Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 44 : RETAK



Hal. 7: Mimpi


Setelah tidak denganmu, semua berjalan sehancur itu. Aku masih gagal menerima diri, justru lebih banyak memaki waktu. Seseorang yang mencintaimu ini masih belum memahami, seperti apa cara kehilangan bekerja. Bagaimana mimpi buruk mengambil alih kenyatan tanpa pernah ia duga. Tubuh yang aku tumpangi, masih belum mampu memisahkan antara kenyataan dan hayalan; sebab terlalu berharap. Jika kehilanganmu sebatas mimpi-mimpi yang tak lengkap.


Hal. 8:Alasan


Sebelum kau bertanya keheranan, mengapa sesulit itu bagiku melupakan. Mari kuberi tahu beberapa kenyataan. Dalam hidupku yang kacau balau, kau datang bagai malaikat. Meyakinkanku


dengan cara yang tak pernah kuterima sebelumnya. Membuatku percaya bahwa kau akan menerimaku seada-adanya.


Hubungan yang kita lalui memang tidak lama. Namun bagiku, ketika kau datang; hidup benar-benar sedang mengujiku dengan banyak perkara.


Berbagai masalah memeluk bersamaan, kehancuran membuatku tak karuan. Namun, waktu itu, kau berdiri di garis terdepan sambil mengatakan bahwa kau akan tetap menemani dan menerimaku. Kau, akan tetap ada disini selama yang kau mampu.


Hanya saja, aku yang bodoh ini tak pernah menyangka bahwa kata-kata semacam itu adalah hal yang biasa dilontarkan buaya. Aku yang tak pernah mengerti bahwa semua janji hanyalah


upaya menenangkan diri, percaya setengah mati.


Bahkan setelah kita tidak bersama, kuyakini kau akan kembali. Perlu waktu bagi diriku untuk


memahami hal itu. Nyaris bagiku menghilang dari bumi, sebah tak terima akan cara kau pergi. Aku menangis lebih banyak dari bahagia.


Mendekatkan diri pada Pencipta. Tak ada tempat lain untuk mengadu, sakit yang tertanam dalam diriku; memaksaku bersimpuh tiap waktu.


Kini, hari berlalu. Waktu berjalan dan pelan-pelan sakitnya reda. Setelah menerimamu sebagai seseorang yang pernah ada, dan sudah tak bisa lagi diajak bersama; aku hidup kembali meski tak sepenuhnya. Diriku mulai bersinaran dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Kehilanganmu memang melarikan hampir seluruh warasku. Hanya saja, aku tak pernah menyangka. Caraku melanjutkan sisa waktu akan mengadu, sakit yang tertanam dalam diriku; memaksaku bersimpuh tiap waktu.


Kini, hari berlalu. Waktu berjalan dan pelan-pelan sakitnya reda. Setelah menerimamu sebagai seseorang yang pernah ada, dan sudah tak bisa lagi diajak bersama; aku hidup kembali meski tak sepenuhnya. Diriku mulai bersinaran dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Kehilanganmu memang melarikan hampir seluruh warasku.


Terimakasih telah menjadi alasan aku mencinta, terluka, berlari mengejarmuu hingga lelah. Dan menyerah dengan bangga, sebab telah melakukan segala hal sebaik-baiknya. Terimakasih telah


menjadi alasan untukku kembali berjalan


dengan baik dan bahagia.


Kata-kata manis bisa di ucap oleh siapapun.


tetapi bukti nyata yang dilihat secara langsung


menjelaskan beribu ribu kata.


Sepeserpun, aku bersumpah; tak ada keberanian yang kupunya untuk sekedar menatap matamu dengan penuh perasaan yang sesungguhnya. Dan menuliskanmu kali ini, adalah yang pertama kalinya kulakui. Aku begitu takut kau mengetahui, bahwa dalam dadaku ini namamu seringkali


membuat iris mataku bergerak tak henti.


Menelusuri lengan-lengan hingga seluk beluk lekukan yang kau miliki. Aku merekam aroma khas milikmu, perwatakan hingga sifat-sifat tertentu.


Kau begitu ingin kumiliki, tetapi tak pernah bisa kusanggupi.


Aku tau kita tak pernah bisa ditakdirkan bersama, hingga macam-macam perasaan tidak seharusnya terutarakan. Biarlah dunia yang mengerti, bahwa kepadamu; aku terlalu dalam tenggelamsendiri. Terlampau jauh sudah.