Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 25 : RAGU



“ Habis ini kamu mau langsung pulang apa gimana Naa?” Tanya Ezra.


“ Aku ngikut Kakak saja atau aku pulang sendiri juga ngga apa-apa kak.” Sahut Naca.


“ Tumben banget Kak Ezra ngomong pake bahasa aku kamu biasanyakan gue elo gitu.” Batin Naca bertanya-tanya.


“ Yaudah ayo ikut aku saja, aku ada tempat rekomended yang harus kamu kunjungin juga.” Ajak Ezra sambil menarik tangan Naca.


Setelah keluar dari cafe itu, mereka berjalan beberapa ratus meter ke arah barat.


“ Kenapa kita jalan Kak.” Ucap Naca agak ngos-ngosan karena Ezra terlalu cepat berjalan dan menarik tangannya.


Melihat Naca yang sudah ngos-ngosan itu, Ezrapun  langsung memelankan langkah kakinya “ Soalnya bentar lagi sudah mau sampai, lagian aku mau lama bersama kamu saja. Apakah harus ada alasan lain.


Naca hanya terdiam mendengar ucapan Ezra itu.


Sesampainya di cafe gelato itu.


“ Mbak saya pesan gelato rasa stroberinya satu sama coklatnya satu.” Ucap Ezra lalu langsung mencari kursi untuk mereka berdua.


“ Naa duduk sini.” Ucap Ezra sambil menarik kursi untuk Naca.


Naca yang masih terhanyut dalam pikirannya langsung tersadar saat mendengar ucapan Ezra.


“ Kamu ini mikirin apa kok ngelamun terus aku liatin dari tadi.” Ucap Ezra sambil memperhatikan Naca yang melangkah kearahnya.


“ Maaf Kak, cuman kepikiran Olimpiade saja.” Sahut Naca dengan senyum manisnya.


Gelato yang mereka pesan sudah tiba, Naca memperhatikan sekelilingnya sambil memakan gelato tersebut.


“ Enak juga ya Kak.” Ucap Naca dengan terus tersenyum dan menggoyangkan kepalanya, sambil memakan gelato tersebut.


“ Iyalah kan aku yang milih tempat ini, aku sering banget kesini cuman buat makan gelato saja.” Ucap Ezra dengan memberikan senyum manisnya.


Raut wajah Naca langsung berubah agak masam “ Oh sering kesini ya, sama pacar ya Kak.” Ucap Naca.


“ Cie cemburu ya Naa, aku ngga punya pacar sampai sekarang.” Ucap Ezra.


“ Apa sekarang kamu bahagia bersama pacarmu Naa, kenapa aku melihatmu seperti tidak terlalu ceria saat bersamaku.” Ucap Ezra kepedean.


Mendengar ucapan tersebut membuat Naca terkejut dan menghentikan makannya “ Tau apa Kakak tentang aku, a-aaku b-bahagia.” Ucap Naca tidak berani menghadap ke arah Ezra sambil memegang telinganya.


Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari hp Naca.


“ Hallo ada apa Dave?” Tanya Naca dari telpon panggilannya.


“ Kamu dimana, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat.” Ucap Dave.


“ Aku lagi di Cafe Gelato XY baru saja selesai rapat, kamu kesini saja Dave.” Sahut naca.


“ Oke baiklah, tunggu aku disana.”


☆☆☆


“ Apa kamu habis ini dijemput oleh pacarmu?” Tanya Ezra dengan senyum tipisnya.


Naca hanya diam dengan sudut bibir yang terangkat dan tersenyum kecut.


“ Sepertinya memang benar dugaanku, kamu tidak begitu bahagia bersama Dave ya, lalu kenapa kamu teruskan Naa.” Timpal Ezra sambil memegang tangan Naca.


Kemudian Dave datang dan membuka pintu Cafe, Ia terkejut dengan apa yang Ia lihat dan langsung bergegas menghampiri Ezra dan Naca.


“ Kenapa kalian berpegangan.” Ucap Dave dengan menarik tangan Naca kembali.


“ Caa ayo cepat pergi dari sini.” Ucap Dave dengan menarik paksa Naca.


“ Kak aku duluan ya.” Ucap Naca dari kejauhan.


“ Davee.”


“ Dave sakit tolong lepaskan.”


“ Dave sakit.”


Naca yang merintih kesakitan tidak di hiraukan oleh Dave dan masih terus berjalan menuju mobilnya.


“ Cepat masuk ke mobil.” Ucap Dave sambil membukakan pintu mobil.


Braak


( Pintu mobil di banting dengan keras )


“ Kamu marah kenapa sih Dave.” Ucap Naca sambil memegang tangan Dave.


“ Aku tidak melakukan apapun, kenapa kamu bisa semarah ini.” Timbal Naca lagi.


“ Katanya lagi rapat osis, tapi kenapa hanya berduan saja di Cafe seperti berkencan saja.


Naca berusaha menenangkan Dave yang sedang marah itu “ Memang awalnya kami sedang rapat lalu tiba-tiba Kak Agha pulang duluan, jadinya kami hanya berdua makan Gelato disana tadi.” Ucap Naca.


Dave tetap diam menunggu penjelasan dari Naca.


“ Sudah kubilang kami tidak ada apa-apa Dave, tadi Kak Ezra menggenggam tanganku karena aku lagi gelisah saja dan kejadiannya tepat sebelum kamu masuk, jadi aku belum sempat melepaskan genggamannya.” Ucap Naca menjelaskan dengan tersenyum meyakinkan Dave.


“ Sudah ya kamu jangan marah lagi, aku hanya pacarmu Dave dab tidak akan menduakanmu.” Ucap Naca.


Tiba-tiba Dave membanting setirnya lalu menepi ke pinggir jalan.


“ Kalau begitu buktikan sekarang kalau kamu memang milikku.” Ucap Dave sambil menyondongkan badannya ke arah Naca.


Melihat perilaku Dave membuat Naca kebingungan “ Apa maksudmu Dave, aku tidak mengerti.” Tanya Naca.


Dave makin menyondongkan badannya ke arah Naca lalu memegang leher Naca dan menariknya kearahnya “ Cium aku sekarang.” Ucap Dave.


Bibir mereka sudah saling berhadapan, Naca langsung mengerang sekuat tenaga “ Dave lepaskan aku, aku ngga mau kita seperti ini. Aku mau pulang sekarang juga.” Ucap Naca.


Dave langsung mengidupkan mobilnya lalu mengantarkan Naca pulang. Diperjalanan itu mereka hanya diam canggung.


Sesampainya dirumah Naca refleks menangis “ Kenapa Dave melakukan itu terhadapku bukankah aku sudah pernah menolaknya. Aku tidak siap apabila harus melakukannya tadi.” Batin Naca sambil terus menangis.


“ Apa semua cowok memang mesum seperti Dave, haruskah aku putus dari Dave karena ini sudah kedua kalinya dia langsung menyosor untuk berciuman.”


“ Sebenarnya ciuman mendadak memang keinginanku sejak dahulu, tapi kenapa saat kejadian itu terjadi aku malah marah. Apa Dave bukan orang yang aku inginkan untuk menjadi pria impianku.”


Lalu Dave mengirim pesan kepada Naca.


( DAVE )


“ Caa maaf tentang kejadian tadi, aku hanya refleks dan emosi saja.”


“ Apakah kau akan memaafkanku, aku tidak akan melakukan itu untuk yang ketiga kalinya.”


“ Sebagai ucapan permohonan maafku, Bagaimana kalau besok kita dinner bareng dan aku akan meminta maaf yang lebih resmi lagi.”


^^^“ Iya Dave aku juga sudah mau melupakannya.”^^^


^^^“ Kita dinner dirumahku saja karena aku juga lagi pengen masak-masak sebelum pergi ke Surabaya.”^^^


“ Oke besok dirumahmu ya.”


☆☆☆


Sementara itu di Rumah Helen.


“ Gila banget cewek ini, seharian gue disuruh masak berkali-kali dipikir gue mister chef, seenaknya sendiri nyuruh gue masak terus kurang asin, kurang manis, masak sendiri emangnya loe bisa.” Gumam Zidan sembari memasak di dapur.


Helen yang sudah memperhatikan Zidan dari tadi “ Oh begitu ya, memang Helen itu sukanya memerintah saja.” Sahut Helen.


Dengan nada kesal dan menyentak “ Memang merepotkan sekali anak itu, aku ingin pulang saja harus repot mengurusi dia dahulu.”


Helen langsung memeluk Zidan dari belakang “ Ternyata aku seperti itu ya bagimu, apakah aku memang merepotkan seperti yang kamu omongkan.” Tanya Helen.


Zidan terkesiap membeku “ Apa yang kau lakukan disini Helen?” Ucapnya.


“ Entahlah aku hanya ingin melihatmu dari kejauhan ternyata kau memakiku dari belakang, rasanya sedikit menyakitkan.” Sahut Helen melepaskan pelukannya dan pergi.


Zidan meraih tangan Helen “ Jangan tinggalkan aku, temani aku memasak disini. Aku tidak akan mengomel lagi Nona Manis.” Ucapnya sambil menyolek dagu Helen.


“ Baiklah kalau kamu memaksa.” Sahut Helen sambil tersenyum manis dan kembali menggoda Zidan dengan memeluknya dari belakang.


“ Bukankah sekarang kita seperti pasangan yang sedang berpacaran?” Ucap Zidan cengengesan.


“ Sembarangan aku tidak mau menjadi pacarmu huu.” Sahut Helen dengan muka cemberut dan melepas pelukannya.


Zidan mendekap Helen dari belakang “ Baiklah kalau kamu tidak mau, kita langsung menikah saja.” Ucapnya lalu mencium pipi Helen.


“ Kau ini apa-apaan.” Ucap Helen dengan wajah merah merona lalu lari ke kamarnya.