I Can'T Say I Love You

I Can'T Say I Love You
13. Kencan



{ Aku hanya butuh sedikit waktumu, itu saja. Aku tidak ingin mengganggumu, aku hanya rindu. }


–Brian–




Author POV




"Awalnya aku tidak pernah menyangka mereka akan menjalin hubungan secepat ini" Ucap pria itu terkekeh pelan.



"Ya.. aku pun sama, aku tidak menyangka anakku cukup agresif" Sahutnya lalu menyeruput teh hijau.



"Aku berharap gadis kecilku bisa membuka hati sepenuhnya untuk brian" Harapnya sederhana.



"Semoga saja"




**€**




Reva's POV




Sudah 2 bulan sejak saat tanpa sengaja menerima brian menjadi kekasihku, dan selama itu juga ia sering berpergian dari L.A ke Sweden membuat hati kecilku sedikit tergetar.



Sejujurnya saat lea mengetahui hubunganku dengannya ia sempat membantah tapi entah bagaimana pria itu mampu membujuk lea agar menyetujui hubungan kami.



Aku juga masih ingat bagaimana reaksi shock lea  yang baru pulang belanja bersama erik saat mendapati brian yang tengah berkunjung ke penthouse kami.



Berbeda dengan reaksi mr.han yang begitu bergembira sampai-sampai ia menelepon koki bintang 5 untuk merayakan hubunganku dengan brian. Mr.han memang selalu berlebihan.



Seperti hari ini brian akan berkunjung ke penthouse, jika aku bersikap biasa saja berbeda dengan mr.han yang sedang menyiapkan berbagai aneka cemilan dan mengisi stock minuman di kulkas dari berbagai macam varian rasa jus kemasan dan juga ice cream.



Cklek...



Aku terlalu malas menebak siapa yang datang, karena aku sudah hapal sifat tidak tau sopan santun milik siapa ini.



"Hi dear, do you miss me?" Sapa brian hangat lalu memelukku erat dari samping.



"Not really, menjauhlah aku belum mandi" Usirku.



Bukannya menjauh brian malah semakin mendekat lalu menciumi seluruh wajahku dari pipi, kening, pelipis hingga bibirku.



"Kapan kau akan berkunjung ke L.A dear" tanyanya setelah selesai menciumi wajahku.



"Entahlah"



Beginilah aku selalu menanggapi perkataan brian dengan acuh, tapi entah kenapa pria satu ini tidak merasa terusik sama sekali dengan keacuhanku. Ya meski sesekali ia mengeluh dengan manja, seperti sekarang ini.



"Rere, aku ingin di perhatikan olehmu"



Selama menyandang status sebagai kekasih brian banyak hal yang ku ketahui tentang pria bermanik amber itu. Ia hanya bersikap manja dan kekanak-kanakan hanya di depanku, dan akan selalu mencari perkara agar mendapat setiap perhatianku.



Aku menoleh menatap wajahnya yang kini terlihat manis di penglihatanku. "Baiklah apa yang kau inginkan bayi besar?"



Kadang aku merasa bersalah padanya, tanpa di sengaja aku telah menjadikannya sebagai pelampiasanku.



"Bagaimana jika kita pergi ke bioskop dear" ajaknya. "Aku ingin pergi kesana bersamamu"



"Aku kurang suka menonton film, brian" Tolakku halus.



"Tapi kau selalu menonton drama dan juga film korea di televisi"



"Brian, big baby, itu satu hal yang berbeda okay?" Ucapku melembut.



"Itu sama dear" Sahutnya tak mau kalah sambil menciumku, astaga ia suka sekali mencuri-curi kesempatan untuk menciumku.



"Berbeda, karena yang ku tonton adalah pacar dan suamiku"



"Suami? Pacar? Lalu aku apa?!" Ia terlihat tidak terima aku menganggap aktor dan idol kesukaanku sebagai suami dan pacarku. Ia cukup menggemaskan saat ini, menurutku.



Aku bangkit berjalan kearah kamar tanpa menghiraukannya yang ku yakin tengah merajuk.



Tidak lama setelah itu aku keluar dari kamar dengan berpakaian rapi, dengan kaos lengan pendek biasa dipadu celana jeans pendek warna army tidak lupa sneakers putih pink.



Brian menatapku bertanya, "Mau kemana?"



"Apa kau sudah berubah pikiran untuk pergi ke bioskop?" Tanyaku seraya mengikat satu rambut pirangku.



"Sungguh??" Tanyanya seolah masih tak percaya dengan perkataanku sebelumnya.



"Yes big baby" Sahutku lalu mengecup singkat bibir tebalnya itu, lalu pergi mendahuluinya.



Astaga aku sangat malu saat ini, untuk pertama kalinya selama menjalin hubungan aku berinisiatif menciumnya terlebih dahulu.




*^*




Author POV




Setelah selesai menonton film mereka pergi ke starbucks, lalu besantai menikmati waktu.



Gadis itu bersantai ria sembari memakan cake yang tadinya ia pesan tidak lupa untuk menyuapi bayi besarnya yang akhir-akhir ini terlihat manja.



Meski ia belum bisa membuka sepenuh hatinya untuk brian, ia cukup tau diri untuk menghargai perasaan pria itu dengan memberikan sedikit perhatiannya. Dan berharap perasaan brian mampu ia balas suatu saat nanti.



"Dear, apa kau tidak ingin pulang?" Ucap pria itu sedikit manja mengingat mereka masih di kawasan umum.



"Yasudah ayo pulang, lusa nanti kamu akan kembali ke L.A kan?" Tanya reva lalu ikut berjalan di samping brian.




"Jangan bodoh, kau punya tanggung jawab disana" Brian mendengus kesal mendengar jawaban pacarnya itu.



"Jika ada waktu minggu depan aku akan mengunjungimu" Ucap gadis itu seraya tersenyum kearah brian.



"Jangan bercanda denganku, itu tidak lucu" Rajuk brian yang langsung masuk kedalam mobil sport maroon di ikuti reva.



"Aku tidak memaksamu untuk percaya" Sahut acuh reva membuat wajah brian semakin menekuk.



Begitu sesampainya di penthouse brian masih tidak membuka suaranya, membuat lea yang ada di ruang tengah bertanya-tanya dengan sikap kekasih sahabatnya itu.



"Rere, apa kalian bertengkar?" Gadis itu hanya mengendik bahu tak mengerti.



"Aishhhhh... sana bujuk atau manjakan dia, aku kasihan dengan brian yang begitu sabar menghdapi sikap acuh dan tak peka sepertimu" Imbuh lea yang tak di tanggapi gadis bersurai pirang itu.



Manik coklat itu menatap reva tajam, "Kenapa masih disini? Cepat sana susul dia di kamar!"



Reva menatap lea horor, "Baiklah... baiklah akan ku susul dia" lalu beranjak menuju kamarnya yang juga di tempati oleh brian jika sedang menginap di penthouse-nya.



Reva membuka knop pintu pelan dan mendapati brian yang sedang bermain ponsel di sofa panjang yang ada di kamar.



Gadis itu dengan acuhnya melenggangkan kaki memasuki kamar mandi berniat untuk berendam dan merelaxkan diri.



Tok...


Tok..



Dapat terdengar suara ketukan dari luar pintu yang mengusik acara berendam santai gadis itu, dan dapat ia tangkap suara sendu brian dari balik sana.



"Sayang... apa kau masih lama di dalam?"



Reva tidak menjawab, ia hanya memejamkan mata sejenak menghirup aroma mawar yang selalu menjadi candunya.



"Reva sayang.."



"Apa kau marah padaku?"



Gadis itu menautkn alisnya bingung, lalu membilas diri, menyudahi acara berendamnya.



Ia membuka pintu kamar mandi yang sudah di hadang brian dengan tatapan aneh.



Reva hanya melalui brian dengan menggunakan handuk pendek yang melilit tubuh rampingnya.



Brian menatap reva gusar, bagaimanapun ia tetaplah pria normal. Sedangkan gadis itu dengan santainya memasuki wearing room, tanpa merasa bersalah pada brian yanh tengah menahan diri.



"Sayang.. " panggil brian saat melihat kehadiran reva dari bilik wearing room.



Gadis itu tidak menanggapi brian dan merebahkan diri di king size di ikuti brian.



"Sa-"



"Brian berhentilah merengek dan tidur. Aku tidak marah padamu jika itu yang ingin kau tanyakan" Jelas reva yang kini terduduk menatap iris amber brian seksama.



Lalu mendekat dan menyapu rahang tegas milik brian, membuat pria itu memejamkan mata menikmati perilaku manis reva yang sangat langka baginya.



Gadis itu mencium pelan brian, awalnya pria itu terkejut mendapari serangan dadakan dari reva yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.



Namun ia tetap membalasnya dengan senang hati, lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi lumatan rakus dari brian. Reva hanya mengikuti permainan brian yang kini sudah berada di atasnya, tangan brian menyelusup kedalam baju reva, mengelus punggung mulus gadis itu pelan.



Sesaat brian ingin melepas pengait bra milik reva, gadis itu dengan kesadaran penuh mencubit lengan brian keras membuat ciuman panas mereka terhenti.



Brian menatap kekasihnya yang masih terhengah-hengah bingung, "Kenapa? Sakit tau" keluhnya lalu menjatuhkan diri di atas tubuh reva, menenggelamkan kepalanya di leher gadis itu.



Sedangkan reva hanya terkekeh pelan dan mengelus punggung brian pelan.


Dapat di lihat jika gadis itu mulai membuka diri untuk brian.




**€**




Setelah memastikan reva masuk kedalam kamar menyusul brian, lea dengan hati-hati mengambil ponselnya yang tadinya sengaja ia sembunyikan takut terlihat oleh reva.



Ia kembali membuka ruang obrolannya dan mendapati sebuah pesan.



From: Erik


Baiklah.. bagaimana jika besok


kita pergi?



Sebuah lengkungan simpul terbit dari bibir mungkil lea, "Apa ini ajakan kencan?"



"Astaga lea, jangan kepedean" Nasihatnya untuk diri sendiri. Lalu mengetik pesan balasan untuk erik.



From: Lea


Boleh.. mau kemana?



From: Erik


Taman bermain? Besok akan aku jemput.



Lea mengembangkan senyumnya tatkala menerima pesan singkat dari pria beriris gelap itu.



From: Lea


Oke.



Setelah menjawab pesan ia mematikan ponselnya, "Balas singkat gapapa kali ya? Bener kata rere musti jual mahal kalo sama cowo mah" Racaunya sambil terkekeh geli dan berlalu memasuki kamarnya.



Tanpa gadis itu sadari mr.han mengamati tingkah anehnya dari meja pantry. "Dasar anak muda" lalu menggeleng pelan.




**€**