearahku bertanya.
"Apa?"
Reva memutar bola matanya malas, "Cepat kau ingin pesan apa?" Tanyanya.
Ak nampak berpikir sejenak, "Samakan saja denganmu"
Gadis itu mengerutkan keningnya, "Kau yakin?" Aku mengangguk tanda mengiyakan. "Baiklah"
"Erik, tolong samakan pesanan brian sama seperti punyaku" Erik nampak terrkejut lalu menatapku tak percaya.
Eh? Apa ada yang aneh? Bisa ku lihat reva memperlihatkan smirk-nya yang begitu khas.
Setelah membayar kami menunggu erik mengambil antrian makanan.
Aku duduk di samping kekasihku yang tanpa memeperdulikan keberadaanku sedikitpun. Aishh,, dia begitu dingin.
Saat erik membawa makanan yang di pesan aku membulattkan mata tak percaya, ini sudah kali kedua erik mengambil pesanan tapi belum juga selesai. Sampai nampan keempat yang ia bawa baru lah pria beriris gelap itu duduk dengan tenang di hadapanku.
"Cepat makan" suruh reva yang sudah menyuap big mac.
"Aku tidak yakin bisa menghabiskannya, dear" Keluhku jujur.
"Tapi tadi kau minta samakan pesanan denganku" Bisa ku lihat erik sedang menahan tawanya.
"Tapikan aku tidak tau jika sebanyak ini, sayang"
Aku berkata jujur, aku tidak tau jika ia memesan banyak makanan seperti, seporsi big mac, seporsi mcspicy, mcnuggets 6pcs, 2 spicy chicken bites, 2 french fries (L), apple pie, caramel sunday dan iced coffee crem cheese.
Dan yang paling ku herankan, kenapa tubuhnya masih terlihat langsing di saat dia mampu makan sebanyak itu?
"Yasudah bungkus saja untukku" santainya. Apa bungkus? Apa dia masih lapar dengan porsi makanannya sekarang hingga ingin membungkus makananku untuk dirinya sendiri?
"Bungkus untukmu?" Tanyaku meyakinkan. Gadis itu hanya mengangguk sambil memakan caramel sunday yang ia ambil dari nampan milikku.
"Erik, minta mereka untuk membungkus makananya" Erik bangkit seraya menyambil nampan makananku yang belum ku sentuh itu. Sebelumnya reva mengambil spicy chicken bites dan iced coffee cream cheese yang ada di nampan sebelum di bawa oleh erik.
Ia memberikan makanan itu untukku, aku hanya diam tidak tau harus bagaimana. Gadis itu mendengus laluu menyuapi aku sepotong spicy chicken bites itu ke arah mulutku, dan tentunya aku terima dengan senang hati.
"Setidaknya kau makan" Astaga perkataannya yang begitu perhatian meski dengan nada acuh.
"Aku tidak tau jika gadis dingin sepertimu cukup perhatian" Kataku lalu mengecup singkat pipinya.
"Ini pegang, ayo kita pergi. Erik pasti sudah berada di mobil" Ucapnya memberi perintah, sambil menarik tanganku dengan sebelah tangannya dan tangan sattunya lagi membawa iced coffee milikku.
Aku begitu menikmati perilaku yang kudapat dari reva, selama perjalanan aku bermanja ria di bahunya tanpa memperdulikan erik yang menahan senyumnya sedaritadi.
Sesampai nya di hotel tempat gadisku menginap, aku merebahkan diri di sofa seraya menyalakan televisi. Menunggu reva selesai mandi.
"Kenapa kau tidak kekantor saja sih" Dengus gadis itu yang tiba-tiba datang dan mendudukan diri di karpet sambil membuka bungkusan makanan.
"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, dear"
Aku terkekeh mendapatinya berdecih tak suka dengan sikapku. "Lebih baik kau bekerja saja"
"Apa kau mengusirku, dear"
"Ya" Singkatnya yang terfokus pada tv sambil menyemil apple pie.
Bukannya marah aku justru mengangkatnya ke pangkuanku, ia nampak terkejut saat aku mengangkatnya.
"Jangan ganggu aku sedang makan!" Sarkasnya.
Aku tersenyum menanggapi lalu mencium cepat bibirnya yang menjadi canduku. "Brian!"
Aku semakin tertawa mendapati wajah kesal kekasihku itu.
**€**