
Pagi yang cerah di hari minggu ini.
“ Hoaam, Huuh sudah pagi saja rasanya aku baru saja tidur.” Ucap Naca sambil menggeliat.
Naca melakukan rutinitasnya sehabis bangun tidur yaitu 5 menit untuk melamun, lalu 10 menit selanjutnya melakukan olahraga peregangan di pagi hari.
“ Sekarang sudah jam 10 saja, sepertinya aku harus langsung mencoba memulai memasak.” Gumam Naca sambil menuju ke dapur bawah.
Dari kejauhan Bii Aish melihat Naca yang menuju ke arahnya “ Sebentar Non, ini masih saya masakan sarapan. Ada apa pagi begini sudah ke dapur saja, apakah tidak perlu saya bawakan ke kamar Non saja?” Tanya Bii Aish.
Naca mengambil buah apel lalu duduk di kursi makan “ Tidak usah Bii, aku hanya ingin mencoba memasak karena nanti akan aku adakan dinner makan malam disini.” Ucap Naca sambil memakan buah ditangannya itu.
“ Apakah saya boleh membantu Non memasak?” Tanya Bii Aish lagi.
Naca berhenti memakan buahnya “ Tidak aku hanya ingin sendirian di rumah saja, habis ini Bibi sama yang lain silahkan me time atau melakukan apapun sesuka kalian pokoknya bukan dirumah ini, okey!” Ucap Naca lalu kembali ke kamarnya.
Bii Aish mengangguk “ Baik Non, kalau ada kesulitan saat memasak tinggal hubungi saya saja, saya akan langsung kemari.” Ucapnya.
“ Baiklah aku ingin mandi terlebih dahulu baru sarapan dan memulai memasak. Bibi bisa langsung me time sehabis memasak sarapan ini, have fun ya Bii.” Ucap Naca lalu kembali ke kamarnya.
Naca berendam di dalam bathtub sambil menonton film kesukaannya.
“ Ih kapan sih aku bisa pacaran kaya orang-orang di film. Kok bisa sih pacaran sama Dave ngga ada bahagianya, ya ada tapi kaya biasa saja, ngga yang se wow itu.”
“ Pengen putus saja rasanya tapi dia tidak pernah melakukan kesalahan yang fatal, sebenarnya ada dia terlalu mesum bagiku tapi aku masih bisa mentoleransinya. Menurutku semua cowok pasti mesum kaya Dave sih.” Gumamnya sambil menyelesaikan mandinya.
Selesai mandi Naca langsung sarapan dan memasak.
Beberapa jam kemudian.
“ Astaga sudah jam setengah 6 saja, sebentar lagi Dave akan sampai kesini. Aku harus segera siap-siap.” Celetuk Naca sambil terburu-buru mempersiapkan dirinya.
Sudah satu jam Naca menunggu tetapi Dave masih belum juga datang. Saat dihubungi Dia juga tidak mengangkatnya, Naca khawatir takut apabila Dave kenapa-napa saat di jalan.
Akhirnya Ia memutuskan untuk pergi mencari keberadaan Dave.
“ Dave kamu kemana sih, aku takut kamu kenapa-napa. Aku sudah masak capek-capek lo gagal berkali- kali dari pagi sampai sore baru selesai terus kamu ngga dateng-dateng juga. Aaarghh.” Ucap Naca dengan mengepalkan tangannya dan memukul-mukul setir mobilnya.
Tiin...
“ Aduh gara-gara kesel gini sampai kepencet klapson huuuh, bete banget.”
Sesampainya dirumah Dave ternyata Dave sudah tidak ada dirumah sejak sore tadi. Satpam dirumah Dave mengatakan mungkin saja Dave pergi ke villanya karena Dave memang sering sekali pergi kesana.
“ Untung saja aku dikasih alamat villa yang mungkin Dave kunjungi oleh satpam tadi.” Celetuk Naca sambil terus menyetir ke arah Villa.
Sesampainya disana, ternyata benar sudah ada mobil Dave yang terparkir asal-asalan dengan pintu yang terbuka. Naca menelpon Dave tapi tetap saja tidak di angkat oleh Dave dan akhirnya Ia berjalan menuju pintu utama untuk memastikan apakah ada Dave didalam sana.
"Lebih cepat, Sayang!”
Naca mematung di tempatnya berdiri, setelah
mendengar suara seseorang dari dalam ruangan.
Tangan Naca yang sudah siap untuk mengetuk
pintu tersebut, kini jatuh ke samping tubuhnya.
Air mata Naca berjatuhan. Mengalir di kedua belah pipinya yang memerah.
"Ayo, Sayang!"
Suara itu kembali terdengar dan membuat hati
Naca semakin terasa panas. Jantungnya
berdegub kencang, bahkan lututnya terasa
bergetar, seolah sudah tidak sanggup lagi
menopang beban tubuhnya.
"Cepat, Tiir! Aku sudah hampir selesai"
Suara itu, Naca sangat mengenali suara itu. Suara laki-laki yang merupakan pacarnya dan suara Tiara yang merupakan teman nya di kelas yang sudah Ia anggap sebagai teman dekatnya bukan musuh lagi.
Tubuh Naca perlahan merosot. la bersandar di dinding ruangan sambil meratapi nasibnya. Desah'n demi desah*n yang keluar dari bibir pasangan itu terdengar semakin jelas di telinganya. Apalagi permainan mereka semakin panas didalam sana.
"Kenapa kamu mengkhianati aku, Dav? Bukankah kamu sudah berjanji akan selalu setia padaku." Lirih Naca sambil terisak.
Naca sudah tidak dapat menahan emosinya lagi. Apalagi desah*n yang keluar dari bibir wanita pelakor itu semakin intens.
Naca langsung terpikirkan untuk menghubungi Ezra dan meminta tolong kepadanya lalu Naca langsung bangkit dan membuka pintu ruangan itu dengan keras. Beruntung pintu ruangan itu tidak terkunci jadi dengan mudah Naca melabrak pasangan itu.
Brakkk!!
Sontak pasangan mesum itu menoleh kepadanya.
Tubuh mereka dipenuhi cucuran keringat dan
wanita tidak tahu diri itu masih mengalungkan
tangannya ke leher Dave. Tubuh mereka masih
menempel sempurna ketika Naca berdiri di
depan pintu ruangan itu.
Melihat Naca yang sudah mempergoki mereka, Dave langsung melepas senjatanya dan menggunakan pakaiannya yang berserakan di lantai. Sementara Dave mengenakan celananya, Tiara lebih memilih bersembunyi dibawah kolong kasur melindungi tubuhnya yang masih basah
dengan cucuran keringat.
"Naca, aku." Dave berjalan menghampiri Naca
kemudian mencoba meraih tangannya.
"Cukup! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!
Kamu sudah keterlaluan, Dav. Bukankah kamu
sudah berjanji padaku akan selalu setia. Tapi sekarang ini apa, Dav?" hardik Naca dengan air mata yang masih setia mengucur dari kedua sudut matanya.
Naca berjalan menghampiri kolong kasur tempat yang menjadi saksi bisu percintaan panas
mereka. Naca menarik tangan Tiara dengan
paksa dan menyuruh wanita itu untuk segera keluar dari kolong kasur tersebut.
"Keluar kamu! Apa yang ingin kamu tutupi? Tubuhmu? Kenapa kamu harus malu, kamu bahkan tidak malu menunjukkan tubuhmu kepada
pacarku!" hardik Naca.
Naca mengeluarkan tubuh Tiara dan kemudian mendorongnya dengan kasar. Namun, Dave langsung menangkap tubuh Tiara.
"Kalian sungguh pasangan yang menjijikkan! Dan kau, Tiara! Sekarang kau sudah senangkan benar-benar bisa mendapatkan Dave seperti yang kau inginkan selama ini.” Ucap Naca.
Setelah mengatakan itu, dia bergegas keluar, menyeka air matanya.
Dave berlari mengejar Naca dan menjelaskan semua yang terjadi. Ia beralasan itu hanya kecelakaan. Namun Naca hanya diam saja dan terus berjalan menuju mobilnya.
Merasa diabaikan, Dave menyambar tubuh Naca dan memeluknya erat-erat. Naca mengeluh dan mencoba untuk menarik tubuhnya keluar dari pelukan itu.
" Lepaskan aku, aku benar-benar jijik padamu, Cuih!" Naca berteriak dan meludahi sisinya.
" Oke, baiklah! Aku akan membiarkanmu pergi, tapi jangan ceritakan hal ini kepada siapapun ya Caa.” Ucap Dave.
“ Tidak aku akan mengatakan kepada semua orang bahwa kau selingkuh di villa yx milik keluargamu sendiri, lihat saja bagaimana tanggapan semua orang tentang seorang superstar di aplikasi selebgram yang berselingkuh.” Ucap Naca sinis.
Naca langsung masuk kemobilnya dan memutar setir lalu keluar dari villa tersebut.
“ Br*ngs*k dasar lelaki kurang ajar, bisa-bisanya selingkuh di saat aku mau mempertahankanmu. Oke baiklah semenjak tadi kita putus Dave.” Ucap Naca sembari mengirim pesan putus kepada Dave.
Naca menepi ke pinggir jalan sambil terus menangis dan mencoba untuk menenangkan pikirannya.
1 jam kemudian.
“ Naca, Nacaa banguun!”
☆☆☆
Sementara itu di Bali.
“ Zidan apakah kamu memang harus kembali hari ini, tidak bisakah kamu lebih lama berada disini.” Ucap Helen dengan bibirnya yang bergetar.
“ Tidak bisa Helen aku sudah izin terlalu banyak di sekolah, kamu juga harus ngertiin aku. Aku sudah seharian penuh bersamamu ini juga sudah malam aku harus berangkat sekarang supaya besok pagi bisa sekolah.” Sahut Zidan sambil meraih tubuh Helen dan memeluknya.
“ Aku akan membencimu apabila kau pergi sekarang, aku tidak akan mau bersamamu lagi!” Ucap Helen sambil menghembuskan napas berat.
Zidan melepaskan pelukannya “ Apabila itu yang kamu inginkan aku tidak bisa menolaknya, karena aku juga sudah di teror oleh guru-guruku di sekolah Leen. Tolong kamu pengertian kepadaku.” Ucap Zidan.
“ Baiklah kita berpisah disini saja, hati-hati di jalan pintu keluarnya sama seperti saat kau masuk kesini.” Ucap Helen dengan membuang muka lalu meninggalkan Zidan.
Mendengar ucapan Helen yang lumayan kasar itu membuat harga diri Zidan tergores, sekejab Ia langsung keluar dari rumah Helen dan kembali ke hotelnya untuk mengemasi barang-barangnya. Lalu pulang ke Malang.