Honey! You Are My Happiness

Honey! You Are My Happiness
BAB 36 : HANDPHONE BARU



Leo menarik tangan Naca yang berjalan di depannya, “ Naa nanti jadi kan? Aku tunggu di lobby atau di depan kamar kamu?” Tanya Leo.


Sontak membuat Naca menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Leo.


Naca kebingungan dengan pertanyaan Leo “ Ha?” Sahutnya.


“ Apakah tidak jadi, bukannya aku akan menemanimu membeli handphone baru?” Tanya Leo menjelaskan.


Naca makin bingung dan berpura-pura seolah ia melupakan hal itu “ Ha...oh iya Kak astaga sampai lupa, aku pikir tadi apa..kita tetap jadi dong tapi aku mau mandi dulu ya, nanti kalau sudah aku samperin ke kamar Kakak deh terus kita berangkat.” Sahut Naca.


Leo tersenyum manis “ Baiklah, kalau itu yang kamu mau...sampai ketemu nanti.” Ucap Leo lalu melambaikan tangannya sebentar dan berjalan pergi.


“ Huh ternyata itu yang Kak Leo omongin tadi, astaga gara-gara aku ngga denger malah asal main iya saja...gimana dong masa beli handphone sama Kak Leo sih, rasanya kami seperti seorang sahabat saja kemana mana selalu bersama.” Celetuk Naca sembari berjalan menuju lift.


Sementara itu di Malang, orang suruhan Dave tidak membutuhkan waktu yang begitu lama untuk bisa mengedit vidio itu seakan-akan Nacalah orang yang berada di sana.


“ Semua sudah beres, sekarang mana upah yang kau janjikan tadi.” Ucap pria pengedit vidio itu.


Dave dengan kesombongannya itu, Ia mengangkat dahi dan menyeringai “ Ternyata kau benar-benar berbakat tapi sayang sekali kau begitu meremehkanku.” Ucap Dave dengan merobek selembar kertas yang ada di tangannya.


“ Tulislah berapapun yang kau butuhkan.” Ucapnya lagi sambil memberikan kertas cek tersebut.


Pria itu begitu senang dan langsung merebut kertas di tangan Dave, Ia menuliskan nominal yang lumayan besar yaitu 50 juta untuk sekedar mengedit vidio.


“ Oke terima kasih, senang berbisnis denganmu. Kalau begitu saya permisi dahulu.” Ucapnya dengan wajah yang begitu sumringah.


Pria berpakaian serba hitam itu, langsung mengikuti jejak temannya “ Woy tunggu gue dong...eh bagi-bagi dong kan gue yang sudah ngenalin kalian.” Ucapnya.


Pria pengedit menjawab “ Tenanglah dengan uang segini kita bisa istirahat bekerja selama beberapa bulan.” Ucapnya sambil merangkul temannya.


Dave yang mendengarkan obrolan mereka dari jauh itu, mengalihkan pandangannya dari kedua pria itu dan tersenyum penuh misteri.


“ Hahaha akhirnya Caa...akhirnya hahaha...gue bakal ngancam loe dengan vidio ini, kalau loe ngga mau balikan sama gue.” Teriaknya.


Dave langsung menghubungi nomor Naca, sayangnya tidak ada jawaban “ Br*ngs*k berani-beraninya loe mencampakan gue...liat saja kalau sampai besok loe masih mencampakan gue bakal langsung gue upload vidio ini.” Omel Dave.


Di dalam hotel “ Haduu aku ketuk kapan ya pintu ini.” Ucap Naca dengan gelisah, Ia dari tadi mondar-mandir di depan kamar Leo.


Tiba-tiba saat Ia ingin mengetuk pintu kamar, Leo keluar dari kamarnya “ Loh kok kamu sudah di sini, kenapa ngga manggil aku, untung saja aku mau membuang sampah ini.” Ucap Leo dengan kresek hitam di tangannya.


“ Eh iya Kak, baru saja aku mau masuk kok.” Sahut Naca.


“ Yaudah ayo kita berangkat sekarang saja...kita kan bakal ngelewatin bank sampah juga sebelum pergi beli hp.” Ajak Leo.


Setelah itu mereka turun ke lantai bawah dan pergi ke gerai handphone terlaris di sana.


Naca memilih-milih handphone yang ada di gerai itu di dampingi dengan seorang wanita yang mempromosikan beberapa handphone yang ada disana.


“ Yang ini keluaran terbaru Kak, apabila beli sekarang akan mendapat casing gratis dan berkesempatan membeli casing limited edition yang hanya ada 4 di sini.” Cerocos wanita itu sambil menunjukan beberapa opsi pilihan untuk Naca.


Leo tergiur dengan tawaran limited edition tersebut “ Kak kalau aku beli casing saja apa boleh.” Tanyanya.


“ Maaf sekali, sangat di sayangkan itu masih belum boleh...hanya pelanggan yang membeli hp seri terbarulah yang bisa mendapatkan penawaran menarik ini.” Sahut wanita itu.


Naca mengangguk sambil mencoba memegang hp itu “ Baik Mbak, saya beli ini satu sama casing nya 2 apakah boleh.” Tanya Naca.


Wanita itu tersenyum dengan memberikan kertas brosurnya “ Bisa sekali namun harga untuk pembelian kedua akan di kenakan tarif 2 kali lipat..apakah Kakak masih berminat dan bersedia.” Tanya wanita itu.


“ Oh baiklah saya tidak masalah dengan itu, tolong langsung di proses saja Mbak.” Ucap Naca dengan mengeluarkan kartu kreditnya di barengi dengan Leo yang juga mengeluarkan kartunya.


Wanita itu langsung kebingungan dengan 2 pilihan pembayaran itu “ Maaf ini jadi siapa yang mau bayar?” Tanyanya.


“ Saya.” Sahut mereka berbarengan lagi.


Naca langsung menyingkirkan tangan Leo dari hadapan wanita itu “ Pakai ini Mbak karena hp ini untuk saya, tolong langsung di proses saya sedikit terburu-buru.” Ucap Naca, lalu wanita itu pun langsung pergi ke kasir dan memproses belanjaan Naca.


“ Kakak ngapain mau ngeluarin uang segala sih, ini kan hp buat aku...kalau Kakak kaya gini jadi males deh, seharusnya aku kesini sendirian saja.” Omel Naca terus menggerutu.


Leo meminta maaf “ Maaf Naa..habisnya kamu membelikan aku casing dengan harga berkali lipat lagi, aku kan merasa tidak enak hati menerimanya..jadi tolong setidaknya hargailah aku untuk membayar belanjaanku sendiri.” Ucap Leo memohon.


Naca tetap bersikeras untuk membayar semuanya sendiri jika tidak, Ia tidak ingin berteman dengan Leo lagi.


“ Cewek selalu saja begini...mempermainkan perasaan dan harga diri seorang pria, kalau begitu aku akan membelikan sesuatu yang berharga untuk Naca.” Batin Leo.


Setelah dari sana Leo dan Naca kembali ke hotel.


Sementara itu Ezra di kelas.


“ Kayanya aku harus minta maaf secara langsung sama Naca, kalau nungguin dia bales chat aku kelamaan atau bisa saja aku benar-benar di block..gimana caranya aku ke Jakarta ya? Padahal ngga mungkinkan aku bolos beberapa hari apalagi aku seorang ketua osis, di taruh dimana harga diri dan profesionalitasku.” Gumam Ezra, tidak memperhatikan pelajaran di kelas.


Agha yang baru saja masuk sebelum guru datang memperhatikan temannya itu “ Loe kenapa Zra kebingungan gitu, mikirin apaan.” Tanyanya.


Ezra masih saja tidak menghiraukan ucapan Agha karena masih bengong memikirkan cara agar bisa ketemu Naca. Sontak Agha begitu geram dengan sikap Ezra yang mengacuhkannya, Ia langsung mendorong kursi Ezra hingga hampir terjatuh, hal ini membuat suara gaduh di kelas itu.


“ Yang di pojok sana kenapa berisik sekali.” Ucap guru yang sedang mengajar.


“ Maaf bu.” Ucap Agha dan Ezra berbarengan, gurupun langsung melanjutkan pembelajarannya.


“ Loe ada apasi sampe ngedorong gue...hampir jatuh ni gue.” Ucap Ezra kesal lirih.


Agha memasang raut wajah masamnya “ Habisnya Loe ngga nyaut omongan gue...Loe mikirin apaan si Zra.” Tanya Agha dengan memutar bola matanya ke samping.


Ezra menceritakan ide nya yang ingin menemui Naca secara langsung, namun bingung bagaimana caranya bisa izin sekolah untuk beberapa hari.


“ Kalau masalah ini sih gampang, biar gue yang urus.” Sahut Agha dengan mengeluarkan tampang sombongnya yang membuat Ezra penasaran.


“ Halah Loe gitu omong doang.” Ejek Ezra.


“ Sudahlah Loe liat saja kedeoannya gimana...oh nanti Loe langsung packing saja atau mau gue bantuin tapi ya gitu deh bakal gue acak-acak baju Loe.” Ujar Agha mengulurkan bantuan.


“ Gausah gue bisa sendiri.” Tolak Ezra