Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 24 : PENJELASAN



“ Kok aku ada di kasur?” Ucap Zidan yang baru siuman sambil memegang dahinya dan mengingat kejadian terakhir yang Ia ingat.


Di kursi samping kasur Zidan terdapat Helen yang sedang tertidur, terlihat dari raut wajahnya kalau Ia sedang kelelahan sambil memegang kain kompres.


“ Ha ada Helen juga, gue kok bisa ada disini.” Zidan masih saja kebingungan dengan sekelilingnya yang sangat tidak familiar.


Zidan beranjak dari kasurnya dan menggendong Helen sampai ke kasur tempatnya tidur.


“ Kasian banget kecapekan berarti selama ini Dia ngerawat gue ya.” Ucap Zidan sambil merebahkan Helen ke kasur.


Lalu zidan mengambil kursi didekatnya dan duduk sambil memperhatikan Helen yang sedang tertidur.


Zidan memegang tangan Helen “ Andai saja waktu itu kamu ngga meninggalkanku, aku ngga mungkin sehancur ini rasanya. Helen aku mohon jangan tinggalkan aku lagi apapun akan aku lakukan agar kamu mau bersamaku.” Ucap Zidan memohon.


“ Coba saja aku bisa ngomong seperti ini saat kamu bangun, apakah kamu tidak akan meninggalkanku.” Timpal Zidan lagi.


Helen yang sudah terbangun semenjak Zidan mengangkatnya itu, masih saja berpura-pura tertidur untuk mendengarkan semua ucapan yang Zidan katakan.


“ Apakah dia hanya akan mengatakan itu saja, benar-benar tidak menyentuh hati.” Batin Helen tanpa sadar mengernyitkan dahinya.


Zidan yang sadar kalau Helen hanya pura-pura tertidur melanjutkan ucapannya.


“ Oh tapi yasudahlah aku tidak akan menunggumu lagi, aku akan move on darimu. Lagian dahulu tanpamu aku bahagia, kenapa saat ada dirimu aku malah tidak bahagia.” Ucap Zidan sambil tersenyum tipis.


Zidan memejamkan matanya untuk beberapa saat.


“ Bukan itu saja untuk apa aku berhari-hari menunggumu diluar, benar-benar tidak berguna setelah kupikir-pikir lagi.”


“ Sepertinya aku akan pulang ke Malang sehabis kau bangun untuk berpamitan. Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir kalinya, jadinya aku ingin berpamitan saja.”


“ Sekarang aku harus memikirkan, aku harus berkencan dengan siapa ya? terlalu banyak wanita yang mengejarku di Malang, tetapi bisa-bisanya ada cewek yang meninggalkanku sehabis bercinta semaleman.” Ucap Zidan sarkas dan tersenyum tipis memperhatikan Helen yang terlihat marah itu.


“ Dasar lelaki bajingan, hanya segitu saja ingin menyerah benar-benar bukan tipeku...” Batin Helen belum selesai berbicara sudah di potong oleh Zidan.


Zidan tertawa terbahak-bahak “ Apakah kau akan melanjutkan sandiwara pura-pura tidurmu itu?” Tanya Zidan.


Mendengar ucapan Zidan itu sontak membuat Helen terkejut “ Si-siapa yang berpura-pura, a-aku me-memang ba-baru saja terbangun.” Ucap Helen gelagapan.


Zidan tersenyum manis “ Baiklah kalau kau sudah bangun, aku akan pergi dari sini.” Ucap Zidan sambil beranjak dari kursinya.


Helen bingung apa yang harus Ia katakan agar Zidan mau lebih lama untuk tinggal disini.


“ Mmm apakah kau akan meninggalkanku disini setelah semalaman mengurusmu yang demam karena tidak makan selama dua hari dan dehidrasi?” Ucap Helen penuh penekanan.


Zidan terkejut dengan apa yang Helen ucapkan “ Apakah Helen melarangku untuk pulang, sepertinya Dia ingin aku lebih lama bersamanya, sudah kuduga sebenarnya Dia memang ada rasa terhadapku.” Batin Zidan.


“ Baiklah aku tidak jadi pulang sekarang, tapi yang akan aku lakukan disini?” Tanya Zidan.


“ Mmm...Kau bisa menjadi asistenku selama seharian penuh sebagai ucapan terima kasihmu karena aku telah menjagamu semalaman.” Sahut Helen.


Mendengar ucapannya barusan Helen terkejut kenapa Ia harus mengatakan alasan yang tidak masuk akal seperti itu.


“ Oh baiklah lagian hanya satu hari saja.”


Sementara itu di Malang.


“ Lama sekali Kak Agha menjemputku.” Ucap Naca yang berdiri di pinggir jalan.


Beberapa menit kemudian terlihat mobil Agha yang sedang menepi.


“ Maaf Caa aku lama menjemputmu tadi aku kelupaan sesuatu jadi balik lagi kerumah.” Ucap Agha.


Dengan muka yang langsung berubah 180° itu Naca tersyenyum manis “ Tidak apa-apa Kak, oh iya Kak Ezranya mana kok ngga bareng Kakak?” Tanya Naca.


“ Ezra masih ada urusan lain jadi dia menyusul kita, kita duluan ke cafenya ya Caa, tidak apa-apa kan?” Sahut Agha sibuk memperhatikan hpnya sambil menyetir.


Naca mengangguk “ Oh iya kenapa kita adain rapat dadakan Kak, soalnya besok aku harus berangkat ke Surabaya jadi sepertinya tidak bisa terlalu lama rapatnya.” Ucap Naca dengan bibir bawah yang maju cemberut.


“ Tidak apa-apa kita hanya akan membahas sponsor yang baru saja Ezra dapatkan, tetapi sepertinya ada sedikit kendala makanya kita adakan rapat.” Sahut Agha.


Sesampainya di Cafe.


“ Ezra lama banget sih, padahalkan gue pengen mereka bisa sama-sama deep talk nyelesaiin masalah mereka berdua. Gue yakin 100% kalau Ezra sebenarnya belum move on cuman sok tegar aja.” Batin Agha.


“ Kak, Kak Ezra datengnya masih lama apa gimana ya?”Tanya Naca.


“ Ngga bentar lagi dia datang baru juga ngechat gue. Kan loe sekarang sudah punya pacar tuh, apa loe bahagia sama Dia sekarang atau biasa saja gitu, kalau loe mau jawab dan ngerasa ini bukan hal yang privasi tolong di jawab ya.” Sahut Agha.


Naca menghela nafas dalam “ Aku juga ngga tau sama perasaan aku sendiri. Awalnya aku lumayan bahagia bisa pacaran sama Dave tapi makin kesini rasanya makin biasa saja padahal Dave juga sudah baik banget ke aku.”


Agha yang sedang meminum minumannya itu langsung tersedak “ Uhuk uhuk... kok bisa kaya gitu, kalau loe ngga bahagia jangan di terusin Caa. Masih banyak cowok diluar sana yang bisa bahagiain loe, contohnya Ezra.”


“ Kak Ezra? Tapi bukannya Dia sudah biasa saja ya sama aku, kemarin pas di kantin dia cuman diam saja.” Kata Naca.


“ Katanya Dia sudah move on dari loe, tapi gue sendiri belum percaya mana ada orang move on cepet bener. Mending loe nanti bahas ini sama dia, lagian rapatnya juga bakalan cepet kelar.” Sahut Agha.


Tidak lama setelah itu Ezra datang dengan beberapa dokumen ditangannya.


“ Hei maaf gue telat, tadi ngeprint ini dulu soalnya.” Sapa Ezra sambil bersalam-salaman.


“ Eh bentar nih bro, gue pengen ke toilet dulu ya tiba-tiba mules.” Ucap Agha lalu menghadap ke Naca dan megedipkan matanya.


Melihat Agha yang mengedipkan matanya itu “ Loe ngapain pake acara ngedip mata segala, sudah cepat sana katanya mules” Ucap Ezra dengan ekspresi masam.


Sudah 5 menit Agha masih belum juga kembali, Naca teringat ucapan Agha dan berinisiatif untuk mengobrol dengan Ezra.


“ Kak, dulu Kakak pernah bilang kalau kakak suka aku tapi kenapa sehabis itu Kakak langsung diam saja saat bertemu denganku.” Tanya Naca tanpa basa-basi.


“ Memangnya seharusnya gimana aku memperlakukanmu, lagian kamu sudah punya pacar untuk apa aku mendekati pacar orang lain.” Sahut Ezra sinis.


“ Aku juga tidak tau seharusnya seperti apa Kakak memperlakukanku tapi kalau kita seperti musuh begini bukankah itu hal yang tidak baik.”


“ Lagi pula aku juga menyukai Kakak dan tidak mau kita seperti musuh begini.” Sahut Naca.


Mendengar ucapan Naca kalau Ia juga menyukai Ezra membuat Ezra membeku dan terdiam.


“ Mungkin kalau dahulu Kakak lebih cepat memberitahuku kalau Kakak menyukaiku, aku akan memilih Kakak ketimbang Dave, karena jujur saja aku tidak menyukainya.” Tambah Naca lagi.


Sontak Ezra langsung mengernyitkan dahinya “ Kalau tidak suka kenapa kamu mau berpacaran dengannya?”


Naca tersenyum tipis sambil memainkan sedotan minumannya “ Aku dulu ingin move on dari Kakak, aku pikir Kakak membenciku jadi aku terima saja Dave.” Ucap Naca dengan nada tinggi, lalu beranjak pergi.


Ezra refleks langsung menarik tangan Naca “ Sorry, kamu kenapa mau pergi.” Ucap Ezra.


“ Ya habisnya aku kesel sama Kakak, kenapa harus memperlakukan aku kaya musuh padahal katanya suka aku, tapi perlakuan kakak bertolak belakang sama yang Kakak omongin.” Sahut Naca sembari duduk kembali ke kursinya.


Ezra masih menggenggam tangan Naca “ Naa aku ngga mungkin bisa kaya dulu lagi kalau kamu punya pacar, aku juga tau batasan.”


“ Oh maaf ngga sadar masih megang tangan kamu.” Ucap Ezra melepaskan genggaman tangannya.


“ Ya kan Kakak bisa cuman sekedar menyapa atau ya biasa saja gitu, gaperlu ngehindar dari aku terus.” Sahut Naca dengan emosi yang masih memuncak.


“ Oke Naa aku ngga bakal kaya gitu lagi, janji.” Ucap Ezra sembari mengacungkan jari kelingkingnya.


“ Naah gini dong kalian gaperlu kaya musuh.” Ucap Agha dari kejauhan.


“ Maaf ya guys dari tadi gue ngeliatan kalian dari balik layar.” Kata Agha sambil tertawa.


Merekapun melanjutkan rapat seperti yang sudah di rencanakan, suasananya begitu mengasikkan karena Naca dan Ezra sudah berbaikan dan meluruskan apa yang sudah terjadi sebenarnya.


“ Sudah jam segini saja kalau gitu gue pulang dulu ya.” Ucap Agha sambil melihat jam tangannya.


“ Loh Naca gimana bro jangan main loe tinggal saja.” Sahut Ezra.


“ Kan ada loe juga, lagian kaliankan sudah ngga ada masalah lagi atau mau omong-omongan lebih lanjut habus ini terserah kalian, pokoknya gue duluan, bye.” Ucap Agha lalu berjalan meninggalkan cafe.