Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 31 : BADMOOD



 


Sekarang pukul 12.15 Waktu Indonesia bagian barat, Naca baru saja mendarat di Bandara Soekarno Hatta dengan style pakaian yang sangat tidak niat, Ia dibalut dengan kaos putih, celana training warna abu-abu, sepatu sneakers putih sambil menenteng koper besarnya.


Raut wajah Naca begitu garang dengan mata yang tajam, alis yang hampir menyatu membuat orang-orang di sekitarnya tidak berani mendekat bahkan hanya untuk sekedar menanyakan rute keberangkatan mereka.


Masih dengan muka masamnya “ Semua cowok ngeselin, males banget deh kemarin sama Kak Ezra di mobil cuman diam-diaman padahalkan aku pengen ngerayain hal yang membanggakan bagiku.” Ucapnya sambil melihat sekeliling.


“ Hel to the loo... hello, U kenapa ngeliatin I ya aku perhatiiin dari tadi.. emangnya ada yang salah dengan penampilan gue..” Ucap Naca sambil menghadap ke wanita disebelahnya yang dari tadi memperhatikannya.


Wanita itu mendekati Naca “ Maaf Kak sebenarnya saya pendatang baru dari kampung, baru saja mendarat bersama Kakak tadi. Saya mau tanya kalau mau keluar dari bandara ini, harus lewat pintu mana ya dari tadi saya ngikutin Kakak tapi ngga sampai-sampai juga ke pintu keluarnya.” Tanya wanita itu dengan penampilan ala gadis desanya, Ia menggunakan blouse pink dengan renda dan motif bunga-bunga, rok berwarna merah bata, sambil menenteng tas besarnya di tangan sebelah kiri.


Naca menghembuskan napas berat dan memutar bola matanya “ Kenapa ngga tanya dari tadi sih bikin kesel saja, yaudah loe ikutin gue saja habis ini juga sampai dan jangan pernah panggil gue Kakak lagi, emangnya gue mau jadi Kakak loe.” Ucapnya sambil mengecutkan bibir.


Mereka berjalan bersama sampai pintu keluar “ Sudah ya, jangan deket-deket gue lagi males kalau sampai orang mikir kita kenal, bye maximal.” Ucap Naca, alisnya naik setengah dibarengi dengan hidungnya yang mengkerut.


“ Terima kasih banyak sudah mau menolong saya, mohon maaf apabila dari tadi saya merepotkan.” Sahut wanita itu, lalu menarik tangan Naca dan menyaliminya.


Sontak Naca langsung menarik kembali tangannya, lalu meninggalkan wanita itu “ Jijik banget, ngapain sih pake acara salim segala.” Ucap sembari mengeluarkan handsanitizer yang ada di samping kopernya, lalu mengusapkannnya ke tangan.


Setelah itu Ia memberhentikan taxi yang ada di seberang jalan untuk menuju hotel tempatnya menginap “ Ke hotel XQ ya pak.” Ucap Naca, baru saja mobil itu ingin melaju tiba-tiba wanita tadi masuk dan duduk di taxi yang sama dengan Naca.


“ Loe ngapain kesini lagi sih, kan tadi kita sudah pisah disana.” Ucap Naca, Ia semakin kesal dengan wanita yang terus saja mengikutinya.


Wanita itu menarik tangan Naca kembali untuk yang kedua kalinya, laly menundukkan kepalanya “ Mbak mohon bantu saya untuk terakhir kalinya saja, tadi saya mau naik taxi tapi biayanya mahal sekali, tolong izinkan saya menumpang sampai depan saja tidak apa-apa karena saya bingung kalau harus berjalan dari sini.” Ucap wanita itu memohon.


Karena merasa sedikit iba, Naca membiarkan wanita itu untuk menumpang. Setelah sampai di lampu merah kedua dari Bandara, wanita itu berterima kasih lalu turun.


Naca memberikan uang kepada wanita itu “ Woy, ini ada sedikit kamu ambil saja aku tidak butuh, awas kalau loe nolak gue apain loe.” Ucap Naca dengan nada menyentak, Ia melakukan hal itu karena malu untuk mengakui kalau sebenarnya Ia peduli kepada wanita itu.


Awalnya wanita itu terus saja menolak, namun karena paksaan dari Naca akhirnya Ia menerima uang tersebut.


Sesampainya di hotel Naca diberikan kunci kamar dengan tipe Quad Room yaitu kamar dengan 4 kasur single terpisah, kamar ini sudah di sediakan oleh panitia olimpiade.


Baru saja Naca melangkahkan kakinya kedalam kamar, Ia sudah merasa tidak betah karena harus berbagi 1 kamar untuk 3 orang yang sama sekali tidak Ia kenali. Ia langsung membalikkan badan dan melangkah keluar menuju resepsionis.


“ Aku pesan penthousenya 1 untuk satu bulan.” Ucap Naca dengan mengeluarkan kartu kreditnya.


“ Maaf bukankah anda adalah salah satu peserta pembinaan olimpiade, sepertinya peserta tidak di perbolehkan untuk memesan kamar lagi, dikarenakan fasilitas pembinaan akan di sediakan oleh panitia.” Ucap Wanita resepsionis itu.


Naca langsung memaki wanita itu “ Hotel ini ngga butuh uang? Tinggal ngasih kunci saja apa susahnya sih, gue juga bayar kali disini. Sudahlah kasih saja gue kamar kalau masalah boleh ngganya biar gue yang ngurus.” Ucap Naca ketus sambil menggebrak meja di depannya.


Wanita itu langsung menelpon salah satu panitia olimpiade dan menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi. Setelah perdebatan panjang antara Naca dan Wanita itu datanglah salah satu panitia, Ia menjelaskan kalau boleh-boleh saja Naca memesan kamar sendiri dengan persyaratan tidak boleh telat saat pembinaan berlangsung dan pembayaran akan dilakukan oleh Naca tanpa ada paksaan dan keberatan.


Pintu lift terbuka laki-laki itu keluar terlebih dahulu dan tidak sengaja menjatuhkan salah satu kertas di tangannya.


Naca mengambil kertas itu lalu ingin mengembalikannya kepada pria tersebut, namun pria itu sudah tidak ada lagi di lorong hotel “ Loh cowok tadi kok sudah ngga keliatan lagi, ini gue bawa apa tinggalin disini ya kertasnya tapi kalau di tinggal nanti malah ilang.” Setelah perdebatan lumayan panjang anatara Naca dan pikirannya, akhirnya Ia membawa kertas itu kedalam kamarnya tanpa membuka sedikitpun isi kertas itu.


Barang-barang yang Naca bawa sudah Ia masukan kedalam lemari kamarnya sekarang Ia berbaring di kasurnya.


Menghela napas dalam “ Huft gini dong namanya kamar itu harus luas begini, masa kamar sudah kecil buat 4 orang lagi kan pengap. Kasurnya empuk banget sama kaya kamar aku di Malang. Oh iya isi kertas tadi apa ya, siapa tau aku bisa nemuin identitas orang itu dan bisa ngembaliin kertas ini.” Batin Naca.


“ Tapi kalau aku buka ngga sopan dong, sudahlah aku kembali ke resepsionis dan bikin pengumuman ada yang jatuhin kertas di lift saja deh.” Gumamnya lalu beranjak dari kasur.


Baru sampai di depan kamarnya Ia terlintas pikiran untuk mandi terlebih dahulu “ Tapi aku pengen mandi dulu deh, lagian juga ngga mungkinkan kertas ini penting banget bagi orang tadi.”


Setelah selesai mandi Naca turun kebawah dan memberitahukan kepada resepsionis. Tidak menunggu begitu lama datanglah cowok tadi untuk mengambil kertasnya.


Dari kejauhan “ Hei kamu.” Ucap pria itu sambil melambaikan tangannya kepada Naca yang sedang duduk menunggu di sofa lobby hotel.


“ Ternyata kertas aku ada di kamu, makasih ya sebenarnya dari tadi aku mencari-cari kertas itu di kamar, aku pikir terselip dimana gitu.” Ucap pria itu sambil menduduki sofa di hadapan Naca.


“ Oh My God, di ganteng juga ternyata salah ya keputusan aku untuk mandi terlebih dahulu, kasiankan dia jadi nyariin kertas ini.” Gumam Naca.


Naca tersenyum melihat pria itu lalu memberikan kertas yang ada di tangan sebelah kanannya itu “ Eh iya maaf baru ngembaliin barusan, ternyata sepenting itu ya kertas ini. Aku ngga berani baca isinya sih jafi ngga tau kalau kertas ini sepenting itu.” Ucapnya.


Pria itu membalas senyuman Naca dengan sangat manis “ Sebenarnya ini hanya kertas biasa namun isinya ada alamat Mamaku yang baru, sejak kecil kami berpisah karena orang tuaku bercerai.” Sahutnya.


“ Sebagai ucapan terima kasih, bagaiman kalau kita makan bersama kamu tidak boleh menolaknya ya, tulis nomor kamu disini aku akan menghubungimu nanti.” Ucap pria itu dengan memberikan pulpen yang baru saja Ia keluarkan dari saku kirinya.


“ Tidak usah seperti itu, aku yang salah karena terlambat memberikan kertas ini. Lagian aku mengembalikan ini ngga berharap apapun.” Ucap Naca sambil berdiri lalu berjalan meninggalkan pria itu.


Pria itu menarik tangan Naca “ Tolong kamu jangan menolak, aku hanya berterima kasih apabila kamu menolaknya.” Ucapnya tulus.


Dengan langkah berat Naca berjalan mendekati pria tadi dan menuliskan nomor telponnya di kertas tersebut “ Sudahkan, kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu.” Ucapnya dan benar-benar berjalan meninggalkan pria itu di belakangnya.


“ Kamu ngga nulis nomor yang salahkan.” Teriak pria itu, Ia menanyakan hal itu karena menyadari Naca yang enggan memberikan nomornya.


Dari kejauhan Naca menoleh dan menjawab “ Kita lihat nanti apakah itu benar-benar nomorku atau tidak.” Sahut Naca dan melanjutkan perjalanannya.


Catatan dari penulis : Sifat orang bisa cepat berubah karena suatu alasan apalagi kalau emosi, makanya sifat Naca lumayan kasar kepada wanita di bandara karena Ia sedang berada di mood yang jelek.