Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 32 : BERSAMA PRIA TIDAK DIKENAL



Semenjak Ia putus dengan Dave, sifat Naca berubah drastis dari yang awalnya kalem, baik dan sabar, menjadi cewek yang lebih agresif, egois dan tegas.


Matahari mulai tenggelam digantikan oleh bulan yang mulai bersinar terang, sekarang jam menunjukan pukul 6. Pria tadi sudah menghubungi Naca dan katanya sekarang Ia sudah menunggu Naca di lobby hotel.


Naca bergegas memakai boots heels yang sudah Ia bawa dari Malang, dengan menggunakan dress putih dan blazer hitam di tangannya, tidak lupa Ia juga membawa tas kecil untuk menaruh kartu kredit dan handphonenya.


Melihat jam di tangan kirinya “ Aduh sekarang sudah jam 6.20 lagi, apa cowok itu masih nungguin aku ya? Kelamaan kayanya aku pas mandi sama ganti baju.” Ucap Naca sambil bergegas menekan nomor lift, Ia memilih nomor 1 dan langsung turun ke lantai paling bawah.


“ Oh itu dia orangnya.” Gumam Naca sambil berlari menuju pria yang sudah dari tadi menunggunya di sofa lobby.


Pria itu menotice Naca dengan melambaikan tangannya sebentar “ Hei, mari kita langsung saja berangkat.” Ucap pria itu kepada Naca yang sedang berjalan kearahnya.


Naca yang berjalan terlalu cepat itu sampai-sampai terpelecok tepat di hadapan pria itu, Ia hampir saja terjatuh, untungnya pria itu cepat meraih tangannya dan sekarang mereka sedang di posisi saling memegang satu sama lain dan memandang satu sama lain.


Posisi yang begitu awkward, Naca melepaskan pegangannya “ Aaah.” Ia menyadari kakinya sedang terkilir.


Pria itu langsung memapah Naca dan membawanya untuk duduk di sofa dekat mereka “ Apakah kamu masih bisa berjalan?” Tanya pria itu sambil melepas boots Naca.


“Aww...sakit sekali, sepertinya ini akan jauh lebih baik apabila di kompres air hangat.”  Pekik Naca menahan sakit.


Pria itu langsung pergi ke resepsionis dan meminta kotak P3K, lalu kembali menghampiri Naca yang sedang duduk diam di sofa tadi “ Kamu tahan sedikit ya, aku akan mengoleskan minyak tawon ini sebentar, minyak ini aromanya memang sedikit menyengat tapi ampuh untuk mengobatkan kaki yang keseleo.” Ucap pria itu sambil mengoleskan minyak tersebut dan memijatnya sesekali.


Naca hanya diam menuruti perkataan pria itu, sambil sesekali mencengkram tangan pria itu karena menahan sakit.


Pria itu lalu menatapnya dengan senyuman “ Apakah sekarang sudah lebih baik?” Tanyanya.


Naca mengangguk “ Aku rasa sudah lebih baik, kalau begitu mari kita lanjutkan makan malam yang sudah kita rencanakan tadi.” Ucap Naca.


“ Apakah kau serius, lebih baik kita undur lain kali saja setelah kakimu benar-benar sudah membaik. Aku tidak apa-apa, apabila kita mengundurnya lain kali saja.” Sahut pria itu sambil memasukan botol minyak tawon tadi kedalam kotak P3K.


Naca memegang tangan pria itu “ Aku benar-benar sudah tidak apa-apa lagi, jadi ayo kita makan sekarang...aku tidak menerima penolakan, lagian aku sudah dandan secantik ini haruskah aku kembali ke kamarku.” Sahut Naca tegas.


Pria itu langsung berdiri dan mengulurkan tangannya “ Kalau itu kemauanmu aku tidak akan menolaknya lagi, tapi dengan syarat kamu tidak boleh jauh dariku dan aku akan membantumu berjalan.” Ucap pria itu.


Naca meraih uluran tangan itu dan mereka berjalan menuju luar lobby, setelah mengembalikan kotak P3K tadi.


Pria itu melepaskan tangannya yang sedang bergandengan dengan Naca “ Kamu tunggu disini sebentar ya. Aku ambil mobil dulu, jangan kemana-mana.” Ucapnya lalu bergegas menuju parkiran hotel, karena pria ini merupakan tamu VIP jadi mobilnya hanya berada sekitar 40 meter dari depan pintu keluar hotel.


Tidak lama kemudian Ia kembali dengan mobil sport 2 pintunya, lalu turun “ Hati-hati.” Ucapnya sambil menggandeng Naca dan membukakan pintu mobil untuknya, lalu Ia pun kembali memasuki mobilnya. Merekapun berangkat ke tempat tujuan.


Naca memandangi pria di sampingnya yang menggunakan kemeja hitam dan celana berwarna khaki itu. Ia begitu tampan bahkan dari segala sisi, Naca lumayan takjub melihat pria itu sampai-sampai tidak berkedip.


“ Hei? Ada apa....Apakah ada yang ingin kamu bicarakan? Sepertinya dari tadi kamu menatapku.” Ucap pria itu sambil menghadap Naca yang hampir saja meneteskan air liurnya karena terlalu lama bengong.


Naca tersandar dari lamunannya “ Oh...kamu bilang apa tadi? Maaf aku melamun.” Ucap Naca sambil mengusap bibirnya.


“ Hahaha kamu ini ada-ada saja, sedang melamunkan apa sampai-sampai mau ngences begitu.” Ucapnya sambil tertawa.


“ Kamu manis...ups eh aduh, Gimana? Aku jadi malu sendiri nih.” Ucap Naca sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


Pria itu menghadap ke Naca lagi dan tersenyum lebar “ Kamu ini ada-ada saja..lucu dan jujur.” Ucapnya sambil menyetir.


“ Apa kamu ada alergi makanan tertentu? Karena ini kita sedang menuju resto seafood all u can it. Minuman kesukaanmu apa? Apakah boba?” Tanya pria itu.


“ Aku sedikit alergi dengan udang, kalau minuman apa saja suka... apalagi kalau milkshake stroberi.. dan ditambah boba pastinya... hehe. Apakah aku banyak bicara?” Sahut Naca begitu ceria saat menceritakan minuman kesukaannya.


“ Tidak aku suka kamu apa adanya, baiklah kalau begitu kita beli minuman untukmu terlebih dahulu.” Ucap pria itu sambil mengelus rambut Naca karena terlalu gemas.


Sontak mendengar itu Naca langsung terdiam membeku tanpa sadar membuka mulutnya lagi dengan mata yang melebar.


Melihat perilaku Naca, pria itu mangatupkan mulut Naca “ Mingkem...jangan dibuka terus mulutnya nanti dimasukin lalat loh.” Ucapnya menggoda Naca.


“ Eh.. maksudnya suka apa adanya, Apa ya? Aku jadi bingung huhu.” Tanya Naca penasaran.


“ Ya suka...suka saja, maksudnya suka saja dengan perilakumu yang tidak menjaga image apa adanya.” Ucap pria itu lalu menghentikan mobilnya.


Ia turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil Naca “ Silahkan turun Nona.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk yang kedua kalinya.


Setelah memesan minuman mereka menunggu beberapa menit disana. Kemudian melanjutkan perjalanan ke resto seafood seperti yang sudah di rencanakan.


Sesampainya disana pria itu memesan tanpa membaca buku menu.


Ia mengangkat 2 jarinya, lalu pelayan datang memberikan buku menu “ Saya pesan Clam Chowder, Fritto Misto, Cumi Saus Padang, dan Bisquenya ya, Apakah ada makanan terfavorit selain yang saya pesan?” Ucap pria itu.


Pria itu mengangguk “ Baiklah kalau minumannya saya pesan yang anda remomendasikan saja...oh iya kamu mau pesan yang lain ngga atau kamu keberatan kalau aku memesan ini semua?” Ucap pria itu sambil menghadap Naca.


“ Oh aku tidak keberatan sama sekali, sepertinya mereka semua enak-enak kok.” Sahut Naca.


Pelayan itu lalu kembali.


“ Kamu sering kesini ya, makanya hafal nama-nama menu disini padahal susah-susah lo namanya.” Ucap Naca kagum dengan sedikit canggung.


Pria itu tersenyum “ Aku lumayan sering kesini kalau sedang ingin memakan seafood, kalau kamu suka kapan-kapan kita bisa kesini lagi.” Ujar pria itu.


“ Apakah kamu anak olimpiade juga? Tapi kenapa kamu tinggal di penthouse tidak bersama peserta lainnya, bukankah penthouse lumayan mahal apalagi kamu memesan untuk 1 bulan penuh.” Tanya pria itu.


Dengan sedikit malu-malu Naca menjawab “ Iya aku anak olimpiade...aku tidak terbiasa tinggal bersama orang lain apalagi yang tidak kukenal dan sebenarnya aku lumayan OCD terhadap kebersihan dan kerapian.” Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


“ Oh untuk apa kamu malu, aku juga pernah di vonis OCD oleh psikiaterku dan sekarang dalam tahap pemulihan. Aku tidak akan menganggapmu sebagai wanita alay ataupun lebay karena itu normal untuk orang seperti kita.” Sahut pria itu menyemangati.


Mereka mengobrol dengan santai dan berjalan begitu saja layaknya air yang mengalir terus menerus, yang dari awalnya Naca masih malu-malu hingga mereka saling membagikan pengalaman hidup satu sama lainnya.


Kemudian makanan mereka datang, pelayan itu tidak sengaja menumpahkan gelas minuman ke meja.


Naca refleks kaget dan langsung berdiri untungnya bajunya tidak terkena noda sedikitpun, namun sangat disayangkan handphonenya menjadi korban.


“ Maaf Nona, tolong maafkan saya...jangan laporkan saya kepada manager saya, saya benar-benar tidak sengaja.” Ucap pelayan itu penuh penyesalan dan membawa keributan di resto itu.


Pelayan itu berkali-kali menundukkan kepalanya untuk meminta maaf kepada Naca dan menarik tangannya untuk meminta maaf “ Eh sudah tidak apa-apa, bajuku tidak kotor kok.” Ucap Naca.


“ Baju Nona memang tidak basah namun hp Nona yang harganya puluhan juta malah jadi basah dan pastinya tidak bisa di pakai lagi. Tolong maafkan saya.. bantu saya supaya saya tidak di pecat Nona.” Ucap pelayan itu berkali kali.


Kemudian manager disana datang “ Tuan maafkan pelayan ini... dia baru saja saya terima bekerja. Tolong jangan beritahukan hal ketidakbecusan dia kepada Orang tuamu Tuan, saya akan langsung memecat dia hari ini.” Ucap manager itu.


Mendengar ucapan tersebut, pelayan itu semakin histeris “ Tolong bantu saya, supaya tidak di pecat Nona...saya memiliki 2 anak bayi dirumah, mau saya beri makan apa mereka apabila saya di pecat.” Ucap pelayan itu sambil hampir berlutut kepada Naca.


Naca langsung membantu wanita itu berdiri “ Sudah aku akan membantumu supaya kamu tidak dipecat, tapi jangan ulangi hal ini lagi...apalagi kepada orang lain karena belum tentu dia akan membantumu.” Ucap Naca menenangkan wanita itu.


“ Sudah kamu tidak usah pecat wanita ini, seperti yang Nona ini katakan dan aku tidak akan menceritakan tentang kejadian ini kepada Orang Tuaku.” Ucap Pria itu.


Setelah kejadian itu mereka pulang tanpa memakan apapun hanya meminum milkshake yang mereka beli sebelum sampai ke restoran tadi.


Di mobil menuju perjalanan pulang.


“ Maaf semuanya jadi kacau, sekarang kita pindah ke restoran lain saja ya?” Ucap pria itu.


“ Kita langsung pulang saja, aku sudah tidak ingin makan dan ini bukan gara-gara kejadian tadi ya...aku hanya tidak nafsu makan saja.” Sahut Naca.


Pria itu menyetir sambil merogoh dompetnya lalu mengeluarkan black cardnya “ Kamu pakai ini untuk beli handphone baru ya?” Ucapnya sambil memberikan black card itu kepada Naca.


Naca menolaknya “ Aku tidak bisa menerimanya, aku akan membeli handphone baru dengan uangku sendiri.” Ucap Naca lalu mengeluarkan black cardnya juga.


“ Sudahkan kita sama-sama memiliki black card, kita seperti orang yang sedang pamer saja...hahaha.” Ucap Naca sambil memasukan black cardnya lagi.


“ Ternyata restoran tadi milik orang tuamu ya...makanya kamu hafal dengan menu yang ada disana, hampir saja aku kagum karena kamu bisa mengingat nama menu yang begitu susah itu...aku tadi sudah mencobanya sedikit memang enak seperti nama dan gambarnya.” Kata Naca.


“ Hehe baiklah kalau begitu, kalau kamu butuh apa-apa bisa kabari aku ya sebagai balas budiku telah merepotkanmu.” Sahut pria itu.


Lalu mereka sudah sampai di depan lobby hotel.


Naca turun dan berterima kasih kepada pria itu, pria itupun pergi entah kemana.


“ Aw ternyata kakiku masih sakit dibuat berjalan.” Celetuk Naca sambil berjalan menuju lift.


Sesampainya dikamarnya Naca mengompres kakinya dengan air hangat, lalu lanjut menonton serial drama yang Ia sukai di laptopnya. Sebelum akhirnya tidur.