Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 34 : KEBENCIAN



Pagi ini mendung menyelimuti matahari, hujan turun dari semalam. Udara pagi ini lebih dingin dari biasanya, membuat semua orang enggan beranjak dari kasurnya.


Termasuk Naca, setelah subuh dia melanjutkan tidurnya lagi sampai jam menunjukkan pukul 06:30WIB. Alarm nya terus berbunyi, bahkan ketukan pintu kamar pun sudah berbunyi sejak tadi bisa membuatnya bangun.


Tok tok tok.


“ Nacaa.”


Tok tok tok


“Naa?”


Suara ketukan pintu dan suara memanggil nama Naca terus saja terdengar, beberapa menit kemudian Naca baru terbangun dari tidurnya.


Ia menggeliat dan berpindah-pindah posisi tidur, berbarengan dengan alarm jam digital yang masih saja berbunyi. “ Hoaam, haduuh berisik banget sih...ini juga siapa yang ngetok-ngetok pintu pagi-pagi buta begini, ganggu orang tidur saja.” Ucap Naca dengan nada kesal.


Ketukan pintu itu masih saja terdengar hingga Naca bosan mendengarnya.


Tok tok tok.


Naca berteriak dan beranjak dari kasurnya dengan perasaan malas yang masih menyelimuti dirinya “ Sebentar.” Ucap Naca singkat sambil berjalan membukakan pintu kamarnya.


“ Iya, ada apa sih pagi-pagi begini ganggu orang tidur...tau ngga sih sekarang jam berapa?” Ucap Naca ngegas sambil menguap dan menutup mulutnya, tanpa melihat orang yang ada di hadapannya.


Pria yang berada di hadapan Naca merasa bersalah karena sudah mengganggu ketentraman Naca yang sedang tidur “ Maaf Naa jadi gangguin kamu tidur...habisnya sekarang sudah jam 06.40, dan kamu aku panggilin dari tadi ngga nyaut- nyaut..aku pikir kamu masih tidur makanya aku bangunin kamu, terus alarm kamu juga sudah bunyi dari 40 menit yang lalu...takut ngeganggu penghuni lain saja sih.” Ucap Leo dengan tersenyum tipis.


Mendengar suara yang familiar itu Naca mendongakan pandangannya ke atas dengan mata yang melebar, dari yang semula masih menutup matanya karena masih mengantuk “ Oh Kak Leo...aku pikir siapa.” Ucap Naca sambil menggaruk-garuk kepalanya dan menguap.


matanya terbelalak “ Kakak tadi bilang sekarang jam berapa...apa sudah jam 6.40.” Ucap Naca terkejut lalu  membanting pintunya sampai tertutup.


Naca langsung cepat-cepat menggosok giginya dan mencuci mukanya, serta mengganti bajunya. 15 menit kemudian Naca keluar dari kamarnya.


Ia membuka pintu kamarnya dan memakai sepatunya di luar sambil berjongkok “ Aaaa...kok Kakak masih disini?” Teriak Naca disaat Ia baru saja berdiri setelah menggunakan sepatunya.


Ekspresi wajah Leopun ikut terkejut mendengar teriakan Naca yang seolah-oleh melihat hantu itu “ Aa—astaga Naa kamu bikin kaget saja...aku disini dari tadi menunggumu, kalau begitu mari kita kebawah.” Ucap Leo sambil mengelus dadanya, dengan beberapa buku di tangan sebelahnya.


Melihat buku yang di tangan Leo, Naca baru teringat kalau Ia belum membawa buku-bukunya “ Oh sebentar Kak, aku ngambil buku-bukuku dahulu.” Ucapnya lalu masuk ke kamarnya lagi dan membawa beberapa buku di tangannya.


“ Sudah semua?” Tanya Leo kepada Naca yang sedang mengunci kamarnya.


Naca mengangguk lalu mereka turun kelantai bawah menggunakan lift.


Di dalam lift, Naca menundukkan pandangannya sambil menggerak-gerakan kakinya “ Mm maaf ya Kak...buat masalah tadi, gara-gara aku terlalu syok dengan jam yang hampir menunjukan pukul 7 itu...aku jadi tidak sopan meninggalkan Kakak diluar dan ngga ngomong apapun.” Ucap Naca.


Leo memegang kepala Naca dan mengacak-acak rambutnya “ Bukan masalah...yaudah kamu belajar yang rajin ya habis ini.” Ucap Leo lalu mempersilahkan Naca keluar lift terlebih dahulu.


Setelah keluar dari lift, Naca dan Leo berjalan menuju Aula tempat pembinaan disana sudah ramai di kelilingi peserta pembinaan dari berbagai wilayah di Indonesia.


“ Oke selamat pagi semuanya...selamat kalian adalah putra-putri pilihan dari berbagai daerah dan merupakan orang-orang pilihan yang berhak hadir di acara ini.” Ucap salah satu panitia pembinaan.


Aula begitu ricuh di penuhi sorakan dan tepuk tangan dari peserta pembinaan.


Para peserta pembinaan membuat barisan panjang dan mengantri untuk mengambil kertas yang ada di panitia. Tibalah giliran Naca untuk mengambil kertas tersebut.


“ Ternyata benar apa yang Kak Leo omongin malam tadi...aku sama Kak Leo benaran satu kelompok gara-gara pelajaran kami lumayan berkaitan.” Gumam Naca memandangi kertas di tangannya.


Leo datang lalu memegang pundak Naca “ Hei, benarkan apa kataku semalam...kita pasti satu kelompok, memang ya pembinaan seperti ini membosankan...tiap tahunnya sama saja selalu seperti ini.


Naca melangkah mundur, sehingga sekarang tangan Leo sudah tidak berada di pundaknya lagi “ Eh, iya Kak berarti mulai sekarang kita bakal jadi rekan satu tim belajar dan juga tetangga kamar, hehe.” Ucap Naca.


“ Iya sudah tentu.” Sahut Leo sambil mengacak-acak rambut Naca lagi.


“ Ih Kakak suka banget...ngacak-ngacak rambut aku jadi jelekkan rambut aku.” Ucap Naca mayun sambil merapikan rambutnya.


“ Maaf Naa...aku ngga begitu lagi deh..kalau ingat serius.” Ucap Leo dengan muka memelas sambil mengangkat kedua tangannya.


“ Ih kalau ingat.” Gerutu Naca menghadap Leo dan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memutar bola matanya.


Sementara itu di waktu yang bersamaan di Malang.


Di rumah Dave, Ia masih berambisi untuk meretas handphone Naca sampai-sampai Ia tidak masuk sekolah.


“ Ada kabar baik boss...aku sudah dapetin ID cewek ini, namun untuk meretas file yang ada di dalam handphonenya lumayan susah.” Ucap cowok dengan setelan serba hitam itu.


“ Gue sudah bayar loe mahal-mahal ya, masa gini saja ngga becus sih...gue ngga mau tau hari ini juga loe harus dapetin vidio itu.” Sentak Dave sambil menonjok dinding di depannya.


Cowok itu langsung melanjutkan tugasnya dengan mencoba berbagai cara lain untuk meretas handphone Naca. Dengan kelihayannya Ia mengetik komputer dengan sangat cepat dan dengan kode-kode yang susah untuk di baca itu.


☆☆☆


Di kelas XI MIPA sudah berkumpul Erza, Zidan dan Agha. Mereka sudah asik mengobrol sejak pagi tadi sambil memainkam kartu.


Agha mengeluarkan kartunya dan meletakannya di tengah meja “ Eh hubungan loe sekarang gimana sama Helen.” Tanya Agha sambil menghadap Zidan.


Zidan menghembuskan napasnya kasar “ Ya gimana lagi...begitulah ngga ada kejelasan sama sekali.” Ucapnya lirih.


Agha mengelus punggung Zidan “ Yang suka sama loe banyak tapi malah kecantol sama cewek yang suka ngegantungin perasaan gitu...lebih sabar dan tenang lagi ya bro, terus kalau loe Zra gimana sama Naca bukannya habisa main bareng?” Tanya Agha, sekarang menghadap Ezra menunggu jawaban darinya.